
Di hari ini, Kiana memaksakan tubuhnya untuk kuliah padahal sedang kurang sehat dan Arya tidak tahu mengenai keadaannya itu, karena dia berangkat lebih awal daripada Kiana. Tapi kalu dia tahu pun, Kiana mana mungkin akan menurutinya untuk diam di
rumah, perempuan itu terlalu keras kepala.
“Kalau udah tahu lagi sakit, ngapain coba lo maksa masuk?” Afriani mengomelinya sambil mengusap punggung Kiana yang sedang menundukkan wajahnya ke meja dengan tangannya dijadikan bantalan.
“Sekarang gue kan ada presentasi, makanya maksain masuk.” Afriani masih bisa mendengar jawaban Kiana meskipun suaranya begitu kecil.
“Kan bisa minggu depan juga presentasinya.”
“Udah, mending lo diem, gue pusing nih.” Keluh Kiana dan memegang kepalanya.
“Ih gue kok pengen muntah ya. Hmmpht.” Kiana menegakkan tubuhnya dan menutup mulutnya yang hampir saja akan memuntahkan cairan dari dalam perutnya, sementara Afriani langsung panik melihat Kiana seperti itu dan segera memijat tengkuknya.
“Ih lo mau ke toilet gak? Atau pulang gitu? Gue anterin deh, mumpung belum ada dosennya. Gue takut lo kenapa-napa.”
Kiana menggeleng, “enggak. Gue mending di sini aja.”
“Tapi muka lo pucet tahu Kiana.” Resah Afriani juga kesal dengan keras kepala Kiana.
“Besok juga sembuh, kok.” Kukuh Kiana.
“Lo sadar gak, lo itu udah dari kemarin sakit kayak gini. Periksa coba ke dokter.”
“Iya nanti diperiksa.” Kiana mengiyakan saja ucapan Afriani. Sudah tahu dia sedang sakit,
tapi Afriani masih saja mengomelinya.
Kiana pun kembali bersandar ke meja. Bersamaan dengan hal yang dilakukannya, Arya ternyata masuk ke kelasnya. Laki-laki itu menyimpan buku juga tas yang dibawanya di meja.
“Selamat pagi semuanya.” Sapa Arya.
“Pagi, Pak.” Balas semua mahasiswa serentak.
Mata Arya melihat mahasiswa yang masih menyembunyikan wajahnya ke meja. Dia Kiana.
“Kalau ada yang malas masuk mata kuliah saya sekarang, lebih baik keluar saja.” Tegas Arya melirik Kiana.
__ADS_1
Semua mahasiswa langsung saling pandang ke arah lain, mencari siapa orang yang dimaksud Arya dan Afriani tahu, ucapan Arya itu sebanarnya untuk menyindir Kiana, dia pun segera membangunkan Kiana.
“Ki... Bangun buruan Neng, Pak Arya dateng tuh. Tatapannya ke lo nyeremin banget kayak silet, eh lebih malahan.” Bisik Afriani mengguncangkan pelan tubuh Kiana.
“Gue gak kuat, Afri. Mau tidur aja.” Keluhnya.
“Eh tapi —” Ucapan Afriani terhenti karena Arya menyahut lagi dengan tegasnya.
“Kiana Anuradha Widjaya! Kalau kamu sedang malas masuk, lebih baik sekarang kamu pulang! Saya tidak butuh mahasiswa malas seperti kamu!”
Para mahasiswa yang melihat raut wajah Arya seperti itu jadi ketakutan, mereka semua langsung diam yang tadinya sibuk berbicara masing-masing.
“Pak maaf, Kiana lagi sakit sekarang, makanya dia tidur terus juga.” Afriani menyeru membela Kiana.
Arya menjadi panik. Kiana sakit, tapi dia tidak tahu, padahal dia itu suaminya dan sekarang dia malah memarahinya.
Laki-laki itu mengubah raut wajahnya menjadi tenang, “kalau lagi sakit kenapa dia kuliah?
Harusnya istirahat di rumah. Ya sudah, Kiana kamu pulang saja sekarang.”
