
Hingga 30 menit kemudian, Kiana sampai di kampusnya dan terlambat pula karena menunggu kendaraan umum. Maklumlah ini masih pagi, jadi kebanyakan kendaraan umum sudah dipenuhi penumpangnya. Mau pakai ojek online juga tidak bisa karena ponsel Kiana malah mati kehabisan baterai.
Kiana berlari cepat ketika kakinya sudah menginjak di halaman kampusnya. Sadar akan pengajar mata kuliah pertamanya adalah Arya dan sudah sampai ke kampus lebih awal darinya, Kiana pun segera berlari dengan secepat mungkin menuju ke kelasnya.
Bukannya segera masuk ke dalam kelas, Kiana malah langsung terdiam mematung.
Diamnya Kiana itu terjadi karena dia melihat Arya sudah ada di kelasnya. Laki-laki itu sedang berbicara di depan para mahasiswa. Kiana jadi gugup sekaligus takut ketika itu.Tentunya Kiana takut terkena marah dosen rasa mantan suaminya itu.
Tapi Kiana pikir kalau dia terus saja diam di sini juga percuma. Akan semakin memakan waktunya nanti juga Arya akan semakin marah padanya. Mau tidak mau, Kiana harus memberanian dirinya untuk masuk menghadapi cobaan ini.
Akhirnya Kiana pun mengetuk pintu kelasnya pelan, meminta izin untuk masuk. Semua penghuni kelas termasuk Arya dosennya, langsung menoleh pada Kiana yang mengetuk pintu terbuka itu.
Badan Kiana merasa kaku tiba-tiba karena menjadi pusat perhatian dan tersenyum menyengir, sebagai tanda sapaan pertamanya.
“Selamat pagi Pak, maaf saya terlambat datang.” Seru Kiana pelan dengan wajah melasnya karena takut dihukum Arya.
Kiana tahu, meskipun dulu mereka dekat, tapi Arya akan bersikap profesional padanya dan akan menganggapnya sebagai mahasiswa. Tidak lebih.
“Kamu kenapa terlambat? Sudah jadi mahasiswa masih saja terlambat! Harusnya jadi mahasiswa itu datang tepat waktu, bukan terlambat seperti anak SMA! Saya tidak suka sama orang yang terlambat, tidak bisa menghargai waktu! Kalau kamu tetap kayak begini, saya bakal kasih kamu nilai E nanti.” Kata Arya dengan tegasnya.
Kiana menatap Arya tidak percaya sekaligus jengkel karena sudah memarahinya. Arya memang laki-laki yang tidak tahu diri pikir Kiana. Bukannya karena dia juga kan Kiana jadi terlambat begini?
Lah? Kok gue yang dia salahin? Gue kan telat juga gara-gara nunggu dia makan lama. Gak tahu diri emang ini laki satu, batin Kiana dan menatap Arya kesal .
“Maaf Pak, tadi taksinya datang lama.” Kiana membela dirinya sendiri.
Eh kok gue bikin alesan yang udah biasa sih? Harusnya kan yang lain, Kiana merutuki ucapannya.
“Banyak alasan kamu! Makanya, lain kali bangun lebih pagi kalau besok ada kuliah itu, supaya gak terlambat.” Lagi, Arya memarahinya.
“Sudahlah, kali ini saya kasih kelonggaran buat kamu, jadi kamu gak akan saya hukum. Tapi nanti kalau kamu masih seperti ini, saya tidak akan kasih kamu ampun.”
Kiana mengangguk sajameskipun dalam hatinya dia menggerutu.
*S*angar banget jadi orang. Nyesel gue pernah suka dia! Huh!
“Sekarang kamu boleh duduk.” Titah Arya dan Kiana buru-buru duduk, takut diomeli Arya untuk ke sekian kalinya.
Baru saja Kiana akan duduk di kursi dekat Afriani, Arya kembali memberikan pertanyaan pada Kiana.
“Oh ya, kamu namanya siapa?” Tanya Arya tiba-tiba.
Tubuh Kiana yang akan duduk terhenti seketika dan berdiri kembali menatap Arya sinis.
Dia lupa sama gue? Gue kan orang terpentingnya dulu, masa dia lupa?
“Nama saya Kiana Pak. Kiana Anuradha Widjaya.”
“Ok Kiana, untuk satu semester ini, kamu yang jadi penanggung jawab mata kuliah saya ya.”
__ADS_1
“Hah?! Tapi Pak, saya kan — “ Bantahan Kiana itu dipotong oleh ucapan Arya.
“Gak perlu menolak, saya lakuin itu supaya kamu gak bakalan telat lagi di mata kuliah saya nanti.”
Astagfirullah, ujian apa lagi ini? Keluh Kiana dalam hatinya.
“Ya udah, iya Pak.” Kiana menghembuskan nafasnya kasar. Mau tidak mau Kiana harus menerima suruhan dosennya itu daripada nilai mata kuliahnya buruk.
