Our Fault

Our Fault
Bagian 22 - Jangan Tinggalin Bunda, Kasihan Ayah


__ADS_3


 


2 tahun kemudian...


Tepat di hari ini, Kiana baru saja menyelesaikan libur kuliahnya yang dia isi dengan menginap di rumah neneknya yang bertempat di Purwakarta. Alasan dia memilih itu yaitu karena dia sudah merindukan neneknya juga untuk menenangkan hati beserta pikirannya dari hal-hal yang sudah berhasil membuatnya sakit.


Kiana menginap di rumah neneknya itu hanya sekitar dua minggu. Awal niatnya dia akan menginap satu bulan penuh di sana, tapi ternyata orang tuanya malah menghubunginya menyuruh untuk pulang karena beberapa alasan.


Baru saja sampai di stasiun daerah tempat tinggalnya, Kiana langsung dibuat kesal karena orang yang


menjemputnya.


Bagaimana tidak kesal, kalau ternyata orang yang menjemputnya adalah mantan suaminya. Nararya Sadira Pratama. Bukan keluarganya sendiri.


Padahal sewaktu di perjalanan pulang, ibunya sudah menghubungi Kiana memberitahu kalau dia akan menjemputnya. Tapi ternyata sekarang, ibunya itu membohonginya.


“Kamu ngapain jemput aku? Udah pulang sana, Mamah nanti ke sini kok jemput aku.” Usir Kiana pada Arya dengan ketusnya, di saat mereka sedang berjalan keluar dari stasiun.


“Orang tua kamu gak akan jemput ke sini, mereka lagi pergi ke Bogor jenguk Paman kamu yang sakit.” Jawaban Arya dibalas Kiana dengan tatapan curiga. Karena di pikirannya, dia berpikir kalau Arya itu sedang membohonginya.


“Kenapa? Kamu gak percaya?” Arya menyadari tatapan curiga Kiana dan langsung menghidupkan ponselnya, untuk memberikan bukti pada perempuan itu kalau ucapannya memanglah benar, “ini silahkan kamu baca pesan Mamah kamu, kalau memang tidak percaya.”


Kiana membaca pesan tersebut dengan teliti. Ternyata memang benar kalau Nira memberikan suruhan pada Arya untuk menjemputnya bahkan juga menjaganya untuk satu bulan ke depan.


“Eh ini maksudnya apa disuruh ngejagain selama sebulan? Emang dikira aku ini anak kecil apa?” Protesnya tidak menerima kalau dia harus dijaga oleh Arya dalam waktu yang selama itu.


“Orang tua kamu di Bogornya bakal lama, katanya mungkin sebulan sambil ngurus bisnis mereka di sana. Jadi ya mereka nyuruh aku buat jagain anak perempuan satu-satunya itu sekaligus ajak dia tinggal di rumah.”


“Kenapa harus kamu? Kan masih ada Kak Bian. Dia gak ikut juga ke Bogor.”


“Fabian lagi ke Surabaya, lagi diklat.”


“Lho kok gitu? Kenapa mereka gak kasih tahu aku soal itu? Dan justru malah kasih tahu kamu. Kan itu namanya aneh. Atau jangan-jangan kamu ya yang ngusulin ke mereka biar kamu aja yang jagain aku?” Kiana menaruh rasa curiganya kembali.


Arya tersenyum remeh, “aku yang usulin? Buat apa sih? Ngurusin Kinaya juga udah kewalahan gimana ditambah dengan kamu. Makin aja kewalahan.”


“Oh gitu... Ya udah sana kamu pulang aja. Aku juga gak butuh kamu atau jemputan kamu kok. Aku masih punya uang buat bayar taksi.” Sinis Kiana lalu berbalik meninggalkan Arya.


Untuk sekarang, Arya tidak akan menuruti Kiana itu. Dia pun menarik kerah baju Kiana dari belakang dengan paksanya.

__ADS_1


“Eh mau ke mana kamu?” Tanya Arya dan mendekatkan Kiana padanya.


“Apa sih ah tarik-tarik baju!” Kiana mengomel dan melepaskan tangan Arya dari bajunya, “ya tentunya aku mau pulanglah!” Lanjutnya kesal.


“Iya, maksudnya pulang ke mana? Rumah kamu kan dikunci dan kuncinya dibawa Mamah kamu.” Kata Arya, “atau kamu punya uang banyak jadi lebih pilih tinggal di hotel buat sebulan ini. Kalau kamu pilih itu ya silahkan.”


“Hah? Enggak enggak, aku gak punya uang sebanyak itu. Aku kan belum kerja.” Bantah Kiana dengan wajah melasnya dan kemudian membuang nafas pelan, “ya udahlah, mau gimana lagi, aku terpaksa mau tinggal di rumah kamu.”


“Kalau begitu, ayo naik mobil. Kita pulang, tapi jemput Naya dulu.”


Sampai akhirnya di sekolah Kinaya. Tibanya di sana, Arya langsung menceritakan pada anaknya itu jika Kiana akan menginap di rumah selama sebulan ini.


Arya tidak menyangka dengan reaksi Kinaya saat tahu itu. Pasalnya gadis kecil tersebut memberikan reaksi senangnya. Dia begitu senang saat mendengar kalau Kiana akan menginap di rumahnya. Padahal sebelumnya, hubungan Kiana juga Kinaya tidak begitu dekat. Kiana masih belum menerima Kinaya.


Selepas itu Arya melanjutkan lagi perjalanan pulangnya dan mengajak dua perempuan itu untuk makan terlebih dahulu karena dia juga Kinaya kelaparan.


