Our Fault

Our Fault
Bagian 38 - Membuat Istri Senang


__ADS_3

Mengetahui dirinya hamil, senyuman di wajah Kiana tidak pernah luntur sedari tadi. Sampai sekarang pulang ke rumah pun Kiana terus saja tersenyum. Perasaan bahagianya masih hinggap dalam dirinya.


Bukan hanya Kiana, Kinaya anaknya pun begitu senang mendengar ibunya hamil. Akhirnya dia bisa mendapatkan adik dan semoga saja adiknya ini perempuan, supaya bisa diajak main olehnya.


Kiana duduk di ranjangnya, membuka bajunya sebatas dada dan memegang perutnya yang di sana bersemayam bayinya yang belum menjadi janin sempurna.


Terima kasih sudah hadir di perut Bunda. Bunda akan selalu menjaga kamu sama Kak Naya. Bunda gak akan ngebuat kamu merasakan sakit seperti yang dirasakan Kakak kamu. Bunda sayang kalian selalu.


“Bunda!!!” Suara Kinaya yang begitu memekik menghentikan lamunan Kiana, membuat perempuan itu tersenyum menatapnya.


“Apa sayang?” Kiana mengambil tangan Kinaya yang sudah mendekat padanya, “sini duduk.” Kiana menggeserkan tubuhnya dan menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya.


Kinaya ikut duduk bersama ibunya di tempat itu, ibunya merangkul tubuhnya, “Naya seneng deh, Naya mau punya adik bayi.” Ungkapnya dengan senyum bahagianya.


Kiana tersenyum lembut, “Naya maunya punya adik cowok cewek?”


“Ya pastinya cewek dong Bunda, kan biar Naya punya temen main bareng.”


“Tapi kalau adiknya cowok gimana?”


“Hm... Gapapa sih, ya berarti itu bukan jadi temen Naya, tapi jadi temen Ayah. Ayah kan di sini gak punya temen cowok, kasihan.” Kiana terkekeh mendengarnya.


“Eh Ayah mana? Kok gak ke sini?”


“Ayah lagi di dapur bikin sup buat Bunda.”


“Ya udah yuk, kita ke dapur lihat Ayah. Bunda udah laper soalnya.”


Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur. Di sana, Kiana melihat suaminya sedang menyajikan supnya. Oh cepat juga ternyata dia masaknya, pikir Kiana.


“Eh kamu ke sini, sini makan dulu kamu kamu sore ini belum makan kan.” Arya membawa tubuh Kiana untuk duduk di kursi dan Kinaya mengikutinya.


“Aku gak mau makan Kak, nantinya suka mual.” Tolaknya saat sudah duduk.


“Gak, aku yakin sup ini gak bakal bikin kamu mual, karena ini hasil tangan aku sendiri.” Arya terlalu percaya diri dengan ucapannya dan memberikan sup hasilnya sendiri pada Kiana.


Kiana menghela nafas pasrah. Ya sudahlah, terpaksa dia harus menerimanya.


Satu sendok sup sudah masuk ke dalam mulutnya Kiana. Awalnya sih masih baik, tapi beberapa detik setelahnya....


Kiana menutup mulutnya tiba-tiba, “hmmptth, Kiana mau muntah.” Kemudian dia berlari menuju wastafel, mengeluarkan muntahannya itu.


Arya dan Kinaya menjadi panik melihat Kiana dan mendekatinya, “masih mual?” Tanya Arya membantu memijat tengkuk Kiana.


Kiana berdiri tegak, “kan? Aku udah bilang, jangan paksa aku. Sekarang ini nih akibatnya. Udah ah, aku mau tidur aja.” Kesalnya lalu pergi sendiri ke kamarnya.

__ADS_1


Hah. Arya menghela nafas pelan. Benar-benar ya, kehamilan Kiana kali ini berbeda dengan kehamilan yang sebelumnya. Dulu saat hamil Kinaya, istrinya itu tidak gampang marah-marah begini, sekarang apa-apa langsung dipermasalahkan. Dari sebelum mereka tahu kabar kehamilannya, Kiana sudah mulai seperti itu.


Ah ya, bukan hanya menjadi pribadi yang mudah marah, tapi Kiana juga berubah menjadi manusia yang jorok. Seperti halnya sekarang. Kiana yang begitu menyukai kebersihan dan telat untuk mandi, tapi sekarang sudah hampir dua hari perempuan itu tidak mandi. Arya jijik kalau istrinya sudah seperti itu.


“Kiana, kamu mandi dong, udah dua hari ini kamu gak mandi sayang.” Arya tak kenal lelah, laki-laki itu terus saja membujuknya.


“Gak mau! Aku suka kayak gini!” Jawaban Kiana masih saja sama seperti kemarin dan fokus menonton drama Korea kesukaannya juga memakan cemilannya.


