
Hari ini tepat sudah satu minggu Afriani pergi meninggalkan mereka.
Kepergian Afriani masih saja belum bisa diterima oleh mereka, tapi mereka tidak boleh bersedih terlalu lama akan kepergian perempuan itu. Mereka juga harus menerimanya karena memang ini sudah takdir dari Sang Pencipta yang diatur dengan sebaik-baiknya menurut Dia.
“Bunda...! Sabhira nangis terus, mau minum susu katanya!” Ray yang sedang menjaga Sabhira sendiri berteriak pada Kiana yang sibuk membuatkan susu untuk Sabhira.
“Iya iya sebentar. Ini lagi dibuatkan.” Kiana membalasnya dengan teriakan juga dan sekitar 3 menit kemudian dia kembali pada anaknya sambil membawa botol yang berisi susu untuk Sabhira.
Kiana langsung saja memberikan susu tersebut pada Sabhira yang sedang dibaringkan di tempat tidurnya.
“Aduh aduh... Anak Bunda mau mimi ya Nak?” Tangan kanan Kiana memegang botol susu tersebut agar tidak jatuh ke wajah Sabhira.
Ray memperhatikan kegiatan ibunya itu. Di otaknya muncul pernyataan, kenapa setiap bayi bisanya selalu menangis terus? Memang bayi tidak punya keahlian lain ya yang dimiliki selain menangis? Pusing Ray kalau begitu.
“Bunda... kenapa ya bayi bisanya nangis terus? Bhira juga kayak begitu. Kalau haus nangis, pipis nangis, eh pup juga nangis.” Pertanyaan itu ternyata keluar juga dari mulut Ray.
Tidak menjawab langsung pertanyaan anaknya, Kiana malah tertawa dulu sebentar. Benar-benar lucu pertanyaan itu.
“Hahaha... Ray Ray, kamu kenapa nanya begitu?” Balasnya setelah tertawa, “ya kan namanya juga bayi, belum bisa bicara jelas kayak kita, jadinya kalau mau apa-apa ya bilangnya lewat nangisnya itu.”
“Ray juga dulu sebelum besar seperti sekarang, kan jadi bayi dulu kayak Bhira. Ray juga dulu sering nangis kayak begini loh sayang. Malahan dulu Ray nangisnya lebih kencang daripada Bhira, soalnya Ray itu bayi laki-laki, kalau Bhira kan bayi perempuan.”
Ray mengernyit heran. Lagi-lagi pertanyaan baru kembali muncul di otaknya, “emang kalau bayi laki-laki nangisnya suka kencang begitu Bunda? Berarti kalau bayi perempuan nangisnya pelan ya?”
Kiana tersenyum mengusap kepala Ray lembut, “ya enggak begitu juga Nak.”
Arah pandangan Ray seketika beralih pada Sabhira yang sudah menghabiskan satu botol susunya dan menutup matanya karena tertidur.
Tiba-tiba saat itu bibir Sabhira tersenyum, Ray yang melihatnya malah semakin menyukai Sabhira.
“Bunda, adik Bhira cantik ya kalau lagi senyum begini.” Ray memuji Sabhira yang juga ikut tersenyum memperhatikan senyuman Sabhira itu.
“Iya. Sabhira cantik kan karena dia perempuan, kalau Ray ganteng soalnya laki-laki.”
Mata polos Ray menatap Kiana, “Bunda, Ray nanti mau punya pacar seperti Sabhira ya. Sabhira cantik, Ray suka.” Ungkapnya tiba-tiba dengan tersenyum juga.
Kiana kaget. Pacar? Dari mana anak laki-lakinya tahu soal pacar? Kiana atau Arya tidak pernah membahas soal itu di depannya.
“Pacar? Ray tahu soal pacar itu dari siapa?”
“Dari Kakak Naya.” Jawabnya polos dan cepat.
“Kakak Naya? Emang Kakak Naya punya pacar?”
