
Selesainya mengantar anak perempuannya itu. Kiana lanjut pergi ke rumah Fabian.
Sampainya dia di rumah kakak lakinya, ternyata penghuni rumah tersebut sedang tidak mungkin mereka sedang pergi. Jadinya Kiana pun pergi saja ke rumah Aya mertuanya, karena di tempat itu pasti sedang ada Anita.
Ketika sudah ada di rumah mertuanya itu, Kiana langsung saja masuk ke dalam layaknya di rumah sendiri.
Lalu sekarang, bersama dengan Anita, Kiana sedang mengobrol bersama di ruang keluarga tanpa ditemani Ray, karena anak itu sedang diajak oleh Aya untuk bercocok tanam di halaman belakang rumahnya.
“Hei bagaimana kabarnya sekarang? Sudah lumayan lebih baik?” Kiana menyeru dan tersenyum.
Anita tersenyum tipis, “cukup baik, tapi belum seperti sebelumnya.”
“Sabar, lo harus kuat. Begitu juga gue. Kita harus sama-sama kuat untuk menjalankan semua ini.” Kiana menggenggam tangannya, menyalurkan semangatnya melalui tangan itu.
“Jadinya keputusan lo soal hubungan kalian ke depannya bakal bagaimana?” Pertanyaan Kiana itu hanya dibalas dengan gelengan lemah oleh Anita sambil menunduk. Perempuan itu seperti tidak begitu semangat untuk menjawab pertanyaan Kiana.
Anita menghembuskan nafasnya seperti mengeluarkan beban berat yang sedang dia pikul, “keputusan gue sudah mantap, gue lebih pilih pisah sama dia. Gue terlalu sulit untuk kembali percaya sama itu laki, gue juga sepertinya enggak akan bisa buat memulai semuanya kembali. Gue takut banget kalau dia akan kembali melakukan kesalahan yang sama atau mungkin kesalahan yang berbeda hingga akhirnya buat gue semakin sakit terlalu dalam.”
“Ya walaupun kesalahan dia dan saudara gue sama, tapi niat Kakak gue untuk melakukan kesalahan itu ya untuk menolong, beda sama dia yang murni karena tergoda sama perempuan itu.”
“Gue... Gue benar-benar kecewa sama dia Kiana! Gue benci dia! Gue tahu... Gue belum bisa kasih dia anak, tapi... Setidaknya tolonglah dia jangan melakukan itu! Coba kalau dia bisa jujur sama gue soal semuanya, mungkin... Mungkin gue semuanya enggak akan kayak begini, dan mungkin saja gue enggak akan minta pisah sama dia.”
Kiana begitu iba melihat Anita. Benar ternyata, walau memang Arya berselingkuh, tapi dia harus bersyukur karena
perselingkuhan suaminya itu terjadi bukan karena sengaja dalam artian memiliki rasa melainkan karena rasa kasihan saja.
Padahal ya kalau dipikirkan, Arya bisa saja memiliki rasa dengan istri mudanya itu, tapi Arya tidak. Arya masih tetap menjaga cintanya untuk Kiana ya walaupun cintanya itu sudah sedikit rusak karena ulah bejadnya itu.
Tapi meskipun begitu, tetap saja dalam lubuk hati seorang Kiana, perempuan itu masih memiliki rasa marah, kesal, kecewa pada laki-laki yang bernama Arya itu. Kiana belum sepenuhnya bisa memaafkan Arya. Kiana masih teringat akan pengkhianatan yang dilakukan Arya. Mungkin Kiana butuh waktu lebih lama lagi untuk memaafkan laki-laki tersebut.
“Gue benar-benar sakit diperlakukan seperti ini. Sudah cukup keluarganya yang bikin gue sakit, sekarang dia sendiri juga malah ikut buat gue sakit. Gue... Gue benci dia, Kiana... Gue benci...” Tangisan Anita mulai terdengar setelahnya. Pasti memang berat rasanya untuk menahan semua kesakitan ini.
