
Kinaya sudah benar tertidur di kamar Kiana. Kini hanya tinggal orang tuanya saja yang belumbtertidur.
Arya duduk di ranjang menemani Kinaya yang tertidur dan mengusap kepalanya. Ketika itu, Kiana masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu dahulu. Perempuan itu mengira kalau di kamarnya tidak ada orang.
Tapi nyatanya, sekarang di kamarnya itu sudah ada Kinaya yang tidur dan Arya yang menemani gadis kecil itu.
“Kamu sedang apa di sini?” Tegur Kiana membuat Arya kaget dan menatapnya.
“Aku disuruh Mamah kamu buat tidurin Naya di sini, karena kamarnya masih berantakan.” Arya berkata jujur.
“Kalian nginep malam ini?”
“Iya disuruh Mamah kamu. Kenapa? Kamu tidak suka?”
Kiana mengangguk pasti, “ya tentu saja aku tidak suka. Tapi sudahlah, toh kalian nginep di sini juga disuruh Mamah, jadi aku gak bisa ngelarang.” Kiana langsung pasrah menerima saja jika itu Nira yang menyuruhnya.
Setelahnya Kiana berjalan pergi dari Arya.
Tapi sewaktu kaki Kiana baru saja berjalan dua langkah, dia ingat ada lagi kalimat yang harus diucapkannya pada Arya. Kiana berbalik menghadap pada Arya.
“Oh iya, nanti kamu tidurnya di kamar Kak Fabian ya, mandi juga di kamar mandi itu. Soal bajunya, nanti aku pinjamkan punya dia. Selesai mandi, nanti turun ke bawah buat makan. Aku gak mau disebut sebagai tuan rumah yang jahat karena tidak melayani tamunya dengan baik.”
“Oh jadi menurut kamu, saat ini aku cuma dianggap sebagai tamu doang Ki?”
Kiana mengernyitkan dahi, “ya iyalah. Emang situ maunya dianggap apa? Dosenku gitu? Dasar aneh.” Cibir Kiana dan keluar dari kamarnya meninggalkan Arya.
Sampai pada jam 10 malam, Kiana memutuskan untuk tidur setelah mengerjakan tugas kuliah yang belum diselesaikannya.
Kiana tertidur bersama Kinaya dalam satu ranjang. Perempuan itu tidak bisa tidur walau dirinya sudah berkali-kali mencoba memejamkan matanya.
Kiana pun memiringkan posisi tubuhnya ke sisi kanan, yang di mana di sisi kanannya itu ada Kinaya yang sudah masuk ke alam mimpi.
Tak sengaja matanya melihat wajah Kinaya. Perempuan itu menyentuh wajah Kinaya pelan dan sebentar, lalu menatapnya lekat-lekat dengan seriusnya.
Kinaya... Ternyata kamu sudah besar ya. Gimana kabar kamu? Ah tanpa aku tanya pun aku sudah tahu kalau kamu itu baik, walaupun aku tidak ada di sisi kamu.
Nay, kalau kamu tahu siapa aku sebenernya, apa kamu akan marah? Atau mungkin berpikir kalau aku ini orang jahat karena tidak menginginkan kamu?
Tapi asal kamu tahu aja, yang jahat itu bukan aku! Justru Ayah kamu! Karena dia, kamu hadir dan aku harus kehilangan cita-citaku! Cita-cita yang sudah aku perjuangkan! Nyesel aku nikah sama dia, dan untungnya sekarang aku udah pisah!
Aku senang akhirnya bisa menjauh dari kalian yang sama-sama hanya membawa kesialan untukku, dan aku yakin tidak akan menyesali hal itu!
__ADS_1
Esok harinya pada pagi hari jam 7, Kiana sedang menyiapkan buku mata kuliahnya hari ini sambil menunggu Arya yang sedang mandi.
Jangan dulu berpikir aneh, alasan Kiana menunggu Arya supaya dia bisa berangkat bersama laki-laki itu karena hari ini dia sudah terlambat.
