Our Fault

Our Fault
Bagian 60 - Kesal


__ADS_3

Sudah itu, Afriani mendekati Arya, memegang tangannya agar laki-laki itu menoleh padanya.


“Mas, nanti malam aku tidur sama kamu ya.” Seru Afriani.


“Aku tidak bisa, malam ini aku tidur sama Kiana sesuai jadwalnya.” Tolak Arya secara halus.


“Mas, aku kan sebentar lagi mau melahirkan, masa kamu tinggalkan terus sih? Nanti kalau terjadi apa-apa sama aku pas malamnya bagaimana?” Afriani semakin merayu Arya, sampai bersandar di pundak laki-laki itu.


Arya menarik nafas panjang, “ya sudah, iya aku tidur sama kamu.”


Afriani tersenyum, mencium pipi Arya tanpa izin, “terima kasih ya Mas.”


Malamnya, Kiana menunggu Arya di ruang keluarga. Meskipun sewaktu sore dia kesal karena kedekatan Arya dan Afriani, namun sekarang dia sudah melupakan kekesalan itu. Kiana tidak mau terlalu larut dalam rasa kesalnya pada Arya suaminya sendiri.


Kiana duduk di kursi sambil membaca majalah. Ketika itu, Kinaya anak gadisnya datang tidak sengaja menghampirinya.


“Bunda, kenapa belum tidur? Sudah malam ini.” Tegur Kinaya.


Kiana menoleh, “nanti Bunda tidur kok,


sekarang lagi nunggu Ayah.”


“Ha? Ayah sudah tidur kok sama perempuan itu. Naya tadi lihat soalnya.” Balas Kinaya sungguh-sungguh.


Kegiatan membaca Kiana berhenti tiba-tiba, bibir yang sebelumnya terus saja tersenyum lebar kini hilang langsung.


“Kamu serius?”


Kinaya mengangguk pasti, “Bunda sekarang tidur saja, enggak usah nunggu Ayah. Percuma.”

__ADS_1


“Ya sudahlah, Bunda tidur di kamar kamu saja ya.”


Menyebalkan! Arya tidak menaati peraturannya. Peraturan yang sebenarnya dia buat sendiri.


Malam ini adalah jadwalnya bersama Kiana, tapi kenapa laki-laki itu justru datang pada Afriani? Rayuan apa sih yang sudah perempuan itu lakukan pada suaminya? Dulu saja pas Kiana ingin bersamanya ketika jadwalnya, Arya menolaknya. Sekarang Arya malah mau saja. Tega sekali Arya. Pembohong. Tidak adil.


Di jam 5.30 pagi, Kiana sudah terbangun dari tidur dan akan membuat sarapan untuk keluarganya.


Kiana sudah di dapur, ternyata di sana sudah ada Afriani yang sedang memasak.


“Lo sedang apa di sini?” Kiana menegur perempuan itu dengan sinisnya.


Afriani menoleh tidak kalah sinisnya, “mata lo masih sehat kan? Enggak lihat gue lagi apa sekarang?” Balasnya ketus dan lanjut memasak kembali.


“Minggir, biar gue aja yang masak. Ini dapur gue, bukan dapur lo! Karena di sini lo itu hanya tamu.” Kiana mengusirnya, tapi yang diusir justru bersikukuh tidak mau pergi. Memang tidak tahu diri ya orang itu.


Kiana tersenyum sinis nan meremehkan, “lo memang tidak sadar diri ya. Lo tahu, lo itu dinikahi Mas Arya cuma karena kasihan, bukan karena cinta seperti gue. Lo harusnya sadar dong di mana tempat lo sebenarnya dan tentunya tempat lo itu bukan di sini!”


“Ini tempat khusus untuk keluarga gue! Ini istana milik keluarga gue. Istana ini sebelumnya sangat nyaman dan penuh dengan kebahagiaan, tapi semenjak adanya lo dan Mas Arya nikah dengan lo, semuanya berubah! Menjadi hampir hancur!”


“Gue kira, lo itu teman baik gue. Tapi ternyata, lo itu teman yang menusuk dari belakang. Hebat lo bisa memainkan adegan ini dengan sempurna.” Kiana menepuk pundak Afriani sebagai tanda pujian darinya.