Benar-benar menyedihkan kehidupan Anita sekarang. Kiana yang selaku sahabatnya pun bingung tidak tahu harus berbuat apa selain memberinya pelukan agar dia kembali bahagia seperti dahulu.
“Udah, udah. Gue tahu perasaan lo sekarang.” Tangan Kiana terus mengusap pelan punggung sahabatnya itu, “gue dukung semua keputusan yang menurut lo terbaik, toh kalau lo pisah sama dia, di luar sana masih ada kok laki-laki yang lebih baik dari dia, gue jamin itu.”
“Tapi... Apa gue bisa melewati semuanya nanti Kiana?”
“Lo perempuan hebat. Gue percaya, lo bisa melewati semuanya dengan baik.” Katanya memberikan semangat pada Anita.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Anita tiba-tiba mendorong tubuh Kiana untuk melepaskan pelukannya dan selanjutnya dia memegangi perutnya.
Kiana mengernyit heran melihat Anita seperti itu. Kenapa dia mendorongnya? Apa Anita tidak suka dengan pelukan Kiana atau mungkin tidak suka dengan perkataan Kiana tadi?
“Duh... Perut gue... Sakitthh Kiana...” Perkataan Anita berlanjut dengan rintihan sakitnya. Dia memegangi perutnya dan meremas tangan Kiana untuk menahan rasa sakit itu.
Tentu Kiana langsung panik ketika itu, dan segera memanggil mertuanya yang sedang bersama Ray. Mertuanya pun sama paniknya seperti Kiana, sementara Ray dia bingung ini ada apa sebenarnya.
“Mah, sakitthh perut akuuu.” Anita merintih dengan suara pelan, sekarang dia berganti meremas tangan ibunya.
“Anita... kamu kenapa sayang?” Aya sudah berada di dekat Anita dan menopang tubuh Anita yang mulai melemah, “ini kenapa rok kamu ada darahnya?” Mata Aya tertuju pada rok Anita yang di sana ternyata ada bercak darah.
Karena melihat darah itu, Aya juga Kiana langsung semakin panik. Bahkan karena itu juga, Aya menjadi susah berpikir dan harus bertindak untuk menangani Anita sekarang.
“Ya ampun Mah, mending sekarang kita bawa ke rumah sakit saja Anita.” Kiana menyeru mengusulkan sarannya.
“Aduh... Tapi ini bagaimana bawa Anitanya?” Aya kepusingan tapi juga kasihan melihat anak perempuannya seperti ini, “Mamah bingung ini Kiana...” Resah Aya.
“Mamah, sudah. Mamah tenang. Kiana sekarang mau siapkan mobil dulu, terus kita bawa Anita ke rumah sakit, yang menyetir nanti Kiana saja.” Kiana langsung mengambil kunci mobil yang tadi disimpan di meja dan membuka pintu rumah.
Kiana terkejut setelah membuka pintu. Pasalnya, ternyata sosok yang tadi dia bicarakan bersama Anita sekarang muncul di hadapannya tiba-tiba dan langsung menerobos masuk ke dalam rumah tanpa permisi dahulu.
Eshan berjalan mendekati Anita dan merangkulnya, “kita ke rumah sakit sekarang ya.” Selanjutnya Eshan membopong tubuh Anita untuk dibawa ke rumah sakit.
Anita diam bersandar di dada laki-laki itu dan meremas tangannya, “perut aku sakitthh...” Anita meracau dengan suara yang tertahan ketika dalam gendongan itu.
“Kamu harus kuat Anita...” Eshan memberi Anita kata-kata semangat.
Begitu sudah dibawa ke rumah sakit. Kabar baik ternyata datang dengan sendirinya pada Eshan dan Anita.
Di luar dugaan mereka, mereka tidak menyangka akan kabar baik tersebut.
Ternyata Tuhan memberikan titipan-Nya itu di saat mereka sedang dalam berada hubungan yang kacau bahkan sudah berada di ujung kehancuran.
Entah mereka ah lebih tepatnya Anita, dia harus bersyukur atau membenci titipan itu, dia tidak tahu. Karena dalam hati Anita, rasa bahagia, sedih, juga kesal bersatu akan hadirnya titipan itu.