Berhubung dosen mata kuliah pertamanya ini adalah Arya sendiri, makanya Kiana memilih berangkat bersama Arya. Toh kalau mereka nanti sama-sama terlambat ke kampus, Kiana kan nantinya tidak akan dimarahi dosennya itu.
Beres dengan kegiatannya itu, Kiana menyelonong masuk ke kamar Fabian untuk memberikan baju yang akan Arya pakai hari ini, karena Arya tidak membawa baju ganti.
Kiana tidak tahu kalau Arya selesai mandi dan sudah memakai kaos pendek beserta handuknya. Kiana begitu terkejut melihat penampilan Arya itu. Ini pertama kalinya Kiana melihat kembali Arya seperti itu setelah pisah dengannya.
Arya menyadari kehadiran Kiana itu dan menoleh padanya dengan datar tanpa ada rasa panik di matanya.
“Maaf, dikira masih mandi.” Seru Kiana meminta maaf dan melangkah masuk mendekati Arya.
Kiana datang sambil membawa setelan pakaian untuk Arya dan menyimpannya di kasur, “ini baju Papah, mending kamu pakai baju ini daripada pake baju Kak Bian, gak bakal muat. Kaos yang semalem aja ternyata kegedean kan.”
Arya senang. Di balik perubahan Kiana yang sekarang, ternyata mantan istrinya itu masih perhatian padanya. Dia memberikan senyuman termanisnya pada perempuan itu.
“Kamu kenapa senyum?” Tanya Kiana heran, “kamu jangan geer, aku begini juga supaya kamu gak malu terus supaya fans kamu gak berkurang sedikit pun gara-gara ngelihat gaya busana dosennya yang buruk!” Ketus Kiana.
Arya tidak peduli dengan perkataan Kiana dan masih saja tersenyum.
Arya memandangi kepergian Kiana sambil tetap tersenyum.
Berhenti untuk bohongi aku Kiana. Aku tahu kamu masih punya rasa padaku.
Ternyata sampai waktu jam 8 pagi, Arya baru selesai dengan merias dirinya. Laki-laki itu selalu saja membuat Kiana kesal. Untung hari ini dosennya Arya jadi dia tidak akan kena marah laki-laki itu saat kesiangan.
“Makannya bisa dipercepat tidak? Kita sudah terlambat nih Bapak dosen terhormat, sudah masuk pukul 8.” Kiana menegur Arya yang sedang makan dengan santainya.
Telinga Arya mendadak panas karena dari tadi Kiana terus saja memperingatinya soal waktu. Padahal tanpa diperingati Kiana pun Arya sudah tahu.
Dia masa bodo dengan Kiana dan lanjut saja makan dengan santai.
Kiana langsung kesal dengan sikap masa bodo Arya. Dia menarik nafas dalam-dalam, “hei! Kamu tahu kan sekarang itu udah jam 8? Terus kenapa kamu malah santai aja makannya? Kita udah terlambat nih!” Kiana berkacak pinggang di depan Arya.
Arya segera buru-buru mengunyah makanannya sampai pipinya pun menggembung akibat gertakan Kiana.
“Kamu kenapa buru-buru banget? Mau gosipin orang dulu? Dosennya juga masih di sini belum berangkat, jadi gak perlu panik.” Bujuk Arya dengan tenang setelah selesai mengunyah makanannya.
“Berarti kalau misalnya aku sekarang terlambat jangan dihukum atau dikeluarin ya?” Kiana tersenyum penuh arti dan mengangkat alisnya.
__ADS_1
“Hmm iya.” Arya menyetujuinya saja langsung. Bisa lama berdebat dengan Kiana kalau dia menolak.
Mereka sekarang sudah dalam perjalanan menuju kampus. Arya mengemudikan mobilnya sendiri dan Kiana berada di sampingnya.
Pikiran Kiana sedang terbagi ke mana-mana. Tapi yang paling utama, dia seringnya memikirkan Arya. Kiana penasaran, kenapa Arya harus mengajar di kampusnya? Lalu apa alasan laki-laki itu mengajar? Apakah hal ini ada hubungannya dengan Fabian? Kan bisa saja Fabian yang memaksa laki-laki itu mengajar di sana supaya bisa bertemu Kiana. Itu yang ada di pikiran saat ini.
