Our Fault

Our Fault
Bagian 62 - Dia Jatuh


__ADS_3

Mereka sekarang sudah di kamar, duduk di sofa membicarakan pembahasan yang tertunda tadi.


Kiana duduk malas di samping Arya sambil melipat tangannya dan mengalihkan pandangannya darinya. Mata Kiana malas sekali untuk melihat Arya. Kasihan nanti matanya akan iritasi dan mengeluarkan air kalau kelamaan melihat laki-laki berengsek itu.


Sementara Arya, dia justru memperhatikan wajah perempuan di sampingnya. Walau wajahnya dingin, tapi melalui matanya Arya bisa melihat kalau mata itu selalu mengeluarkan air mata kesedihan. Tak perlu Arya tanya, pasti itu penyebabnya karena dia sendiri.


Arya memegang tangan Kiana erat walau dia terus memberontak untuk dilepaskan. Tapi Arya tidak akan mengalah dari perempuan itu.


“Kiana, aku mohon sama kamu tolong pengertiannya. Aku perhatian pada Afriani itu bukan karena cinta, tapi karena takut terjadi apa-apa sama dia, sebentar lagi dia mau melahirkan.”


“Kamu harusnya tahu, cinta aku hanya untuk kamu saja. Kamu satu-satunya istri yang aku cintai, tidak ada yang lain termasuk Afriani. Kamu sumber kebahagiaan aku. Di tempat ini, cuma ada nama kamu yang sudah aku kunci.” Bujuk Arya dan menarik tangan Kiana ke dadanya.


Huh! Bullshit! Pembohong! Ucapan Arya itu tidak mempan baginya. Kiana sekarang sudah menjadi perempuan


cerdas ya, jadi dia tidak akan termakan lagi dengan ucapan laki-laki itu.


Kiana mendengus sebal dan mencebikkan bibirnya, kemudian menepis kasar tangan Arya juga menatapnya tajam.


“Pembohong kamu! Kalau hanya aku yang kamu cinta, pasti hanya aku yang akan jadi prioritas kamu, bukan dia! Lagi pula mau dia sebentar lagi melahirkan atau enggak juga, kamu tetap saja akan selalu prioritaskan dia Mas, dan aku benci hal itu!”


“Semenjak ada dia kamu jadi selalu sibuk dengannya, tidak ada waktu buat aku sama anak-anak, padahal dia sendiri itu bukan hamil anak kamu!”


“Seharusnya dulu itu aku jangan kasih izin kamu bawa dia ke sini! Dia cuma bisa merusak kebahagiaan keluargaku! Juga seharusnya aku sama anak-anak itu pergi dari kamu dan tidak kembali lagi ke hadapan kamu!” Tutur Kiana, “aku pikir dengan kepergianku waktu itu akan membuat kamu sadar, tapi ternyata kamu masih saja sama dan bahkan malah jadi lebih peduli dan memprioritaskan dia daripada aku.” Kiana tersenyum kecut pada Arya.


“Atau mungkin sekarang kamu memang benar menginginkan aku pergi lagi, makanya kamu masih saja bersikap seperti dulu?” Tatapan yang Kiana berikan pada Arya begitu dalam.


Arya menghela nafas berat. Sudah pusing laki-laki itu mengurus Kiana. Bagaimana lagi caranya untuk membujuk istrinya itu agar percaya padanya? Sudah semua cara dia lakukan tapi belum juga berhasil atau mungkin tidak akan berhasil. Membuat ujian hidup Arya semakin bertambah saja.


Sudah dimusuhi anaknya — Kinaya, lalu orang tua dan saudaranya, sekarang istrinya sendiri juga sama memusuhinya. Setiap hari Arya harus mempunyai kesabaran lebih untuk menghadapi ini semua.


“Kiana, kamu bisa kan tidak panggil Afriani seperti itu? Bagaimana kalau dia mendengarnya? Afriani itu tidak merebut aku dari kamu, tapi justru aku sendiri yang punya inisiatif untuk tolong dia dengan jalan jadi suaminya, juga Ilsa sendiri pun malah meminta aku untuk jadi suaminya.”


Kiana tersenyum sinis, “inisiatif? Kamu bilang inisiatif? Atas dasar apa kamu mempunyai inisiatif seperti itu Mas? Apa karena kasihan? Kasihan kamu sama dia?!”


“Heran aku sama kamu Mas, untuk apa sih kamu kasihan sama perempuan itu? Untuk apa juga kamu peduli pada kehidupannya? Sedangkan dia sendiri saja enggak kasihan sama aku dan anak-anak aku!”


