
Hari ini Kiana baru saja selesai mengantar Anita untuk memeriksakan keluhan yang dirasakannya. Perempuan itu mengira kalau keluhannya itu adalah gejala kehamilan dan ternyata itu bukanlah kehamilan.
Tentunya Anita bersedih dengan kabar itu. Dia terlalu berekspektasi tinggi dan tidak berpikir
bagaimana kalau ekspektasinya itu tidak terjadi.
Setelah pemeriksaannya selesai, Anita langsung pergi ke toilet untuk menangis, sementara Kiana duduk menunggunya di kursi yang ada di lorong rumah sakit sambil memainkan ponselnya. Kiana mengerti, Anita butuh waktu untuk sendiri dan menangis tanpa diketahui orang lain.
Kiana menjeda kegiatannya tiba-tiba, dan tidak sengaja matanya menangkap sesosok laki-laki yang mirip dengan Arya dari jauh. Kiana menyipitkan matanya untuk mempertegas pandangannya dan ternyata benar itu adalah Arya.
Kenapa Arya bisa di sini? Apa dia sakit? Tapi kenapa laki-laki itu tidak memberitahu Kiana kalau dia sedang sakit? Apa sekarang Kiana sudah tidak dianggap berguna lagi olehnya? Ok, mood Kiana langsung berubah karena melihat Arya.
Tapi tunggu...
Apakah mata Kiana tidak salah lihat? Siapa perempuan hamil yang sedang bersama Arya itu? Kenapa Arya merangkul pundaknya? Apa suaminya punya hubungan lebih dengan perempuan itu dan dugaan Kiana benar soal Arya yang mengkhianatinya?
Tidak!
Tidak mungkin!
Arya tidak mungkin mengkhianatinya.
Kiana penasaran dengan perempuan itu, dan sialnya lagi perempuan itu malah memakai masker di wajahnya jadi Kiana tak bisa tahu bagaimana wajahnya.
Arya dan perempuan itu saling bersenda gurau, mereka tertawa bahagia.
Tiba-tiba mereka mendekat ke arah Kiana, untung Kiana juga saat ini sama sedang memakai masker, jadi Arya tidak akan tahu kalau Kiana ada di dekatnya dan memperhatikannya.
Mereka berjalan melewati Kiana dan menuju poli kandungan untuk memeriksakan kandungan perempuan itu.
Arya mengantar perempuan hamil itu memeriksakan kandungannya, apa mungkin anak yang dikandung perempuan itu anak Arya? Tapi kenapa bisa? Apa Arya menikahinya tanpa sepengetahuan Kiana? Berarti kalau seperti itu, Arya selingkuh dari Kiana. Arya benar menduakannya. Benar mengkhianatinya.
Teka-teki pemikiran bermunculan dalam otak Kiana. Kiana ingin dengan cepat memecahkan teka-teki yang membuatnya pusing saat ini.
Jika iya dugaan Kiana benar, kenapa Arya melakukan itu? Apa alasannya? Bukannya laki-laki itu sudah berkata tidak akan mengkhianatinya, tidak akan mendua, dan tidak akan melirik perempuan lain.
Tapi kenapa semuanya hanya kata-kata saja? Kenapa Arya tidak menepati perkataannya? Laki-laki itu pembohong! Dia membohonginya! Bodohnya Kiana begitu percaya pada laki-laki pembohong itu.
Lamunan Kiana terhenti saat merasakan ada orang yang menepuk pundaknya dan menegur.
“Ki?!”
Kiana terkejut dan menoleh, “eh iya, kenapa?”
“Lo lagi lihatin apa?” Anita memperhatikan arah pandang Kiana tadi.
“Pasti lo lagi ngela — Ki?! Itu Kak Arya kan? Kok dia bisa ada di sini terus bareng cewek hamil lagi?” Anita terkejut dan menutup mulutnya. Dia melihat Arya bersama perempuan hamil itu dari jarak jauh.
Kiana tidak mau terjadi keributan antara adik kakak itu dan Arya mengetahui keberadaannya, makanya dengan cepat dia menarik Anita pergi dari tempat itu.
“Lo udah tahu semua ini?” Seru Anita saat mereka sudah ada dalam mobilnya.
Awalnya Kiana diam menunduk bersedih, tapi dia mengangguk juga.
__ADS_1
“Pantes aja gue curiga sama lo, ternyata bener kalau kalian lagi ada masalah. Kenapa coba lo gak cerita sama gue? Gue masih jadi sahabat lo kan Kiana?”
Kiana menangis menutupi wajahnya dengan telapak tangannya.
