Our Fault

Our Fault
Bagian 25 - Ketika Cinta, Rindu, Benci Menyatu


__ADS_3

Pagi ini Kiana sengaja bangun lebih awal, alasannya adalah dia harus mengerjakan pekerjaan rumah termasuk membuat sarapan, sebab Bi Ani berhalangan hadir, dikarenakan harus menjaga suaminya yang sedang sakit. Jadinya hari ini, semua pekerjaan rumah ada di tangan Kiana.


Kiana selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya tepat sekitar jam 6 pagi.


Kinaya dan Arya sudah keluar dari kamarnya. Mereka sekarang duduk rapi di kursi masing-masing untuk melakukan sarapan.


“Bi Aninya mana?” Arya bertanya karena tidak melihat Bi Ani yang biasanya menyiapkan sarapannya.


“Gak ke sini, suaminya lagi sakit katanya.” Jawab Kiana.


“Terus ini kamu yang masak?” Arya menatap makanan tersebut.


“Ya iyalah, emang siapa lagi? Emangnya ada delivery sepagi ini.”


“Kan bisa aja ada.”


“Naya mau makan apa? Mau dibuatin bekel gak nanti?” Kiana menatap Kinaya.


“Kalau minta dibikinin boleh? Soalnya Naya suka laper lagi pas udah jajan juga.”


Satu lagi kebiasaan Kinaya yang juga mirip dengannya dan Kiana baru tahu. Doyan makan.


“Kakak buatin. Sekarang kamu sarapan dulu, ambil sendiri makanannya.” Kiana langsung lanjut membuat bekal makanan untuk Kinaya. Ketika seperti itu, Arya menegurnya.


“Ki,” Tegur Arya membuat Kiana menoleh padanya.


“Apa?”


“Hari ini kamu bisa antar Naya ke sekolahnya? Aku ada urusan mendadak di kampus, harus datang pagi banget, jadi gak bisa anterin dia.”


“Ya udah iya. Berangkat sekolahnya suka jam berapa?”


“Jam setengah 8 aja berangkatnya, masuknya juga jam 8. Aku jam 7 harus udah ada di kampus.”


“Hmm. Kalau gitu buruan abisin sarapannya. Udah mau jam 7 juga.”


Arya segera menghabiskan sarapannya dengan terburu-buru, lalu menatap jam tangan yang dipakainya, “aku berangkat sekarang ya. Takut macet.”

__ADS_1


“Iya buruan sana pergi.”


“Ok, aku berangkat.” Pamit Arya lalu mencium pipi Kinaya dan tanpa sadar, dia juga malah mencium kening Kiana.


“Assalamu'alaikum.” Arya pergi meninggalkan dua perempuan itu di ruang makan.


Kiana diam kaget dengan ciuman Arya di keningnya, dia ngapain cium gue?


“Kak Ana,” Kinaya menegurnya yang terdiam setelah Arya pergi, “kok Ayah nyium kening Kak Ana? Padahal kalian kan belum nikah, sedangkan kata guru ngaji Naya gak boleh cowok sama cewek ciuman kayak tadi kalau belum nikah.” Pertanyan polos dari mulut Kinaya sudah mulai keluar, Kiana bingung harus menjawab apa.


Ini anak masih kecil udah pinter kebangetan ya nanyanya. Nurun Ayahnya nih. Selalu buat gue bingung buat jawab.


“Udah, mending makan aja deh. Tuh udah jam 7. Kamu masuk jam 8 juga.” Kiana mengalihkan pertanyaan Kinaya tadi.


Takut kena marah Kiana, akhirnya Kinaya lanjut saja makannya.


Beres semua, Kiana tinggal mengantarkan Kinaya ke sekolah menggunakan mobil milik Arya.


Sampainya di sana, Kiana terlebih dahulu membenarkan baju Kinaya yang kusut.


“Hmm, iya.”


“Udah sana masuk, bentar lagi jam 8 tuh.”


“Ya udah, Naya sekolah dulu ya Kak Ana.” Kinaya pamit dan mencium tangan Kiana, lalu mencium kening Kiana tanpa izin.


Cup...


Kiana terdiam menatap Kinaya dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Assalamu'alaikum. Naya masuk ya Kak Ana.” Kinaya berlari cepat menghindari amarah Kiana karena hal yang dilakukannya tadi.