Setelahnya perempuan itu menarik dagu Arya paksa. Dia akan mencerca suaminya dengan banyak kalimat supaya laki-laki itu kesal sendiri, “aku tanya kamu Mas, kenapa harus dengan jalan ini kamu tolong dia? Kenapa enggak dengan jalan meminta tanggung jawab saja pada Kak Kaivan selaku pelakunya? Kamu emang enggak pikirkan perasaan aku dan anak-anak ya saat akan melakukan hal itu?” Kiana melepaskan dagu Arya secara kasar karena mulai malas memegang wajah itu.


Kiana mengalihkan pandangannya ke arah lain dan bersandar pada sofa, “kalau saja aku tidak punya anak sama kamu, aku pasti sudah tinggalkan kamu dari sejak aku tahu semua ini. Aku sudah tidak kuat di sini. Aku muak. Sakit hati aku lihat kamu yang selalu prioritaskan dia.”


Seperti itulah Kiana sekarang, mudah sekali terbawa emosi apalagi jika di rumah dan sedang bersama Arya. Selalu saja ada bahan yang akan dia jadikan untuk berdebat dengan Arya.


Kiana kalau sudah bersama Arya tidak bisa untuk bersikap kalau dia baik-baik saja, karena pada kenyataannya, Kiana memang sedang dalam keadaan yang tidak baik. Walaupun di luar mungkin dia selalu tersenyum dan bisa tertawa, tapi tidak banyak yang tahu kalau di balik senyuman manis perempuan itu ternyata menyimpan luka yang cukup dalam.


“Sudah, lebih baik sekarang kamu istirahat saja. Pasti kamu seperti ini karena kurang istirahat.” Arya hendak memegang pundak Kiana yang langsung menepisnya kasar.


“Kamu tidak perlu sentuh aku Mas! Aku benci kamu! Aku begini juga karena kamu! Anakku mati juga karena kamu! Karena kalian!” Suara Kiana begitu memekik sangat keras terdengar di telinga Arya, “sekarang aku tanya, kamu mau pilih dia atau aku yang jadi istri pertama kamu ini? Kalau kamu memilih aku, aku akan mencoba untuk memaafkan semua kesalahan kamu itu, Mas.” Arya mengerti, ada ancaman dalam kalimat yang Kiana ucapkan itu.


Brak...

__ADS_1


Arya berniat akan menjawabnya, tapi pintu kamar malah terbuka tiba-tiba tanpa ada ketukan dahulu, si pelaku yang membuka itu adalah Ray.


Ray datang ke hadapan mereka dengan raut wajah panik, membuat Arya juga Kiana kebingungan.


“Ayah! Bunda!” Pekik Ray mendekat ke arah mereka, “Tante Afri jatuh! Dia nangis!” Ray menunjuk ke arah yang dia ucapkan.


Bukan hanya Ray yang panik, mereka pun jadi terbawa panik. Arya sampai berdiri dari duduknya, namun Kiana tidak.


“Tante Afri jatuh di mana?”


“Di dapur Ayah.”


Arya langsung bergegas pergi menuju dapur, begitu juga Kiana dan Ray yang mengikutinya dari belakang.


Mereka terkejut begitu melihat Afriani yang sudah terduduk di lantai kesakitan dengan darah mengalir di kakinya.


“Mas... Sakit perut akuuu...” Afriani merintih sakit dan memegang perutnya yang besar.


Tanpa menunggu lagi, Arya langsung menggendong tubuh itu untuk membawanya ke rumah sakit.


“Aku bawa kamu ke rumah sakit sekarang.” Ujarnya sambil menggendong Afriani.


Kiana terdiam melihat itu. Rasa cemburu yang biasanya selalu muncul padanya saat seperti ini, kini berganti dengan rasa khawatir.


“Mas... Aku ikut ya ke rumah sakit.” Kiana bersuara pelan.


“Tidak usah! Aku tidak mau ada keributan nanti di sana. Lebih baik kamu di rumah saja jaga anak-anak.” Balas Arya langsung sedikit ketus.


“Aku bilang tidak perlu Kiana! Kamu cukup di rumah saja! Jangan mengganggu!” Bentak Arya sampai Kiana jadi ketakutan begitu juga Ray.


Kiana menatap sendu Arya dan mengangguk setuju, “hmm. Ya sudah.” Lirihnya pelan karena rasanya bibir Kiana tidak mampu berkata yang lain lagi selain mengatakan kalimat itu.


Sekarang hanya ada Kiana juga Ray di rumah, sementara Kinaya sibuk mengurung diri di kamarnya.


Ray mendekati Kiana dan menarik ujung bajunya, “Bunda... Kok Ayah marah-marah? Galak ya Ayah malah marahin Bunda.” Ucapan polos Ray muncul.


Kiana tersenyum, “Ayah lagi panik Ray, makanya begitu.”


