
Esok harinya, Kiana masih harus dirawat kata dokternya.
Arya datang pada Kiana setelah selesai mengajar di waktu sore hari. Tak lupa, ia juga membawa bubur untuk Kiana, takutnya Kiana bosan makan makanan rumah sakit.
“Aku bawa bubur buat kamu. Takutnya kamu bosen sama makanan di sini.” Arya menyimpan bubur yang dibawanya di atas meja.
“Kakak kenapa masih di sini? Gak bosen apa jenguk aku? Mending pulang aja, takut Kak Ilsa nungguin Kakak. Kalian kan udah nikah pas Kiana masih tidur.”
Belum saatnya aku kasih tahu kamu yang sebenernya Kiana.
Arya menghapus jarak di antara mereka. Dia mendekati Kiana dan duduk di pinggir ranjang tempat Kiana berbaring sekarang, lalu menatapnya dalam-dalam.
“Emang ada undang-undang kalau aku jenguk kamu itu salah? Enggak kan?”
“Enggak sih... tapi kan Kiana gak enak sama Kak Ilsa. Kiana gak mau disebut pelakor nanti sama orang lain, gara-gara Kakak sering ke sini.”
“Lalu untuk apa kamu dengerin perkataan orang lain yang gak bener itu?”
Kiana terdiam sejenak.
“Ya udah, kalau kamu mau aku pulang, aku pulang sekarang. Nanti malem Anita ke sini jenguk kamu dan katanya mau bawa Naya juga.” Arya beranjak dan mengambil tas kerjanya yang disimpannya di sofa tadi.
“Aku pulang, jaga diri kamu. Semoga cepet sembuh.” Arya pamit memegang pundak Kiana, lalu pergi.
Sudah tubuhnya sakit, hatinya pun ikut sakit melihat Arya pergi. Kenapa juga Kiana membohongi perasaannya kalau dia masih punya rasa pada Arya dan tidak mau ditinggalkan laki-laki itu? Kiana begitu sulit mengungkapkan perasaannya pada Arya.
Dia menyesal sudah menyuruh Arya untuk pergi pada Ilsa, harusnya dia itu bukan mengusirnya, tapi tetap menyuruhnya bersamanya dan memanfaatkan waktu itu untuk berduaan dengan Arya. Duh Kiana. Dia terlalu bodoh apa belajar bodoh sih?
Kiana menunggu waktu malam. Menunggu ucapan Arya tadi, apakah benar Kinaya akan datang padanya bersama Anita? Kiana sudah merindukan anaknya dan ingin segera bertemu dengannya
Hingga malam harinya datang, ucapan Arya ternyata benar terjadi. Anita datang menjenguknya sambil membawa Kinaya.
Tapi sayang sekali, meskipun Kinaya datang, anak itu terus saja bersembunyi di balik tubuh Anita yang lebih besar darinya. Kinaya takut, tidak berani menatap wajah Kiana. Dia ke sini pun karena paksaan Anita sendiri, padahal nyatanya Kinaya tidak mau.
“Kiana sahabatkuuu... Akhirnya kamu bangun juga ya dari bobo ala putri tidurnya.” Gurau Anita dan memeluk Kiana yang tersenyum.
“Gimana kabarnya beb? Udah lumayan sehat?” Tanya Anita dan Kiana mengangguk.
Kiana melihat ke arah belakang tubuh Anita, tempat di mana Kinaya bersembunyi. Sama seperti Kiana, Anita pun mengikuti arah pandang itu. Dia tahu tatapan Kiana terus saja tertuju pada Kinaya dari tadi.
“Naya, ayo sini sayang. Salam dulu sama Kak Ana.” Anita menengok ke belakang dan memegang kepala Kinaya.
__ADS_1
Kinaya menunduk dan menggeleng, juga mengeratkan pegangannya pada tubuh Anita, “Naya mau pulang aja Tante.” Lirihnya.
