
Sampai akhirnya, Arya benar-benar melaksanakan apa yang Kiana ucapkan waktu itu perihal mengajak Afriani untuk tinggal bersama mereka.
Padahal saat itu kalau Arya mengerti, sebenarnya alasan Kiana berkata begitu bukan karena dia benar-benar memiliki niat untuk mengajak Afriani tinggal bersama, justru niat Kiana sebenarnya adalah hanya untuk menyindir laki-laki itu. Mungkin saja dengan menyindirnya, laki-laki itu akan merasa malu atau sangat sadar akan kesalahannya.
Tapi sayang beribu sayang, ternyata laki-laki itu tidak menyadari kalau itu sindiran dan malah melaksanakan perkataannya. Ah Arya memang laki-laki bodoh menurut Kiana. Tapi bagaimana bisa laki-laki bodoh itu menjadi dosen? Heran Kiana.
Hingga sekarang, Kiana juga Afriani sudah tinggal bersama dalam satu atap dan berbagi suami sekitar kurang lebih satu bulan.
Arya pikir, membawa Afriani tinggal ke rumahnya akan membawakan dampak baik bagi hidupnya. Namun ternyata, hal itu salah. Kedatangan Afriani justru membawa dampak buruk. Bahkan suasana rumahnya pun berubah menjadi kurang nyaman semenjak adanya Afriani. Menyesal Arya sudah membawa perempuan itu.
Begitu banyak yang tidak menyukai kedatangan Afriani, bukan hanya Kiana tapi juga Kinaya.
Dari awal Afriani datang, anak itu tidaklah menyambut kedatangannya dengan baik. Kinaya benar-benar membenci Afriani. Perempuan yang sudah mulai menghancurkan hubungan kedua orang tuanya dan merusak kebahagiaan keluarganya. Mood Kinaya pun menjadi buruk kalau kalau dia harus berpapasan wajah dengannya.
“Mas, nanti kamu tidur sama aku ya.” Pinta Kiana saat laki-laki itu sibuk terus dengan laptop miliknya.
“Tapi kan hari ini jadwalnya aku tidur sama Afriani, Kiana.” Laki-laki itu ternyata menolak permintaan Kiana.
“Loh memang kenapa? Bukannya kemarin kemarin juga kamu tidur sama dia, padahal waktu itu jadwalnya kamu sama aku.” Kiana tidak akan mengalah pada perempuan itu.
“Iya, aku tahu. Tapi waktu itu tolonglah kamu memakluminya Kiana, Afriani sedang hamil besar, kalau tiba-tiba dia mau melahirkan sedangkan aku tidak ada di dekat dia nanti bagaimana? Bahaya itu. Apalagi kata dokter prediksi dia melahirkan dalam waktu dekat ini.” Bantahnya.
Raut wajah Kiana berubah langsung menjadi lebih serius, “kamu untuk apa peduli sama dia? Dia itu sedang tidak hamil anak kamu. Apa mungkin kamu sudah mulai ada rasa dengan dia?.” Kiana menaruh kecurigaan pada lelaki yang sedang bersamanya sekarang.
“Tidak Kiana, bukan begitu – aku...”
“Ya sudah, aku tidur sendiri saja. Kamu sana cepat tidur sama dia.” Kiana menepuk pundaknya lalu pergi meninggalkan Arya dengan perasaan kesal.
Esok harinya, sikap laki-laki itu pada istri mudanya masih sama seperti semalam. Lebih mementingkan yang kedua daripada yang pertama.
__ADS_1
Kiana melihat Arya yang baru saja mengajak Afriani jalan-jalan di sore hari sambil membawa Ray. Mereka tertawa bahagia.
Kiana terbakar api cemburu melihat
kebersamaan mereka. Harusnya dari sejak tahu hubungan mereka, Kiana itu menghempaskan Afriani, menjauhkan perempuan laknat itu dari jangkauan Arya, bukan memberinya kemudahan untuk semakin merebut Arya darinya dengan tinggal di sini. Kiana begitu menyesal.
“Bunda...” Ray memanggil Kiana yang terdiam dengan perasaan cemburunya.
Kiana berubah tersenyum melihat Ray yang menghampirinya dan memeluk kakinya.
“Wah anak Bunda sore-sore begini habis ke mana nih? Pasti perginya belum mandi dulu ya?” Kiana memegang kepala Ray, mencubit pipinya gemas.