Arya kembali pada topik pembahasannya semula. Dia sedang menjelaskan tentang profil pribadinya terlebih dahulu, karena ini hari pertamanya mengajar di kelas Kiana.
Kiana tidak peduli dengan pembahasan itu. Dia sudah tahu ini semua tentang Arya, baik dari hal yang biasa sampai pada hal yang khususnya. Kiana kan mantan istrinya jelas dia tahu semua mengenai Arya.
Karena masih kesal pada akibat kejadian tadi, Kiana terus saja menekuk wajahnya saja dengan telapak tangannya ketika Arya menjelaskan.
“Sebelumnya di kelas ini ada yang sudah kenal saya atau pernah ketemu?” Tanya Arya.
Kiana diam tidak berkomentar walau dia tahu Arya siapa dan tatapan Arya juga mengarah padanya ketika Arya bertanya itu.
Novi, teman baru Kiana di kelas ini mengacungkan jari telunjuknya tiba-tiba. Membuat para penghuni kelas ini jadi menatap padanya.
“Saya pernah ketemu Bapak waktu acara pensi. Bapak nyanyi kan waktu acara itu? Itu lagunya buat siapa, Pak? Bapak nyanyinya menghayati banget pas itu.” Tanya Novi dengan frontalnya dan tersenyum-senyum. Tatapan kagum juga penuh minta terlihat jelas dari tatapan yang Novi berikan untuk Arya.
“Tentunya buat seseorang.” Arya menatap Kiana yang dibalas dengan delikan mata.
“Masih ada yang mau ditanyakan?” Arya bertanya lagi.
Saat Arya berbicara, Afriani berbisik pelan pada Kiana, “Ki, gue mau nanya ah dia udah nikah atau belum ya. Gue kepo soalnya.”
“Udah, biarin lah.” Afriani bersikukuh pada pendiriannya dan mengacungkan jari telunjuknya saat Arya baru saja akan berbicara lagi karena akan menghentikan sesi tanya jawab mengenai profil dirinya itu.
“Pak, saya mau tanya. Bapak sebenernya udah nikah atau belum?” Tanya Afriani dengan penuh percaya dirinya.
Para mahasiwa langsung bersorak ria pada pertanyaan Afriani itu.
Gue udah gak peduli dia mau jawab apa, gue beneran gak peduli.Kiana masa bodo pada jawaban Arya nanti.
“Saya sudah bercerai dan punya anak satu.” Jawab Arya langsung yang membuat para mahasiswa di kelas ini bersorak kembali.
“Wah, seriusan Pak? Sama siapa? Maksudnya ciri-ciri ceweknya gitu.” Seru Novi.
“Tentunya sama manusia dan dia masih hidup.” Arya menjawabnya dengan seadanya, “maaf, saya hanya bisa jawab segitu, itu privasi saya. Jadi saya tidak akan menjelaskannya lebih spesifik lagi.”
“Berarti sekarang Bapak udah jadi duda? Kalau gitu, kita boleh dong ngelamar jadi teman hidupnya Bapak? Pengganti mantan istrinya gitu.” Afriani memberikan senyuman menggodanya pada Arya. Dia hanya memberikan lelucon saja.
Kiana tidak menganggap perkataan Afriani lelucon, justru dia menganggapnya serius. Mata Kiana pun menatap Afriani tidak karena perkataannya.
Jadi lo mau jadi pengganti gue Afriani? Maaf, lo gak akan bisa. Sera dia gak kayak lo!
“Kamu mau? Tapisayang, pendaftarannya sudah ditutup. Saya sudah punya calon.”
Di saat dirinya sedang sibuk dengan batinnya, Kiana kembali sadar pada dunianya karena ucapan Arya.
Calon? Jadi Arya sudah punya calon? Tapi siapa calonnya? Kenapa Kiana baru tahu sekarang? Juga kenapa Fabian tidak memberitahunya soal itu?
__ADS_1
“Ok, perkenalannya sudah ya.”
“Untuk penanggung jawab mata kuliah saya, siapa tadi namanya?” Arya berpura-pura lupa tentang nama panjang Kiana tadi.
“Kiana Anuradha Widjaya, Pak.” Seru Kiana dengan malasnya, gak usah sok pura-pura gak kenal coba. Gue ambil anak lo, baru tahu rasa, cibir Kiana.
“Ya, itu. Karena kamu penanggung jawab mata kuliah saya di kelas ini, jadi kamu harus hubungin saya saat saya ada jadwal di kelas ini ya.”
“Saya sudah kasih nomor saya ke temen kamu, nanti kamu minta aja ke dia.”
Gak usah minta juga gue udah punya kok.
Perkuliahan Kiana sekarang sudah selesai, dan dia memilih untuk pulang setelahnya karena harus mengerjakan tugas. Terutama tugas mata kuliahnya Arya yang banyak.
