Our Fault

Our Fault
Bagian 52 - Membencinya


__ADS_3

Kinaya ingat, jika ibunya pergi pasti akan membawa baju-bajunya. Dia pun memastikan hal itu segera dengan membuka lemari baju Kiana.


Kosong ternyata. Tidak ada satupun baju Kiana yang tersisa di lemari. Berarti benar jika Kiana pergi meninggalkannya. Kenapa Kiana pergi sendiri tanpa membawanya juga adiknya? Padahal kan Kinaya maunya bersama ibunya, daripada diam di sini bersama laki-laki pengkhianat itu. Tidak sudi Kinaya bersamanya.


Nira dibuat heran dengan gerakan Kinaya. Kenapa anak itu membuka lemari baju Kiana? Apa hubungannya coba.


“Bunda beneran pergi Nek.” Sahut Kinaya setelah membuka lemari milik Kiana.


“Kamu tahu dari mana?” Timpal Nira.


“Nih lihat, gak ada baju Bunda di sini. Bunda pergi bawa baju sama kopernya.”


“Ya ampun... Kenapa bisa dia pergi? Ada masalah apa sampai dia nekat kayak begini?”


“Bunda pergi... Hiks... Bunda kok tinggalin Ray di sini sih?! Hiks... Bunda enggak sayang Ray...”


“Pasti semua gara-gara laki-laki pembohong itu.” Mata Kinaya berubah tajam dan raut wajahnya menampilkan amarah.


“Maksud Naya apa?” Tanya Nira karena dia tidak tahu apa-apa soal itu.


Bersamaan dengan itu, langsung terdengar suara laki-laki yang Kinaya maksud itu.


“Kiana...” Panggilnya.


“Nah, itu suara si laki-laki pembohongnya.” Timpal Kinaya dan berjalan untuk menghadap pada laki-laki itu.


Kinaya sudah berada di hadapan laki-laki yang dia kata pembohong itu —Arya.


“Nay, Bunda di mana? Udah pulang?” Serunya.


“Cari Bunda? Bunda sudah pergi jauh dari sini.” Sewot Kinaya.


Laki-laki itu terkejut sekaligus bingung. Pergi ke mana Kiana? Apakah karena kejadian yang sudah terjadi tadi makanya dia pergi? Ketika Arya berpikir, suara pekikan anak kecil menggema di telinga mereka.

__ADS_1


“Ayaaahh...” Anak kecil itu berhambur memeluk tubuh ayahnya, “Bunda pergi Ayah. Pergi tinggalin Ray.” Adu Ray.


“Nenek, tuh dia si laki-laki pembohong itu.” Kinaya menunjuk Arya dengan tatapan menusuk.


“Nay, dia itu Ayah kamu, bukan laki-laki pembohong.” Koreksi Nira.


“Enggak! Dia itu laki-laki pembohong! Dia yang sudah buat Bunda pergi! Naya benci dia, Nenek!”


Anaknya sendiri berkata seperti itu. Berkata yang membuat hati Arya sakit. Apa dia sudah tahu masalah yang terjadi di antara orang tuanya ini? Tapi... Anak sekecil itu belum pantas untuk tahu masalah ini.


“Mah... Bisa tolong bawa Ray pergi ke kamar sebentar? Arya mau bicara sama Naya dulu.” Sahut Arya memberikan Ray pada Nira.


“Ray sama Nenek Nira dulu ya, Ayah mau bicara sama Kakak Nay.” Bujuk Arya dan untungnya Ray menurut sekarang.


“Naya...” Arya menyahut setelah Nira membawa Ray pergi dari mereka.


Kinaya diam memalingkan wajahnya dari Arya. Tidak mau menatap wajah itu.


“Sayang...” Kinaya masih diam acuh, tidak peduli.


“Tahu apa? Soal Ayah punya perempuan lain terus perempuan itu lagi hamil? Iya? Kalau soal itu, iya Naya tahu. Jahat banget Ayah lakuin itu sama Bunda. Bunda itu sudah baik, perhatian, sayang sama Ayah juga. Tapi kenapa Ayah buat Bunda sakit?”


“Kamu tahu dari mana? Bunda yang


kasih tahu kamu atau Om Bian? Tante Fiska?”


“Bukan! Mereka enggak kasih tahu Naya. Justru Naya yang lihat sendiri Ayah lagi jalan berdua sama dia.” Kinaya menunjuk wajah Arya dengan kebencian yang hinggap di dirinya, “Ayah tahu kenapa Naya kecelakaan? Itu karena Naya lihat Ayah jalan berdua malam-malam sama perempuan itu. Waktu itu kalian habis beli makanan.”


Deg... Wajah Arya berubah jadi terkejut.


Ya. Arya masih ingat. Waktu dia bersama Afriani keluar rumah pada malam hari membeli makanan di tempat biasa. Saat itu pula, setelah dia melajukan mobilnya, terjadilah kecelakaan di jalan raya itu. Bodohnya Arya yang tidak melihat siapa korban itu, yang ternyata dia adalah Kinaya. Anaknya sendiri. Arya tidak menyadari akan hal itu.


“Ayah kenapa terkejut begitu? Biasa aja dong mukanya.”

__ADS_1


“Jadi... Yang kecelakaan itu kamu? Maafkan Ayah. Ayah enggak tahu.”


“Percuma Ayah minta maaf juga. Toh Naya sudah kecelakaan ini dan Bunda juga sudah pergi karena kecewa sama Ayah. Lagian Ayah jadi laki-laki kok jahat banget malah sakitin Bunda yang sudah sayang sama Ayah.”


“Ya, Ayah tahu Ayah salah. Ayah minta maaf.”


“Ayah harus minta maaf sama Bunda, jangan sama Naya.”


“Iya, nanti kalau Bunda pulang.”


“Naya sekarang mau tinggal di rumah Nenek Nira sampai Bunda pulang. Naya enggak mau di sini, takutnya Ayah bawa ke sini perempuan itu, Naya kasihan sama Bunda.”


“Naya mau tinggalin Ayah di sini?”


“Iya. Ayah sendiri kan yang memulai semuanya, dan ini balasannya buat Ayah.”


Ya ampun Kinaya. Kamu belum dewasa tapi sudah bisa berkata yang menusuk hati ayahmu sendiri. Hebat sekali.


“Kalau begitu, Ayah mau peluk Naya boleh?”


“Enggak! Gak bisa! Naya enggak mau dipeluk sama Ayah. Sudah ya, Naya mau nyamperin Nenek Nira buat segera pulang.”


Kinaya menolaknya. Kinaya membencinya. Gadis yang dia rawat sedari bayi itu sekarang membencinya.


Hati Arya sungguh sakit. Hati orang tua mana yang tidak sakit ketika dirinya dibenci anaknya sendiri? Inikah yang dirasakan Kiana dulu sewaktu Kinaya membencinya?


Arya menyesali perbuatannya. Jika saja dia tidak melakukan semua kesalahan itu. Pasti keluarganya tidak akan ada diambang kehancuran seperti ini dan Kiana tidak akan pergi darinya begitu juga kedua anaknya.


Jika saja aku berpikir akan akibat dari kesalahan ini, mungkin aku tidak akan melakukannya pada kamu, Kiana. Aku sungguh menyesal, maafkan aku Kiana.


Kini, semuanya hanya tinggal berandai saja. Semuanya terlambat sudah.


Aku sudah berusaha mempertahankan orang yang aku sayangi walaupun itu sulit, tapi jika memang takdirnya harus pe**rgi maka memang haruslah pergi. Meskipun aku sudah berusaha

__ADS_1


mempertahankannya.


__ADS_2