Beberapa orang menunggu Anita bangun, termasuk Kiana. Mereka menunggu dalam suasana yang benar-benar begitu tegang. Percakapan saja tidak mereka lakukan kecuali itu jika percakapan itu memang sangat penting sekali.
Nyatanya, sampai matahari hampir akan tenggelam pun Anita belum juga bangun dan Kiana tidak bisa menunggunya lebih lama lagi karena harus segera pulang ke rumah untuk mengurus keluarganya, terutama anak sulungnya yang pasti akan mencari di mana keberadaannya sekarang. Sedangkan suaminya, laki-laki itu mana mungkin akan mencarinya, karena dia kan sudah punya perempuan lain.
__ADS_1
Akhirnya Kiana memutuskan untuk pulang di waktu itu. Hingga ketika dia sudah ada di rumah, ternyata perkiraannya meleset. Suami Kiana itu ada menunggunya di ruang tamu sendiri.
Laki-laki itu berdiri dengan begitu tegaknya ketika melihat Kiana datang dan melipat tangannya di depan dada, seperti akan memarahi Kiana.
“Kamu kenapa baru pulang sekarang?” Tegur Arya cukup serius padanya.
“Ayah...” Ray bersuara memanggilnya.
Arya menoleh tersenyum pada anak bungsunya itu dan menggendongnya juga.
Hah. Kiana bisa bernafas lega untuk sesaat. Karena Ray, suaminya tidak akan jadi mengeluarkan amarahnya. Terima kasih Ray.
“Ray sudah ke mana tadi sama Bunda? Kenapa baru pulang?” Arya beralih memberikan pertanyaannya pada Ray.
“Ray sama Bunda tadi habis ke rumah sakit, soalnya perut Tante Nita tadi kesakitan.”
Arya terkejut dan berbalik menatap serius Kiana, tapi yang ditatap justru malah menghindar memalingkan wajahnya.
“Ray main sama Kak Naya dulu ya, Ayah sekarang mau bicara penting banget sama Bunda.” Bujuk Arya dan menurunkan Ray dari gendongannya. Beruntungnya anak itu mau saja dan tidak menangis saat disuruh.
Selepas Ray pergi, Arya menatap serius Kiana lagi, “ada apa dengan Anita? Kenapa kamu tidak kasih tahu aku soal itu?”
Kiana mengangkat bahu tidak peduli, “buat apa aku kasih tahu kamu, toh kamu enggak akan datang ini ke rumah sakit, karena sibuk urus istri mudanya terus sih.” Ketusnya.
Arya mengambil nafas dalam dan menarik Kiana ke kamar. Dia tahu, pembicaraannya kali ini bersama Kiana pasti akan menimbulkan suatu keributan yang mungkin saja besar dan itu tidak baik kalau didengar oleh anak mereka. Oleh karena itu, Arya memilih membawa istrinya ke kamar mereka yang kedap suara.
“Lebih baik kita bicaranya di kamar, aku tahu kamu pasti mau ribut sama aku, dan aku tidak mau anak-anak dengar, karena itu tidak baik untuk psikisnya nanti.” Arya menarik tangan Kiana langsung lalu berjalan menuju kamarnya.
Kiana terdiam ketika tangannya dipegang Arya. Walau sedang berada dalam situasi seperti ini, tapi dia merasa senang akan sentuhan laki-laki yang bersamanya saat ini.
Sudah lama mereka tidak melakukan kontak fisik semenjak hadirnya Afriani. Karena waktu Arya selalu digunakan untuk Afriani daripada dengan Kiana dan anaknya, termasuk dalam kegiatan tidur, maklum sedang hamil tua katanya.
Tapi sebenarnya, Kiana ingin sekali berkomunikasi lama dengan Arya seperti sebelumnya, namun entah kenapa
dia selalu jadi mudah emosi kalau berbicara dengan Arya. Emosi karena perlakuan Arya padanya sekarang berbeda.
****
Like, comment ya, jangan lupa. Terimakasih 💕
__ADS_1