Our Fault

Our Fault
Bagian 16 - Perpisahan Itu Datang


__ADS_3

2 tahun kemudian...


Banyak sekali hal yang berubah sampai saat ini. Tapi hanya satu yang tak berubah sampai saat ini, yaitu...


Kiana masih membenci Kinaya Sheeva Malayeka, anaknya sendiri.


Mungkin Arya berpikir jika Kiana akan berubah dengan waktu yang cepat, padahal nyatanya tidak. Karena semua itu hanya akan terjadi dalam mimpi Arya saja, mungkin.


Walaupun begitu, ada juga hal yang berubah. Yaitu Kinaya.


Seiring berjalannya waktu, bayi kecil itu tumbuh dan berkembang dengan baik. Dia sudah bisa berjalan dan semakin menggemaskan saja.


Lalu bagaimana dengan kelanjutan hubungan Arya dan Kiana? Apakah mereka tetap memilih berpisah atau justru kembali bersama?


Sesuai dengan dirinya yang masih juga belum menerima Kinaya, maka tentu saja Kiana pun tetap memilih berpisah dengan Arya.


Dia masih terlalu muda untuk mengurus anaknya dan belum siap. Ditambah lagi, dirinya masih menginginkan kebebasan untuk bermain dan berpergian ke manapun tanpa adanya penghalang apapun itu.


“Kiana, aku tanya sekali lagi, kamu yakin mau kita pisah?” Arya memberikan pertanyaan di saat Kiana baru saja selesai menidurkan Kinaya ke ranjangnya.


Kiana balik menatap Arya begitu dalam, “iya! Kiana serius sama ucapan Kiana.” Katanya dan mengangguk pelan, “Kiana mau kita pisah! Kiana mau bebas, terjauh dari kalian, terutama anak itu.” Kiana menunjuk pada hal yang dimaksudnya.


Tanpa perlu melihatnya, Arya sudah tahu ke mana arah jari Kiana menunjuk.

__ADS_1


Arya mengejutkan Kiana tiba-tiba. Laki-laki itu mendekatinya dan memegang bahunya, membuat Kiana jadi salah tingkah tapi memberanikan diri untuk menatap matanya.


“Kamu gak cinta sama aku?” Kiana dibuat salah tingkah lagi oleh Arya dan diam selama tiga detik sambil tetap menatapnya.


Kenapa Kakak nanya soal itu? Tentu Kiana cinta, tapi...


Kiana langsung memalingkan wajahnya dan melepaskan tangan Arya dari tubuhnya. Dia membalikan tubuhnya membelakangi Arya.


“Kiana baru sadar Kak, kalau pernikahan itu bukan cuma butuh soal cinta aja, tapi juga kesiapan mental. Dan mental Kiana ternyata belum siap buat mulai pernikahan itu. Kiana masih ingin bebas main seperti temen Kiana yang lainnya.”


“Kalau keputusan kamu masih tetap sama, baik, kita pisah sekarang. Bujukan aku ternyata sia-sia dong ya.” Arya tersenyum miris membayangkan segala usahanya untuk mempertahankan pernikahannya, “saat kita sudah pisah nanti, aku mau bawa Kinaya dari sini.”


Kiana menggangguk pelan, semoga ini yang terbaik untukku.


“Selamat ya, akhirnya kamu bisa bebas dari kita. Semoga nanti kamu bisa bahagia dengan jalan yang kamu pilih ini.” Arya spontan mengucapkan itu. Dia tidak memiliki niatan untuk menyindir Kiana tapi berbeda dengan pemikiran Kiana.


Kiana justru malah diam kebingungan mendengar Arya. Dia merasa tersindir.


Buat apa dia ngucapin selamat kayak gitu? Apa untuk menyindir aku? Pikir Kiana. Perempuan itu menghiraukan saja perkataan Arya tadi.


“Kiana, boleh Kakak peluk kamu untuk terakhir kali?” Arya memohon pada Kiana yang langsung berbalik pada Arya.


Arya merentangkan tangannya terhadap Kiana setelahnya sambil tersenyum.

__ADS_1


Tanpa Arya duga, Kiana langsung berhambur memeluknyaa tanpa berbicara dahulu.


Kiana rasanya ingin menangis karena pelukan ini. Nanti dia tidak akan mendapatkan pelukan dari laki-laki ini seperti biasanya. Pasti dia akan merindukan pelukan ini.


Yah sama seperti Kiana, Arya juga ingin menangis, tapi dia harus menahannya di depan Kiana. Kan memalukan saja kalau dia menangis di depan perempuan itu.


Kesedihan Arya itu terjadi karena dia harus berpisah dengan perempuan yang dicintainya. Meskipun memang Kiana benci pada anak mereka, tapi tetap saja hal itu tidak membuat rasa cinta Arya pada Kiana hilang.


Arya masih mencintai perempuan labil itu. Bahkan sampai sekarang. Dia tidak tahu, apakah nansti saat mereka sudah berpisah, perasaannya ini akan menghilang atau tidak.


Pelukan yang mereka lakukan itu terjadi dalam waktu yang lama. Mereka begitu merasakan kehangatan dari pelukan tersebut.


*Maafin aku karena udah nyakitin kalian. Semoga ini jalan yang terbaik untuk kita semua.


Seburuk apapun kamu, aku masih saja cinta kamu Kiana. Aku sepertinya tidak bisa untuk membencimu*.


“Semoga nanti Kakak sama Kinaya bahagia ya, terus Kakak bisa dapatin pengganti Kiana yang jauh lebih baik dari Kiana.” Kiana berbisik pelan ketika itu dan Arya membalasnya.


“Ya, terima kasih. Kamu juga semoga bahagia dan selamat berjuang untuk mengejar cita-cita kamu itu.”


Lama berpelukan, Arya tanpa sengaja mencium kening Kiana dan itu membuat Kiana terkejut dan perasaannya campur aduk. Rasa sedih dan senang bersatu dalam diri Kiana saat itu.


Aku cinta kamu Kiana. Apakah setelah ini aku bisa melepaskanmu? Atau tidak?

__ADS_1


Aku sayang kamu, Kak. Terima kasih sudah mau menerimaku dan menjadi laki-lakiku walau hanya sebentar.


__ADS_2