“Gue gak tahu Nit! Gue bingung harus gimana?!bGimana nasib anak gue nanti kalau Mas Arya lebih pilih perempuan itu? Gue sedih.”
Anita menatap Kiana sendu, rasanya dia juga merasa bersalah. Dia pun merangkul Kiana dan memeluknya erat, ingin menyalurkan
semangatnya pada Kiana dan menunjukkan bahwa dirinya tak sendiri, masih memiliki Anita.
“Ki, lo gak usah sedih. Kalau Kak Arya kayak begitu, gue yang bakal turun tangan sama dia. Beraninya dia nyakitin sahabat rasa Kakak ipar gue ini.”
Kiana melepaskan tangannya dari wajahnya itu dan membalas pelukan Anita.
“Kak Arya bodoh banget kalau dia malah lepasin perempuan sehebat lo yang udah ngasih dia dua malaikat lucu. Udah, lo tenang aja, di sinibada gue yang bener-bener sayang lo dan anak lo itu. Gue udah anggap mereka kayak anak gue sendiri kok.”
Kiana tidak mau menangis terlalu lama, dia segera menghentikan tangisannya dan mengusap matanya yang berair. Kiana tersenyum menatap sahabatnya.
“Makasih, Nita. Maaf ya gue udah nangis.”
Anita tersenyum tipis dan mengangguk, “gapapa santai aja.”
“Maaf, gue nanya ini nih sebelumnya. Gue mau tahu, sejak kapan Kak Arya begitu?”
“Kalau ketahuan sama ceweknya, gue baru tahu tadi. Tapi kalau curiganya, udah mulai dari pas waktu gue nanya Mas Arya ke rumah lo atau enggak? Di situlah, gue tahu kalau Mas Arya selama ini mulai bohong sama gue.”
“Oh, begitu...” Anita mengusap kepala Kiana, “udah ah jangan sedih lagi, mending kita pulang aja. Anak lo pasti udah nunggu di rumah.”
“Hmm, ya udah.”
Perempuan itu tersenyum melihat anaknya. Sekarang anak kecil itu sudah berubah, sudah berani untuk pisah kamar dengannya.
Kiana duduk di pinggiran ranjang anaknya.
“Lho anak Bunda kenapa belum tidur? Besok kalau telat bangun gimana hayooo?” Kiana mencolek pipi Ray.
Ray menatap Kiana dengan tatapan polosnya, “Bunda... Ayah ke mana? Ayah belum pulang? Ray kangen, pengen ketemu Ayah.”
Kiana tersenyum miris, tidak tahu harus menjawab apa, karena nyatanya dia memang tidak tahu kapan Arya akan pulang, atau mungkin laki-laki itu tidak akan pulang karena sibuk dengan madunya. Dasar bejad kau Nararya Sadira Pratama!
“Ray sayang, Ayah masih ada kerjaan jadi belum pulang. Mending sekarang Ray tidur ya Nak, besok juga kan bisa ketemu sama Ayahnya.”
“Iya, tapi ketemunya cuma pas sarapan doang. Ray kan kangen main sama Ayah, Ayah sibuk kerja mulu. Ray gak suka!” Anak bungsunya merajuk, mengerucutkan bibirnya kesal.
“Ya udah, nanti Bunda ngomong deh sama Ayah supaya bisa maen lagi sama Ray kayak dulu. Nah sekarang Ray tidur ya.”
Ray tersenyum mengangguk menyetujuinya dan Kiana membenarkan selimut yang dipakai Ray di tubuhnya.
“Selamat malam ya, anak pintar Bunda. Bunda sayang kamu.” Kiana mengusap sayang kepala anaknya itu, lalu mencium keningnya.
Maaf, Bunda sudah bohong. Kalau suatu saat kita harus pergi dari kehidupan Ayah, kamu harus mau ya. Karena mungkin saja bahagianya Ayah bukan bersama kita, tapi bersama keluarganya yang lain.
Mungkin Kiana terlalu menghayati ucapannya, sampai bulir air mata menetes dari mata indahnya itu. Tapi dengan cepat Kiana menghapusnya, anaknya tidak boleh sampai tahu kalau dia menangis. Setelahnya, Kiana pergi dari kamar anaknya itu.
__ADS_1
Baru saja Kiana menutup pintu kamar Ray, dia langsung dikejutkan dengan kedatangan anak sulungnya – Kinaya. Tidak kakak tidak adik, ternyata sama saja. Sama-sama belum tidur.
“Kamu kenapa belum tidur, Nay?” Tegur Kiana.