“Sekarang Ray mending baca buku dulu ya atau enggak ke kamar Kakak Naya, Bunda mau buat makan dulu.” Bujuk Kiana.


Jam 10 malam tiba dan Kiana masih terjaga di waktu itu.


Kiana masih cemas memikirkan Afriani. Arya pun tidak menghubunginya perihal bagaimana keadaan Afriani sekarang. Kenapa Arya begitu pada Kiana? Apakah laki-laki itu berpikir kalau dirinya hanya akan membawa keributan bagi kehidupannya?


Akhirnya Kiana pun memiliki inisiatif untuk menghubungi Arya sekedar menanyakan bagaimana keadaan Afriani. Ya mungkin saja Arya masih dalam keadaan panik, sampai akhirnya laki-laki itu lupa untuk menghubunginya. Kiana harus bisa berpikir positif saat dalam keadaan sekarang ini.


Tut... Tut... Tut...


Kiana menunggu jawaban dari panggilannya. Hingga tak lama panggilan itu terjawab juga.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum Mas, Afriani bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Kiana langsung.


“Wa'alaikumsalam, ada maksud apa kamu nanya soal dia? Mau buat keributan lagi?” Suara Arya begitu ketus pada Kiana.


“Mas... Kok kamu berpikir begitu sih sama aku? Aku ya benar khawatir sama dia dan bayinya. Aku sudah tahu rasanya hamil dan melahirkan itu seperti apa, makanya aku khawatir sama dia.”


Arya tertawa menyindir, “hahaha, tumben sekali kamu peduli? Biasanya juga kamu seringnya cemburu sama dia.”


“Mas, sekarang aku tidak punya niat untuk begitu.”


“Sudah, aku tidak akan pulang sekarang, jadi kamu tidak perlu tunggu aku. Kamu tidur saja dan jaga anak-anak. Nanti aku kasih alamat rumah sakitnya kalau memang kamu benar tulus khawatir dan mau jenguk dia.” Selanjutnya panggilan itu terputus dengan sendirinya oleh Arya sendiri.


Pada esok paginya, selesai mengantar anaknya sekolah, Kiana langsung bergegas menjenguk Anita lalu Afriani. Tanpa Arya tahu, ternyata Afriani dibawa ke rumah sakit yang sama dengan Anita.


Kiana hari ini pergi sendiri, karena Ray tidak diizinkan untuk ikut, jadi dititipkan pada Fabian.


“Anita...!!” Kiana bersorak gembira dan mengulurkan tangannya. Anita sekarang sedang berduaan dengan Eshan.


Anita menyambut Kiana senang dan membalas pelukannya ketika jarak mereka sudah dekat.


“Badan lo udah lebih sehat sekarang?” Tanya Kiana, “udah makan belum?”


Anita menggeleng dengan wajah sedih, “gue belum makan, rasanya mau muntah terus tahu. Badan gue juga masih agak lemes ini..”


“Duh duh duh... Cup cup cup... Sabar ya, nanti juga enggak akan begini lagi kok.” Kiana merengkuh tubuh lemah Anita dan mengusap rambutnya. Kalau dilihat, Kiana seperti sedang menenangkan anaknya yang sedang menangis ingin diberi permen.


“Nanti makannya dikit dikit aja ya, supaya masuk ke perutnya. Kan kasihan nanti yang di sini kalau belum dikasih makan.” Kiana memegang perut rata Anita, “oh iya, nanti gue ke sini lagi jenguk lo sambil bawa makanan kesukaan lo. Sekarang gue mau lihat Afriani dulu.”


Anita menjauhkan tubuhnya dari rengkuhan Kiana, “Afriani? Dia udah lahiran?” Tanya Anita dan dijawab anggukan langsung.


“Iya, sudah. Dia satu rumah sakit ternyata sama lo, Nit.” Timpal Kiana.


Mata Eshan juga Anita membulat sempurna karena terkejut.


“Eh gue mau ikut dong lihat bayinya.” Seru Anita tanpa menyadari akan kondisi tubuhnya yang masih lemah.


Eshan ikut menyahut ucapan Anita itu, “jangan! Kondisi kamu belum pulih Anita. Kasihan bayi di perut kamu.”


Anita melirik sinis Eshan, “siapa kamu atur-atur hidup aku?”


“Aku suami kamu!” Ucap Eshan lantang dan keras.


“Tidak lagi setelah kamu bohong sama aku Eshan!” Balas Anita yang tidak kalah kerasnya dengan laki-laki itu.


*****


**Tak pikir pada udah gak minat baca cerita ini, taunya masih ada yang minta baca.


Makasih untuk kalian yg masih setia baca cerita ini 🙏

__ADS_1


Beberapa part lagi mau ending. Tunggu ya**...


__ADS_2