Ah Kiana kesal. Suami macam apa sih dia? Di saat istrinya sakit, masih saja dia memarahinya. Tidak berperikesuamian. Ingin sekali Kiana menjambaknya. Awas saja nanti saat di rumah, Kiana akan membalasnya.
“Eh eh, Kiana!” Panik Afriani sambil menahan tubuh Kiana agar tak jatuh.
Bukan hanya Afriani yang panik, mahasiswa lain pun ikut panik, termasuk Arya yang menjadi dosennya sama paniknya.
“Mata kuliah hari ini selesai, kita ganti jadwalnya ke hari yang lain. Saya ada urusan mendadak.”
Arya yang panik buru-buru membawa Kiana ke luar kelas.
Karena melakukan hal mengejutkan itu, Arya menjadi tontonan dan pembicaraan mahasiswanya, tapi dia tidak mempedulikan itu dan tetap membawa Kiana menuju rumah sakit terdekat, untuk memeriksa Kiana sedang terkena sakit apa.
“Dok, gimana keadaannya?” Arya bertanya pada dokter yang baru selesai memeriksa keadaan Kiana.
“Mas suaminya?” Arya mengangguk.
“Selamat Mas, istrinya hamil. Tolong dijaga ya, dia pingsan karena kelelahan. Lain kali
__ADS_1
jangan buat istrinya capek ya Mas, takutnya terjadi apa-apa sama kehamilannya,
soalnya ini masih terlalu rentan. Nanti saya kasih obatnya vitamin doang ya.” Tutur dokter berjenis kelamin perempuan itu dan tersenyum.
Arya balas tersenyum, “iya Bu dokter, terima kasih informasinya. Terus sekarang istri saya udah boleh dilihat?”
“Iya boleh. Kalau gitu, saya permisi ya masih harus ngurusin pasien lainnya.”
“Iya, sekali lagi terima kasih.”
Setelah dokter itu pergi, Arya langsung menerobos masuk ke dalam kamar rawat Kiana dan di sana Kiana sudah bangun dari tidurnya. Kepala Kiana masih terasa berat, dia
memegangi kepalanya.
“Aku di mana ini?” Gumam Kiana melihat ruangan sekelilingnya.
Arya mendekat pada Kiana, “kamu sekarang di rumah sakit.” Balasnya, “kamu masih pusing?” Arya memegang pundak Kiana.
Kiana mengangguk, “aku kok ada ke sini? Tadi kan masih di kampus.”
“Kamu pingsan jadi aku bawa ke sini.”
“Terus katanya aku pingsan kenapa?”
“Kamuhamil.” Arya berkata cepat tanpa jeda.
“Hamil?! Kiana hamil? Iya?” Wajah Kiana begitu terkejut, menarik jas yang dipakai Arya, “haaaa Kiana kenapa bisa hamil sekarang?” Tiba-tiba Kiana menjadi sedih dan perkataannya itu membuat Arya takut.
Kenapa Kiana tidak menginginkan kehamilannya – lagi? Apa anak ini akan sama nasibnya seperti Kinaya? Arya tidak mau jika itu terjadi.
“Kamu kenapa ngomong begitu? Kamu gak mau lagi hamil anakku? Kamu gak mau anak ini seperti dulu?”
“Ha? Maksud kamu apa?! Kamu jahat ih! Kamu nuduh-nuduh aku terus.” Maki Kiana dan sekarang menangis, “aku... aku bukan gak mau dia, aku cuma kasihan. Kenapa setiap kita buat anak, selalu aja dalam keadaan gak sadar. Dulu kamu yang gak sadar, terus sekarang aku. Haaa..... Kasihan kaaannn.....”
Apa? Kiana sebenarnya bicara apa? Jujur Arya tidak mengerti dengan apa yang Kiana ucapkan itu.
Arya mendekap Kiana kemudian, telinganya merasa sakit mendengar tangisan Kiana, “iya iya, gapapa Ki, yang penting kita ngelakuinnya pas udah sah. Udah gitu aja.”
__ADS_1
“Hmm... Tapi aku masih kasihan Kak...” Kiana balik memeluk Arya dengan wajah sedihnya juga.