Our Fault

Our Fault
Bagian 57 - Kembali


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian...


Sesuai dengan kesepakatan waktu itu, kalau Kiana boleh menginap selama dua minggu. Lalu harus pulang jika waktu yang disepakati sudah tiba. Mau tidak mau Kiana harus pulang, dengan diantar oleh Andra sampai rumahnya. Rumah Kiana dan Arya.


Hati Kiana belum sepenuhnya pulih dan bisa memaafkan kesalahan Arya itu. Tapi demi anak-anaknya, Kiana harus bersedia untuk pulang. Dia sadar dengan perkataan Andra waktu itu. Bahwa dia harus menurunkan egonya dahulu demi anak-anaknya. Kasihan anak-anaknya jika harus dia tinggalkan lama.


Kiana sudah berada di depan pintu rumahnya. Dia diam mematung. Bingung, entah apakah harus masuk atau tidak.


Perempuan itu lama berpikir. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi saja dan tidak perlu kembali lagi ke hunian itu.


Kiana membalikkan tubuhnya akan pergi. Namun saat dia baru saja akan melangkah, tiba-tiba ada sebuah tangan yang memeluknya dari belakang.


“Bunda?” Dia Kinaya. Anak sulungnya menyeru padanya.


“Bunda mau pergi ke mana lagi? Naya kangen Bunda, Ray juga. Kita sedih Bunda pergi, termasuk Ayah. Bunda mulai sekarang jangan pergi lagi ya.” Pintanya dan semakin mengeratkan pelukan itu.


Kiana ingin menangis. Dia bodoh. Dia egois. Dia terlalu memikirkan hatinya yang rusak untuk diperbaiki, tanpa memikirkan nasib anaknya dan keluarganya. Dia pun berbalik menghadap pada anak itu dan balas memeluknya. Sesekali dia menciumnya.


“Maafkan Bunda sayang, sudah pergi seenaknya tanpa pikirkan nasib kalian.” Kiana bersedih. Dia menangis membuat Kinaya menoleh padanya.


Kinaya mengusap air mata yang mengalir di wajah ibunya itu dan tersenyum, “udah ah, mending sekarang Bunda masuk ke dalam yuk. Bunda istirahat, Naya mau berduaan sama Bunda. Ray juga ada di dalam lagi tidur.”


Perkataan itu membuat Kiana tersenyum. Dia langsung saja menyetujui perkataan Kinaya tadi.


Sekarang Kiana sudah berada di dalam rumahnya dan saat ini sedang membereskan bajunya sambil ditemani anak sulungnya. Mereka mengobrol.


“Nay, Ayah suka pulang ke sini?” Kiana membuka obrolan di antara mereka.


“Iya, Ayah sering kok pulang ke sini. Tapi pulangnya suka malam terus. Mampir dulu ke madunya itu kali.” Kinaya berkata begitu frontal.


“Emang madunya itu enggak pernah mampir ke sini buat main atau ikut nginap tidur gitu?”


“Enggak pernah. Mana berani dia ke sini. Kalau nanti Ayah bawa dia ke sini, Naya enggak segan-segan mau marahin dia terus pergi. Naya enggak suka Bun, sama perempuan itu. Gara-gara dia, kebahagiaan keluarga kita hampir hancur.”

__ADS_1


Kiana menghela nafas pelan dan menghampirinya, “sayang, walaupun begitu, dia juga sama Bunda kamu, dia juga kan istrinya Ayah.” Bantah Kiana.


“Bunda kenapa sih selalu baik sama orang yang kayak begitu yang sudah jahat sama Bunda?” Tanya anaknya, membuat Kiana tersenyum.


“Ya terus Bunda harus bagaimana? Apa Bunda harus jambak rambut dia terus balas dendam, begitu? Ihhh enggak banget. Itu bukan cara Bunda ya. Bunda cukup buat balas dendam yang baik dan cerdas, yaitu dengan berbuat baik kembali sama dia, biar dia tahu rasa dan sadar, juga menyesal sudah jahat sama Bunda. Itu balas dendam yang menurut Bunda baik.”


“Sudah, mending kamu jaga dulu itu si Ray yang lagi tidur. Atau enggak sekalian aja tidur siang. Biar enggak berisik nantinya.” Ledek Kiana tertawa pelan, membuat anaknya mendelik tapi langsung memeluknya.


“Hihihi, iya deh. Naya ke kamar ya Bunda sayang yang cantik.” Kinaya lalu mencium pipi ibunya lalu pergi dari kamar itu.


