
Kiana begitu menikmati kehidupannya yang sekarang dengan penuh semangat.
Ketika dirinya sudah dinyatakan berpisah, perempuan yang kini sudah mulai dewasa itu langsung menata rencana kehidupannya yang sempat tertunda. Dia melanjutkan perjuangan meraih cita-citanya yang belum tercapai. Berkuliah.
Kiana melanjutkan kuliahnya di kampus swasta yang direkomendasikan oleh Fabian. Katanya, kampus itu cocok dengan Kiana, terutama dengan bakat dan minatnya.
Seharusnya di umurnya yang sudah menginjak 22 tahun ini, dia sebentar lagi akan mengakhiri masa kuliahnya, bukan memulainya. Ini semua gara-gara Arya sehingga dia menjadi begini.
Di hari ini, kegiatan perkuliahan Kiana begitu padat. Ditambah lagi banyak sekali tugas yang harus dikerjakan, dan bukan hanya tugas individu, tapi juga ada tugas kelompok. Karena hal itu, akhirnya Kiana pulangnya kemalaman.
Berhubung Kiana tidak membawa kendaraannya sendiri dan Fabian juga tidak bisa menjemputnya, akhirnya Kiana terpaksa harus pulang dengan menggunakan ojek online. Tapi sebelum Kiana memesan ojek tersebut, Kiana menemani Afriani dahulu, temannya yang menunggu kedatangan jemputannya.
“Eh Ki, lo tahu Pak Arya gak? Itu lho dosen yang waktu itu nyanyi pas acara pensi Kiana.” Afriani bertanya pada Kiana yang sedang sibuk dengan ponselnya.
Badan Kiana bergetar langsung mendengar nama yang Afriani tanyakan. Dia terkejut diam dan menghentikan kegiatannya.
Apa? Arya? Kiana berpikir jika Arya yang dimaksud Afriani adalah Aryanya di masa lalu. Tapi sudahlah, Kiana tidak mau berpikir lama mengenai hal itu. Toh bisa saja Arya yang dimaksud Afriani tadi, Arya yang lain. Di Indonesia laki-laki yang bernama Arya itu banyak, bukan hanya Arya yang sedang Kiana pikirkan sekarang.
Kiana menatap Afriani dengan tatapan bingungnya. Pasalnya dia belum tahu Arya yang dimakud Afriani itu Arya yang mana. Kiana cukup takut, jika itu Aryanya di masa lalu.
“Gue denger-denger, katanya dia itu dosen yang paling dikagumi sama mahasiswa cewek di kampus ini, termasuk gue.” Afriani tertawa menyengir, “gue tuh kagum tahu sama itu dosen Ki. Suaranya beeuuhh... bisa banget buat hati gue berdering kayak HP tahuuu.” Afriani memegang dadanya sambil tersenyum girang dan menggoyangkan tubuhnya.
Lalu tak lama, senyuman Afriani itu meredup dengan sendirinya, “tapi sayang, Pak Arya tuh orangnya cuek, terus katanya killer.” Keluh Afriani.
“Bentar? Pak Arya?” Kiana berpikir, “eh gue gak tahu itu dosen yang mana. Gue pas acara pensi kan gak masuk, lagi sakit.”
“Oh, iya gue lupa. Tapi lo tenang aja, besok kita ketemu kok sama dia, katanya dia bakal ngajar di kelas kita, ngegantiin dosen siapa itu yang lagi cuti lahiran.”
“Oh gitu ya. Terus lo tahu nama panjangnya Pak Arya itu apa?” Kiana memastikan kegundahannya dan dibalas Afriani dengan penuh kecurigaan. Dia curiga kalau Kiana juga sama menyukai dosennya itu.
“Eh gue bukan ada maksud apa-apa ya, gue hanya mastiin siapa tahu kan ternyata gue tuh udah kenal sama dia, kan di Indonesia laki-laki yang namanya Arya banyak.”