“Sayang, kalau kamu gak mandi, kamu bau, jorok, aku gak suka.” Arya langsung mendapatkan lirikan tajam dari Kiana karena perkataannya itu.


“Apa?! Kamu bilang aku bau? Jorok? Kamu gak suka aku? Oh gitu ya, cuma gara-gara aku gak mandi, kamu jadi gak suka aku terus mau cari perempuan lain. Iya?”


Kiana memutar bola matanya dan mendengus, tapi sedetik kemudian anehnya mata Kiana malah menjadi berkaca-kaca lalu dia menangis menutupi wajahnya yang berair.


Kalau Kiana sudah seperti itu, Arya sudah menyangka kalau bahaya akan datang menghampirinya.


Arya menghela nafas lelah. Ya, dia lelah dengan Kiana saat ini.


“Kamu jahat tahu gak Kak! Kamu kok gak suka sama aku cuma gara-gara gak mandi? Padahal aku cantik tahu, eh tapi aku makin gendut deh...Huaaa... Kamu gak suka sama aku bukan karena gendut kan, tapi karena aku makin gendut, udah gak seksi lagi. Iya kan?” Dengan wajahnya yang menangis Kiana menatap Arya dan bibirnya cemberut.


“Hah? Apa? Enggak kok. Mau kamu gendut atau enggak, aku tetep suka kamu kok.” Arya harus cepat membantah sebelum Kiana kembali semakin marah padanya, “iya, aku suka kamu selalu, cinta kamu selalu.” Arya meraih tangan Kiana dan mengecupnya beberapa kali.


Tangisan Kiana berhenti setelahnya dan dia berganti memeluk Arya erat, seperti tidak ingin kehilangannya, “bener loh ya? Kamu gak akan cari perempuan lain? Aku gak mau kalau itu terjadi. Nanti aku cerain kamu, kalau kamu berani kayak gitu sama aku.” Ancam Kiana dan mengeratkan pelukannya sampai Arya pengap.


“Hmm. Sekarang udahan ya nangisnya, terus kamu mandi, biar kamu makin cantik, enggak jelek.” Arya menyelipkan helaian rambut Kiana ke belakang telinganya dan itu tidaklah mempan untuk membujuk perempuan itu, justru dia malah menjadi marah – lagi.


Arya menarik nafas lega dan tersenyum, setelah melakukan drama-drama aneh itu, akhirnya istrinya mau mandi dan menghilang sejenak dari hadapannya. Untuk Kinaya sekarang ada di rumah orang tuanya, jadi anak kecil itu tidak akan menonton drama aneh orang tuanya sekarang ini.


Tapi tunggu... Ternyata kesenangan Arya itu hanya berlangsung untuk beberapa detik saja. Hingga ketika Kiana sudah berbalik akan pergi ke kamar mandi, istrinya itu malah kembali mendekatinya. Arya jadi was-was. Dia harus siaga satu sekarang.


Kiana tersenyum di depan Arya dan memainkan jarinya sendiri, “hmm Kak... aku mau mandi, tapi seudahnya kita ke Purwakarta yuk!”


Arya mengernyit heran. Ke Purwakarta? Untuk apa?


“Hah? Ngapain?”


“Beli sate maranggi.” Kiana tersenyum lebar menatapnya dengan mata memohon.


Nah kan benar kata Arya. Kiana datang kembali padanya dengan kemauan aneh perempuan itu. Arya tahu perempuan itu sedang mengidam, tapi tolonglah yang normal saja mengidamnya, tidak perlu yang aneh seperti sekarang.


Kiana aneh-aneh saja. Ke Purwakarta hanya untuk membeli makanan itu? Jauh sekali. Padahal di Bandung juga mungkin ada yang menjual sate maranggi, walau belum tentu rasanya seperti yang dibuat di Purwakarta.


Arya menatap Kiana tak percaya, “ya ampun sayang, yang bener aja. Masa ke Purwakarta cuma buat beli itu? Buang-buang bensin. Mending cari di sini aja, pasti ada kok yang jual sate maranggi atau enggak kita bikin sendiri yaa.”


Kiana cemberut, bibirnya tertarik ke bawah, matanya sudah mulai berkaca-kaca, “hmm kok kamu gitu sih sama aku? Ini kan bukan aku yang mau, tapi anak kamu nih.” Kiana menunjuk perutnya yang masih rata.

__ADS_1


“Gapapa lah kita ke Purwakarta juga, mumpung sekarang malam Minggu, sekalian lihat air mancur. Aku mau tahu lihat air mancur, temen-temen aku hampir semuanya udah pada pernah lihat, sedangkan aku belum lihat. Ya ya ya?” Kiana duduk di samping Arya dan menarik-narik bajunya supaya dia mau, lalu memainkan tangan Arya.


