Our Fault

Our Fault
Bagian 55 - Penjelasan


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat, sekarang tiba waktunya bagi Arya untuk diinterogasi oleh para keluarganya.


Arya diam layaknya patung karena ketakutan. Berbicara jika ditanya saja, kalau tidak ditanya dia tidak akan berbicara.


Ayahnya, Danu sudah siap menginterogasi Arya dengan tampang sangar dan matanya yang tajam sekali. Pisau pun bahkan kalah tajamnya dengan tatapan Danu sekarang.


Bukan hanya Danu, tapi Anita juga Aya pun ada bersamanya untuk mendengarkan penjelasan Arya. Mereka semua sudah duduk di sofa dengan Arya yang duduk di hadapan mereka.


“Benar kamu melakukan itu Arya?” Danu, orang yang pertama kali membuka suaranya di antara mereka.


Arya duduk dengan ketakutan saat itu. Untuk bertatapan dengan ayahnya saja dia tidak berani karena saking takutnya dan akhirnya Arya hanya menjawab pertanyaan itu dengan gestur kepalanya saja, yaitu menggunakan anggukan sambil menunduk.


“Tatap mata Papah kalau sedang bicara itu Nararya Sadira Pratama! Kamu ini laki-laki dan pemimpin keluarga, mana wibawa kamu sebagai seorang pemimpin? Kalau kamu berani melakukan itu, lalu kenapa kamu takut saat dimintai penjelasan? Ini kan konsekuensi dari yang sudah kamu lakukan itu.”


Arya diam sejenak. Perkataan Danu benar. Ini konsekuensi yang harus dia terima akibat ulahnya. Dia pun langsung mendongakkan kepalanya menatap wajah Danu.


“Arya minta maaf, Pah.”


“Untuk apa kamu minta maaf sama Papah? Harusnya kamu minta maaf pada Kiana.” Ralat Danu, “Papah kecewa sama kamu. Papah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menyakiti perempuan, terutama dia itu istri kamu, ibu dari anak-anak kamu. Perempuan itu harusnya disayangi, bukan untuk disakiti, dikhianati seperti ini. Kalau kamu menyakiti dia, maka sama saja kamu menyakiti hati Mamah kamu, Arya.”


“Papah tanya, apa alasan kamu melakukan itu? Apa menurut kamu Kiana itu masih kurang sampai akhirnya kamu melirik perempuan lain di luaran sana.”


Arya menatap Danu penuh penyesalan dan menggeleng, “tidak Pah, Kiana sudah cukup untukku. Aku tidak sengaja melakukan ini.”


“Aku hanya kasihan pada Afriani, dia sebenarnya diperkosa lalu hamil, sementara laki-laki yang menyebabkan semua itu terjadi malah pergi. Afriani mau bunuh diri saat tahu dia hamil dan demi menolong nyawanya, aku terpaksa menikahi perempuan itu. Aku kasihan, tidak tega melihatnya seperti itu.”


“Kasihan? Kamu bilang kasihan? Memangnya kamu pikir cara menyelamatkan dia itu hanya dengan menikahinya? Kenapa tidak cari saja laki-laki itu? Atau keluarga laki-laki itu? Emang siapa sebenarnya laki-laki yang sudah berbuat begitu sama Afriani?” Aya mengucapkan semuanya dengan emosi menggebu-gebu. Rasa marah pada dirinya masih ada.

__ADS_1


“Kaivan.”


“Apa?! Bagaimana bisa? Bukannya dia sudah nikah?” Anita menyeru keheranan.


“Kamu sudah tahu soal itu Nit? Pasti Kiana yang kasih tahu ya?” Tebak Arya.


Anita tersenyum meledek dan mendengus, “salah! Aku bukan tahu dari Kiana, tapi aku tahu sendiri soal itu. Aku juga tahu kalau istri Kak Kaivan itu bukan Kak Ilsa, justru teman aku sendiri. Tapi Kakak lagi-lagi bilang sama Kiana bukan begitu dan malah membohonginya.”


Baik Arya maupun orang tuanya, mereka sama-sama menatap Anita tidak percaya. Memang benar ya, sehebat apapun kebohongan disembunyikan tetap saja nanti juga akan terbongkar dengan sendirinya.


“Sudah, sekarang aku tanya, sebenarnya ada hubungan apa antara Mas Eshan dengan Kak Ilsa? Apa iya mereka punya hubungan lebih dan anak yang sedang dikandung dia itu anak Mas Eshan?” Anita penasaran dengan semua ini.


“Ok, Kakak jawab semuanya.” Arya kemudian langsung menceritakan semuanya agar selesai dengan cepat.


Semua orang di sana yang mendengar cerita Arya cukup terkejut tidak menyangka. Ternyata adegan yang mereka kira hanya akan ada di televisi muncul juga di kehidupan mereka. Hah, ingin tertawa rasanya.


“Tidak Anita, Afriani bukan perempuan seperti itu.”


Anita menatap Arya sengit, dia akan membalas ucapan Arya, “iya bukan pelakor, tapi madunya kamu. Iya kan?”


“Nita, Kakak kan sudah bilang kalau Kakak terpaksa menikahi dia, demi menyelamatkan nyawanya juga anaknya. Kakak juga kasihan pada dia.”