Ray menggelengkan kepalanya, “enggak tahu. Tapi Kakak Naya katanya punya gebetan, namanya Kakak Arjun.”
Kiana menghela nafas kasar.
Ya ampun, anaknya tahu dari siapa soal itu? Mereka masih kecil, kenapa sudah tahu soal itu? Benar-benar ya, pergaulan anak di zaman sekarang itu harus sering diperhatikan kalau tidak mau terjadi hal buruk pada mereka.
“Ray, Bunda tanya. Ray emang tahu apa itu pacaran terus gebetan?”
Ray mengalihkan matanya ke atas, anak itu sedang berpikir sebentar dan kemudian menatap Kiana dan menggeleng, “enggak, Ray enggak tahu. Yang tahu cuma Kakak Naya doang.” Balasnya, “emang sebenarnya pacaran sama gebetan itu apa Bunda?” Tanyanya ingin tahu.
Kiana tersenyum memegang kepala Ray, “nanti ya, kalau Ray sudah besar, Bunda akan kasih tahu. Ray masih kecil untuk tahu itu.”
“Oh begitu ya, ya sudah deh. Ray mau cepat-cepat besar biar bisa cepat tahu apa itu pacaran sama gebetan. Ray penasaran soalnya.” Kata Ray dengan penuh semangat dan Kiana gemas melihat tingkah anak bungsunya itu.
__ADS_1
Saat mereka mengobrol seperti itu, Arya datang pada mereka dengan raut wajah marah.
“Ayah... Kenapa muka Ayah kayak begitu? Serem ih... Kayak orang galak... Ray takut lihatnya.” Tegur Ray bergidik ngeri menatap Arya.
“Aku mau ke rumah sakit sekarang, katanya Ilsa keguguran.” Jelas Arya pelan yang membuat Kiana bingung.
“Kamu buat apa sih ke rumah sakit jenguk dia? Enggak usah lah. Aku enggak mau kamu ada urusan lagi sama perempuan itu.” Kiana melarangnya dengan perasaan kesal pada dirinya.
“Aku bukan mau jenguk Ilsa kok, aku cuma mau bawa Anita ke sini. Pasti sekarang tidak ada yang peduli padanya dan banyaknya yang peduli pada Ilsa.”
Mata Kiana memandang mata Arya lekat lekat. Memastikan laki-laki di hadapannya ini apakah berbohong atau tidak dan dari matanya atau gerak-geriknya itu, tidak terlihat ada sebuah kebohongan yang disembunyikan.
“Oh ya sudah, buruan kamu bawa dia.” Ujungnya Kiana pun mengizinkannya juga.
Hingga setelah melakukan drama-drama dengan Eshan dan orang tuanya, Arya berhasil juga membawa Anita ke rumahnya.
Anita baru saja datang, tapi perempuan itu sudah langsung menangis saja apalagi saat bertemu dengan Kiana.
“Kianaaa....” Anita memeluk sahabatnya tiba-tiba dan menangis, membuat Kiana menjadi bingung dengan perilakunya itu.
“Eh eh kenapa?” Kiana balas memeluknya dan melirik Arya penuh tanya seolah ada apa ini sebenarnya.
“Kamu bawa dia ke kamar dulu. Nanti juga dia cerita semuanya.” Seru Arya dan berlalu pergi dari mereka.
Kiana menurut pada perintah Arya itu dan benar saja, Anita mau bercerita saat sudah di kamar. Mungkin perempuan itu membutuhkan privasinya.
“Dia... Keguguran Ki...” Suara Anita tertahan di tenggorokan. Dia ingin menangis rasanya.
“Kak Ilsa?”
“Terus lo kenapa nangis? Harusnya kan lo senang bahagia, dengan begitu mungkin bisa saja suami lo bakal pisah sama dia dan kembali sama lo.”
