
Esok harinya, menurut Kiana hari ini sungguh berbeda dari hari biasanya. Suaminya tidak berangkat buru-buru, mungkin istri keduanya tidak menghubunginya untuk berkunjung kali. Ah sudahlah, untuk apa Kiana pikirkan itu? Sungguh tidak berguna.
“Mas bajunya sudah aku siapkan di kasur, aku mau ke bawah periksa anak-anak.” Kiana menyahut pada Arya yang sedang mandi.
“Jangan... Tunggu dulu, bantu aku pakai dasi.” Arya balas menyahut dari dalam kamar mandi.
Kiana mendengus kesal. Bukannya Arya bisa memakai dasinya sendiri? Kenapa laki-laki itu meminta bantuannya? Manja sekali.
“Kamu bisa juga Mas.” Tolaknya kesal.
“Lupa lagi caranya gimana. Bentar lagi aku udah kok mandinya.”
Tidak lama, Arya keluar juga dari kamar mandi dengan mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya dan bagian atasnya yang terbuka.
“Tuh buruan pake bajunya, masih ada anak-anak yang harus aku urusin.” Seru Kiana dan bersedakap dada menunggu Arya.
Arya langsung memakai bajunya dengan cepat. Selesai sudah, kini waktunya dia pakai dasi.
“Tolong pakein.” Arya memberikan dasinya pada Kiana.
Kiana segera memakaikan dasi itu dengan seriusnya.
“Kamu makin cantik ya ternyata.” Arya memperhatikan Kiana yang sangat fokus memakaikannya dasi.
Arya menangkup pipinya, “kamu juga gemukan deh, jangan-jangan kamu hamil lagi nih?” Goda Arya lalu mencium bibir Kiana tiba-tiba dan merangkul pinggangnya.
Kiana tidak suka atas perlakuan Arya yang seenaknya saja itu. Dia mendorong dadanya saat akan menciumnya untuk kedua kali.
“Mas, lepas. Aku harus ngurusin anak-anak dulu.”
Arya melepaskan Kiana dan masih setia tersenyum. “kamu kenapa? Masih pagi udah marah mulu. Lagi PMS ya? Atau emang lagi isi lagi nih ini perutnya?” Arya memegang perut Kiana dan dilepas langsung olehnya.
“Kamu pikir aja sendiri kalau punya otak, jadi manusia itu kan harus ngotak.”
Arya mengernyit bingung. Dia punya salah apa sama Kiana? Apa karena dia keseringan pulang malam? Ah daripada dia pusing pikirkan itu, lebih baik dia makan saja.
“Pagi semuaaaa.” Arya menyapa anak dan istrinya yang sedang sarapan.
Arya mencium pipi kedua anaknya, juga mencium kening istrinya. Sudah lama dia tidak melakukan hal itu pada orang tersayangnya. Kemudian Arya duduk di kursi tempatnya.
“Pagi juga Ayaaahh.” Balas Ray tersenyum.
Hanya Ray yang membalas sapaannya. Ok, sepertinya memang kedua bidadarinya sedang merajuk karena sering pulang malam ke rumah.
“Naya sama Ray sekarang berangkatnya sama Ayah aja ya?” Kata Arya sambil mengambil nasi goreng ke piringnya.
Kedua anaknya hari ini akan pergi. Jika Kinaya akan pergi sekolah, maka Ray akan pergi bermain ke rumah Fabian, kakaknya Kiana.
“Ray mau Ayah, Ray seneng dianterin sama Ayah.”
“Gak perlu, kita dianterin sama Bunda aja. Ayah pasti sibuk kerja.” Kinaya berbicara datar tanpa menatap Arya.
“Enggak kok Nay, Ayah gak sibuk banget sekarang.”
“Gak percaya, Ayah suka bohong.” Kinaya masih menolak.
“Ayah beneran kok gak —”
“Bun, Naya udah makannya. Ayo anterin sekarang.” Kinaya bangkit dari duduknya.
“Dianterin sama Ayah aja ya Nay, Bunda ada urusan penting soalnya.”
“Ya udah. Ray buruan ayo ditunggu di luar.” Titah Kinaya dan Ray menurutinya, “Naya berangkat ya Bun, assalamu'alaikum.” Dua anak itu mencium tangan Kiana, lalu Kiana mencium pipi mereka.
“Iya, hati-hati ya sayang.”
Kedua anak itu pergi menuju mobil yang terparkir di halaman rumah.
“Mas cepetan, mereka gak mau nunggu kamu lama.” Kiana menyahut pada Arya yang masih saja sibuk makan.
__ADS_1
“Tapi aku masih laper, Ki.”
“Beli aja makan di luar, biasanya juga kamu sering begitu. Kenapa sekarang makan di rumah tumbenan.” Sebenarnya Kiana berkata seperti itu untuk menyindir Arya.
“Ya udah, buatin bekal buat aku aja buruan.”
“Hmm, iya iya, bentar aku buatin.”
