
Ini aku buat epilog nya, ya mudah-mudahan kalian suka ya.
Sekarang aku lagi proses buat cerita Eshan Anita. Ceritanya sudah diupdate. Silakan cek profilku kalau mau baca.
Tapi itu alur ceritanya belum benar, masih acak-acakan sebenarnya, aku mau rombak lagi ceritanya.
Jadi... Tunggu ya cerita mereka. Bakal beda kok alurnya sama cerita Arya Kiana.
*****
Sampai akhirnya di titik ini, semuanya sudah selesai dan kembali pada asalnya.
Mereka sekarang sudah bisa hidup damai kembali tanpa adanya pertengkaran hebat dalam kehidupan mereka.
Kepergian Afriani memang masih membekas dalam hati mereka, tapi meskipun begitu mereka tidak boleh terlalu larut dalam kesedihan itu.
Baik Arya maupun Kiana, mereka sepakat untuk tidak lagi membahas soal masa lalu yang menyakitkan tersebut. Mereka kini memulai kehidupannya kembali bersama keluarga kecilnya yang diisi dengan canda tawa bahagia. Apalagi dengan adanya Sabhira Kirana Tasanee dalam kehidupan mereka, menambah keceriaan keluarga kecil itu. Mereka sangat bahagia dengan hadirnya bayi kecil lucu itu.
“Ayah Ayah, ayo dong nanti kita liburan ya ke Lombok. Aku mau liburan lagi nih, sudah lama kita enggak liburan bareng.” Kinaya si anak sulung mengucapkan keinginannya ketika mereka sedang makan malam.
“Nanti Ayah usahakan ya Naya, pekerjaan Ayah masih banyak soalnya.” Balas Arya singkat.
“Ayah Ayah, kalau Ray enggak mau liburan ke Lombok, Ray maunya ke Bogor aja sekalian lihat Tante Nita sama adik bayinya. Ray kangen banget sama mereka.”
“Nah boleh juga itu Mas, kita ke Bogor saja berkunjung ke adik kamu itu. Sudah lama juga kan kita belum tengok Anita, belum tahu keadaannya sekarang.” Kiana membenarkan ucapan Ray.
“Hmm. Bagaimana nanti saja ya. Pekerjaan Ayah di kantor masih menumpuk soalnya sayang-sayangnya Ayah. Banyak proyek baru yang harus Ayah selesaikan segera.” Arya membalasnya dengan memaksakan diri untuk tersenyum begitu lebar pada orang-orang kesayangannya itu.
“Ah Ayah suka begitu alasannya. Sibuk kerja terus. Ray kangen tahu kita liburan bareng. Ray juga kangen adik bayi di Bogor.” Bibir Ray mengerucut, anak lelaki itu merajuk pada ayahnya.
“Ayah benar nih sibuk kerja? Seriusan? Bukan sibuk mendua lagi kan?” Mata Kinaya si anak sulung yang tahu masalah orang tuanya tempo itu menatap ayahnya curiga.
__ADS_1
Arya menghela nafas, “Naya sayang, jangan bahas itu kalau lagi makan ya. Ada Ray di sini.”
Merasa namanya disebut, Ray jadi mengernyit keheranan, “emang kenapa kalau di sini ada Ray, Ayah? Ayah enggak suka ya Ray di sini?” Tanya Ray dengan raut wajah yang menampilkan suatu kesedihan.
“Eh? Bukan, maksud Ayah bukan begitu Rayyan. Maksud Ayah itu, yang dibicarakan Kakak Naya tadi kan itu obrolan orang gede, sedangkan Ray di sini masih kecil, makanya Ayah kasih tahu Kakak jangan bicara begitu di depan Ray.” Bantah Kiana cepat ditakutkan kesedihan anak itu semakin menjadi.
“Selalu saja begitu! Enggak boleh enggak boleh!” Marah Ray, “kenapa sih enggak boleh terus?! Bukannya kata Bunda, walaupun sekarang Ray masih kecil, tapi kan pemikiran Ray sudah kayak anak besar. Berarti Ray boleh dong tahu apa yang Kakak bicarakan tadi.” Keras kepala Ray sudah muncul keluar.
Mendengar pernyataan Ray si anak bungsu, Arya langsung melirik matanya pada sang istri seperti berkata ‘kenapa kamu harus bicara begitu sih?’
“Ray sayang, meskipun Bunda pernah bicara begitu sama Ray, tapi tetap saja Ray itu masih kecil sayang, belum cukup umur untuk tahu masalah orang dewasa.” Kiana membuka suaranya kembali membantu Arya menasihati Ray.
“Oh begitu ya Bunda. Berarti nanti kalau Ray sudah dewasa, Ray boleh tahu ya?”
“Nanti saat waktunya tepat Bunda akan kasih tahu kamu soal itu.” Kiana yang duduk di samping Ray tersenyum menyentuh rambutnya dengan pelan.
