
Kiana menghabiskan waktu yang lama untuk mandi. Sengaja mengulurkan waktu supaya tidak ada waktu bagi Arya untuk menginterogasi Kiana soal kemarin. Baru setelah selesai, Kiana datang ke ruang makan dengan mengenakan baju yang Arya siapkan. Sebenarnya kalau bukan karena perutnya yang lapar, Kiana juga tidak akan datang.
Arya sudah duduk di kursinya sambil menyantap sarapan paginya dan diikuti Kiana yang duduk di sampingnya.
Perut Kiana sudah sangat kelaparan, langsung sajalah Kiana serbu makanan itu dengan porsi yang banyak.
Mereka makan dalam keheningan, sampai suara Arya pun menghentikannya. Laki-laki itu menyeru, mulai membahas kejadian kemarin.
“Kamu kemarin kabur ke mana dan kenapa bisa sama Kaivan?” Arya langsung bertanya pada pokok pembahasannya.
Kiana menunduk mencoba tetap tenang walau sebenarnya dia takut dan fokus pada makanannya, “kepo banget kamu!” Ketusnya.
“Aku sudah jadi suami kamu lagi Kiana, jadi aku berhak tahu.” Begitu dingin nada suara Arya.
“Aku tidak suka, kalau kita sedang ada masalah, kamu malah main sama laki-laki lain dan ceritakan masalahnya. Itu bisa memicu kita pisah lagi, istriku.”
Entah kenapa Kiana menjadi kesal tiba-tiba. Kenapa Arya terus menyalahkannya juga menuduhnya? Padahal faktanya bukanlah seperti yang Arya ucapkan.
Kiana menatap tajam Arya, menjeda kegiatan makannya.
“Maksud kamu apa? Aku enggak main sama dia. Emang kamu lihat aku lagi bareng, tapi itu pun gak sengaja.” Bantahnya pada perkataan Arya tadi yang tidak benar, “aku ketemu dia pas lagi jalan sendiri, terus dianya traktir aku makan. Berhubung aku juga lagi lapar terus gak ada pikiran negatif sama dia, jadinya ya aku mau mau aja.” Tuturnya menjelaskan.
“Bodoh kamu! Harusnya kamu itu tolak dia! Kamu gak tahu kan kalau kemarin Kaivan kasih kamu minuman laknat terus ada obat perangsangnya juga.” Katanya terus terang dan membuat Kiana menjadi panik juga tersedak ketika minum.
“Untungnya saat itu datang dan cegah semuanya, coba kalau enggak, aku habisi tuh manusia.” Arya mengepalkan tangannya dan menggebrak meja pelan. Rahangnya cukup mengeras membayangkan kejadian kemarin.
Kiana menatap Arya tidak percaya sekaligus panik, “kamu serius itu? Gak bohong kan?”
“Buat apa aku bohong soal itu, gak berguna. ” Balas Arya, “oh iya, aku mau tanya lagi, kemarin kenapa kamu kabur?”
Kiana yang awalnya begitu menikmati makannya langsung diam menundukan kepala merasa bersalah, “maaf, kemarin aku kabur gara-gara denger obrolan kamu sama Kinaya.” Balasnya pelan kemudian menatap Arya, “aku bodoh ya, kemarin malah kabur kayak anak kecil aja.”
__ADS_1
Arya mendengus kesal, “iya, kamu itu bodoh! Anehnya lagi aku malah cinta sama cewek bodoh kayak kamu ini.” Arya mengacak rambut Kiana yang rapi tapi Kiana suka dan malah tersenyum.
“Lain kali jangan lakuin hal itu lagi ya kalau kita lagi ada masalah atau apapun itu. Daripada kabur, lebih baik diam dulu tenang dan bicarakan masalahnya bersama untuk cari solusi.” Ucap Arya sambil memegang tangan Kiana yang juga menatapnya dan kemudian tersenyum mengangguk.
“Oh satu lagi.” Arya mengacungkan telunjuknya kemudian lanjut berbisik pada Kiana, “aku punya kabar baik buat kamu.”
“Kabar baik?” Dahi Kiana mengernyit dan kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi senang, “kabar baik apa emang?” Ekspresi wajahnya begitu senang.
“Kamu tahu, Kinaya... Maafin... Kamu...”
Kiana membulatkan matanya. Apa? Kinaya memaafkannya? Benarkah itu?
“Hah? Kakak serius?” Kiana ingin memastikan kalau yang didengarnya itu benar, bukan khayalannya. Hingga akhirnya, Arya mengangguk, menandakan bahwa ucapannya memanglah benar, bukan kebohongan.
“Beneran? Gak bohong kan?” Kiana mengguncangkan tubuh Arya.
“Aku serius Kianakuuuu....” Balas Arya memainkan pipi Kiana dengan mencubitnya.
