Our Fault

Our Fault
Bagian 47 - Menghindar


__ADS_3

Arya libur kerja dan ada di rumah. Adanya Arya di rumah tidak membuat Kiana senang, tapi malah kesal.


Setiap melihat dia, Kiana selalu jadi teringat waktu itu. Waktu di mana Arya bersama perempuan hamil di rumah sakit. Kiana masih penasaran siapa perempuan itu dan bagaimana rupa wajahnya yang sebenarnya?


Untuk menghindari Arya, jadinya Kiana pergi saja ke rumah Anita bersama Ray. Sedangkan Kinaya? Anak itu sibuk bermain di rumah mertuanya.


Anita mendekati Kiana dan berkata pelan, “eh hubungan lo sama Kak Arya gimana kabarnya? Terus si pelakornya itu gimana? Lo udah tahu siapa dia?”


“Masih gitu aja Nit, malah menurut gue hubungan kita kayak makin renggang. Dia makin sibuk sama madunya.” Balasnya sedikit bersedih, “pernah sih dia luangin waktu buat keluarganya, tapi itu pun pas anaknya lagi pada sakit. Coba kalau gak sakit, mungkin dia masih betah di rumah madunya itu. Gue belum tahu gimana mukanya tuh manusia.”


“Dih kok saudara gue begitu ya? Sedih banget ih gue punya sodara macem dia, nyesel gue. Kayaknya Kakak gue itu harus dimasukin lagi deh ke dalam perutnya Mamah gue, terus ganti sama anak yang lebih baik sifatnya.” Ucap Anita asal dan membuat Kiana terkekeh.


“Lo ngomongnya gak disaring dulu ya. Gitu-gitu juga dia masih saudara lo Nit.”


“Ya justru karena dia saudara gue, makanya gue kesel sama dia, tega banget nyakitin sahabat sama ponakan gue.” Timpalnya, “gue penasaran gimana sih mukanya si pelakor itu. Kalau gue ketemu dia, gue bakal ulek-ulek sambel terus tempelin di matanya biar dia


panas.” Kata Anita geram sambil menggerakkan tubuhnya sesuai dengan kalimat yang ia ucapkan.


Kiana tertawa, “hahaha, kok malah lo yang kesel sih? Gue yang jadi korbannya juga diem be aja.”


“Ya itu sih lo. Lo kan orangnya nyantai aja sekalipun disakiti sama orang lain juga. Paling cuma balas pake kata-kata lo yang super pedas dan kejam. Kalo gue yang ada di posisi lo, udah gue bikin babak belur tuh pelakor.” Ucapan Anita penuh dengan berapi-api.


“Nah, lo tahu itu.”


“Eh ngomong-ngomong, si Naya kok gak ikut ke sini? Kangen gue sama anak itu.”


“Dia lagi maen di rumah mertua, kangen Nenek Aya yang cerewet perhatian katanya.” Kiana cengengesan membayangkan mertuanya itu. Jadi rindu mertuanya Kiana, rindu akan kecerewetan juga perhatiannya.


Anita ikut tertawa, “ya ampun anak itu bisa kangen juga sama Emak gue hahaha. Emang gak bosan ya kayaknya anak lo itu dicerewetin sama Mamah gue.”


“Iya sih, emang mirip sama Ayahnya dia tuh, gak pedulian, bodo amat, ngomongnya juga jebred asal aja.” Balas Kiana setuju.


“Ah dia emang iya turunan Kakak gue banget, mukanya juga. Eh tapi semua anak lo mukanya pada mirip sama Kakak gue sih, daripada sama lo sendiri yang padahal sering bawa mereka dari zaman masih jadi biji kacang nyampe sekarang jadi manusia utuh.”


“Ya gak masalah mukanya mirip sama Ayahnya juga, yang penting jangan kelakuan bejadnya yang dimiripin, na'udzububillah Ya Allah amit amit.”


“Eh tapi lo jangan begitu ke gue Nit, nanti kalau anak lo juga sama lebih mirip sama Ayahnya gimana coba? Kesel pasti lo.”


Deg...


Anak? Anita kan belum punya anak. Hamil juga belum. Kenapa Kiana bicara begitu? Apa dia sengaja? Sengaja untuk menyindirnya yang belum juga bisa memberi suaminya anak?


Suasana menjadi diam juga canggung dengan ucapan Kiana tadi. Dia tidak ada niatan untuk menyakiti Anita dengan ucapannya tadi. Dia refleks tidak sengaja bicara begitu.


Kiana memegang bibirnya, “hmm maaf, gue gak sengaja ngomong itu.” Sesal Kiana dengan wajahnya penuh bersalahnya pada Anita yang balik tersenyum padanya.

__ADS_1


Anita tersenyum, karena dia tahu Kiana memang tidak sengaja bicara gitu dan memakluminya, “gapapa Kiana, nyantai aja. Tapi kalau nanti suatu saat gue dikasih izin buat punya anak, gue mau anak gue miripnya sama gue, daripada sama Kak Eshan.” Anita


bermonolog dengan perutnya dan mengusapnya. Suara Anita begitu pelan saat itu, berhasil membuat Kiana merasa sedih.


Kiana tertawa hambar untuk membalas ucapan Anita tadi.


“Eh Nit, kalau misalnya gue kerja ya, apa pendapat lo?”


“Emangnya lo mau kerja Ki?”


“Enggak, gue belum tahu, cuma kepengen doang. Lagian Mas Arya juga belum tentu izinin gue kerja.”