“Enggak Kiana! Semuanya enggak akan seperti itu! Suami gue sekarang sudah berubah, dia lebih sayang sama perempuan itu daripada sama gue! Dia enggak akan pilih gue lagi seperti dulu. Di hatinya sekarang enggak ada gue, tapi hanya ada perempuan itu.”
“Mas Eshan salahkan gue soal keguguran itu, Kiana! Padahal gue waktu itu diam terus enggak melakukan apa-apa, tapi Mas Eshan malah salahkan gue, bahkan ibunya juga sama saja!” Mata Anita sudah mulai berkaca-kaca dan menutupi wajahnya menangis tersedu-sedu.
Anita mengusap matanya yang basah, “harusnya... Harusnya waktu itu gue pilih enggak kembali sama dia. Harusnya gue pisah saja. Hidup sama dia sekarang cuma bikin gue sakit hati. Gue bodoh banget ya malah pilih kembali sama dia.” Perempuan itu merutuki kebodohannya sendiri.
Kiana menyimak cerita Anita dengan pandangannya yang iba pada perempuan itu, “Mamah Papah tahu soal ini?”
“Enggak, gue enggak bilang sama mereka. Gue enggak mau mereka juga sama ikut sakitnya lihat gue yang seperti ini.”
“Oh ok ok, gue paham.”
Karena hal itu, akhirnya Anita menginap di rumah Arya dan besoknya Anita tidak juga pulang ke rumahnya.
Tentu tidak pulangnya Anita itu membuat Eshan marah. Anita masih jadi istrinya bahkan sekarang sedang mengandung anaknya, dan sekarang perempuan itu tidak tahu waktunya untuk kembali pada suaminya. Perempuan seperti apa itu.
Masih pagi jam 8, Eshan mendatangi rumah Arya sendiri.
Kedatangan Eshan ke rumah Arya sangat dibenci oleh pemilik rumah tersebut. Meskipun Arya juga Eshan memang berteman dekat, tapi semenjak ini hubungan mereka menjadi sedikit renggang.
Saat memberitahu Anita soal kedatangan Eshan juga wajah Arya terus saja dingin.
“Suami berengsek kamu datang itu. Kamu mau ketemu dia tidak? Atau mau sama Kakak saja dia dijadikan prekedel?” Sinis dan dingin suara Arya saat ini. Menakutkan.
Badan Anita mendadak kaku langsung setelahnya. Dia memang sudah menduga kalau Eshan akan datang dan sekarang merasa takut untuk bertemu dengannya.
__ADS_1
“Dia mau apa ke sini?” Anita meremas-remas tangannya saking takutnya dia.
“Ketemu kamu katanya.”
“Lo enggak usah takut, ada Mas Arya kok di sini.” Seru Kiana pelan sambil merangkul pundak Anita yang terlihat sedang gugup.
“Ya sudah, aku mau ketemu dia.”
Lalu di sinilah sekarang Eshan juga Anita. Hanya berdua berada di ruang kamar yang selalu Anita tempati kalau menginap di rumah Arya.
Arya dan Kiana selaku si pemilik rumah mengerti kalau pasangan itu butuh privasinya. Terutama Eshan, laki-laki itu pasti sangat tidak mau kalau ada orang yang mendengarkan percakapan pribadinya.
“Anita...” Laki-laki itulah yang pertama membuka suaranya saat Anita masih dalam keadaan gugup dan malah menundukkan kepala menatap kakinya.
Eshan memegang tangan Anita pelan, hal itu membuat Anita menjadi menatapnya dan melepaskan tangannya dari Eshan.
“Kamu mau apa ke sini? Mau salahkan aku lagi? Iya?” Tebak Anita menuduh.
“Enggak Nita, aku bukan mau itu. Aku cuma mau ajak kamu pulang. Kamu masih istri aku, dan sekarang sedang hamil anak aku, jadi seharusnya kamu itu pulang sama aku ke rumah kita, bukan ke rumah ini.”