Bahkan mantan suami gue juga namanya Arya. Gue takut kalau Arya yang lo sebut itu Arya masa lalu gue.
“Hmm terserah. Nama panjangnya Nararya Sadira Pratama kalau gak salah.” Jawab Afriani dengan agak ketusnya.
Deg...
Keterkejutan Kiana semakin bertambah. Badannya mendadak terdiam kaku karena mendengar itu. Rasanya seperti mendapatkan suatu kabar yang buruk.
Hal yang dikhawatirkannya akhirnya terjadi.
__ADS_1
Ternyata benar, kalau itu adalah dia. Mereka laki-laki yang sama. Laki-laki yang pernah hadir di masa lalu Kiana. Nararya Sadira Pratama mantan suaminya.
Kiana menatap Afriani tidak percaya.
Kenapa bisa terjadi begini? Kenapa Kiana baru tahu soal ini sekarang? Setidaknya kalau dia tahu, dia tidak memilih kuliah di kampus ini. Apakah memang takdirnya harus lagi berjumpa dengan laki-laki itu? Tapi jujur, Kiana tidak mau.
Oh, pantas saja Fabian terus memaksanya untuk kuliah di kampus tersebut, ternyata ada Arya. Supaya Kiana dijaga oleh Arya. Begitu? Tetapi untuk apa coba Arya menjaganya? Mereka sudah tidak memiliki hubungan lebih. Mereka sudah berpisah sejak beberapa tahun yang lalu.
“Serius namanya itu?” Kiana memegang tangan Afriani begitu kencang, membuat Afriani kesakitan.
“Ih sakit Kiana! Lo pegangnya kenceng banget ih.” Afriani menjauhkan tangannya dari Kiana, kemudian mengusap tangannya yang kesakitan dan menatap Kiana kembali.
“Ekspresi lo kenapa kayak gitu? Lo kenal sama dia?” Tanya Afriani keheranan.
Ya kenal lah, dia suami gue. Eh bukan, lebih tepatnya mantan suami gue.
Kiana menggeleng cepat, “enggak. Gak kenal gue.” Bohongnya.
“Yah... Gue kira lo kenal dia.” Raut wajah Afriani berubah murung, “kalau kenal kan bisa cari tahu seluk beluknya dia gimana. Gue tuh pengen tahu dia itu udah nikah apa belum. Kabarnya sih belum.”
Sok tahu! Dia udah pernah nikah woy! Nih mantan istrinya ada di depan lo. Anaknya juga udah tercetak satu, tuh lagi ada di rumah maen sama Neneknya.
“Lo tahu dari siapa kalau dia belum nikah terus sikapnya yang kayak gitu?”
“Yeh, gue kata temen gue yang udah senior di sini.” Timpal Afriani, “karena kabar yang nyebarnya dia belum nikah, jadinya yang naksir sama dia tuh banyak, bukan mahasiswa aja. Tapi dosen cewek juga pada suka dia.” Lanjutnya.
“Oh, gitu ya.”
“Lo kenapa responnya gitu doang sih Ki? Lo emang gak minat sama itu dosen?”
Kiana menggeleng yakin, “gue biasa aja kok.”
Karena gue udah pernah ngerasain gimana rasanya memiliki dia dan jadi perempuan yang paling dia utamakan selain mamah dan adiknya.
“Lo seriusan nih? Dia kan cakep, populer, pinter, terus masih muda deh kayaknya, udah berpenghasilan lagi.”
Muda apanya, dia udah tua kali terus gak perjaka. Gue yang paling tahu soal dia, termasuk hal terkhususnya.
“Ya... gue emang biasa aja.” Kiana masih memberikan jawaban yang sama, “udah ah sana buruan lo pulang. Tuh yang jemputnya udah datang.” Kiana menepuk pundak Afriani lalu menunjuk pada hal yang dimaksudnya.
“Ya udah iya, gue pulang sekarang. Duluan ya, lo hati-hati ok.” Afriani pamit dan dibalas Kiana dengan anggukan.