Saat siang harinya, Kiana pergi ke luar rumah sekalian akan menjemput anaknya. Sebelum menjemput, Kiana pergi dahulu ke supermarket besar, untuk membeli keperluan bulanannya yang sudah mulai habis.
Ketika melewati rak perlengkapan bayi, Kiana mampir melihat-lihat barang itu. Ingin sekali dia memiliki bayi lagi. Tapi bagaimana dia bisa punya anak lagi, sedangkan hubungannya dengan suaminya sekarang sedang dalam masalah.
Apa makhluk mungil itu akan ada lagi di sini sekalipun ketika orang tuanya sedang berada dalam masalah? Kiana membatin memegang perutnya.
Saat Kiana sedang berada dalam kegiatannya, tidak sengaja dia melihat seseorang yang dikenalnya. Kiana menghampiri dan menyapanya.
“Hei, kamu ngapain di sini Mas?” Kiana menepuk pundaknya.
Orang itu menoleh, tersenyum canggung, “lho Kiana sayang, kamu di sini juga?”
“Mas, kamu belum jawab aku. Kamu ngapain di sini? Kalau tahu kamu ke sini, aku nyuruh kamu aja yang beli kebutuhan bulanan kita.”
“Oh iya... Itu... Aku gak sengaja ke sini, ngedadak kok... Mau ngasih hadiah buat istrinya temen aku yang baru lahiran.”
“Emang temen kamu yang mana yang lahirannya? Kok aku gak tahu.” Pikir Kiana.
“Oh, itu... Dia dosen baru di kampus, belum sempet aku kenalin ke kamu, jadi kamu belum kenal dia.” Arya tersenyum kaku pada Kiana.
“Kamu udah jemput anak-anak?” Arya mengalihkan topik pembicaraan mereka.
“Ya ampun belum! Ya udah, aku pergi duluan ya, mau jemput mereka. Kamu hubungi aku nanti mau pulang jam berapanya Ok.” Kiana mencium pipi Arya dan berlalu meninggalkannya dengan cepat karena buru-buru.
Sepeninggal Kiana, seorang perempuan hamil muncul dan menghampiri Arya sampai membuat Arya terkejut.
“Mas?!”
“Eh ya ampun! Kamu bikin aku kaget aja.”
Arya mengangguk, “kok tahu? Kamu ke mana saja tadi? Kiana gak lihat kamu kan?”
Perempuan itu memegang tangan Arya dan tersenyum, “kamu tenang aja, dia gak lihat aku kok, karena aku langsung pergi pas dia lagi milih-milih perlengkapan bayi.”
“Oh, syukur deh. Aku takut semuanya ketahuan sama dia.”
Di malam yang sudah begitu larut ini, Kiana merasa kebingungan. Harus pada siapa dia meminta bantuan? Kedua anaknya sakit. Ray sakit demam tinggi bahkan sampai mimisan, sedangkan Kinaya kecelakaan karena
kecelakaan, tadi ada yang memberitahu Kiana soal itu. Tapi beruntungnya Kinaya sudah dibawa ke rumah sakit, dan ada Fabian yang sedang menunggunya.
Ujian apa lagi ini yang harus Kiana hadapi? Cukup! Kiana tidak mau kehilangan orang yang dia sayangi juga menyayanginya untuk kedua kalinya, cukup Arya saja yang menjauh. Sedangkan kedua anaknya jangan.
“Ya ampun Ray, kamu kenapa demamnya tinggi sayang? Mimisan lagi.” Kiana panik dan menggendong anaknya itu. Ray menyandarkan wajahnya di bahu Kiana, dia terlalu lemas untuk mengangkat wajahnya itu.
“Bunda telpon Ayah dulu ya Nak, terus kita ke rumah sakit.” Kiana mengusap kepala anaknya itu dan mencium kepalanya.
Kiana mencoba menghubungi Arya tapi belum juga ada jawaban.
Mas, angkat aku mohon. Ini penting. Menyangkut nyawa anak kita.
Sudah beberapa kali Kiana menghubunginya, tapi laki-laki itu tidak kunjung juga menjawab. Sedang sibuk dengan madunya ya Mas? Tidak mau diganggu? Sampai lupa menjawab panggilan dari istri pertamanya.
Ayah kamu sudah tidak sayang kita Ray, dia lebih pentingkan keluarga barunya itu.
“Bunda...” Ray memanggilnya dengan suara lemasnya juga tanpa menatap Kiana.
“Kenapa sayang?” Kiana khawatir dan mengusap kepala Ray. Hati Kiana merasa teriris melihat anaknya begitu, lebih baik dia saja yang mengalami sakit daripada anaknya.
“Ayah mana?” Arya bertanya dengan pelan-pelan.
“Ayah masih kerja Ray. Ray mau ketemu Ayah?”
__ADS_1
“Iya.”
“Tapi ke rumah sakit dulu ya sayang, Ray harus diperiksa sama dokter, nanti Ayah nyusul. Bunda gak mau kamu kenapa-napa.”
“Hmm.”