“Kiana, yang nonton air mancur itu pasti bukan cuma kamu, tapi banyak, masih ada orang lain. Terus kamu juga lagi hamil, aku takut kenapa-napa sama kamu nanti.”


“Ihhh.” Kiana melepaskan tangan Arya yang sedang dimainkannya tadi secara kasar, “lagian aku ini cuma hamil kok, bukan kena penyakit yang berbahaya. Jadi buat apa ditakutin? Sesekali senengin istri dong Kak, ajak jalan-jalan gitu atau apa, bosen di rumah terus.” Kiana merajuk dan mencebikkan bibirnya.


Arya mendengus lalu mendelikan matanya.


Mulai curhatnya. Dasar cewek. Selalu aja cerewet di mana pun dan kapanpun.


“Ya udah, kalau kamu gak mau beli sate marangginya ke Purwakarta, kamu bikin aja. Aku mau makan itu sekarang.” Kukuh Kiana dan menyilangkan tangannya.


Arya membuang nafas pelan lalu berdiri, “ok iya, aku buat sate maranggi, terus kamu mandi.” Tunjuknya pada dirinya sendiri kemudian pada perempuan di hadapannya.


Semakin hari, hidup Arya terus saja diuji dengan kehamilan istrinya yang sekarang. Kesabarannya harus terus diisi ulang supaya tidak habis. Kalau dia terus bersabar karena hal ini, pasti sudah punya banyak pahala dia juga surga pun sudah menanti.


“Kak, kita ke Ragunan yuk yuk yuk, aku mau lihat singa.” Kiana merengek-rengek dan mengguncangkan tubuh Arya yang sekarang sedang fokus dengan laptopnya. Laki-laki itu sedang sibuk mengurusi pekerjaan kantornya.


Ya, profesi Arya sekarang bertambah. Berhubung dia akan punya anak lagi, makanya dia menambah profesinya, itu Arya lakukan supaya keuangannya juga semakin bertambah dan tidak pas-pasan. Karena banyak anak, banyak rizki.


Arya mengacuhkan Kiana walau dia mendengar juga rengekannya.


Kiana mendengus sebal dan cemberut, “hah, Bunda sebel deh sama Ayah. Bunda itu bosen di sini, dijadiin obat nyamuk ngiung ngiung terus. Kamu bosen gak Nak? Kalau iya, kita pergi aja yuk ke Ragunannya berdua lihat singa, gak usah ajak Ayah.” Kiana bermonolog dengan janin di perutnya sambil mengusapnya, lalu melirik suaminya sekilas yang sedang membaca lembaran-lembaran kertas, yang entah itu isinya apa.


Arya sadar akan ucapan Kiana juga tahu kalau ucapan itu sengaja dikeluarkan untuk menyindirnya sekaligus kode supaya Arya memperhatikan Kiana, jangan pekerjaan saja yang diperhatikan.


“Yuk ah Dek, kita go go go.” Kiana beranjak dan akan melangkah, tapi dicegat oleh tarikan Arya pada tangannya.


“Mau ke mana kamu? Udah malem ini.” Tegur Arya.


Kiana bodo amat, ia mengangkat bahunya, “biarin, aku ini.”


Arya menghembuskan nafasnya, sudah lelah dengan sikap perempuan hamil satu ini. Sudah dikasih tahu masih saja ngeyel. Lagian malam-malam begini Ragunan pasti sudah tutup.


“Ya udah, kamu mau apa sekarang? Aku bakal turutin kecuali ke Ragunan ya, udah malam jadi pasti udah tutup.” Arya berkata sambil beranjak, mendekati Kiana.


“Gak usah! Tuh romantisan aja sama kerjaannya. Aku kan cuma obat nyamuk ngiung ngiung kamu.” Kiana memalingkan wajahnya, cemberut dan bersedakap dada.


Arya tersenyum melihat Kiana yang kesal, menggemaskan sekali istrinya itu. Jadi semakin ingin membuatnya kesal.


“Iya maaf, tadi udah nyuekin. Sekarang mau kamu apa?” Arya merangkul pundaknya.


“Jalan-jalan ke taman.” Kata Kiana sambil mengedipkan matanya pada Arya.


“Tapi sekarang udah —” Perkataannya terputus saat jari telunjuk Kiana menyentuh bibirnya yang mengoceh.

__ADS_1


“Ssstt. Katanya mau nyenengin hati istri dan gak mau bikin dia kesel. Kalau gitu, kamu turutin aja ok.”


Arya mengambil nafas dalam-dalam untuk menahan kesal agar tidak mengomeli Kiana, “aku ambil jaket dulu buat kamu. Di luar udaranya dingin.” Kata Arya final dan pergi ke kamarnya mengambil jaket.


__ADS_2