Kiana menatap kepergian gadis kecil itu dengan begitu seriusnya.


Kamu emang mirip dia, penuh dengan kejutan.


Sekarang sudah di minggu ketiga Kiana tinggal di rumah Arya.

__ADS_1


Di siang hari ini kebosanan Kiana muncul. Tidak ada banyak kegiatan yang bisa dia lakukan di rumah Arya selain diam, tidur, dan makan. Ingin membantu pekerjaan rumah pun sudah ada yang mengerjakannya.


Lalu akhirnya, Kiana pun memutuskan untuk berenang saja.


Hingga saat sudah sampai di kolam renang, Kiana mengurungkan niatannya itu karena ada Arya juga Kinaya yang sama sedang berenang.


Kiana baru tahu, jika di umurnya yang masih kecil, Kinaya ternyata sudah bisa berenang. Sepertinya Arya yang mengajarkan anak kecil itu.


Perasaan Kiana begitu aneh ketika melihat mereka berenang dengan senangnya. Kiana seperti merasa bahagia dan damai, tapi juga sakit karena mengingat masa lalunya sehingga dia menjadi seperti sekarang. Perempun yang egois.


Tetap saja, walaupun Kiana bersembunyi, kehadirannya masih bisa diketahui oleh Kinaya. Anak itu melihat kedatangannya dan memanggil untuk bergabung bersama.


“Kak Anaaaa!! Ayo sini, kita renang bareng, Kak.” Kinaya melambaikan tangannya pada Kiana.


Kiana mendengar panggilan Kinaya dan menatapnya. Bersamaan dengan itu, Arya juga malah ikut menatap Kiana.


“Enggak. Kalian aja.” Kiana menggelengkan kepalanya dan berbalik membelakangi mereka untuk segera pergi. Tapi kepergiannya itu dicegah Kinaya langsung.


Anak itu keluar dari kolam renang dan berlari pelan dengan penuh kehati-hatian untuk mengajak Kiana bergabung.


“Kak Ana ayo ikut, jangan malu-malu meong ih.” Ledek Kinaya tertawa, “Naya tahu kok, kalau Kakak mau renang.” Kinaya menarik paksa tangan Kiana dan mendorong tubuh perempuan itu ke dalam kolam renang.


Spontan Arya pun menangkap tubuh itu ketika melihatnya dan memeluknya karena takut terjadi apa-apa pada Kiana. Sedangkan Kiana begitu terkejut karena itu. Untung dia bisa berenang dan Arya menolongnya. Coba kalau tidak, sudah mati mungkin Kiana sekarang.


Tubuh Kiana mendadak kaku tiba-tiba layaknya patung saat Arya memeluknya dan mereka sama-sama terdiam tidak bersuara, hanya saling menatap dengan tatapan yang memperlihatkan ungkapan suatu perasaan terpendam juga bercampur, antara cinta, rindu, juga benci.


Kiana, coba kamu tahu, yang tersakiti itu bukan hanya kamu, tapi juga aku. Mungkin memang terdengar picisan, tapi kamu harus tahu, aku begitu susah buat lepaskan kamu  dan sejujurnya aku rindu kamu. Padahal aku sudah tahu jika kamu itu bukan yang terbaik untukku, tapi karena akunya yang terlalu bodoh, aku masih saja pertahankan rasa ini sama kamu.


Arya, karena kamu aku harus terjebak dalam situasi ini. Aku terus disalahkan oleh banyak orang karena dia. Padahal ini semua terjadi bukan karena aku, justru karena kamu. Aku benci kamu Arya, tapi kenapa aku menyesal sudah melepasmu? Kenapa aku sakit? Apa ini cara kamu untuk membalas dendam padaku? Kalau begitu, selamat Arya, kamu menang.


Tatapan itu akhirnya berhenti dengan sendirinya. Mereka segera melepaskan pelukannya setelah itu dan menjauhkan tubuhnya masing-masing, karena sadar kalau di sini ada Kinaya, anak kecil yang belum cukup umur untuk melihat adegan seperti tadi.


Selepas itu mereka menjadi sama-sama terdiam kembali dan keluar dari kolam renang sambil memikirkan kejadian tadi.


Kok bisa gue meluk dia? Batin Kiana.


Apa yang barusan gue lakuin ke dia? Arya bertanya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2