
Malam harinya tepat di jam 9, pasangan itu belum juga mengistirahatkan tubuhnya.
Mereka masih mempunyai urusan lain yang harus segera diselesaikan agar masalah itu tidak semakin membuat hubungan mereka
semakin memburuk.
Kiana duduk di kursi riasnya sambil mengoleskan beberapa krim pelembab di wajahnya, sambil menunggu Arya yang akan
mengeluarkan penjelasannya.
“Aku minta maaf, aku salah. Aku...” Arya baru
memulai penjelasannya, dia begitu gugup saat akan menjelaskan semuanya ditambah
lagi dengan tatapan mata Kiana yang seakan-akan akan menghajarnya.
“Aku bosan dengar kamu bilang minta maaf
terus dari tadi. Yang sekarang aku butuhkan itu bukan ucapan maaf kamu Mas, tapi penjelasan kamu. Terutama soal Af-ri-ani...” Kiana mengeja nama perempuan itu dan menatap Arya lewat kaca rias yang ada di depannya.
Arya mengatur nafasnya agar tenang dan tidak merasakan kegugupan saat akan menjelaskan.
“Ok. Aku akan menjelaskan intinya.” Seru Arya
pelan.
“Sebenarnya aku terpaksa menikahi Afriani.
Tapi aku bukan terpaksa karena harus bertanggung jawab, bukan. Aku terpaksa
melakukan itu demi menolong nyawanya dan bayinya itu.” Kening Kiana berkerut karena bingung dengan penjelasan Arya.
“Anak itu... bukan anak aku, tapi anak laki-laki lain. Kamu tahu siapa laki-laki itu? Dia Kaivan. Ya, itu anak Kaivan, bukan anak aku.”
Mata Kiana membesar karena terkejut juga tidak percaya. Bagaimana bisa anak itu ternyata anak Kaivan? Ini benar-benar membingungkan.
Kiana berbalik menghadap Arya dengan wajah penuh kemarahan, “apa maksud kamu itu anak Kak Kaivan? Bagaimana bisa?” Katanya dengan tidak percaya, “kamu pasti bohong lagi kan sama aku?! Itu hanya alasan
kamu supaya semuanya tidak terbongkar! Kak Kaivan itu sudah nikah, tapi bukan sama Kak Ilsa! Kamu bohong soal itu.” Tuduhnya dengan mata penuh amarah.
“Ya, ok. Aku salah sudah bohong soal itu, aku
minta maaf. Tapi mengenai Afriani, aku serius, aku sama sekali tidak bohong Kiana. Anak itu memang anak Kaivan, bukan anak aku. Dia ada karena Kaivan yang
memperkosa Afriani, dan saat Afriani tahu kehamilannya itu, dia mau bunuh diri.”
“Aku benar-benar bingung melihat hal itu. Aku
tidak tahu harus berbuat apa, bahkan saat itu saudara Afriani sendiri pun tidak ada untuk mendampinginya. Aku kasihan padanya, hingga bodohnya aku malah mengusulkan untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang sama sekali bukan karena perbuatanku.” Arya menunduk tersenyum miris sementara Kiana diam saja karena dia sendiri bingung harus menjawab apa. Penjelasan laki-laki itu sangat begitu tidak dia percaya.
Tiba-tiba Kiana berdiri dan kakinya berjalan
mendekati Arya yang memberikan respon spontan mengangkat kepala dan menatap
Kiana takut.
Bug...
Kiana mengambil bantal yang tidak terpakai
dan memukul tubuh Arya dengan brutalnya menggunakan benda itu.
__ADS_1
“Kamu jahat! Kamu jahat!” Kiana terus saja
memukul Arya, “kamu kenapa sih melakukan itu?! Kamu pikir semua perempuan itu mau diduakan seperti ini ha?! Belum tentu Mas! Meskipun balasannya surga, tapi tetap saja
aku itu tidak mau!” Makinya.
“Lagi pula kalau kamu mau bantu, harusnya kamu jangan melakukan itu. Pakai cara yang lain saja. Kamu emang bodoh ya! Bodoh bodoh bodoh! Kenapa sih aku punya yang bodoh kayak kamu?!” Pukulan Kiana pada Arya terjadi dalam beberapa kali.
Arya tidak memberontak ketika Kiana
memukulnya. Ya sebenarnya memang sakit, karena istrinya itu melakukan aksi marahnya bukan hanya dengan memukul menggunakan bantal saja, tapi juga dengan tangannya, terkadang juga dia melakukan hal lain, seperti menjambak rambut Arya. Ah, Arya benar-benar terkena kekerasan dalam rumah tangga oleh istrinya sendiri.
Setelah lama memukuli suaminya itu, tubuhnya lemas langsung dan menjatuhkan tubuh itu dengan sendirinya ke lantai, lalu
akhirnya dia menangis sendiri menumpahkan semua kekesalan dan kesedihan yang sudah dia alami untuk sekarang-sekarang ini.
