
Ilsa melihat Anita yang menatapnya benci dan refleks langsung memegang perutnya yang membesar itu juga bersembunyi di balik tubuh tinggi Eshan.
Sementara Fabian dan Fiska, mereka diam saja dengan wajahnya yang sama-sama sudah takut.
“Eshan, ada Anita. Gimana ini? Kamu jelasin semuanya sama dia supaya gak terjadi apa-apa.” Panik Ilsa dan menatap Anita penuh dengan ketakutan. Ilsa sebisa mungkin berusaha menyembunyikan perutnya dari Anita.
“Lho kalian sudah saling kenal.” Anita menunjuk mereka – Kiana dan Afriani –
“Iya. Kita saling kenal, Anita. Ini kenalin, dia temen kuliah gue, Afriani namanya.” Kiana tersenyum merangkul perempuan itu.
“Tapi Kiana, dia itu —” Perkataan Anita terputus seketika.
Kiana melepaskan rangkulannya, “Afri, kok lo nikah gak ngundang gue sih?! Jahat lo ya jadi temen.” Kiana berkata dengan penuh penekanan dan tersenyum tipis, “tahu-tahu hamil aja sekarang.” Tangan Kiana memegang perut Afriani yang sudah mulai membesar itu.
“Nit, daripada lo di sini kelamaan nunggu gue ngobrol sama Afriani, mending lo sana pergi sama suami lo yang setia itu deh. Mumpung dia masih setia, daripada nanti dia jajan ke cewek lain terus punya anak. Mau lo kayak gitu?” Kiana sengaja menyindir Afriani dan Ilsa, “benar tidak Afriani?” Tatapan datar Kiana tertuju pada Afriani.
“Ha? Oh... Iya... Benar juga.” Afriani berkata terbata-bata karena dia gugup dan takut.
“Yakin lo suami gue bakal setia terus? Bagaimana kalau dia berkhianat karena gue belum bisa kasih dia anak?” Anita melirik Eshan yang sudah menatapnya datar.
“Eiy? Ya kalau begitu, buat apa lo nikah sama dia? Berarti dia tidak tulus cinta sama lo nya, tapi dia cintanya karena butuh rahim lo untuk menampung benihnya itu.”
Anita tertawa sinis, “hahaha. Bisa jadi. Pintar juga lo ngomongnya.”
Eshan yang tadinya diam, kini bertindak. Dia menarik tangan Anita paksa dan membawanya keluar.
“Kamu ikut aku!” Tegas Eshan dengan tatapan tajamnya dan rahang yang sudah mengeras seperti menahan amarah.
“Eh? Eh? Kamu siapa? Seenaknya banget bawa-bawa aku.” Wajah panik Anita dibuat-buat olehnya.
__ADS_1
“Wow! Tadi siapa Kakak Ilsa? Suami Kakak ya? Kok seenaknya banget sih bawa-bawa Anita?” Kiana menunjuk Eshan yang pergi, “kalau itu suami Kakak, tuh buruan pergi. Nanti bagaimana kalau suaminya diambil sama Anita? Sakit lho rasanya.”
“Diam kamu! Kamu jangan sok tahu ya! Kamu tidak tahu apa-apa soal semua ini, bahkan soal suami kamu saja kamu tidak tahu!” Bentak Ilsa menunjuk wajah Kiana.
Kiana tersenyum miring dan memutar bola matanya sinis. Tidak peduli dengan ucapan Ilsa itu.
“Kakak, sudah! Mending Kakak susul Kak Eshan aja, takutnya nanti dia kelepasan.” Bujuk Afriani yang berada dekat Ilsa.
Kak? Oh jadi dua perempuan itu sudah saling dekat toh sampai nama panggilan pun seperti itu. Eh tapi mereka itu dekat karena berteman atau ikatan persaudaraan? Bisa saja membuat Kiana penasaran.
Ilsa akan pergi mengejar Eshan, tapi sebelum itu dia akan memberikan pelajaran dulu pada Kiana. Dia berjalan ke hadapan Kiana, menatapnya tajam.