Ray tertawa pelan akan perlakuan Kiana padanya, “tadi Ray sama Ayah dan Tante Afri sudah ke dokter, Bunda. Ray lihat bayi Tante Afri yang diperiksa sama dokter. Kata dokternya bayi punya Tante Afri itu cewek. Ray enggak sabar deh lihat bayinya.” Ray tersenyum menceritakan, terlihat sekali kalau anak itu sangat senang.
Berbeda dengan Kiana, dia justru merasa iri dan tersenyum tipis. Mengantar Afriani untuk periksa kandungan saja bisa, tapi kenapa kalau harus mengantar dirinya Arya tidak bisa? Laki-laki itu selalu saja memberikan alasan padanya. Ya kalau tidak sibuk ada pekerjaan banyak, paling ada mahasiswa yang akan bimbingan skripsi.
“Ray senang ikut sama mereka?” Tanya Kiana dan tentunya langsung Ray jawab dengan anggukan, karena dia memang benar senang.
“Kalau begitu, Ray mandi dulu ya sama Ayah. Bunda mau ke luar sebentar soalnya.”
“Bunda mau ke mana emang?”
“Mau beli makan dulu sebentar.”
“Ray sekarang mau mandi sendiri ya Bunda.” Kata Ray dan berlalu pergi.
Tersisa di sini hanya Arya, Kiana, juga Afriani.
“Kamu mau beli makan ke mana?” Sahut Arya saat Ray baru saja pergi.
__ADS_1
“Kenapa? Mau nitip? Ya sudah mana uangnya? Tapi aku minta kunci motor kamu, aku mau berangkat pakai motor kamu soalnya.” Kiana mengulurkan tangannya, meminta Arya memberikan kunci motornya.
“Tidak! Aku tidak akan kasih! Kamu itu minggu kemarin baru saja kecelakaan motor Kiana. Belum juga sembuh lukanya, sekarang mau naik motor lagi. Kamu enggak kapok emangnya?”
“Kamu kenapa jadi sibuk sama urusan aku sih? Biasanya juga enggak begini, dan sibuk saja sama si Afriani. Toh kalau terjadi apa-apa lagi sama aku ya tinggal dibawa ke rumah sakit saja. Apa susahnya coba?” Ucap Kiana asal.
“Kiana! Kamu kalau bicara jangan asal! Ucapan itu doa.” Ralat Arya dengan nada suara yang meninggi.
“Aku enggak asal bicara, tapi emang kenyataannya begitu!” Bantahnya, lalu meminta lagi pada Arya, “buruan mana
kuncinya?”
“Enggak! Aku enggak mau kamu dalam bahaya lagi. Mending aku saja yang beli. Kamu mau apa emang?”
“Aku maunya beli sendiri!” Tolak Kiana kukuh.
“Kiana, kamu sadar kalau kamu itu sekarang lagi hamil?”
“Hamil? Hamil apanya? Aku tidak hamil, justru aku baru saja keguguran gara-gara kecelakaan motor itu! Apa kamu lupa waktu itu dokter bilang apa? Bayi di sini sudah mati Arya! Sudah mati!” Kiana menunjuk perutnya dan menatap Arya tajam sekaligus marah.
“Bayi itu mati gara-gara kamu! Kamu lebih mementingkan dia daripada aku! Kamu sering kasih perhatian dia yang sebenarnya bukan hamil anak kamu, sedangkan aku yang hamil anak kamu sering kamu abaikan!” Sindir Kiana dan melirik tajam Afriani, “aku stres, aku sakit, aku benci kamu juga. Maka wajar saja kalau bayi itu pergi dengan cepat.” Lanjutnya.
Afriani tertegun akan ucapan Kiana itu. Ya, dia merasa sakit juga tersindir walau memang kenyataannya ucapan itu benar.
Tapi dia heran pada Kiana, kenapa perempuan itu setuju saja saat Arya mau membawanya ke rumah ini kalau dia sendiri tidak mau berbagai suami dengannya? Karena kalau Afriani tinggal di sini, berarti Kiana harus terima dong konsekuensinya. Melihat suaminya berduaan dengan madunya. Afriani.
“Kiana, aku...” Arya hendak akan meraih tubuh kecil Kiana tapi perempuan itu langsung menjauhkan diri darinya.
“Sudah, aku tidak mau membahasnya lagi.” Kata Kiana dengan malasnya dan pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
*****
Tinggal beberapa part lagi ceritanya mau berakhir ini. Tetap semangat bacanya ya!😊💕