
Semuanya sekarang sudah selesai. Kebahagiaan keluarga Arya sudah kembali.
“Mas...” Seru Kiana saat mereka bersantai di kamarnya.
Arya tersenyum dan memeluk perempuan itu erat, “ya, ada apa Kiana Anuradha Widjaya milik seorang Nararya Sadira Pratama?”
“Hmm... Kepanjangan itu Mas.” Kiana terkekeh pelan dan dibalas Arya dengan senyuman.
“Enggak apa-apa dong. Kan sebagai pernyataan, kalau Kiana ini memang benar hanya milik seorang Nararya seorang.”
“Hahaha, iya kan saja deh ah biar cepat.”
“Tadi kamu mau bilang apa?”
“Itu... Allah adil ya sama kita Mas. Allah titipkan anak kita sama Afriani, lalu anak Afriani dititipkan sama kita.”
Arya melepaskan pelukan dan menatap Kiana serius, “baru sadar kamu kalau Allah itu Maha Adil? Astagfirullah. Istriku, kamu tidak boleh begitu.” Arya lanjut mencubit hidung Kiana, “kamu tidak boleh jadi manusia yang kufur akan nikmat-Nya.”
Kiana memegang tangan Arya itu dan menariknya, “iya, emang. Aku seringnya enggak sadar sih, makanya banyak dosanya. Sekarang sudah dapat ujian baru deh sadar.” Kiana membenarkan ucapan suaminya itu dan menatapnya kesal.
“Duh kamu tolong kondisikan ya bicaranya.”
“Kenapa emang?” Kiana bingung tidak mengerti ucapan Arya.
“Berasa sindir aku.”
“Aku enggak ada niat buat sindir kamu kok.” Bantah Kiana tidak terima akan tuduhan itu, “aneh kamu, cuma karena aku bilang ujian kamu merasa tersindir.”
“Ya kan ujian kamu itu dari aku, suami kamu Kiana.” Tutur Arya cepat.
“Ah sudah sudah, aku enggak mau lagi bahas soal itu.” Kata Kiana mengalihkan.
“Iya, iya. Maaf maaf Kiana sayang milik Nararya seorang.” Arya langsung mencium kening Kiana tiga kali.
“Mas...”
“Hmm? Apa? Mau nanya lagi? Aku cium loh.” Goda Arya menatap Kiana yang langsung dibalas dengan cubitan di perutnya.
__ADS_1
“Ih!! Kamu yaaa!! Aku serius nih mau tanya.” Kesal Kiana yang tidak bisa ditahan.
Arya tertawa pelan lalu memeluk tubuh Kiana lagi, “iya maaf. Mau nanya apa kamu? Sini, aku akan mendengarnya.”
“Nih ya. Kalau ya, kalau semisalnya, Ray dan Sabhira nanti mereka itu berjodoh dan mereka nikah, apa pendapat kamu?” Kiana membalas pelukan Arya sambil menggerakkan jari telunjuknya di dada Arya, seperti sedang menggambar sesuatu.
“Hm...” Arya diam dulu memikirkan jawabannya, “ya aku bagaimana Ray sama Sabhira saja. Kalau mereka merasa sama-sama cocok, ya kenapa tidak. Toh Sabhira bukan saudara kandung Ray ini. Juga, yang menjalankan pernikahannya nanti kan mereka, bukan aku, kamu, atau kita. Jadi ya aku tidak akan memaksa atau mencegahnya dengan siapa nanti mereka akan berjodoh. Tapi kalau calon mereka itu kurang baik untuk mereka, maka itu beda lagi, aku akan mencegahnya.”
“Tapi ngomong-ngomong, kenapa kamu tanya soal itu? Pasti ada alasannya kan.”
“Oh, itu... aku cuma kepikiran, bagaimana kalau mereka itu berjodoh. Soalnya di cerita-cerita yang pernah aku baca, ada kisah yang menceritakan tentang saudara kandung dan saudara angkat berjodoh, begitu.”
Arya mendengus, “hah kamu. Aku pikir karena apa. Itu kan hanya karangan fiksi saja Kiana, buat apa kamu percaya kalau cerita itu bisa terjadi.”
“Ya itu kan menurut kamu, tapi menurut aku kan bisa saja terjadi.” Bantah Kiana tidak terima, “ah sudahlah lepas! Aku mau tidur saja, sudah ngantuk.” Kiana melepaskan tangan Arya dan berbalik membalikkan badannya membelakangi Arya.
Bukan. Kiana bukan marah karena itu, justru dia memang aslinya sudah mengantuk.
“Kamu kenapa? Marah?” Tebak Arya sambil memegang pundaknya lalu menciumnya terus menerus.
“Iya, enggak salah lagi kan maksudnya?” Goda Arya.