“Tapi ya kalau kata gue, sah-sah aja kalau lo mau kerja. Cuma minta izin dulu sama Mas suami lo itu. Kalau dia  gak ngizinin selama alasannya emang bener, mending turutin


aja, daripada nanti gak berkah hidup lo nya. Lagian buat apa lo kerja, kalau kebutuhan hidup lo udah tercukupi sama si suami.” Tutur Anita.


“Toh, menurut gue ya, cewek cerdas itu bukan untuk bekerja, tapi untuk ngelahirin generasi penerus yang cerdas juga. Biarin orang mau bilang lo kuliah tapi gak kerja, malah ngurusin keluarga doang. Lo gak perlu dengerin mereka. Percuma aja kalau lo kerja ngehasilin uang banyak tapi anak lo gak keurus dan jadi jauh sama lo. Banyak perempuan yang karirnya bagus walau gak semuanya juga, tapi dalam hal mendidik anak juga melayani suami dia nol besar, dan gue gak mau lo jadi


perempuan seperti itu.”


“Lo harusnya bersyukur bisa  punya anak cepet. Coba lo lihat gue? Gue udah lama nikah, nunggu-nunggu hadirnya anak, dan sampai sekarang belum juga dikasih.” Anita mengungkapkan semua yang dirasakannya.


Kiana menyimak perkataan Anita. Dia jadi merasa bersalah karena membahas soal kerja dan ujungnya jadi bahas soal anak.


Ada hal yang Kiana kagumi dari sahabatnya itu, dia masih bisa sabar pada ujian hidupnya, sabar menanti keturunan yang belum datang juga. Kiana selalu berdoa, semoga kesabarannya yang ikhlas itu segera membuahkan hasil yang baik.


Sudah di rumahnya, Kiana melihat Arya sedang sibuk tertawa sambil menelpon lalu melirik padanya yang baru saja datang.


“Aku tutup ya telponnya.” Kata Arya saat di akhir percakapannya dengan orang itu. Arya


mematikan panggilannya dan menghampiri manusia kesayangannya.


“Ray udah pulang sayang?” Tegur Arya dan akan menggendongnya, tapi ditolak Ray.


“Iya.” Ketus Ray dan pergi saja meninggalkan orang tuanya berdua.


Arya menatap kepergian Ray dengan raut bingung, itu anaknya kenapa? Merajuk?


“Ray kenapa?”


“Kenapa? Emang kamu gak sadar atas apa yang udah kamu lakuin sama dia kemarin-kemarin? Kamu udah buat dia marah karena ucapan kamu waktu itu dan bohongin dia.” Wajah Kiana berubah sinis pada Arya.


“Dia kok bisa marah? Bukannya aku bilang ke kamu buat bujuk dia?”


“Iya, aku bujuk dia kok. Tapi tetep aja dia marah sama kamu. Udah, aku mau masak.” Kiana mendorong dada Arya pelan supaya menjauh dari jangkauannya.

__ADS_1


Arya menghela nafas panjang. Masalah apa lagi ini? Sudah cukup dia punya masalah dan itu belum terselesaikan, kenapa sekarang malah bertambah masalahnya?


Malam harinya setelah kegiatan makan selesai, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk tidur. Sebelum tidur, Kiana memakaikan body lotion pada tubuhnya terlebih dulu. Ketika itu, dia malah jadi teringat pada Kaivan dan Ilsa. Semenjak mereka kembali, entah kenapa dua manusia itu seperti hilang ditelan bumi.


“Eh Mas, Kak Ilsa sama Kak Kaivan sekarang gimana kabarnya? Udah lama aku gak lihat mereka.” Sahutnya pada Arya yang sedang duduk di ranjang membaca bukunya.


“Kabar mereka baik. Mereka masih tinggal di sini, cuma karena sudah punya kesibukan lain, jadi jarang mampir ke sini.”


“Oh... Terus mereka udah pada nikah?”


“Hmm... Iya. Mereka jadi pasangan suami istri.”


“Ha?! Seriusan udah nikah? Kok gak ngundang kita?”


“Mereka ngundang, cuma acaranya pas kamu kecelekaan, jadi aku gak datang.”


“Oh, begitu. Udah lama juga ya.”


Tidak ada lagi pertanyaan dari Kiana, Arya kembali lanjutkan membaca bukunya.


“Mas.”


Arya mendongak, “ya? Mau nanya apa lagi?”


Kiana berjalan menuju Arya, duduk di sampingnya dan bersandar di dadanya.


“Kamu gak akan tinggalkan aku kan?” Kiana memainkan kancing piyama yang Arya kenakan.


Arya tersenyum dan menyimpan buku yang dibacanya di nakas lalu mendekapnya karena tidak mau kehilangan.


Justru aku yang takut kamu tinggalkan sayang, batin Arya berkata.


“Enggak, aku akan selalu sama kamu, sayang.”


Semoga kamu gak bohong, Mas. Aku pegang ucapan kamu itu. Batin Kiana.


“Mas cintanya sama aku doang kan? Enggak ke perempuan lain?”


“Udah berapa kali aku bilang, kalau aku akan selalu cinta kamu. Buktinya kita udah pisah juga waktu itu, aku sayangnya masih sama kamu.”


Kalau bagimu hanya aku yang kamu cinta, terus kenapa kamu cari yang lain?


“Mas gak berniat buat khianat aku kan?”


Maaf, aku sudah melakukannya. Arya ingin mengungkapkannya, tapi dia tidak bisa.

__ADS_1


“Kamu kok jadi bahas soal itu? Udah, udah, mending sekarang kita tidur udah malem. Aku kelonin ayo.” Arya semakin mendekap tubuhnya juga mencium kepalanya.


Kenapa kamu menghindari pertanyaan aku? Takut terbongkar ya Mas?


__ADS_2