Our Fault

Our Fault
Bagian 32 - Kembali?


__ADS_3

Klik 👍 nya oke, terima kasih...


*****


Arya mendatangi rumah Kiana saat malam hari, niatannya datang itu untuk meminta maaf padanya soal sikap Kinaya tadi siang. Sengaja dia mengunjunginya saat jam 8 malam, menunggu Kinaya untuk tertidur dulu.


Ketika Arya sampai di parkiran rumah Kiana dan keluar dari mobilnya, ternyata dia melihat mobil masuk. Mobil yang menurutnya seperti milik.... Kaivan! Ah iya, Kaivan.


Hingga saat pengendara mobil itu keluar, perkiraan Arya ternyata benar. Itu Kaivan. Laki-laki itu tersenyum menyapanya dan melambaikan tangannya pada Arya.


“Oy.” Tegur Kaivan pada Arya yang hanya dibalas saja dengan senyuman tipis.


Ada urusan apa Kaivan datang ke sini malam-malam? Apa mau bertemu Fabian atau mungkin Kiana? Tapi tidak mungkin Kiana, sejak kapan coba mereka jadi dekat?


Kaivan membuka pintu penumpang. Tidak Arya kira, yang keluar itu ternyata sosok Kiana. Mereka bergandengan bersama dan saling tersenyum. Hal itu membuat Arya langsung panas, amarahnya memuncak.


“Eh Kak Arya ngapain ke sini?” Seru Kiana saat jaraknya sudah dekat.


“Ki, Kakak pulang ya.” Kaivan menyeru dan tersenyum.


Kiana mengangguk tersenyum, “iya, hati-hati. Makasih ya buat malam ini.”


Perempuan itu lanjut memeluk Kaivan sebagai tanda pamit terakhirnya sebelum laki-laki itu pergi dan melakukannya di depan mata Arya.


Sekalipun sudah pergi, Kiana masih tetap setia memperhatikan Kaivan. Beda dengan Arya yang justru terus diam seperti obat nyamuk. Dia tidak tahu, sejak kapan dua manusia itu jadi dekat seperti tadi? Bukannya Kaivan itu menyukai Ilsa? Tapi kenapa Kiana yang diajak keluarnya?


Atau mungkin...


Hati Kaivan sudah berganti dan memilih Kiana, lalu sekarang mulai ada hubungan di antara dua manusia itu? Ah Arya harus segera mencari tahu.


“Sejak kapan kalian jadi dekat?” Seru Arya menegur Kiana.

__ADS_1


Kiana tidak menjawab dan justru bertanya balik dengan acuh sambil menyilangkan tangannya, “kenapa emang?”


Arya menatapnya serius lalu mencekal tangannya, “kalian punya hubungan lebih?”


“Ya kamu maunya gimana?” Kiana masih tidak peduli pada kemarahan yang sedang Arya tahan sekarang.


“Jawab aku Kiana!” Arya menggeram.


Kiana kesal dan melepaskan tangan Arya dengan kasar, “buat apa kamu nanyain soal itu?! Berhenti ikut campur urusin hidup aku! Mending kamu urusin tuh hidup kamu sama keluarga kamu itu! Terutama anak kamu si Kinaya! Ajari dia sopan santun, bagaimana cara menghargai pemberian orang lain.” Kiana tahu diri jika sekarang sudah malam dan sedang berada di luar rumah, makanya dia tidak memaki dengan suara kerasnya.


Arya tersenyum sinis, “oh, jadi kamu marah sama Kinaya soal siang? Iya?”


“Kamu pikir aja sendiri!” Kiana menunjuk-nunjuk Arya.


Arya mengambil nafasnya panjang untuk menahan marahnya, “harusnya kalau kamu mau Naya maafin kamu, kamu ngomong pelan-pelan sama dia juga bujuk dia, dengan sendirinya Naya juga bakal luluh terus maafin kamu, Ki.”


“Ngomong pelan-pelan?” Kiana tersenyum sinis, “kamu pikir di saat dia masih takut sama aku, dia bakal dengerin dan gak ngejauh dari aku? Enggak, dia selalu ngejauh dari aku kalau aku deketin juga, jadi gimana mau ngomong pelan-pelan!”