Kiana langsung membawa anak itu ke rumah sakit yang sama dengan dengan rumah sakit di mana anak perempuannya dirawat sebelum terlambat.
Sudah diperiksa dokter, ternyata Ray juga sama harus dirawat untuk beberapa hari sampai keadaannya pulih. Berhubung kedua anaknya itu sama-sama harus dirawat di rumah sakit yang sama pula, jadinya Kiana meminta pada pihak rumah sakit supaya Kinaya dan Ray untuk disatukan dalam satu ruangan. Ini supaya memudahkan Kiana dalam merawat mereka.
Sekarang Kiana bersama Fabian menunggu Arya yang belum datang.
“Arya mana Dek? Dia sudah dikasih tahu belum?” Fabian bertanya pada Kiana.
Kiana mengangguk lesu, “udah, tadi telpon sama SMS, tapi belum ada balasan.”
“Mungkin dia lagi di perjalanan pulang kali.”
“Iya mungkin.”
“Sudah, kamu tidur aja gih. Mereka biar Kakak yang jagain.”
“Enggak ah Kak, rasanya hati Kiana gak tenang kalau mereka masih seperti ini.”
“Ya sudah, kalau begitu biar Kakak yang tidur.”
Kiana mendengus, “duh dasar, kirain sama mau begadang biar sejoli kayak di drama.”
“Yeee, ini kehidupan nyata saya ya, bukan kehidupan picisan mereka, jadi ya tentu beda. Sudah, Kakak ngantuk mau tidur.”
“Ya udah sono noh, ada kursi juga, tidur di sana.”
Arya benar-benar tega menurut Kiana, anak-anaknya sedang tidak dalam keadaan baik, tapi laki-laki itu malah baru datang ke hadapannya di jam 5 pagi. Beruntungnya saat itu anak mereka belum bangun, jadi tidak ada yang akan mengganggu Kiana untuk mengomeli Arya.
Kiana melihat Arya datang dengan keadaan yang sungguh berantakan juga panik.
Arya menghampiri Kiana, “anak-anak keadaannya gimana?”
“Udah mendingan.” Jawab Kiana sedikit malas, “kenapa baru dateng? Telpon aku gak diangkat terus pesan aku gak dibales, kenapa? Sibuk ngapain aja kamu Mas sampai lupa kalau anak-anak kamu lagi sekarat? Untung mereka selamat, gimana kalau enggak? Mau kamu aku salahkan?”
“Iya, maaf aku baru datang. Aku tadi kebablasan tidur di rumah temen pas acaranya selesai.”
Apa ucapan kamu itu benar Mas? Tapi kenapa hati aku berkata kalau kamu kembali bohongi aku.
“Acara? Emang acaranya sepenting apa sampai kamu gak sempet buat angkat telpon atau balas pesan aku Mas?” Kiana menjeda perkataannya sejenak.
“Kamu tahu, aku panik sewaktu tahu Naya kecelakaan dan Ray demam. Aku gak tahu harus ngapain, aku bingung, aku panik juga takut. Ke mana kamu saat aku butuh kamu? Suami macam apa sih kamu sampai lupa keluarganya dan justru malah mentingin pekerjaannya terus!”
Kiana menangis setelah mengeluarkan semua perasaannya. Sebenarnya, bukan karena kesibukan Arya alasan Kiana menangis, justru karena kebohongan yang dilakukan laki-laki itu.
Kalau Kiana tidak bisa menahan semuanya, sudah Kiana bongkar kebohongan suaminya itu sekarang. Tapi Kiana berpikir lagi, dia tidak boleh gegabah dan harus segera mencari kebenarannya dahulu. Siapa perempuan yang bersama Arya tempo hari itu.
Arya memeluk Kiana erat, “maaf. Aku gak akan begitu lagi, aku akan selalu ada untuk kalian.”
Kiana melepaskan pelukan tersebut paksa sampai Arya terkejut.
“Gak usah kamu bicara seperti itu, kalau kamu belum mampu menepatinya.” Sinis Kiana.
“Aku janji Kiana.” Arya memegang pundak perempuan itu.
“Gak! Kamu gak perlu buat janji kayak begitu! Aku bukan butuh janji kamu, tapi aku butuh pembuktian kamu. Sudah lepaskan.”
Kiana melangkahkan kakinya menuju kamar mandi di ruangan itu. Saat sudah di depan kamar mandi, Kiana berbalik pada Arya.
“Oh iya, daripada di sini, mending kamu pulang aja ke rumah terus kerja lagi. Bukannya pekerjaan kamu lebih penting daripada keluarga kamu sendiri.” Kiana menyindirnya dan langsung masuk ke kamar mandi.
Hati Arya tertohok mendengar sindiran istrinya itu. Ya, dia tahu dia salah karena terlalu sibuk dengan urusannya sendiri sampai lupa pada keluarganya.
Arya menghampiri saja kedua anaknya yang masih tertidur dan mencium keningnya.
__ADS_1
Maafkan Ayah ya Nak, Ayah terlalu sibuk sama urusan Ayah, sampai lupa sama kalian.