Kinaya cengengesan menatap Kiana, “hehehe, Naya belum ngantuk Bun.”
“Ya tapikan besok kamu harus bangun pagi. Kalau kesiangan gimana? Lagian gak baik juga begadang buat kesehatan. Tuh udah jam 10 malam juga.” Kiana menunjuk pada jam yang tertempel di dinding.
“Bunda juga sama kenapa belum tidur hayooo?” Kinaya balik bertanya, tidak mau kalah dia dari Kiana.
“Yeee, kan Bunda baru nidurin Ray dulu, terus sekarang mau nunggu Ayah.”
Kinaya mendengus, “buat apa nunggu Ayah? Ayah kan seringnya pulang malam banget, malahan juga bisa sampai gak pulang.”
“Enggak, tadi Ayah sudah kabarin Bunda kalau dia mau pulang sekarang.”
Tak lama setelah itu, sosok yang mereka bicarakan itu muncul juga.
“Assalamu'alaikum....” Arya menyeru obrolan ibu dan anak itu sampai mereka menoleh pada Arya.
“Wa'alaikumsalam, tuh kan Ayah pulang Nay.” Kiana tersenyum.
Kinaya menatap Arya dengan tatapan kesalnya, “oh ya udah, Naya ke kamar aja deh mau tidur. Selamat malam Bunda.” Kinaya mencium pipi Kiana, hanya Kiana. Sedangkan Arya? Ia abaikan saja, Kinaya malas berdekatan dengannya. Salah sendiri kenapa sibuk mengurusi pekerjaan daripada keluarga sendiri.
“Si Naya kenapa? Marah sama aku?” Arya bertanya setelah Kinaya meninggalkan mereka berdua di tempat ini.
Kiana mengangkat bahunya tidak peduli, “mana aku tahu, coba kamu tanya sendiri sama dia.”
“Kiana... Jangan begitu dong, bantu aku, aku capek sudah kerja, aku gak mau ada masalah sama anak-anak.”
“Capek? Kalau kamu bahas soal capek, bukan kamu aja yang capek, tapi aku juga. Emang kamu pikir aku di rumah diam main-main gak jelas begitu? Enggak, justru aku ngurus anak-anak, ngurus rumah, nunggu kamu pulang juga sampai malam.”
Arya mendengus, “kamu marah karena aku sering pulang malam?”
“Kamu pikir aja sendiri! Udah, aku ngantuk mau tidur. Kamu kalau mau makan tuh ambil aja di dapur, hangatin sendiri kalau makanannya udah dingin.” Ketus Kiana.
Kiana langsung pergi ke kamarnya dan segera berangkat menuju alam mimpinya yang indah, lebih indah dari kehidupan nyatanya sekarang.
Perempuan itu sudah memejamkan matanya akan tidur. Seketika dia merasakan ranjangnya bergerak, sepertinya itu Arya pikirnya.
Arya memeluk Kiana dari belakang, menempelkan dagunya di bahu Kiana yang membuat Kiana merasa geli. Arya berpikir jika Kiana sudah tidur, padahal belum.
Kiana merasakan deru nafas Arya di dagunya. Dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa dia sungguh merindukan sentuhan suaminya itu. Sudah lama Kiana tidak merasakan pelukan Arya.
Ketika merasakan sentuhan ini, Kiana tak ingin melepaskan laki-laki ini untuk perempuan lain, dia ingin lelakinya berada dengannya selalu bersama anak mereka dan tanpa ada orang penghalang siapapun itu.
Arya mencium puncak kepala Kiana lama membuat Kiana jadi terdiam.
“Maafkan aku, sayang.” Arya berbisik pelan di telinganya dan setelah itu langsung tertidur.
Sedangkan Kiana, dia membuka matanya karena bisikan itu, memikirkan ucapan Arya tadi.
Maaf? Arya tadi berkata maaf padanya? Apa maksud Arya maaf karena dia sudah berbohong? Berselingkuh? Mengkhianatinya? Mempunyai anak dari perempuan lain? Menyakiti hati keluarganya? Begitu? Jika iya, maka Kiana akan mempertimbangkan maafnya itu.
__ADS_1
Mas, kenapa kamu bohongi kita? Kenapa kamu berkhianat? Kalau anak-anak tahu semua ini, apa yang harus aku katakan sama mereka? Terutama Naya.
Meskipun kamu udah sakiti aku, aku tetap gak mau pisah dari kamu karena anak-anak, juga aku gak akan biarkan kalau harus lepaskan kamu buat perempuan lain.