
Hari ini Kiana harus menemani gadis kecil itu membeli baju. Dia sekarang harus menjaga anak itu, karena Arya sedang bekerja. Ini sebagai bayaran yang harus dilakukan Kiana pada Arya karena sudah mau menampungnya.
Selesai membeli baju, mereka bergegas untuk pulang. Tapi Kinaya menolaknya, dia lapar dan ingin mampir makan dulu. Mereka pun berjalan bersama menuju restoran yang diinginkan Kinaya, yang juga dekat dengan pusat perbelenjaan itu.
Seseorang ternyata memanggil Kinaya ketika mereka sedang berjalan. Sontak mereka pun menoleh ke arah sumber suara itu. Oh ternyata itu adalah Arya dan Ilsa, mereka sedang jalan bersama dengan tangan Ilsa yang merangkul tangan Arya.
Kiana melihat kedekatan mereka dengan terdiam juga menatapnya kesal.
Kalau mau nikah, ya nikah aja sih. Gak usah mesraan mulu padahal belum jadi! Ini lagi cewek satu, keganjenan banget pegang tangan mantan suami orang di depan mantan istrinya pula, padahal belum resmi.
“Ayah?!” Seru Kinaya, “Ayah sama Mama Ilsa ngapain di sini? Katanya Ayah kerja, tapi kok malah berduaan di sini sama Mama Ilsa? Aneh deh.”
“Hai, Naya sayang!!” Ilsa tersenyum melambaikan tangannya pada Kinaya.
Arya berjongkok mensejajarkan tingginya dengan anak itu, lalu mencium pipinya.
“Kesayangan Ayah lagi ngapain di sini berdua sama Kak Ana?”
“Naya abis beli baju buat Naya sendiri, Ayah. Baju Naya udah pada kecil, Ayah lupa belinya. Jadi deh, Naya minta anter Kak Ana dan untung Kak Ana akhirnya mau.”
“Nih lihat belanjaannya banyak banget kan Ayah?” Kinaya menunjukkan belanjaan yang sudah dibelinya tadi pada Arya.
“Kamu beli ini pake uang siapa, Nay?”Ilsa bertanya soal itu. Karena dia tahu, Kiana mana mungkin punya uang lebih untuk membelikan Kinaya baju sebanyak itu. Juga perempuan itu belum bekerja, jadi bagaimana bisa dapat uang. Berbeda dengan dia juga Arya yang sudah menghasilkan uang cukup.
“Pake uang Ayah lah. Naya kan ambil kartu kredit Ayah yang ada di laci meja.” Jawab Kinaya dengan jujurnya juga tersenyum lebar, tanpa takut kena marah Arya.
“Kamu ngambil kartunya Ayah? Kenapa gak bilang sama Ayah? Siapa yang ngajarin kamu buat ngambil kepunyaan orang tanpa seizinnya?” Arya mengomel.
Omelan Arya membuat Kiana tertunduk takut dan memainkan tangannya, “Ayah jangan marahin Naya dong. Naya gak diajarin siapa-siapa kok. Abisnya Naya kesel sama Ayah, Ayah terlalu sibuk kerja sampai lupa beliin baju buat Naya. Padahal baju Naya kan udah pada kecil.” Adunya.
“Ya tapi, enggak sampai ngambil kartu Ayah tanpa izin juga, sayang. Itu namanya kurang baik, Nay.” Kata Arya dan mengusap rambut anak itu.
“Iya deh, Naya minta maaf Ayah. Naya janji gak akan gitu lagi. Janji Pinkie deh.” Kinaya mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Arya dan dibalasnya.
“Ya udah, Ayah maafin. Sekarang kita pulang ya.”
__ADS_1
Kinaya menggeleng, “Naya laper, mau makan dulu di restoran itu tuh sama Kak Ana.” Kinaya menunjuk pada restoran yang dimaksudnya.
“Laper? Ok, kita makan bareng, ajak Mama Ilsa juga ya.”
Kinaya tersenyum mengangguk, “iya boleh, masa gak boleh. Kan kata Ayah kita harus tetap baik sama orang, walaupun orang itu udah nyakitin kita. Iya kan?”
“Yap, bener. Pinter kamu.” Arya dan mengusap kepalanya Kinaya dan menciumnya.
“Ayo Ayah, sekarang waktunya kita makaaan!!!” Kinaya bersorak.
“Sini, Ayah gendong kamu. Belanjaannya biar Kak Ana yang bawa.” Arya menggendong Kinaya langsung dan memberikan belanjaannya pada Kiana.
Kiana menerima belanjaan tersebut dengan sangat tidak suka. Jadi perannya di sini hanya dianggap sebagai pembantunya begitu? Kasihan sekali Kiana.
“Ayo Ilsa.” Ajak Arya pada Ilsa dan menarik tangannya.
Kiana diam melihat Arya yang hanya mengajak Ilsa juga menarik tangannya.
Jadi hanya Ilsa saja ya yang diajaknya? Tapi dirinya tidak? Padahal saat dulu, tangan Kianalah yang sering ditarik, dipegang, dan disentuh seperti itu. Bukan tangan Ilsa.
Hah, kini semuanya hanya dulu, dulu, dan dulu. Semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki. Semuanya sudah besar. Benar, Kiana terlalu egois hanya memikirkan dirinya saja. Sehingga akibatnya menjadi seperti sekarang. Ingin menangis, namun percuma karena semuanya sudah terjadi.
Arya baru sadar jika Kiana masih diam saja menatapnya. Mungkin tak segan karena tak diajak, jadinya Arya mengajak Kiana namun hanya dengan ucapan saja saja tanpa menarik tangan sepeti halnya yang dilakukannya pada Ilsa.