“Apa sih pegang-pegang? Malu dilihat orang, nanti diomongin.” Kiana berusaha melepaskan diri dan melirik ke arah sekitar, banyak orang lewat di depan rumahnya.


Arya semakin mendekatkan jarak mereka, “kamu kenapa? Kamu marah sama Kinaya dan aku? Kamu gak suka kita dekat sama Ilsa?” Tanyanya pelan dan santai.


“Hah? Maksud kamu apa? Jangan ngaco deh kalau ngomong.” Kiana berpura-pura bingung.


“Lagi-lagi kamu bohong soal perasaan kamu Kiana.” Arya menatapnya serius, “kalau kamu masih mau sama aku, kenapa gak bilang? Supaya aku bisa nikahin kamu lagi. Asal kamu tahu, aku dan Ilsa gak serius nikah.”


Apa? Kiana tidak salah dengar kan? Mata Kiana sedikit melebar karena terkejut tapi tidak percaya juga. Apa ucapan laki-laki itu benar? Tapi Kiana tidak percaya kalau itu benar.


“Kamu kenapa sih ngomongnya ngawur terus? Kalau ngomong yang bener coba. Kesel aku jadinya.” Gerutu Kiana.


“Aku serius. Aku gak jadi nikah sama Ilsa. Aku tahu kamu masih cinta aku, makanya aku masih bertahan.”

__ADS_1


Pipi Kiana bersemu merah seketika. Harus jawab apa dia? Kenapa tiba-tiba dia malah jadi grogi begini?


“Pipi kamu merah.” Arya menunjuk pipi Kiana yang refleks langsung memegang pipinya itu, “kamu masih cinta aku kan?”


“Hmm? Apa? Jangan nanya yang aneh! Udah minggir, aku mau masuk.” Kiana menarik Arya untuk menjauh menggunakan tangannya yang tidak ditahan oleh dia.


“Diam!” Arya menyuruhnya untuk tetap diam, “apa susahnya sih tinggal ngomong iya aku cinta kamu, gengsi mulu yang ditinggiin. Lagian kalau kamu masih cinta, aku nikahin kamu lagi nih, terus kita berjuang bareng buat minta maaf sama Kinaya.”


“Cinta cinta mulu! Kita itu udah dewasa Kak, apalagi Kakak, jadi bukan waktunya lagi kalau ngajak nikah nanya cintanya doang.” Omel Kiana.


“Ya udah, kalau kamu gak cinta, aku mau cari perempuan lain. Mahasiswa juga boleh.” Arya melepaskan tangannya dan hendak pergi tapi dihalang Kiana.


Kiana menarik kerah baju Arya, “apa? Kamu mau cari ibu tiri buat Kinaya? Jangan! Awas aja kalau kamu berani, aku potong aset kamu nanti.” Ancam Kiana dan melirik pada yang dimaksudnya.


Arya tersenyum melihat Kiana kesal, “ya terus aku harus gimana? Aku gak mau selamanya jadi duda kayak begini ya.”


“Iya iya aku mau karena kamu paksa.” Kiana mendelikan matanya dan menghindar dari tatapan Arya.


“Mau apa? Mau boker? Suka ambigu kamu.”


“Iya aku mau dinikahin kamu lagi, mau berjuang bareng demi Kinaya, dan aku masih cinta sama kamu. Puas?” Kiana menatapnya kesal.


Bibir Arya tertarik untuk tersenyum begitu lebar dan mencium kening Kiana tanpa permisi, “akhirnya! Kamu mau juga. Nah dari dulu coba kamu tuh kayak gini! Ah kamu, harus aku pancing mulu.” Arya memegang kedua pipi Kiana kemudian dia menarik tangan Kiana, hendak membawanya masuk ke dalam rumah.


“Yuk buruan, aku mau ngobrol sama orang tua kamu, mau nikahin lagi anak ceweknya.” Ajaknya.


“Eh kok cepet banget sih?”


“Gapapa, aku udah gak tahan.”


Kiana mengernyit. Gak tahan? Maksudnya?

__ADS_1


__ADS_2