“Kamu kenapa ngajar di kampus aku?” Kiana langsung menanyakan hal yang selalu membuat dia penaran. Dia harus tahu hal itu.
“Ada maksud apa kamu nanya itu?” Arya malah balik bertanya pada Kiana. Dia sudah mengerti ke mana arah tujuan pertanyaan Kiana itu.
“Ya aku penasaran, apa alasan kamu ngajar di sana? Kenapa harus kampus aku yang kamu pilih buat jadi tempat cari uang? Kenapa enggak kampus lain? Pasti kamu disuruh Kak Bian ya supaya bisa deketin aku terus? Terus kamu juga nyuruh Kak Bian supaya aku mau kuliah di sana? Iya kan?” Kiana mencurigai Arya. Dia mencondongkan tubuhnya pada laki-laki itu dan menunjuknya.
“Aku nyuruh Fabian? Buat apa? Hahaha suka aneh kamu.”Arya tertawa mengejek, “kita sudah gak ada hubungan Kiana, sesuai kemauan kamu waktu itu kan, hubungan kita harus berakhir. Jadi buat apa aku sekarang deketin kamu? Bagi aku, kamu itu sekarang hanya orang asing.” Perkataan Arya begitu tajam sampai berhasil menusuk hati Kiana.
“Iya kamu memang cantik, tapi maaf aku sudah tidak tertarik dengan kamu. Karena hati yang kamu miliki jauh beda dengan cantiknya fisik kamu, bahkan lebih buruk.” Sindir Arya sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Kiana dengan memberikan tatapan tajamnya pada perempuan itu.
Deg...
Hati Kiana semakin tersayat mendengar penuturan Arya. Rasa sakitnya bahkan lebih besar dari saat mendengar perkataan Arya sebelumnya.
“Oh, begitu.” Kiana berkata dengan senyuman kecutnya, “ya sudah, sekarang aku mau turun di sini aja. Toh sekarang aku bukan siapa-siapa kamu lagi kan? Aku ini cuma orang asing. Takutnya nanti ada gosip di kampus kalau kita ketahuan berangkat bareng.” Kiana menatap Arya dingin juga penuh dengan permusuhan.
Kemauan Kiana itu segera Arya turuti. Laki-laki itu menepikan mobilnya ke pinggir jalanan dan menghentikannya di sana.
“Ok, silahkan kamu keluar sekarang. Pintunya tidak aku kunci kok.” Seru Arya dan tersenyum lebar tanpa adanya kekhawatiran pada mantan istrinya itu.
“Aku pergi. Terima kasih atas tumpangannya Tuan Nararya yang terhormat.” Kemudian Kiana membuka pintu mobil untuk keluar.
Arya menatap Kiana dan mengangguk, “ya, sama-sama. Hati-hati di jalannya, saya duluan ya.”
Kiana menutup pintu mobil dengan begitu keras, kemudian Arya melanjutkan kembali perjalanannya.
Perempuan yang ditinggalkan itu menatap kepergian laki-lakinya dengan kesal cukup lama. Laki-laki itu sudah berubah ternyata pikir Kiana. Padahal dulu jika dia merajuk, laki-laki itu akan membujuknya. Tapi sekarang tidak. Dasar mantan suami menyebalkan.
Sudah dikatai oleh Arya, ditinggalkan, ditambah lagi dia sudah terlambat ke kampus!
Oh iya, Kiana baru ingat. Dia kan sudah terlambat, tapi malah memilih untuk turun dari mobil dan pergi sendiri ke kampus. Ah Kiana terlalu bodoh. Bodoh bodoh.
Dih kok gue **** sih? Gue itu udah telat, kenapa minta diturunin di sini? Ah sial! Semuanya gara-gara laki-laki itu sih! Kiana menggerutu sendiri dalam hatinya dan mengetuk kepalanya beberapa kali.
Ah daripada dia terus saja menggerutu lebih baik dia segera mencari kendaraan umum untuk berangkat ke kampus sebelum terlambat.
__ADS_1