“Ayo Ki, kita makan dulu.” Seru Arya dan menatapnya.
Kiana sadar dari lamunannya dan berjalan di belakang mereka.
Tak lama, mereka sampai di restoran dan langsung memesan makanannya. Lalu kini, waktunya mereka untuk menyantapnya.
“Naya mau makan es krim pisang punya Mama Ilsa gak? Ini enak lho.” Tawar Ilsa.
“Enggak deh, Naya kurang suka pisang soalnya.” Jawab Kinaya.
Kinaya tidak suka pisang? Berarti sama seperti Kiana? Kenapa bisa mereka memiliki kesamaan itu? Padahal mereka bertemu pun jarang sekali.
“Kenapa gak suka? Pisang tuh enak tahu, terus banyak vitaminnya lagi.” Bujuk Ilsa.
__ADS_1
“Gak tahu, soalnya menurut Naya, aroma sama rasa pisang itu aneh. Terus kata Ayah, Naya tuh sama kayak Bunda, kurang suka pisang. Ya Ayah?” Kinaya melirik Arya.
“Hmm.” Arya menjawabnya dengan singkat dan fokus saja makan, tapi dia seperti sedang menghindari sesuatu.
Kiana diam mendengarnya. Jadi Arya menceritakan pada Kinaya soal dirinya? Untuk apa Arya melakukan itu? Apa Arya juga menceritakan soal kebenciannya?
Tidak ada pertanyaan lagi dari Ilsa, Kinaya kembali melanjutkan makannya. Tapi kegiatan makannya itu terganggu karena rambutnya yang tidak terikat. Melihatnya yang risih, dengan segera Kiana pun mengikat rambut itu.
“Rambutnya iket dulu, nanti kalau rambutnya kemakan sama makanannya gimana?” Kata Kiana sambil mengikat rambut Kinaya.
Kinaya senang akan sikap perhatian Kiana, “makasih, Kak Ana.” Kinaya tersenyum dan mencium pipi Kiana, hingga Kiana jadi diam.
Arya dan Ilsa memperhatikan kegiatan mereka. Laki-laki itu juga ikut senang. Itu artinya kebencian Kiana pada anaknya sekarang sudah mulai sedikit berkurang.
Perut sudah terisi, waktunya mereka untuk pulang karena hari pun sudah sore.
Mereka pulang bersama tanpa Ilsa, karena dia sudah pulang terlebih dahulu ada urusan penting yang mendesak.
Kinaya tertidur nyenyak di pangkuan Kiana saat perjalanan pulang. Mungkin karena kelelahan sudah membeli baju.
“Kamu pegel gak Naya gitu terus ke kamu? Kalau pegel, pindahin aja dia ke kursi belakang, supaya leluasa tidurnya.” Arya melirik Kinaya sekilas.
“Gak perlu. Kalau dipindahin, takutnya nanti dia bangun terus nangis.” Bantah Kiana.
“Oh, ok.”
“Rasanya deket sama Naya gimana, Ki? Seneng? Pasti kamu baru tahu kalau Naya itu lebih nurun ke kamu. Ya kan?” Seru Arya.
“Mungkin fisik Naya emang mirip aku, tapi kelakuannya, apa yang disuka dan yang tidak sukanya itu hampir mirip sama kamu. Coba kamu kenali Naya lebih deket. Meskipun dia gak tahu kamu siapanya dan kamu juga menolak dia, tapi kamu berhak tahu bagaimana tumbuh kembangnya.”
“Asal kamu tahu Ki, Naya selalu sedih kalau pulang sekolah. Dia sering diejek di sekolahnya karena Bundanya gak ada, padahal Bundanya masih hidup. Naya sering nanya ke aku Bunda mana? Kenapa Bunda gak mau ketemu dia? Aku bingung harus jawab apa.” Arya tersenyum miris.
“Pernah waktu itu Naya sakit dan dirawat karena diejek terus di sekolahnya. Jadinya, aku pindahin dia ke sekolah lain. Untungnya, sekolah yang sekarang temen-temen dan orang tua muridnya gak hampir semuanya ngatain dia kayak di sekolah yang dulu.”
“Aku gapapa kalau kamu masih belum nerima dia. Tapi tolong banget, selama kamu di sini, kamu bisa kan buat dia seneng dan bahagia? Juga berhenti untuk marahi dia. Naya bukan hanya butuh kasih sayang aku, tapi juga kamu karena kamu Bundanya. Dia ada bukan karena kesalahannya sendiri, tapi karena aku.”
“Kita udah lama ngebohongin dia. Kalau dia tahu yang sebenernya, dia pasti akan marah sama kita. Juga kalau saja dia bisa milih, mungkin dia gak mau punya orang tua seperti kita, yang terus saja ngebohongi anaknya sendiri.”
__ADS_1
Arya cerewet. Kiana terganggu dengan ucapannya. Rasanya Kiana ingin menyumpal mulut Arya itu dengan bom agar meledek dan diam.
“Mending kamu diem. Kamu terus aja nyalahin aku. Kamu gak pernah tahu apa aku juga sama tersiksanya seperti dia atau enggak? Kamu cuma mentingin perasaan dia, sedangkan perasaan aku kamu abaikan. Semuanya nganggap kalau aku yang salah di sini, padahal bukan aku yang salah. Tapi kamu! Mereka jadi benci aku karena kamu! Kamu yang salah dan aku yang dibenci mereka!” Kiana menunjuk dan menatap Arya penuh dengan amarah.