Our Fault

Our Fault
Bagian 31 - Aku Berusaha


__ADS_3

Demi melancarkan aksinya mendapatkan maaf dari Kinaya, hari ini Kiana datang berkunjung ke rumah Arya saat siang hari, selepas pulang kuliah. Setelah sembuh total, dia melanjutkan kuliahnya kembali.


Sebelum datang ke rumah Arya, Kiana terlebih dahulu menghubunginya untuk memberitahu bahwa dia akan berkunjung. Tentunya berkunjung untuk Kinaya, bukan untuk Arya apalagi Ilsa. Meskipun cemburu karena posisi Ilsa sudah menggantikan dia, tapi Kiana harus menurunkan perasaannya dahulu demi Kinaya.


Kiana sudah berada di depan pintu rumah Arya. Dia menunggu siapapun itu untuk membuka pintu. Hingga akhirnya harapan Kiana terlaksana, karena yang membuka pintu itu adalah Kinaya..


Awalnya Kinaya akan membuka lebar pintu itu, tapi saat melihat tamunya Kiana, niatnya langsung diurungkan dan hanya membuka pintu sedikit kemudian bersembunyi di balik pintu itu.


“Cari siapa?” Tegur Kinaya yang hanya menyembulkan kepalanya saja di balik pintu pada Kiana.


Kiana melihat anaknya itu, anak yang dulu tidak dia inginkan, lalu tersenyum dan berjongkok di hadapannya.


“Kalau Kak Ana cari Naya boleh?” Kiana tersenyum dan bertanya pelan-pelan.


“Gak boleh.” Kinaya langsung menjawabnya dengan ketus.


“Ya udah, Kak Ana cari Ayah boleh?”


“Ayah lagi kerja di dalem. Ada juga Mama Ilsa.”


Mama Ilsa? Oh. Oke gapapa.


“Kalau gitu mau ketemu Mama Ilsa aja deh.”

__ADS_1


“Ya udah, masuk.” Suruhnya dan berjalan mengantar Kiana menuju Ilsa.


Kiana mengikuti gadis kecil itu dari belakamg. Saat sudah berada di dalam, Kiana bertemu Ilsa yang sedang duduk.


“Mama, Kak Ana cariin Mama.” Kinaya menyeru dan mendekat padanya.


Ilsa melirik Kiana dan beranjak, “oh, ada apa Ki?”


“Ini... aku cuma mau kasih makanan kesukaan Naya. Itu buatan Kak Ana sendiri lho, Nay. Kak Ana bikin ini banyak buat Naya.” Kiana membanggakan dirinya dan melirik pada Kinaya, kemudian memberikan makanan itu pada Ilsa tapi tidak Ilsa terima.


“Lho, kenapa dikasih ke aku? Harusnya ke Naya dong. Nay, itu ambil makanan punya Kak Ana. Kasihan Kak Ana, udah bela-belain bikin buat Naya.” Ilsa menunjuk makanan itu menggunakan matanya.


Kinaya menolaknya, “gak! Naya gak mau, Mama.”


Eh? Tapi kan itu buat Kinaya, bukan buat Ilsa. Lagian kenapa harus Ilsa sih orang pertama yang mencicipi makanan itu? Kenapa bukan Kinaya? Padahal niat Kiana membuat itu kan untuk Kinaya.


“Ya udah, boleh Kak. Tapi sisain ya buat Naya sama Kak Arya.”


“Ya iya dong pasti disisain. Masa enggak.” Ilsa segera memakannya. Dia baru tahu, kalau Kiana ternyata jago masak juga.


“Makanannya enak Ki. Baru tahu aku kamu bisa jago masak gini.” Pujinya dan menawari Kinaya makanan itu, “Nay ayo makan ini, enak lho sayang. Hargai Kak Ana, dia bikin ini buat kamu.”


Raut wajah Kinaya berubah marah dan tanpa diduga mereka, anak itu justru melempar makanan itu dengan kasarnya, “Naya gak mau! Udah bilang kan tadi kalau Naya itu gak mau! Kenapa maksa terus sih?! Kak Ana mending pulang aja, Naya gak mau lihat Kak Ana di sini!” Marahnya dan pergi dengan kesalnya.

__ADS_1


Kiana memandangi kepergiannya lalu melihat makanan yang terbuang itu. Makanan hasil buatannya yang penuh dengan perjuangan harus terbuang dengan sia-sia, menyedihkan sekali.


Benar ya, aku memang gak pantas dapat maaf dari anakku sendiri. Aku pantasnya disebut ibu yang jahat, kejam. Kenapa Tuhan masih menghidupkan aku? Kenapa gak matikan aku saja pas kecelakaan itu?


Jika Kiana bersedih, maka Ilsa merasa tidak enak karena sikap Kinaya itu. Ilsa jadi bingung harus berkata apa, “Ki... Kakak minta maaf ya soal Kinaya tadi. Kamu jangan diambil hati ok.” Ilsa berkata terus terang dan memegang pundaknya.


Kiana tersenyum tipis, “ah iya, santai aja Kak. Kalau begitu, Kiana pulang sekarang aja ya, takut ganggu kalian.”


“Oh ya udah, hati-hati ya pulangnya.”


Beberapa menit setelah Kiana pergi, Arya datang pada Ilsa karena pekerjaannya sudah selesai. Sementara Ilsa baru saja selesai membereskan kekacauan karena ulah Kinaya tadi.


“Si Kinaya kenapa nangis? Terus ini kenapa makanan bisa berserakan gini?” Tanya Arya melihat pada hal itu.


Ilsa menoleh, “lho Naya nangis?” Tanyanya dan Arya jawab dengan deheman.


“Tadi Kiana datang ke sini bawa makanan buat Naya, terus disuruh nyoba, tapi eh ternyata si Kinayanya gak mau terus malah dilempar makanannya, dan akhirnya si Kiana diusir deh sama dia.” Tutur Ilsa.


“Kiana ke sini, kenapa kamu gak kasih tahu aku?”


“Buat apa kasih tahu, kamunya juga lagi sibuk ngurusin kerjaan. Udah ah, aku pulang ya ke rumah. Jagain tuh anak kamu, kasihan dia.”


“Hmm. Makasih udah jagain Naya.”

__ADS_1


__ADS_2