Sewaktu Kiana mengerjakan tugasnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya dan membukanya sendiri kemudian masuk ke dalam.
Kiana menatap tidak suka pada orang itu karena sudah seenaknya saja masuk ke kamarnya tanpa meminta izin dahulu.
Tatapan Kiana tersebut membuat orang itu ketakutan. Tapi dia melawan rasa takutnya itu dan tetap mendekati Kiana yang sedang sibuk dengan tugasnya. Orang itu tidak tahu jika Kiana paling tidak suka kalau ada yang mengganggunya di saat dirinya sedang sibuk.
Kiana menatap orang itu tajam, layaknya orang yang membenci.
“Ngapain kamu ke sini?” Sinis Kiana padanya.
Orang itu berjalan mendekat dalam langkah pelan karena takutnya, “Kak Ana, Kinaya mau makaaannn. Naya lapeer.” Ya, dia Kinaya. Anak kecil itu merengek sambil menarik-narik tangan Kiana untuk bangun dari duduknya.
Namun bukannya bangun, Kiana justru menepis tangan Kinaya, sampai hampir membuatnya terjatuh, dan beruntungnya hal itu terjadi.
Kiana berdiri dengan tatapan yang masih sama pada Kinaya. Begitu tajam.
“Pergi kamu sana! Minta aja sama Ayah atau Nenek kamu! Jangan ganggu aku di sini! Kamu gak lihataku lagi sibuk ngerjain tugas yang dikasih Ayah kamu itu hah?!” Bentakan Kiana membuat anak kecil itu ketakutan, bahkan langsung menangis kencang, sampai suaranya terdengar ke area luar kamar Kiana.
Arya yang mendengar tangisan Kinaya, langsung datang pada Kinaya dan menggendongnya lalu memeluknya sambil tangannya mengusap punggung anak itu supaya tangisannya terhenti sejenak.
“Kamu apa-apaan marahin Kinaya? Dia itu gak tahu soal kesibukan kamu, Kiana. Dia masih kecil, belum ngerti apa-apa. Aku gak suka kalau ada yang marahin Kinaya kayak gini, apalagi kalau dia sendiri gak berbuat salah.” Ungkap Arya dengan perasaan marahnya.
“Kalau kamu terganggu karena adanya Kinaya di sini, aku minta maaf. Kamu tenang aja, setelah ini kita gak akan ke sini lagi buat ganggu kamu yang sedang berjuang meraih cita-cita yang menurut kamu itu terbaik untuk kamu!” Sindir Arya dengan suara dinginnya.
“Aku pikir dengan kamu kuliah, bukan hanya wawasan kamu saja yang terbuka, tapi hati kamu juga. Tapi ternyata enggak! Kamu justru masih saja jahat dan egois! Semoga kamu gak akan menyesalinya Kiana.” Sudah mengucapkannya, Arya lanjut membawa Kinaya keluar dari kamar. Sedangkan Kiana hanya diam menahan hatinya yang sakit karena Arya, tanpa laki-laki itu tahu.
Kiana marah. Perempuan itu marah dengan semua ini. Marah pada mereka. Tak ada satu pun manusia di dunia yang mau membelanya, mendengar kesedihannya. Di sini bukan hanya Arya dan Kinaya yang merasa tersakiti, tapi Kiana juga.
“Terserah! Aku gak peduli! Sekalipun kalian pergi selamanya, aku yakin aku gak akan menyesalinya! Aku juga gak butuh kalian di sini. Aku masih bisa hidup tanpa kalian.” Maki Kiana dengan suara pelannya lalu duduk sambil memeluk lututnya dan menangis tanpa mengeluarkan suara tangisannya.
“Kamu benar Nararya, aku emang jahat. Aku egois. Harusnya aku gak ada di sini, harusnya aku itu mati! Kenapa kamu gak bunuh aku aja sekalian? Kenapa kamu gak ambil nyawa aku hah?! Kenapa aku gak mati sewaktu ngelahirin anak itu?!”
Kembali pada Arya dan Kinaya. Mungkin karena usapan tangan Arya yang membuatnya tenang, Kinaya akhirnya tidur dengan sendirinya.
Arya menatap Kinaya yang tertidur dengan mata sendunya. Laki-laki itu begitu sedih dengan kondisi Kinaya sekarang.
Maafin Ayah sayang, Ayah belum bisa ngerubah sikap Bunda. Ayah sakit lihat Naya diperlakukan seperti itu sama Bunda. Kenapa dia seperti itu? Apa dia tidak punya hati?
Tapi meskipun begitu, Naya tenang aja, sampai kapan pun Ayah akan tetap ada buat Naya dan sayang Naya selalu bidadari kecilnya Ayah. Naya akan selalu dalam pengawasan Ayah. Ayah sayang kamu Kinaya Sheeva Malayeka.
__ADS_1