Our Fault

Our Fault
Bagian 21 - Ada Hubungan Apa Di Antara Kalian?


__ADS_3

Hari ini Kiana datang ke rumah Arya.


Kedatangannya itu bukan karena kemauan dia sendiri, tapi karena suruhan Nira. Nira menyuruhnya untuk memberikan kue hasil eksperimennya pada Arya. Tak mau kena marah Nira, jadi ya Kiana menurut saja akhirnya.


Sekarang Kiana sedang menunggu pintu rumah Arya terbuka. Ketika kakinya baru saja memasuki halaman rumah itu, seketika Kiana langsung bernostalgia pada masa dulu, beberapa tahun lalu. Saat masih bersama dengan Arya.


Dulu, dia tinggal di sini bersama Arya. Dulu, hanya dialah perempuan yang sangat Arya sayangi. Dulu pula, hubungan mereka masih terikat dan akrab. Mengingat itu semua membuat hatinya sakit, perih tapi tidak berdarah.


Semenjak hubungannya berakhir, Kiana seperti merasa kehilangan sesuatu, hanya saja dia tak tahu apa itu.


Mungkinkah dia merasa sedih karena berpisah dengan Arya? Atau dia menyesal sudah memilih pisah? Tapi kenapa? Bukannya ini jalan yang dia inginkan? Berpisah jauh dari Arya dan mengejar cita-citanya yang tertunda karena Arya juga Kinaya.


Lamunan nostalgia Kiana berhenti langsung saat dia mendengar suara pintu terbuka.


Di balik pintu itu, keluarlah Bi Ani, ART di rumah ini. Kiana tersenyum menatapnya, begitupun sebaliknya.


“Assalamu'alaikum, Bi.” Sahut Kiana dan tersenyum lalu mencium tangan Bi Ani.


“Wa'alaikumsalam. Eh Mbak Kiana?!” Bi Ani awal mulanya terkejut melihat Kiana, selang kemudian dia tersenyum.


“Ya ampun Mbak Ki, gimana kabarnya? Mbak Ki tinggal di mana sekarang? Bibi kangen sama Mbak Kiana.” Bi Ani memegang tangan Kiana dan terus tersenyum.


“Alhamdulillah Kiana baik Bi, sekarang Kiana tinggalnya sama orang tua Kiana sendiri. Kiana juga kangen Bibi kok.” Kiana menjawabnya sambil tersenyum dan mereka berpelukan. Mereka memang sudah begitu akrab dari dahulu.


Selepas itu, Kiana langsung saja menanyakan keberadaan Arya. Dia tidak ingin Bi Ani semakin bertanya lebih mengenai kehidupannya, “Oh iya Bi, Kak Aryanya ada di rumah?”


“Ada di dalem. Eh ayo Mbak Kiana masuk ke dalem, minum dulu gitu sambil kita ngobrol. Udah lama gak ngobrol.”


“Enggak deh Bi, makasih. Kiana ke sini cuma mau ngasihin ini doang, kue buatan Mamah buat Kak Arya sama Kinaya.” Kiana memberikan kue yang dibawanya pada Bi Ani.


Bi Ani menerima kue tersebut dengan senang hati, “makasih Mbak Kiana kuenya. Tapi Bibi gak enak lho kalau Mbak Kiananya gak masuk ke dalem, nanti takutnya dimarahin Mas Arya. Mbak Ilsa juga ada di sini kok, lagi main.”


Bi Ani menarik tangan Kiana. Karena Kiana masih terkejut akan adanya Ilsa, ia jadi mengikuti Bi Ani saja.


Kak Ilsa ngapain ke sini? Apa mereka sekarang punya hubungan khusus? Apa dia calonnya itu?


“Kak Ilsa sering main ke sini Bi?”

__ADS_1


Bi Ani menggangguk, “iya Mbak. Saking seringnya ke sini, nyampe deket sama Non Kinaya.”


“Oh, gitu ya.”


“Ya udah, Mbak duduk tunggu di sini ya. Bibi ke dapur buat minum dulu.” Kiana mengangguki itu, sementara Bi Ani lanjut pergi ke dapur.


Melihat keadaan rumah tersebut, banyak sekali yang berubah ternyata pikir Kiana. Dulu tidak ada foto anak perempuan itu, tapi sekarang ada, bahkan banyak.


Rasa ingin tahu Kiana soal foto itu seketika muncul. Refleks dia pun melangkahkan kakinya menuju benda tersebut dan memegangnya langsung.


Dilihat dari foto itu, Kiana bisa menyimpulkan bahwa mereka bisa sangat bahagia, walau tanpa Kiana bersamanya.


