Our Fault

Our Fault
Bagian 56 - Lelah


__ADS_3

Bener-bener ucapin terimakasih banyak, buat kalian yg masih mau support cerita ini 😁 aku sayang kalian deh pokoknya 😍😍💕


Jadi makin semangat update aku 😁


*****


Di tempat yang berbeda, tidak ada yang tahu ternyata kalau Kiana sebenarnya pergi menenangkan dirinya ke rumah sepupunya.


Perempuan itu sengaja pergi ke sana karena hanya tempat itulah yang bisa dia jadikan sebagai tempat kaburnya. Mungkin untuk beberapa hari ke depan, Kiana akan tinggal di rumah itu dalam waktu yang cukup lama. Hanya saja tidak tahu sampai kapan.


“Lo serius enggak akan kasih tahu orang tua lo soal ini?” Tanya Andra — sepupu Kiana.


Kiana menggeleng, “gue enggak mau buat mereka sedih.”


“Terus lo sudah hubungi mereka belum kalau lo ada di sini?”


“Hmm.” Jawab Kiana sambil mengangguk, “gue sudah kasih tahu, tapi dengan alasan gue punya kesibukan sendiri ke luar kota sama teman gue buat beberapa hari, jadi enggak akan pulang ke rumah.”


Andra mendengus pasrah, “ya itu sih sama aja lo bohong sama mereka, dodol.”


“Ya terus gue harus bagaimana? Gue enggak mau bilang yang sejujurnya ke mereka.”


“Gue pikir, lambat laun kebohongan lo ini bakal terbongkar Kiana. Mereka pasti bakal merasa aneh sama lo, terus si Fabian bakal cerita soal semuanya. Fabian sudah tahu kan soal ini.”

__ADS_1


“Yah... Emang iya sih, itu mungkin saja bisa terjadi.”


“Gue kasih waktu lo tinggal di sini buat dua minggu ya. Kalau lebih dari itu, gue bakal usir lo paksa. Lo sudah dewasa dan punya dua anak, jadi lo harus pikirkan nasib anak-anak lo itu. Jangan pikirin nasib sendiri doang. Tahan dulu ego lo, demi anak lo sendiri.”


“Iya, iya. Bawel banget lo jadi cowok, baru kali ini gue menemukan cowok kayak lo.” Sewot Kiana.


*****


Arya kembali ke rumahnya saat malam hari. Tidak, bukan. Bukan rumahnya bersama


Kiana, melainkan bersama Afriani.


Laki-laki itu sengaja pulang ke sana untuk


“Mas...” Afriani menyimpan buku yang dibacanya dan berdiri dari duduknya dengan kesusahan lalu menghampiri Arya.


“Kenapa belum tidur? Sudah malam.” Tegur Arya.


“Gimana aku bisa tidur, kalau aku masih ingat soal kejadian itu.” Keluh Afriani, lalu memegang tangan Arya, “oh iya, bagaimana keadaan Kiana? Dia baik-baik saja kan?”


Arya tersenyum kecut, “enggak. Dia kabur dari aku dan enggak kasih tahu sama siapapun di mana keberadaannya sekarang.”


Mata Afriani membulat sempurna. Dia terkejut, “Mas serius? Terus Mas sudah cari dia belum?”

__ADS_1


Arya menggeleng dengan lesu, “aku belum sempat cari dia. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan aku, belum lagi jelaskan semuanya ke keluarga aku.”


“Mas... Harusnya kamu itu cari Kiana dulu. Bagaimana coba kalau Kiana kenapa-napa atau melakukan hal yang tidak kita duga? Kan bakal berabe nantinya.” Tutur Afriani.


“Iya, aku akan cari dia besok. Sekarang kamu tidur sudah malam, aku mau ke ruang kerja dulu.”


Berbeda dengan Anita, perempuan itu justru


masih bersedih. Dia masih belum percaya akan semuanya.


Sambil berdiri menghadap pada jendela kamarnya memperhatikan air-air yang turun dari awan dan menikmati hujan di malam hari, suasana yang cocok baginya untuk bersedih.


Perempuan itu diam sibuk melamunkan kehidupannya sambil memegangi perutnya.


“Kamu jahat Mas. Hanya karena aku belum kasih kamu keturunan, tega kamu malah main di belakang aku.” Gumamnya, “kalau kamu


menikah hanya untuk mendapatkan keturunan, lalu kenapa kamu pilih aku? Kenapa tidak kamu pilih dia saja dari dulu? Kamu jahat Mas!”


Mas, aku tahu kamu lelah dengan semua


penantian ini, aku pun sama. Tapi apa kamu tahu, aku bukan hanya lelah akan hal ini, tapi aku juga sakit selalu dihina keluarga kamu karena belum juga bisa kasih kamu keturunan.


Aku sudah lelah Mas, benar kata Papah, mumpung selagi kita belum dikasih keturunan, lebih baik aku pisah saja dengan kamu. Aku sudah tidak kuat dengan semuanya. Aku hanya akan tersakiti jika sama kamu, apalagi dengan adanya dia dalam kehidupan kita.

__ADS_1


__ADS_2