Kiana sudah menyelesaikan tugasnya membereskan bajunya. Kini dia lanjut mengerjakan tugasnya yang lain. Memasak untuk keluarganya. Bukan, tapi anaknya. Karena mungkin saja suaminya itu tidak akan pulang ke rumah. Bisa saja dia pulang ke rumah madunya.


Perempuan itu sibuk meracik semua bahan makanan yang ada, juga dengan resep yang dia bisa. Hingga dia tidak sadar, bahwa sebenarnya ada seseorang yang masuk ke dapurnya dan...


Grep...


Seseorang itu memeluknya dari belakang. Dia merindukan pujaan hatinya. Kekasih hatinya yang sebelumnya pergi namun kini sudah kembali.


“Kamu pulang sayang?” Hanya kalimat itu yang dapat keluar dari mulutnya Arya.


Kiana terkejut ketika tangan itu hinggap di perutnya. Dia pikir itu Kinaya, tapi ternyata Arya, suaminya.


“Mas?”


“Hmm. Kamu kenapa pergi?” Balasnya sambil mengusap perut istrinya itu.


Kiana merasa geli dengan perlakuan Arya itu padanya, “Mas, bisa kamu lepas tangan kamu?” Suruhnya tapi dihiraukan oleh Arya dan malah semakin mengencangkan pelukannya itu.


Arya menaruh dagunya di pundak Kiana, “aku minta maaf Kiana, aku terlalu bodoh sudah merusak kebahagiaan keluarga kita. Aku memang laki-laki jahat karena sudah sakiti kamu.” Sesalnya.


“Aku mohon, kamu jangan pergi lagi dari hidup aku. Mungkin ini picisan, tapi jujur sewaktu kamu pergi, rasanya hidup aku merasa kosong, seperti ada yang hilang. Aku sayang kamu, tolong ya, kamu jangan pergi lagi.” Suara Arya begitu pelan dan terdengar seperti orang yang sedang bersedih.


Kiana berhenti tiba-tiba dengan kegiatannya

__ADS_1


sendiri.


Kalau begitu, lalu kenapa kamu mencari perempuan lain? Bukankah itu tandanya aku kurang bagi kamu.


“Mas,” Kiana melepaskan tangan Arya dan menghadapkan tubuhnya pada laki-laki itu, “omongan kamu terlalu berlebihan, aku enggak suka.” Kiana tidak peduli dengan perkataan Arya itu dan menepuk dada laki-laki itu pelan.


“Kalau kamu sayang aku, kenapa kamu cari


perempuan lain? Apa aku kurang buat kamu? Oh iya, asal kamu tahu, aku pulang juga bukan karena kamu, tapi karena anak-anak. Takutnya kamu malah bawa perempuan


itu ke rumah ini dan akhirnya kamu menelantarkan anak aku.”


“Kiana, aku mana mungkin menelantarkan


mereka, mereka juga anak aku.” Arya meraih dan menggenggam tangan Kiana. Penjelasannya pada Kiana sangat terlihat kalau laki-laki itu tidak menampakkan kebohongan.


Kiana tidak suka tangannya disentuh Arya dan segera menjauhkannya, “sudahlah, sekarang kita lupakan dulu masalah ini. Aku sekarang mau masak dulu, aku tidak mau anak-anak lihat perdebatan kita sekarang. Lebih baik kita bahas soal ini nanti bagaimana, terutama mengenai kelanjutan pernikahan kita.” Tubuh Kiana langsung membelakangi Arya.


Arya tidak pantang menyerah, laki-laki itu terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari istrinya.


“Tapi Kiana, aku mohon maafkan aku.” Pinta Arya sekali lagi, kini sambil menciumi tangan istrinya itu berkali-kali.


Tatapan mata Kiana pada Arya begitu muak melihat tangannya dicium laki-laki itu. Benar, dia memang muak, muak sekali. Setelah dengan mudahnya menyakitinya sekarang dengan mudahnya juga laki-laki itu meminta maaf padanya? Hah, tidak berperasaan sekali dia.


“Mas! Kamu dengar tidak aku tadi bilang apa? Kita bahas semuanya nanti. Aku tahu, pasti ada yang mau kamu jelaskan sama aku dan aku akan mendengarkannya, tapi waktunya bukan sekarang.” Kiana tidak tahan dan membentak Arya.


Tangan Arya merasa lemas dan perlahan melepaskan tangan Kiana, “baiklah, aku akan menunggu.”


****


**Ditunggu votenya ya...


Bagaimana? Masihkah kalian kesal dengan si Arya? 😅**

__ADS_1


__ADS_2