Kalian begitu bahagia meskipun gak ada aku. Tapi kenapa aku gak bisa? Aku merasa kesepian semenjak kalian pergi. Padahal harusnya aku juga bahagia, karena ini jalan yang aku mau.


Pada saat yang sama, di saat Kiana fokus akan hal itu, dia mendengar suara senar gitar yang dimainkan. Fokusnya yang awalnya tertuju hanya pada foto kini beralih pada suara gitar tersebut.


Lagi lagi Kiana dibuat penasaran dan seketika Kiana melangkahkan kakinya menuju arah sumber suara.


Hingga akhirnya, di sana dia melihat seorang Arya sedang memainkan gitarnya, sedangkan Ilsa dan Kinaya sedang duduk bersama memperhatikan laki-laki itu yang juga bernyanyi sambil memainkan gitarnya.


Kamu yang mengenggam hatiku


Kita tak kan mungkin terpisahkan


Biarlah terjadi apapun yang terjadi


Suara nyayian Arya memang begitu indah didengar, sampai bisa membuat Kiana menjadi terdiam, lebih tepatnya perempuan itu terpesona.


Selamanya kita akan bersama


Melewati segalanya


Yang dapat pisahkan kita berdua


Selama nya kita akan bersama


Tak kan ada keraguan

__ADS_1


Kini dan nanti


Percayalah


Arya bernyanyi dengan penuh penghayatan dan pandangannya terus tertuju pada Ilsa sejak lagu itu dimulai. Dia tidak sadar jika kegiatannya itu diperhatikan oleh Kiana dan membuat perempuan itu sakit ketika melihatnya.


Apa maksud dia nyanyi lagu itu buat Kak Ilsa? Kenapa hubungan mereka sekarang jadi deket banget? Apa iya calonnya itu Kak Ilsa? Tanya Kiana dalam hatinya.


Tidak! Kiana tidak bisa percaya kalau memang benar kenyataannya seperti itu. Kenapa harus Ilsa? Kenapa tidak perempuan lain saja? Tidak! Kiana tidak setuju dan tidak suka! Kiana tidak suka Ilsa dekat dengan Kinaya! Ya, dia tidak suka. Hanya tidak


suka, bukan cemburu.


Selagi Bi Ani belum kembali, Kiana pun lebih memilih pergi pulang ke rumahnya. Dia tidak sanggup melihat lebih lama adegan yang sedang mereka lakoni sekarang. Hanya melihat adegan singkat itu saja hatinya sudah merasakan perih, bagaimana jika melihat adegan yang lebih dari itu? Mungkin hatinya harus segera dirawat ke rumah sakit karena kesakitan.


Ketika Kiana sudah membalikkan badannya akan pergi, Bi Ani tiba-tiba ternyata datang menghampirinya namun dengan tatapan bingung. Mata Kiana yang hampir saja akan mengeluarkan air mata kesedihannya, segera ia tahan.


“Lho Mbak Kiana kok ada di sini? Dicari-cari tadi sama Bibi. Ayo minumnya udah jadi tuh.” Seru Bi Ani menawarinya.


Kiana akan menjawab seruan Bi Ani, tapi kalah cepat dengan sahutan Arya dari arah lain.


“Siapa tadi yang datang, Bi?” Sahut Arya.


“Oh, ini Mas ada —”


“Bi, Kiana pulang sekarang ya. Mamah pasti udah nungguin di rumah. Maaf udah ngerepotin.” Kiana ikut menyela perkataan Bi Ani.


“Tapi Non itu minumannya —”


Kiana segera berlari meninggalkan Bi Ani yang justru malah mengernyitkan dahinya bingung melihatnya yang tiba-tiba pergi dan menahan tangis kesakitan yang dirasanya karena tidak mau terlihat lemah juga ada yang mengetahui kesakitannya itu.


“Tadi siapa yang namu Bi?” Arya datang ke hadapan Bi Ani bersama Ilsa juga Kinaya dalam gendongannya setelah Kiana pergi.


“Itu Mas, tadi Mbak Kiana datang ke sini ngasih kue buat Mas sama Non Kinaya.


“Lho dia ke sini? Kenapa gak kasih tahu saya?”


“Tadi Mas Aryanya masih sama Mba Ilsa.” Jawabnya, “saya udah suruh Mbak Kiana buat tunggu dulu mau dibuatin minum, eh pas udah jadi minumannya, Mbak Kiananya malah pulang aja sambil lari. Kayaknya tadi Mbak Kiana ngintipin kegiatan Mas.”

__ADS_1


__ADS_2