Lalu akhirnya, Kiana ditinggal sendiri. Lagi.
__ADS_1
Setelahnya, Kiana memutuskan untuk segera pulang karena waktu sudah semakin malam. Perempuan itu hendak memesan ojeknya menggunakan ponsel miliknya.
Ketika Kiana fokus dengan ponselnya itu, sebuah mobil berwarna merah tiba-tiba muncul dan berhenti di hadapannya.
Kiana menyadari akan kehadiran mobil itu, namun dia mengabaikannya saja.
Tanpa Kiana duga, sang pengemudi mobil itu ternyata keluar dan berjalan menuju padanya.
“Gak ada yang jemput? Mau pulang bareng?” Pengemudi itu yang ternyata laki-laki menegur Kiana dengan suara beratnya.
Gerakan jari Kiana terhenti mendengar suara itu. Dia kenal siapa pemilik suara tersebut. Bahkan Kiana juga sepertinya begitu merindukan pemilik suara itu.
Suara ini... Mirip seperti suara dia.
Dengan cepat, Kiana langsung mengangkat wajahnya yang tadinya menunduk karena fokus dengan ponselnya. Dia menatap wajah si pemilik suara itu.
Benar ternyata. Pemilik suara itu dia. Laki-laki yang sedang Kiana pikirkan sekarang. Nararya Sadira Pratama. Mantan suaminya.
Kiana tidak tahu, kenapa sekarang Arya ada di hadapannya? Tapi beruntungnya Arya datangnya sekarang bukan tadi saat Kiana sedang menggosipkannya bersama Afriani.
“Kamu mau pulang kan? Ayo aku antar kamu.” Arya kembali mengajak Kiana yang sedang menatap.
Kiana menggeleng, “gak perlu, makasih. Kak Bian mau jemput ke sini.” Kiana sengaja berbohong supaya dia tidak bisa berdekatan dengan Arya.
“Oh bukannya Fabian gak mau jemput kamu ya?” Arya membantahnya, kemudian dia menarik tangan Kiana paksa tanpa minta izin pada pemiliknya.
“Daripada kamu pulangnya kemalaman karena nunggu ojek, mending kamu pulang bareng sama aku. Kalau nanti kamu kenapa-napa yang repot keluarga kamu nantinya.” Ucap Arya dan menarik paksa tangan Kiana.
Termasuk aku, Kiana. Aku akan repot karena khawatir dan terus mikirin kamu kalau sampai itu terjadi.
Kiana tidak suka dengan paksaan Arya itu dan langsung memberontak ingin lepas.
“Aku gak mau! Kamu kenapa sih paksa aku?!” Kiana mencoba melepaskan diri dan Arya ternyata melepaskannya lalu menatap Kiana serius.
“Aku bukan paksa kamu, aku hanya kasih tumpangan sama kamu daripada kamu lama di sini sendiri nunggu ojek datang.” Bantahnya dengan panjang, “lagipula arah tujuan kita itu sama Kiana. Aku juga mau ke rumah kamu untuk jemput Kinaya. Bukannya sekarang dia lagi main sama Mamah Nira ya?”
Penjelasan Arya memang benar. Kinaya hari ini ada di rumah bersama ibunya. Tapi ya walaupun begitu Kiana tidak mau satu mobil dengan Arya, tapi juga dia tidak mau menunggu abang ojek lama.
Ah sudahlah, Kiana terpaksa harus mau dengan ajakan itu demi hidupnya selamat dari hal-hal aneh yang mungkin saja bisa terjadi pada hidupnya.
“Ya udah iya, aku ikut.” Sewot Kiana lalu mendelikan matanya dan langsung masuk ke dalam mobil Arya tanpa permisi.
Arya seketika mengulum senyum tipisnya melihat itu dan mengikuti Kiana masuk ke dalam mobilnya kemudian mengemudikan mobilnya.
__ADS_1