
Seiring berjalannya waktu, Kiana semakin merasakan kesakitan pada perutnya. Bayi yang ada di perutnya itu terus saja menendang dengan lincah, sampai tak tahu waktunya untuk beristirahat.
“Kak, sakittthh.” Rintih Kiana yang duduk di sofa bersama Arya dan memegang tangannya.
Arya memegang pinggang Kiana dan mengusap-usapnya sambil memegang perutnya agar gadis itu merasa nyaman, “sabar ya, kamu harus kuat. Bentar lagi juga bayinya lahir.” Arya menyemangati Kiana supaya istrinya itu tidak sering mengeluh. Toh waktu kelahiran bayinya hanya tinggal 2 minggu lagi.
“Kiana capek, gak kuat bawa bayi ini. Pengen udah aja, Kak.” Keluh Kiana.
“Mau tiduran di kamar aja?” Arya menggenggam tangan Kiana.
Kiana menggeleng, “enggak. Mau di sini aja.”
“Ya udah. Kalau mau tidur, tidur aja ya. Sini, kepalanya senderin ke dada Kakak, nanti Kakak peluk kamu.”
Kiana mengikuti saran Arya tadi. Hingga tak lama, Kiana terlelap langsung dengan sendirinya. Mungkin dikarenakan sentuhan Arya di perutnya, membuat dia nyaman dan bisa meredakan rasa sakit yang sedang dia alami.
Arya menatap Kiana yang tertidur dengan nyenyaknya.
Maaf Kiana, karena aku sudah buat kamu jadi kesakitan seperti ini dan melenyapkan cita-cita kamu.
Aku tahu, kamu masih belum terima bayi ini Ki. Tapi aku akan berusaha supaya kamu bisa nerimanya dan aku yakin hal itu akan terjadi, entah itu kapan. Walaupun dia lahir karena kekhilafan dan ketidak sengajaan, tapi dia tetap anak kamu. Lagian dia juga bukan anak yang lahir di luar pernikahan, jadi tak sepatutnya kamu benci dia.
Sayangnya Ayah, kamu jangan nangis kalau nanti sikap Bunda ke kamu kayak begitu ya. Cepet lahir sayang, Ayah udah nunggu kamu, pengen lihat muka kamu kayak gimana, mirip sama Ayah atau Bunda. Saat kamu sudah lahir ke dunia nanti, kamu harus kuat dan sabar. Hidup di dunia memang kejam, tapi meskipun begitu, di dunia juga masih ada sebuah keindahan yang bakal kamu temui di sini.
__ADS_1
Arya terus berucap dalam hati sambil mengusap perut istrinya. Hingga ia menghentikan pergerakannya karena merasakan sebuah tendangan di sana dan hal itu membuat Arya seneng.
“Kamu denger Ayah ngomong ya? Wah kamu nguping niiihhh.” Arya tersenyum dan mengusap perut Kiana lagi.
*****
Karena waktu persalinannya yang tinggal beberapa hari lagi. Baik Arya maupun Kiana, mulai dari sekarang mereka sudah mempersiapkan beberapa perlengkapan apa saja yang akan dibawanya nanti saat persalinan.
Saat hari persalinannya tiba, Kiana ingin melakukan persalinan dengan cara normal, karena masa pemulihan persalinan normal lebih cepat dari persalinan caesar, yang membutuhkan masa pemulihan cukup lama, bahkan tak cukup setahun. Oleh sebab itu, semakin ke sini Kiana jadi semakin rutin berolahraga seperti berenang, agar persalinannya nanti berjalan lancar tanpa ada hambatan apapun.
Sekarang pun Kiana sedang berenang di rumah, tentunya juga harus bersama Arya. Karena kalau tidak bersama Arya, Kiana akan diceramahi besar-besaran oleh pria itu.
Arya awalnya hanya duduk diam saja di kursi sambil memperhatikan Kiana yang berenang. Dia baru sadar, dari arah mana pun dia memandang Kiana, istrinya itu tetaplah cantik dari arah mana pun dan dalam keadaan apapun itu. Walaupun badannya sudah membengkak juga, Arya tetap saja menganggap Kiana cantik.
Kemudian, Kiana pun sengaja mengganggu Arya yang malah diam menatapnya dari tadi dengan menyipratkan air padanya sekaligus protes supaya pria itu ikut berenang bersamanya.
Bukannya marah akan perbuatan istrinya itu, Arya justru malah tersenyum pada Kiana dan mengusap rambutnya yang basah ke belakang karena cipratan air tadi.
“Kak Arya! Ayo buruan ikut renang sini!” Kiana melambaikan tangannya pada Arya, “jangan duduk diem sambil lihatin Kiana terus. Gak ada kerjaan banget kayak begitu.”
Berhubung bajunya sudah terlanjur basah karena ulah Kiana tadi, Arya pun segera menanggalkan kemeja yang dipakainya dan hanya tersisa kaos saja. Setelahnya, Arya langsung menjatuhkan tubuhnya ke dalam kolam renang bergabung dengan Kiana.
Arya dan Kiana sibuk berenang bersama. Sampai akhirnya, tiba-tiba Kiana meringis kesakitan sekaligus panik karena perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
“Kak, perut Kiana sakittthh.” Ringisan kesakitan Kiana membuat Arya langsung panik dan menghampirinya cepat.
“Kata Kakak juga apa, udahan renangnya. Ini nih akibatnya kalau kamu gak dengerin kata Kakak.” Di saat Kiana kesakitan pun, Arya masih sempatnya memberikan omelan pada Kiana.
Kemudian Arya membawa Kiana keluar dari kolam renang dengan tergesa-gesa saking paniknya. Setelah itu, dia membaringkan Kiana di kursi terdekat dan buru-buru mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh istrinya itu yang basah.
“Kakak telpon Tante Dina dulu ya, buat ke sini.” Arya bergegas akan mengambil ponselnya untuk menghubungi Dina.
Namun Kiana menolaknya dengan menarik tangan Arya, “gak usah, mending Kakak duduk di sini aja sambil pegangin perut Kiana.”
Arya menghela nafas pelan dan tanpa berbicara lagi, dia segera mendekati Kiana lalu memegang perut istri mudanya itu.
Tanpa sebab, dua manusia itu langsung tiba-tiba terdiam saat dalam situasi itu. Rasanya mereka canggung, mirip seperti orang asing yang belum saling mengenal satu sama lain.
Hingga kemudian, keterdiaman mereka terhenti ketika nyawa yang sedang hidup dalam tubuh Kiana menendang perutnya.
“Nah kan, bayinya protes tuh gara-gara kamunya keras kepala, susah dibilangin, gak mau diperiksa ke Oma Dina.” Arya mencairkan suasana canggung yang tercipta di antara mereka.
“Dih apaan? Kiana enggak gitu juga kok.” Kiana membantahnnya dan refleks memegang perutnya sendiri, “Bunda enggak keras kepala kan, sayang?” Tanya Kiana tanpa disadarinya.
Arya diam menatap Kiana penuh makna mendengar perkataan istri kecilnya tadi. Dia begitu terharu akan hal kecil itu dan berperasangka jika Kiana sudah bersedia menerima anak mereka.
Bukan hanya Arya, Kiana pun sama ikut terdiam dan balik menatap Arya dengan tatapan yang tidak Arya mengerti. Keterdiaman Kiana itu terjadi karena dia tidak menyangka kalau dia berkata suatu perkataan yang tidak biasa bagi telinga Arya.
__ADS_1