Our Fault

Our Fault
Bagian 46 - Silahkan Pergi


__ADS_3

Beberapa hari dirawat, akhirnya Kinaya beserta Ray bisa pulang juga ke rumah dengan keadaan yang sudah cukup pulih dari sebelumnya.


Kembalinya ke rumah membuat Ray senang, dia bisa bermain lagi dengan mainan kesayangannya. Sedangkan Kinaya, dia bisa tidur lagi di ranjang kesayangannya, karena ranjang rumah sakit tidak senyaman ranjang kamarnya.


Jika dihitung, ini sudah menjadi hari ketiga mereka kembali ke rumah ini. Karena keadaannya sudah cukup pulih, Ray menagih ucapan Arya waktu itu yang katanya mau mengajaknya ke kebun binatang.


“Ayaaahh....” Ray menarik-narik baju Arya.


Ketika Arya akan menjawab sahutan Ray, ponselnya berbunyi ada panggilan masuk.


“Sebentar ya Ray, Ayah angkat telepon dulu.” Arya meminta izin pada Ray dan memegang kepalanya.


Arya menerima panggilan itu.


“Iya? Ada apa?” Sahut Arya sambil menatap Ray yang memperhatikannya.


Arya menghela nafas, “nanti aja ya. Aku sibuk, gak bisa.”


“Hmm.” Gumam Arya dan langsung mematikan ponselnya.


Arya menyimpan ponselnya kembali ke saku celananya. Lalu pandangannya tertuju pada Ray. Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan anak itu, “Ray sayang ada apa tadi

__ADS_1


panggil Ayah?”


“Ray mau ke kebun binatang Ayah, Ayah kan waktu itu udah bilang mau ajak Ray kalau Ray sembuh.”


Oh tidak! Arya baru ingat, kalau dia sudah mengucapkan kata ajakan itu pada Ray. Walau tak ada kata 'janji' nya, tetap saja Ray sudah menganggapnya sebagai janji dan harus ditepati. Sedangkan untuk sekarang dia tidak bisa karena ada urusan penting mendadak. Dasar bodoh Arya.


“Oh iya ya, Ayah baru inget.” Arya tersenyum menyengir.


Wajah Arya sudah bingung harus menjawab apa, kalau dirinya berkata tidak bisa nanti anaknya akan marah padanya. Harus bagaimana dia sekarang?


“Kita ke Bunda dulu yuk.”


Makian Ray itu terdengar sampai ke telinga ibu dan anak yang sedang sibuk mengobrol berdua dan berlari menghampiri mereka.


“Ya ampun Mas, ini ada apa? Muka ini anak kenapa bisa nyebelin begini coba?” Kiana menunjuk Ray yang berdiri dengan alis berkerut dan bersedakap dada, layaknya orang sedang marah.


Arya bangkit berbisik pada Kiana, “dia nagih ke aku, soal ajakan ke kebun binatang itu lho.”


“Oh itu, ya terus apa masalahnya? Kamu juga libur kan sekarang? Jadi bisa dong bawa Ray ke sana.”


“Hari ini aku gak bisa. Tadi ada yang nelpon aku harus datang ke kampus.”

__ADS_1


“Sore-sore begini ke kampus? Mau ngapain? Emang siapa sih yang nelpon kamu itu? Jangan-jangan selingkuhan kamu lagi. Kamu kan udah jarang dapet jatah dari aku.” Ledek Kiana yang sebenarnya dia memang serius berbicara seperti itu.


Wajah Arya menegang langsung mendengar kata 'selingkuh' dari mulut istrinya tadi.


Ya, dia selingkuhan aku.


Kiana tertawa selanjutnya karena melihat reaksi tertawa. Tawa yang dilakukan Kiana sebenarnya itu hanyalah tawa palsu, untuk menutupi semua kecurigaannya pada Arya.


“Hahaha, ekspresi muka kamu kenapa begitu Mas? Lucu ih, kayak yang beneran lagi kepergok selingkuh sama aku.” Kiana menertawainya dan menunjuk pada wajah Arya itu.


“Udah, jangan bahas itu. Jadinya bagaimana? Kamu bisa bujuk Ray? Aku beneran buru-buru ini.” Arya langsung saja mengalihkan semua topiknya. Laki-laki itu seperti kesal.


“Ya udah sana kamu pergi.” Ketus Kiana mengusirnya. Dia terbawa kesal karena pasti alasan kepergian Arya itu untuk bertemu dengan istri keduanya.


Pergi kamu sana ke istri muda kamu Mas! Tapi awas, jangan sampai kamu bawa dia ke rumah ini. Aku gak akan diam kalau kamu berani bawa dia.


Arya segera berlari pergi meninggalkan mereka, membuat Ray jadi menangis kencang melihatnya. Anak itu berusaha mengejar Arya, tapi tidak sampai karena Arya sudah pergi dengan menggunakan mobilnya.


Kiana ikut berlari mengejar Ray, takutnya anak itu berlari sampai ke jalan ray. Dia terus membujuk Ray yang awalnya meronta-ronta tidak mau, tapi akhirnya luluh juga dan tangisannya mereda, hanya suara sesenggukannya saja yang terdengar.


“Ayah kenapa lari? Gak bisa ya? Sok sibuk emang punya urusan sendiri, sampai ninggalin keluarganya.” Ucap Kinaya dengan nada penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2