Anita berbalik pada Kinaya dan berjongkok berhadapan dengannya, “Naya kenapa mau pulang? Ayo salam dulu sama Kak Ana sayang, Naya gak kasihan emang sama Kak Ana? Dia kan baru kecelakaan.” Bujuknya.
Sambil menunduk, Kinaya yang polos menjawabnya dengan gelengan, “Kak Ana juga marahin Naya terus, Naya gak mau deket sama dia, Naya takut.”
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka dan muncul sosok Arya yang datang sambil membawa cemilan makanan.
Arya melihat Kinaya sedang dibujuk adiknya dan hampir menangis. Dia pun menghampirinya dan berjongkok di depan Kinaya.
“Naya kenapa sayang?” Arya memegang bahu Kinaya.
Kinaya berhambur memeluk Arya dan merangkul lehernya, “Ayah... Naya takut, Naya mau pulang. Naya gak mau dimarahin Kak Ana lagi, Naya gak mau liat dia...” Cicit Kinaya.
Kiana meratapi nasibnya sekarang. Anak itu takut berhadapan dengannya karena kesalahannya sendiri. Dia terlalu mengedepankan hawa nafsunya dan keegoisannya hingga akibatnya jadi seperti sekarang. Kiana tidak pernah memakai hatinya yang seharusnya dia pakai, padahal dia itu seorang ibu.
Tunggu... Ibu? Pantaskah Kiana disebut ibu setelah apa yang sudah dia lakukan pada Kinaya? Hmm sepertinya Kiana pantasnya disebut ibu jahat. Ibu tiri juga masih ada yang baik perilakunya, kenapa dia yang ibu kandung perilakunya kurang baik pada anaknya sendiri.
Anita menatap Kiana. Tidak usah Kiana cerita padanya pun, Anita sudah tahu kalau Kiana saat ini bersedih juga menyesal. Terlihat sekali dari tatapan matanya yang terpancar saat melihat adegan antara Arya dan Kinaya itu.
“Naya gak usah takut sayang, ada Ayah di sini. Lagian Kak Ana juga gak bakal gitu lagi kok.” Timpal Arya.
Arya menggendong Kinaya, menghadapkan pandangan Kinaya pada Kiana, “Naya mau duduk deket Kak Ana, gak?” Tawar Arya dan menunjuk Kiana.
Maafin Bunda sayang, Bunda udah sakitin Naya terus. Bunda janji gak akan begitu lagi sayang. Bunda sayang Naya sekarang.
Ketakutan Kiana tetap berlangsung, bahkan saat Kiana menatapnya. Anak itu menggelengkan kepalanya lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Kiana dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sambil memeluk leher Arya.
“Enggak! Naya gak mau, Naya takut, Naya mau pulang aja. Naya gak mau lihat Kak Ana, Kak Ana jahat.” Kinaya terus merengek ingin pulang bahkan sampai hampir akan menangis kencang.
Permintaannya tidak dituruti, Kinaya pun memberontak minta diturunkan dari gendongan Arya, tetapi tetap tidak dituruti, dan justru malah dibawa keluar dari ruangan itu.
Kiana melihat kepergian dua orang itu dengan tatapan menyedihkannya.
Aku emang jahat banget ya, sampai dia pun gak mau deket aku. Aku emang gak pantas dapat maaf dari dia.
Kiana langsung menundukkan kepalanya. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Dia tahu kalau kesalahannya begitu besar, tapi apa dia tidak pantas untuk mendapatkan maaf itu? Tuhan saja bisa memberikan maaf pada hamba-Nya yang penuh dosa, kenapa dia tidak? Hidup Kiana memang begitu menyedihkan.
Anita memeluk tubuh Kiana tiba-tiba dan menepuk pelan punggungnya agar Kiana tenang. Anita tahu, Kiana ingin menangis tapi sahabatnya itu malah menahannya saja.
Benar saja, ketika Anita memeluknya, Kiana langsung mengeluarkan tangisannya. Dia mencurahkan kesedihannya pada (mantan) adik ipar rasa sahabatnya itu.