Dari dulu Arya selalu menginginkan hal ini terjadi, makan bersama dengan keluarga kecilnya. Dan keinginannya itu baru bisa tercapai sekarang.


Arya memperhatikan Kinaya yang melahap supnya dengan senang.


“Kak Ana mau nginep di rumah Naya?” Seru Kinaya mencairkan keterdiaman di antara mereka.


“Iya. Kenapa? Kamu gak suka?” Ketus Kiana.


Arya juga Kiana yang mendengar ucapan Kinaya seketika diam dengan pikirannya masing-masing. Arya harus mencari cara untuk mengalihkan pertanyaan Kinaya ke hal lain.


“Ah iya Kiana, karena kamu mau nginep, jadi mulai sekarang kamu harus turuti ucapanku dan bisa diatur ya. Kamu itu tanggung jawab aku sekarang.” Arya menyeru.


Kinaya melahap makanannya ketika Arya berbicara. Dia tidak mengerti dengan pembicaraan Arya dan malahan ingin bertanya pada ayahnya kalau tanggung jawab itu apa? Kinaya baru tahu itu.


Kinaya menarik-narik baju Arya supaya laki-laki itu menatapnya, “Ayah, tanggung jawab itu apa ya? Naya enggak tahu.”


Arya bingung harus menjawab apa atas pertanyaan itu. Dia melirik Kiana dengan tatapan mata yang seolah berkata ‘harus jawab apa nih?’ dan Kiana hanya acuh masa bodo sambil mengangkat bahunya melihat Arya yang menatapnya begitu.


“Tanggung jawab itu –” Arya baru saja mendapatkan jawabannya, tapi Kiana malah menyahut mengalihkan topik pertanyaan Kinaya tadi, buat Arya kesal saja. Kenapa tidak dari tadi coba Kiana melakukan hal itu? Kenapa baru sekarang saat Arya sudah mendapatkan jawabannya?


“Kamu makan es krimnya jangan belepotan gini dong.” Kiana membersihkan mulut Kinaya yang kotor menggunakan tisu.


Kinaya menyengir saja diperlakukan seperti itu, “makasih Kak Ana.”


“Ki, nanti selama kamu tinggal, kamu harus mau ya jaga Kinaya kalau aku lagi pergi kerja atau keluar rumah.”

__ADS_1


“Hah?! Ya kalau gitu sih, secara gak langsung aku bayar imbalan ke kamunya dengan jadi pengasuh


Kinaya dong? Lagian kuliah libur juga, kenapa masih ngajar sih? Siapa emang mahasiswa yang masih rajin belajar ke kampus di hari libur gini?”


“Aku ngajar bukan dikampus itu saja Kiana, tapi di kampus lain juga. Kampus kamu emang libur, tapi kampus lain belum tentu.”


“Oh gitu... Rajin amat sih kerjanya.”


“Ya tentu harus, aku punya tanggungan lain juga mau nikah lagi.”


Deg...


Menikah lagi? Jadi Arya serius akan menikah lagi? Menikah dengan perempuan lain selain dirinya? Tapi siapa calonnya? Apakah benar itu Ilsa? Kalau benar Ilsa, Kiana tidak dengan kabar itu.


“Oh mau nikah lagi? Sudah punya calonnya ya Pak?”


“Hmm.”


“Calonnya gak bakal marah gitu kalau tahu saya tinggal bareng Bapak?”


“Tentu dia bakal nerima dan gak akan cemburu juga bersikap kekanakan seperti mantan istri saya dulu.”


Berbeda dengan Kiana yang penasaran siapa calonnya Arya, Kinaya justru sedih mendengar kabar tersebut. Karena kalau iya hal itu akan terjadi, nanti ibunya akan ke mana kan? Sedangkan sampai dirinya sebesar ini dia belum pernah satu kali pun melihat rupa ibunya bagaimana.


“Ayah...” Sahut Kinaya.


“Hmm? Iya sayang, kenapa?” Arya tersenyum pada Kinaya.


“Ayah mau nikah lagi? Sama siapa? Nanti Bunda gimana? Bunda ditinggalin Ayah, kasihan. Ayah juga belum ngasih tahu, Bunda Naya itu siapa terus mukanya kayak gimana, Naya pengen tahu itu sekarang Ayah.”


Arya juga Kiana tak sengaja langsung saling bertatap mata setelah itu. Mereka diam mendengar keluhan anak kecil tersebut dan bingung harus jawab apa.


Kinaya masih kecil, tapi kenapa bisa bicara begitu? Siapa yang mengajarinya? Apakah Arya? Tidak kok, Arya tidak pernah sekali pun mengajarkannya begitu.


“Ayah... Jawab Naya Ayah... Bunda Naya siapa? Terus sekarang lagi di mana?” Kinaya mendesak ayahnya sambil mengguncangkan tangannya.


Dia ada Nay, di sini bersama kita. Dia perempuan yang sedang makan bersama kita di sini itu Bunda kamu.


“Naya mau nyoba es krim ini? Ini enak, nih buat Naya abisin ya.” Kiana membuka suaranya, berharap Kinaya lupa akan pertanyaannya tadi


Arya memandang Kiana dengan pandangan yang sulit diartikan.

__ADS_1


Kamu kenapa selalu menghindar Kiana? Dia harus tahu kamu itu siapanya. Walaupun terus disembunyikan, tetap saja kebohongan ini lambat laun akan terbongkar juga, cuma tidak terprediksi kapan itu waktunya.


Kinaya tersenyum melihat es krim pemberian Kiana dan melahapnya langsung karena anak itu memanglah si penggila es krim, sama seperti Kiana.


__ADS_2