“Bisa diam tidak Mas? Kalau enggak aku hajar kamu nih sekarang.” Ancam Kiana dengan memberikan kepalan tangannya pada Arya.
“Eh jangan dengan itu, mending kamu hajar aku dengan tidur yang 'iya-iya' deh sama aku.” Arya menjawabnya asal, sangat ingin menggoda istrinya itu.
“Ih apaan?! Maksudnya apa ya itu ucapannya?” Kiana menolak ajakan Arya. Tidak mau dia melakukan kegiatan yang dikatakan laki-laki itu tadi.
“Eh eh bercanda bercanda. Sudah, tidur sekarang.” Arya beralih memegang pinggang Kiana.
“Mas...”
“Iya? Kenapa lagi sayang aku?”
“Kamu nanti jangan selingkuh lagi ya. Aku tidak mau kamu duakan dan aku tidak mau ada Afriani kedua di hidup kita.” Ucap Kiana terdengar dingin dan tajam di telinga Arya.
Arya tertawa menyengir, “iya, iya. Tidak akan lagi sayang. Kapok aku melakukan itu, ujungnya malah buat kita ribut terus.”
__ADS_1
“Jangan bicara doang, tapi buktikan juga.” Kiana masih berbicara dingin padanya, juga menyindirnya.
“Iya Kiana. Maaf ya, dulu aku selingkuh, bohong sama kamu, juga buat keluarga kita hampir hancur. Aku tidak akan lagi kok lakukan kesalahan itu.”
Walaupun sudah pernah dibohongi, tapi Kiana harus tetap percaya kalau Arya kali ini akan menepati ucapannya tadi. Kalau Kiana terus saja tidak percaya dan curiga padanya, nanti bagaimana hubungan mereka akan berjalan dengan baik. Karena kepercayaan pun dapat mengokohkan sebuah hubungan bukan? Banyak pasangan yang hubungannya rusak hanya karena selalu saja curiga.
“Sudah ah. Tidak usah jadi dramatis kayak drama Korea deh. Semuanya sudah berlalu, kita anggap saja sudah lama terjadi dan jadikan masa ke belakang sebagai pembelajaran untuk masa depan, tapi jangan terlalu sering menatap ke belakangnya nanti takut ketubruk sama yang di depan soalnya.” Gurau Kiana, mencairkan suasana yang serius itu.
Arya tertawa dan mencubit pipi Kiana, “duh kamu ya... Mata aku sudah mau keluar air mata, mau buat adegan sedih terus nyanyi lagu Ku Menangis punya Rossa, eh malah kamu rusak.”
“Huh payah! Begitu doang sedih. Aku yang merasakannya juga biasa saja.” Ledek Kiana meremehkan Arya.
“Sudah... Dari tadi mau tidur malah enggak jadi terus gara-gara kelamaan ngobrol.” Arya lanjut mengusap wajah Kiana, menyuruhnya untuk memejamkan matanya langsung, “matanya tutup, cepat tidur kalau besok tidak mau terlambat atur para bocah kecil.”
Kiana mendengus kesal, seenaknya saja Arya mengusap wajahnya, “iya, iya! Ini juga mau tidur kok.” Dia lanjut menyusul Arya memejamkan matanya.
Arya tersenyum memeluk Kiana ketika itu, begitu juga Kiana balik memeluknya dan memegang tangan Arya.
Setelah itu mereka pun tidur bersama. Dengan damai, tanpa ada lagi rasa benci, marah, yang biasanya masih tersimpan saat sebelum tidur.
Mereka sudah saling memaafkan kesalahannya satu sama lain.
Kiana istriku, maaf aku selalu membuat hatimu sakit. Tapi meskipun begitu, untuk sekarang, nanti, dan selamanya aku akan mencintai dan melindungi kamu juga malaikat kecil kita. Tolong tetap bersamaku selalu, Kiana. Kamu akan selalu menjadi wanita seorang Nararya. Aku mencintaimu.
Nararya, aku bakal selalu cinta kamu Mas. Sudah singkat begitu saja. Kamu orang yang aku kasihi dan aku cintai selalu. Aku harap kehidupan kita akan bahagia selalu, tidak akan ada ujian yang menyakitkan seperti dahulu.
****
Ini end ya. Sudah end. Sudah berakhir.
Maaf maaf kalau akhir ceritanya mengecewakan, kurang greget, ah kurang seru lah. Maaf maaf nih ya.
Untuk yang selalu setia membaca cerita ini, aku ucapin terimakasih yang tuluussss banget.
Makasih makasih ya banyak ya sudah mampir ke cerita ini 💕
Sampai ketemu di ceritaku yang lainnya... Kalau kalian mau baca itu juga 😂
__ADS_1