Pulang? Huh, maaf Anita tidak mau. Anita sudah terlalu sakit sekarang bersama dengan Eshan. Bahkan rasa sakitnya lebih besar
daripada rasa cintanya pada laki-laki itu.
“Aku tidak mau pulang! Aku lebih suka di sini!” Tolak Anita mentah-mentah.
“Anita... Kamu sadar kan kalau kamu itu masih jadi istri aku? Jadi tolonglah, kamu pulang sekarang.” Eshan memaksanya kembali dan menarik tangan Anita pelan untuk ikut dengannya.
Anita diam tak bergerak ketika tangannya ditarik laki-laki itu. Percuma saja, kalau memberontak pun nanti Eshan akan semakin memaksanya dan itu sangat berbahaya untuknya.
Eshan menghembuskan nafas kasar dan memutar bola matanya, “baik. Kalau kamu tidak mau pulang, aku tidak akan memaksanya lagi.”
“Aku tahu, yang kamu mau itu pisah dari aku kan? Aku akan mengabulkannya tapi nanti saat kamu sudah melahirkan dan dengan syarat kamu harus memberikan anak-anakku padaku dan Ilsa.”
Wajah Anita berubah terkejut. Pucat pasi.
Apa maksud Eshan berkata begitu? Apa dia ingin menjauhkan Anita dengan anaknya sendiri? Tapi Eshan tidak bisa melakukan hal itu, ini anak Anita, bukan anak Ilsa. Jadi hanya Anita saja yang berhak merawatnya, tidak dengan Ilsa.
“Apa maksud kamu berkata begitu Mas? Aku tidak akan memberikan mereka! Mereka anak aku, bukan anak perempuan itu!” Mata Anita memancarkan aura kemarahan pada Eshan, “tanpa kamu dan harta kamu juga anakku masih bisa hidup. Mereka tidak akan kehilangan kehilangan kesayangan dari aku, aku akan kasih mereka kasih sayang yang banyak lebih dari kamu!”
“Asal kamu tahu Anita, mereka juga anakku! Aku yang menebar benihnya, jadi aku pun berhak atas mereka.” Eshan ikut membalas ucapan Anita, “ayolah Anita, kamu bantu aku sekarang. Kasihan Ilsa, dia baru saja kehilangan bayinya. Aku tidak mau dia tertekan terlalu lama karena ini.”
Anita mendelikkan mata dan tersenyum sinis, “lalu kalau dia keguguran, apa hubungannya denganku? Aku bukan penyebab dia kehilangan bayinya.”
“Lagi pula kalau kamu mau anak dari perempuan itu, kenapa kalian tidak membuat lagi saja anak yang lainnya? Jangan ambil anak-anakku. Ini anakku, aku yang akan membawanya ke mana-mana.”
“Ah sudahlah Mas, lebih baik sekarang kita pisah saja. Kamu memang sudah berubah banyak ternyata, aku sudah tidak ada artinya lagi bagi kamu.” Anita tidak bersedih dan melepaskan cincin pernikahannya dengan Eshan, “ini aku kembalikan cincinnya.”
Eshan melirik cincin tersebut tanpa menerimanya, “aku tidak bisa. Aku tidak akan mengabulkan keinginan kamu itu.”
“Kamu jangan membuat rumit semuanya Mas, toh kalau kita pisah pun kamu masih tetap bisa sama Kak Ilsa dan kalian juga bisa punya anak yang lainnya lagi kan. Ditambah lagi, daripada dengan aku, ibu kamu juga lebih suka dia.”
Eshan menggeleng pelan lalu memegang bahu Anita dan mendekatkan wajahnya pada wajah Anita, “sekali lagi aku katakan Anita, aku tidak akan melepaskan kamu. Aku tidak akan melakukan hal itu. Karena aku... Masih cinta kamu.”
*****
Makin rumit gak sih ceritanya? Eshan fucek boy banget ya. Gak jauh beda sama kayak si arya 😡
__ADS_1