“Jangan sekali-kali kamu mengurusi kehidupan ku! Kamu tidak tahu yang sebenarnya itu bagaimana! Kamu itu hanya pihak luar yang menonton saja tanpa tahu kejadian yang sebenarnya seperti apa.”
Kiana tidak peduli dan memberikan tatapan datarnya pada Ilsa.
Ilsa mengepalkan tangannya karena kesal dan segera pergi ke luar rumah.
Orang yang tersisa kini hanya ada Fabian, Fiska, dan Afriani. Sedangkan Arya, entahlah laki-laki itu ada di mana. Mungkin sedang bersembunyi karena takut terbongkar kebusukannya aoleh Kiana.
Fabian dan Fiska sudah sama-sama cemas melihat Kiana dan Afriani itu. Akan ada drama apalagi setelah ini?
Fiska menepuk pundak Fabian, “Bi, kamu cegah si Kiana dong. Nanti takutnya ribut mereka, kan berabe terus bahaya juga. Si Afri lagi hamil, bagaimana coba kalau si Kiana lakuin hal-hal aneh kayak di drama?” Bisik Fiska yang berada di belakang Fabian dengan raut wajah takutnya.
“Hus kamu! Kiana mana mungkin melakukan kayak begitu.” Bantah Fabian.
“Eh kamu tidak tahu sih ganasnya cewek kayak gimana kalau cowoknya sama cewek lain.”
“Kalau begitu, kenapa kamu biasa pas aku dekat sama mantan aku waktu itu?”
__ADS_1
“Lah buat apa aku cemburu, toh aku sudah tahu kok kalau cinta kamu itu buat aku doang.” Fiska tersenyum menggoda tapi segera menghentikan senyumnya itu karena sedang berada dalam situasi yang gawat.
“Sudah ah, kamu mending bujuk Kiana tuh cepat.” Fiska mendorong tubuh Fabian keras sampai dia bisa berhadapan dengan Kiana dan Afriani. Fiska tertawa pelan melihat Fabian yang sudah sangat cemas ketakutan.
Kiana dan Afriani menatap Fabian yang tiba-tiba muncul ke hadapan mereka.
“Dek, kita pulang ayo!” Bujuk Fabian pelan-pelan dan memegang tangannya.
Belum sampai tangannya ditarik Fabian, Kiana segera memukul pelan tangan besar Fabian itu.
“Kakak apa-apaan menyuruh aku untuk pulang? Aku masih mau di sini, mau kangen-kangenan dulu sama temen aku ini.” Kiana tersenyum palsu seraya merangkul pundak Afriani.
Lalu Kiana mendorong Fabian kasar dan mengusirnya, “mending kalian aja deh yang pulang dari sini. Takutnya Feya nunggu kalian dan jaga dia dari anak-anak yang tidak diajarkan kejujuran sama orang tuanya, supaya tidak terkontaminasi. Ya kan Afriani?” Kiana melirik Afriani dengan tatapan datarnya.
“I... Iya benar... Yang Kiana bilang itu benar... Kak Bian.”
“Ok Kakak pulang, asal kamu jangan melakukan hal yang enggak-enggak ya sama Afriani. Dia lagi hamil.”
“Terus memangnya kenapa kalau benar aku mau melakukan hal yang iya-iya sama Afriani? Apa hubungannya sama Kakak?”
“Kiana!” Bentak Fabian, “kamu kenapa susah diberi tahu?!”
“Aduh! Santai dong Kak. Tenang aja kali, aku juga tidak akan melakukan yang kamu pikirkan itu.”
“Ya sudah Kakak pulang sekarang. Afri, kamu hati-hati ya.”
Afriani yang masih dirangkul itu hanya menyetujuinya dengan anggukan saja tanpa bersuara, padahal sebenarnya dia itu ketakutan.
“Afri, baik-baik ya di rumah. Kakak juga mau pulang.” Ini Fiska yang berkata.
__ADS_1