Ray membalas senyuman itu dan mengangguk “hmm, Ray mengerti, dan Ray akan tunggu waktu itu.” Kata Ray bersungguh-sungguh.
“Ray mau cepat-cepat dewasa deh kalau begitu ya supaya bisa cepat tahu. Mulai sekarang, Ray harus banyak makan, terus minum susu yang banyak biar dewasa, badannya besar kayak Ayah.” Ray tidak sadar kalau ucapannya yang keluar itu membuat orang tuanya tertawa kecuali Kinaya sang kakak.
“Hahaha, ya ampun Nak, kamu polos sekali sih sayang.” Kiana memeluk kepala Ray ke dalam dadanya sambil tertawa.
Orang tuanya tertawa akan tingkah Ray, maka beda dengan Kinaya yang terdiam dengan perasaan cemburu dalam hatinya melihat interaksi itu. Kenapa hanya Ray saja yang dipeluk dan dipuji sedangkan Kinaya tidak? Memangnya Kinaya kurang pintar ya sampai tidak diperlakukan begitu oleh Kiana ibunya sendiri? Untuk sekarang Kinaya mana sempat diperlakukan begitu oleh orang tuanya semenjak lahir Ray di keluarga itu.
“Oh... jadi cuma Ray doang nih yang kalian sayang? Naya enggak ya?” Kinaya menyahut dengan sebal dan bersedekap dada juga bersandar pada kursi.
Kiana melepaskan pelukan itu, menoleh pada Kinaya yang sedang berada pada rasa cemburunya.
“Ya Bunda juga sayang kamu lah. Putri manjanya Bunda.” Kiana memeluknya tapi mengejek juga di akhir kalimatnya. Menyebalkan memang, tapi Kinaya sayang kok. Dasar aneh.
“Ihhh... Bunda jangan mulai ledek aku deh ah.” Kinaya semakin mengeratkan pelukannya pada ibunya itu, ya walaupun dia merajuk sebal.
__ADS_1
“Ray mau peluuuuukkkk!! Ray ikut peluuuk!!” Tidak menunggu, Ray langsung memeluk dua perempuan itu.
Lalu sekarang, hanya Arya yang diacuhkan oleh keluarganya sendiri. Laki-laki itu diabaikan oleh orang terkasihnya. Malangnya kamu Arya. Begitu menyedihkan.
“Mas tidak mau ikutan?” Tawar Kiana sambil tersenyum lebar dan merentangkan tangannya pada Arya.
Arya tersenyum balik dan menggapai tangan istrinya itu, lalu berpelukan bersama. Layaknya Teletubbies. Ah menggemaskan sekali keluarga kecil itu kalau diperhatikan.
“Kalian tahu, ada satu hal yang belum Ayah ungkapkan sama kalian.” Di sela-sela pelukan itu Arya berkata.
“Apa itu?” Tanya Kinaya dengan penasarannya.
“Ayah sayang kalian.”
“Ray, Ray juga, Ayah. Ray sayang Ayah, Bunda, Kakak Naya, juga adik Sabhira.”
“Kalau Naya apalagi. Sayang banget.”
“Bunda sih... Ikut kalian saja lah hahaha.” Mereka tertawa karena jawaban Kiana.
“Terima kasih ya, sudah melengkapi hidupku dan memberikan malaikat lucu-lucu ini.” Menatap Kiana dan memberikannya kecupan di dahi. Itu yang dilakukan Arya sekarang, “aku bahagia hidup bersama kamu Kiana.”
“Kembali kasih sayang aku. Aku juga bahagia hidup sama kamu dan para bocah kita ini.” Kiana membalas kecupan Arya dengan mengecup pipinya, “jangan lagi kamu lakukan kesalahan yang sama seperti waktu itu ya. Aku tidak mau hal itu terulang kembali. Menyakitkan soalnya.” Kiana melanjutkan ucapannya itu dengan berbisik di telinga Arya. Karena sangat bahaya kalau anaknya mendengar, apalagi Ray si anak bungsu yang begitu penasaran dengan masalah orang tuanya waktu dulu.
“Hahaha, iya tidak akan Kiana. Aku akan membuktikan ucapanku ini pada kamu.” Balas Arya tersenyum dan membuat Kiana juga ikut tersenyum.
Istriku, terima kasih sudah memberikan aku kebahagiaan yang berharga ini dan bersedia bersamaku sekalipun dalam keadaan sulit. Maafkan dulu aku pernah membuat hatimu sakit. Wo ai ni. Aku mencintaimu selalu. Apalagi menyayangimu.
Suamiku, tetap bersamaku selalu ya, dalam keadaan sesulit apapun itu, kita harus bertahan. Aku minta maaf, dulu pernah menyia-nyiakan kamu. Aku harap semua masalah yang dulu pernah terjadi tidak akan terulang lagi nanti pada kehidupan kita. Saranghae Ayah anak-anakku.
*****
__ADS_1