“Gue jahat banget ya Nit? Gue nyesel, gue benci diri gue. Kenapa dulu gue kayak gitu ke anak gue sendiri? Gue gak mau dia benci gue.” Gumam Kiana, “gue bodoh udah nyakitin dia. Bener kata Kak Arya, gue bodoh, gue perempuan jahat dan egois.” Kiana merutuki dirinya sendiri dan memukuli kepalanya berkali-kali.
__ADS_1
Anita memegang tangan Kiana yang terus saja memukul kepalanya, “udah, berhenti buat salahin diri lo sendiri! Gak ada gunanya kalau lo terus kayak gini. Mending sekarang lo berusaha buat narik Naya kembali lagi.” Bujuk Anita.
“Tapi gimana caranya? Gue terlalu jahat, emangnya gue pantas buat dimaafin?”
“Kata siapa semua manusia gak pantas buat dimaafin? Semua manusia itu pantas kok untuk dimaafin, cuma mereka butuh waktu untuk memaafkan kesalahan orang itu. Beda dengan Tuhan yang dengan mudah sekali Dia memaafkan makhluk-Nya.” Tutur Anita.
Pembicaraan mereka berubah menjadi serius dan Kiana melepaskan pelukannya juga menatap Anita dengan tatapan sebal.
“Ya itu kan buat manusia yang udah gede, Nit. Kalau ini sih si Naya masih kecil, mana ngerti dia kayak begituan.”
“Justru itu. Karena masih kecil, pasti dia bisa maafin lo. Anak kecil itu masih polos, belum tahu apa-apa, pasti dia bisa maafin kok asalkan lo jago ngelobi dianya.”
“Ih! Tahu ah, ngomong sama lo tuh rasanya bikin tensi darah gue naik terus.” Cibir Kiana menghapus air matanya yang keluar tadi, “tuh kan... acara nangis gue udahan deh gara-gara lo! Sebel ah!”
“Yeh, biarin lah daripada lo lama nangis. Sedih gue lihatnya tahu.”
Di lain sisi, Arya keluar dengan menggendong Kinaya dan mendudukkan dirinya juga Naya di kursi kosong yang ada di lorong jalan rumah sakit. Meskipun sudah keluar, Kinaya masih diam tidak bersuara dan terus menundukkan kepalanya.
Arya menoleh pada Kinaya yang terdiam dalam duduknya, “Naya kenapa diam? Di sini kan udah gak ada Kak Ana.”
Kinaya menggeleng dan menatap Arya dengan mata polosnya, “Ayah, Naya mau pulang ke rumah, bukan masih di sini.”
“Terus Naya kenapa ikut ke sini?”
“Naya dipaksa Tante Nita buat ikut, padahal Naya gak mau. Terus kalau enggak ikut, katanya bakal ditinggaliin di rumah, kan Naya takut kalau gitu.”
“Kamu digituin sama dia?” Arya menatapnya dengan tatapan serius dan dijawab anggukan oleh Kinaya.
“Ya udah, sekarang kita pulang.” Kata Arya, “tapi Naya jalan ya ke parkirannya, soalnya Ayah keberatan kalau terus gendong kamu.” Keluh Arya.
Kinaya cemberut, “yaaahh, ya udah deh.”
Dengan lesu, Kinaya pun berjalan mendahului Arya. Anak itu menganggap ucapan Arya tadi serius, padahal sebenarnya Arya mengerjainya supaya dia tertawa dan kembali ceria seperti biasanya.
Arya menggendong tubuh Kinaya dengan tiba-tiba, membuat Kinaya terkejut.
“Ayaaahhh.” Sorak Kinaya karena kaget.
Setelah itu, Arya mencium pipinya, “duh ada bidadari kecil yang ngambek nih gara-gara gak digendong.” Arya tersenyum meledek pada Kinaya.
Merasa diejek Arya, Kinaya bukannya marah justru tersenyum malu.
“Nah gitu dong, bidadari kecil yang cantik itu harus senyum supaya makin manis. Udah cantik terus manis, makin banyak yang suka deh.” Puji Arya sambil tersenyum.
__ADS_1