“Aaaahhhh.... Kakak..... Aku senang....” Ungkap Kiana penuh dengan bahagianya dan langsung memeluk tubuh Arya sampai membuatnya terkejut karena hampir terjatuh kalau saja dia tidak bisa menahannya.
“Kamu kenapa nangis?” Arya menghapus air mata itu begitu juga Kiana.
“Enggak, ini bukan nangis sedih, tapi nangis bahagia Kak.” Tuturnya, “Kiana bahagia, akhirnya Naya bisa maafin Kiana. Kiana pikir, Kinaya gak akan maafin Kiana. Ternyata Kiana salah ya.”
Pletak...
Arya menyentil kepala Kiana. Menyakitkan.
“Makanya jangan nguping obrolan orang, jadinya salah paham kan.”
“Hmm. Iya iya maaf ih. Kan aku kepo sama kalian.”
__ADS_1
“Tapi gak usah nyampe gitu juga kali – oh iya, Kinaya juga udah terima kamu sebagai ibunya asalkan kamu berhenti buat dia sakit, berhenti buat marahin dia. Bisa?” Pinta Arya dengan nada pelan.
“Ha? Hmm iya iya! Kiana bisa!” Cepat-cepat Kiana mengangguk, “Kiana bisa sayangi dia, gak akan buat sakit, juga gak akan marahin kecuali kalau dianya bikin salah ya.”
“Nah, karena sekarang masalah itu sudah selesai, sekarang waktunya kita bikin adik buat Kinaya.” Ajak Arya menggoda Kiana dan mendapatkan tatapan tajam dari Kiana.
“Hah?! Adik? Nih adik nih...” Kiana mendekatkan garpunya pada Arya yang menghindar darinya, “enak banget kamu kalau ngomong! Aku ini masih capek, mau istirahat!” Ketusnya dan mendelikan mata.
Hingga tepat pada waktu sore harinya, Kinaya ternyata pulang ke rumah.
Kiana begitu gugup tapi juga tapi juga tidak sabar saat akan berhadapan dengan anaknya. Ini pertama kalinya mereka bertemu setelah Kinaya katanya memaafkan dia. Kiana begitu tidak sabar, ingin mendengar mulut kecil anak itu memanggilnya ‘Bunda’. Pasti akan sangat lucu saat mendengar itu.
“Kinaya...” Kiana memanggilnya pelan dan penuh harap pada anaknya.
Kinaya menoleh mendengar suara itu dan tatapannya begitu ragu. Apakah dia harus mendekati pemilik suara itu atau tetap di tempatnya. Hingga akhirnya dia memilih untuk mendekatinya dengan langkah yang pelan.
Hap... Kinaya terkejut, ibunya itu malah memeluknya langsung.
“Kinaya, maafin Kakak ya sayang... Kakak udah jahat sama Naya, Kakak gak bakal gitu lagi nanti, Kakak sayang Kinaya...” Pelukan Kiana begitu kencang disertai dengan ciuman di kepala Kinaya dan hal itu ternyata membuat Kinaya merasa sesak. Dia kesulitan untuk bernafas.
“Hmm... Bunda, Kinaya sesak, gak bisa nafas, peluknya jangan kekencengan dong.” Protesnya di sela-sela adegan itu.
Kiana tertegun dengan panggilan itu dan melepaskan langsung pelukannya. Selanjutnya dia menatap Kinaya intens, berharap anak itu akan kembali memanggilnya dengan panggilan seperti sebelumnya.
“Bunda, Bunda kenapa nangis?” Kinaya menghapus pipi Kiana yang basah karena air matanya, “Naya udah maafin Bunda kok, jadi Bunda jangan nangis ya. Naya sedih kalau lihat Bunda nangis kayak begini.”
Kiana kembali memeluk Kinaya tapi tidak sekencang tadi, “aaahhh... Sayang... Maafin Bunda, Bunda udah nyia-nyiain kamu. Bunda nyesel.”
Hah... Arya begitu terharu melihat kedekatan dua perempuan itu tapi sedih juga. Karena mereka sibuk berdua, Arya jadi terabaikan. Mereka sama sekali tidak menganggap Arya ada. Menyedihkan sekali.
“Ehem...” Arya sengaja berdehem untuk menghentikan kegiatan dua perempuan itu, enak sekali mereka sudah mengabaikannya, “udah udah, pelukannya udahan, Ayah berasa jadi nyamuk, gak dianggap di sini.” Sindiran Arya membuat dua perempuan itu tertawa dan memeluk Arya cepat.
__ADS_1
“Huh kamu sirik amat sih. Kalau mau ikutan dipeluk ngomong, jangan ganggu.” Cibir Kiana.
Dulu Kiana terlalu bodoh menyia-nyiakan mereka. Tapi sekarang, Kiana tidak akan melakukan hal itu lagi. Dia akan menjaga harta berharganya itu dan membuatnya selalu bahagia.