Arya begitu tidak tega melihat istrinya menangis dan merengkuhnya segera. Mungkin saja dengan aksinya itu Kiana bisa
berhenti menangis dan bersedia untuk menerimanya kembali.
Grep...
Rengkuhan Arya benar-benar nyaman menurut Kiana, “maaf, aku minta maaf. Benar kata kamu tadi, aku memang bodoh sudah
melakukan itu. Kamu pasti menyesal punya suami kayak aku. Tapi walaupun kamu
menyesal, aku tidak akan biarkan kamu jauh dari aku. Aku tidak mau kita pisah. Aku terlalu sayang kamu Kiana.”
Kiana balas memeluk Arya sebentar, lalu
menatap manik laki-laki itu yang juga sama menatapnya.
“Aku minta maaf ya. Oh bukan, kamu pasti
Kiana menatap Arya begitu dalam dan
menggeleng, “aku tidak mau memukul atau memaki kamu lagi, aku sudah capek. Tapi
ada satu hal yang aku mau sekarang.”
“Apa?” Tanyanya dan memegang dagu Kiana.
“Bisa kamu lepaskan Afriani dan bawa dia pada Kak Kaivan?” Pintanya dengan serius.
Tangan Arya terlepas dari dagu Kiana secara
tiba-tiba. Kalau dilihat dari matanya, laki-laki itu seperti merasa bersalah.
“Maaf, tapi aku tidak bisa.” Benar ternyata,
Arya menolaknya dan merasa bersalah pada Kiana.
“Kenapa? Kamu bilang kamu sayang aku, tapi
kamu tidak bisa melepaskan dia.” Katanya tidak terima.
“Afriani tidak mau bersama Kaivan, Kiana. Dia
masih trauma soal kejadian itu.”
“Ya sudah, kamu bawa dia ke saudaranya saja. Siapa saudaranya itu?”
__ADS_1
“Ilsa.”
“Ha? Kak Ilsa? Oh ternyata mereka kakak adik
dan sama-sama perebut suami orang.” Kiana tersenyum mengejek dan menyilangkan
tangannya.
“Tidak Kiana, Afriani bukan orang yang
seperti itu.”
“Afriani bukan, tetapi Ilsa iya. Lebih jelasnya begitu kan Mas? Tapi menurutku, mereka sama saja. Memang di awal Afriani tidak ada niat untuk merebut kamu dari aku, tapi mungkin nanti siapa yang tahu kalau Afriani akan melakukan itu?”
“Kiana... Afriani itu teman kamu sendiri.
Pasti kamu yang lebih tahu bagaimana sifat sebenarnya Afriani.”
“Teman?” Kiana tersenyum sinis, “mungkin itu dulu sebelum kalian menikah di belakangku!”
“Ya sudahlah, terserah kamu kalau tetap mau
mempertahankan pernikahan itu. Aku lelah.” Akhirnya Kiana pasrah, memang lelah dia kalau terus menasihati Arya.
“Oh kalau kamu mau bawa dia ke sini tinggal
bareng kita, silakan. Aku izinkan kok. Sama seperti kamu, aku juga kasihan sama dia juga kamu. Kasihan ke dia karena harus ditinggal kamu pas lagi hamil, terus kasihan kamu juga karena harus bolak-balik tengok dia.”
“Aku tidak akan melakukan itu. Aku tidak mau
menyakiti kamu lagi kalau bawa dia ke sini.” Arya menolaknya dengan alasannya sendiri, “ditambah lagi anak-anak terutama Kinaya dan keluargaku pasti akan marah kalau tahu itu.”
“Aku akan bujuk mereka, kalau kamu mau dia
tinggal di sini.”
“Tadi aku sudah bilang, aku tidak akan
melakukannya Kiana. Tinggal satu atap dengan dua istri itu tidak mudah.”
“Ya itu sih tidak mudah menurut kamu.” Kiana
menyahuti pernyataan Arya tadi, “toh kalau menurut kamu tidak mudah, kenapa coba kamu nikahin dia? Bodoh kan kamu?” Kiana tertawa mengejek Arya yang terdiam merasa malu akan kebodohannya itu.
“Obrolan kita sampai di sini saja ya, aku sudah kenyang dengan penjelasan kamu tadi. Aku ngantuk sekarang, mau tidur.” Ujarnya menepuk pundak Arya pelan.
“Tapi kamu sudah maafkan aku belum Kiana?” Arya ikut menyahut.
“Aku maafkan demi anak-anak. Sudah, lebih
baik sekarang tidur. Selamat malam.” Kiana langsung mencium pipi Arya tanpa bilang dahulu pada pemiliknya, hingga akhirnya sang pemilik malah diam dengan wajahnya yang memerah.
Arya memegangi pipinya langsung dan merutuki kegiatan Kiana tadi.
Sialan istri gue malah bikin gue kayak begini! Hebat!
*****
**Ternyata banyak juga ya, yang maunya Arya Kiana pisah :v
Taoi... Kita tunggu kelanjutannya akan bagaimana oke :v
__ADS_1
Tetep kasih like sama komennya oke, makasih 💕**