“Kasihan kasihan kasihan. Emang saking kasihannya kamu sama dia harus sampai nikahin ya? Itu bukan anak Kakak,  tapi kenapa harus Kakak yang tanggung jawab? Kenapa tidak Kak Kaivan? Dia kan yang melakukannya. Kakak bisa pikirkan perasaan perempuan itu, tapi Kakak tidak pikirkan perasaan Kiana bagaimana!” Cibir Anita, “lo tahu enggak? Lo itu **** Arya hanya karena menolong dia, lo sampai sakiti istri lo sendiri!” Anita mengumpat saking kesalnya.


Arya mendengus pelan, “Kaivan sudah menikah dengan perempuan lain waktu itu, sementara Afriani sudah mau bunuh diri. Kalau Kakak tidak bertindak seperti itu, mungkin sekarang Afriani sudah tinggal nama.” Tuturnya.


“Oh ya? Bagus kalau begitu. Lebih baik tinggal nama saja. Daripada tinggal di dunia, kasihan nanti anaknya jadi cemoohan masyarakat.” Sinis Anita tanpa berpikir dahulu sebelum berbicara.

__ADS_1


“Anita, kamu bicaranya tolong dijaga Nak. Kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kasihan kalau Afriani dengar.” Aya memperingati anak perempuannya itu.


Anita berdiri dari duduknya dengan tiba-tiba dan wajahnya menggambarkan seperti orang yang marah.


“Mah! Coba Mamah bayangkan, hati istri mana yang tidak sakit kalau dibohongi sama suami sendiri? Apalagi ini kebohongannya sudah terjadi dengan begitu lama dan baru terbongkar sekarang.” Emosi Anita meluap, amarahnya sudah diujung, “hati Nita sakit Mah! Kenapa Kakak Nita sendiri melakukan itu pada sahabat Nita  sendiri, dan sekarang karma dari perbuatannya malah Nita yang merasakan.”


“Mas Eshan sama aja kayak Kak Arya, mereka nikah lagi diam-diam tanpa kasih tahu Anita dan Kiana. Mas Eshan nikah sama Kak Ilsa, temannya sendiri. Bahkan sekarang mereka sedang menantikan anak pertamanya, di saat Anita belum juga bisa kasih Mas Eshan anak.” Anita langsung menangis setelahnya.


Danu dan Aya terdiam merasakan sakit. Bagaimana bisa anak perempuannya mendapatkan nasib seperti ini? Nasib yang sama dengan menantunya.


Kakaknya yang melakukan kesalahan, tapi malah adiknya yang mendapatkan nasib balasannya. Kasihan Anita harus merasakan ujian hidup menyakitkan ini. Mereka selaku orang tua kedua anak itu tidak tahu harus berbuat apa selain menyemangati Anita untuk tetap semangat menjalani hidup ini.


Aya segera memeluk Anita yang menangis dan mencoba menenangkannya.


“Kenapa nasib kamu seperti ini sayang?” Gumam Aya. Dia bersedih melihat anaknya seperti ini. Begitu juga Danu dan Arya, mereka juga sama bersedih.


“Mah, Nita tidak kuat untuk menerima ini. Nita mau berhenti saja. Hiks...” Lirih Anita sambil menangis dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher ibunya itu.


“Kalau suami kamu sudah mulai sakiti kamu seperti ini, sudahlah lebih baik kamu minta pisah saja dari dia. Untuk apa kamu bertahan dengan laki-laki seperti dia yang sudah tidak bisa kamu percayai lagi? Mumpung kalian belum punya anak, jadi tidak akan berdampak besar kalau misalkan kalian pisah.” Danu menyahut, “Papah tidak mau, kamu disakiti dia lagi lebih dari ini.”


“Papah yang sudah hidup dengan kamu dari kecil sampai besar saja tidak berani untuk sakiti kamu dan justru terus berusaha buat bahagiakan kamu. Tapi dia, yang baru saja beberapa tahun tinggal sama kamu, sudah mulai berani sakiti kamu.” Kesal Danu sambil mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.


“Pah, ini rumah tangga mereka. Jadi biar mereka saja yang urus, jangan hasut Anita buat pisah sama Eshan.” Sahut Arya pelan-pelan, takut ucapannya salah.


Danu menatap tajam Arya, “tahu apa kamu soal ini? Rumah tangga kamu sendiri saja malah jadi hampir hancur karena kesalahan kamu. Justru yang harusnya diam di sini itu ya kamu Arya! Pikirkan rumah tangga kamu akan bagaimana nantinya? Anak-anak kamu? Terus Kiana sekarang juga ada di mana?” Danu berdiri dengan marahnya menunjuk Arya.


Arya diam menunduk. Ucapan Danu benar. Harusnya dia jangan menceramahi kehidupan rumah tangga adiknya itu, karena rumah tangganya sendiri pun sama seperti mereka. Berada di ambang kehancuran dan belum tahu akan seperti apa kelanjutannya.

__ADS_1


“Kamu sekarang tinggal di sini saja ya sayang. Mamah tahu kamu butuh waktu untuk tenangkan diri dan menerima semua takdir ini.” Aya mengeratkan pelukannya.


__ADS_2