“Seharusnya gue itu jangan kasih izin Mas Arya bawa lo tinggal di sini ya. Kelamaan tinggal di sini, lo jadi semakin tidak tahu diri ya ternyata, tidak tahu tempat asal.”


“Lagi pula kok lo berani banget sih mau ambil suami gue. Emang lo pikir dia cinta sama lo? Enggak Afri, dia selalu ada di samping lo itu karena tanggung jawab dan kasihan, bukan karena cinta. Berbeda dengan gue.” Katanya dengan begitu angkuh, “Mas Arya bakal kayak mayat hidup kalau gue pergi. Tapi kalau lo yang pergi, Mas Arya bakal biasa aja dan masih bisa melanjutkan hidupnya dengan baik.”


“Kalau lo pikir cara yang lo lakukan sekarang bisa merubah perasaannya, lo salah Afri, karena yang dia butuhkan itu gue dan anak anak, bukan lo. Ya kalaupun Mas Arya nanti menerima lo betul, tapi belum tentu m keluarganya mau menerima lo juga. Terutama adiknya Mas Arya, yang sama-sama sudah tersakiti gara-gara lo! Ah lebih tepatnya tersakiti karena saudara lo itu.”


Afriani terus saja Kiana sindir. Dia menyadari akan sindiran Kiana itu dan menahan rasa kesal yang ingin dia keluarkan dari tadi dengan mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Tentu Afriani tahu diri, tidak seperti yang Kiana ucapkan tadi kalau dia tidak tahu diri. Kalau Afriani tidak tahu diri, pasti saat ini dia sudah membalas sindiran Kiana tadi. Tapi akan berbahaya nantinya kalau Afriani membalas Kiana sekarang.


Sampai ketika kegiatan sarapan berlangsung, baik Arya atau Kiana, mereka diam terus saja tidak berbicara. Berbeda kalau dengan Afriani, dia terus saja berbicara.


“Mas, nanti aku main ke rumah Kakak aku ya, boleh?” Afriani menyeru pada Arya yang sedang makan.


“Mau apa?” Balas Arya.


“Aku kangen dia, sudah lama enggak ketemu.”


“Ya sudah, nanti aku antar kamu sekalian berangkat kerja.”


Kiana mendengus setelah mereka berbicara. Manja sekali Afriani harus diantar Arya. Padahal apa susahnya sih pakai taksi saja. Nanti bagaimana coba kalau anaknya terlambat lagi karena Arya harus mengantar Afriani dulu.


Dia pun menghentikan kegiatan makannya dengan menjatuhkan sendok dan garpu yang dipegangnya begitu keras, membuat semua orang di ruangan itu langsung fokus padanya.


“Naya, ayo berangkat sekarang. Hari ini biar Bunda yang antar kamu, Ayah sibuk harus antar Tante Afri dulu. Terus Ray, ikut sama Bunda yuk ke rumah Om Bian, daripada di sini sendiri ditinggal sama Ayah.” Bujuk Kiana sambil memperhatikan kedua anaknya.


“Ok Bunda, Naya berangkat sekarang aja daripada terlambat kalau bareng Ayah yang harus antar dulu dia.” Timpal Kinaya melirik tidak suka pada Afriani.


“Ray ikut Bunda! Ray takut di sini sendirian. Tapi kenapa Ayah harus antar Tante Afri? Harusnya antar Bunda dong.”


“Sudah, biarkan Ayah kayak begitu. Yuk sekarang kita berangkat.” Ajak Kiana langsung dan akan menarik tangan kedua anaknya, tapi malah dicegah Arya dengan tarikan tangannya.


“Kamu mau bawa mobil?” Tanya Arya.


Kiana menggeleng, “kamu kan larang aku untuk menyetir motor atau mobil, jadi aku mau pesan taksi online saja. Aku izin ya mau ajak anak-anak pergi, daripada di sini kasihan soalnya kurang diperhatikan kamu yang lebih memilih memperhatikan dia.” Sindir Kiana pelan sambil melirik sekilas Afriani dan melepaskan tangan Arya itu.


Tanpa mencium tangan Arya dan mengucapkan salam, Kiana langsung saja pergi.

__ADS_1


__ADS_2