
Begitu mengetahui Kiana kecelakaan, mereka begitu terkejut sekaligus panik. Fabian ingin sekali memarahi Kiana, sudah tahu masih belum terlalu lihai mengendarai tapi tetap saja kukuh malah mengendarainya ditambah lagi dengan pikirannya yang kacau. Ya Fabian sudah tahu tentang kegalauan hati adiknya itu.
Tidak menunggu waktu lama lagi, hanya bersama dengan Arya saja Fabian langsung pergi menuju rumah sakit tujuannya.
Sekarang, Kiana masih ditangani oleh dokter dan Arya juga Fabian sedang menunggu kabar dari dokter tersebut. Mereka duduk menunggu dengan penuh harap cemas.
Untuk menghilangkan rasa cemasnya, Fabian memutuskan untuk mengobrol dengan Arya. Dia membahas tentang penyebab sakit hati Kiana.
“Lo serius mau nikahin si Ilsa?” Fabian memecahkan keheningan yang terjadi.
“Tahu dari mana lo soal itu?” Arya balas bertanya.
“Gue lihat undangan pernikahan lo yang dirusakin Kiana di kamarnya.”
“Kalau reaksinya begitu, berarti dia gak suka gue jadi sama cewek lain.”
“Lo jangan ngehindar Arya! Jawab gue! Jadinya lo mau nikah beneran sama si Ilsa apa enggak?” Ketus Fabian.
“Ya kali gue nikahin si Ilsa, yang ada nanti gue diterkam si Kaivan. Kasihan juga Kinaya, nanti
punya ibu baru, padahal ibu aslinya juga dia belum tahu.”
“Jadi lo gak bakal nikah sama Ilsa?” Fabian menatap Arya penuh selidik, apakah Arya berbohong atau tidak.
“Enggak. Gue gak bakal nikahin dia. Ya emang Ilsa suka sama gue, tapi gue gak mau sama dia.”
“Terus apa alasan lo ngasih undangan itu sama Kiana?”
“Cuma buat ngetes dia aja, gue mau tahu reaksinya bakal gimana. Dan ternyata reaksinya hebat sekali, sampai-sampai dia kecelakaan begini.” Arya tersenyum miris.
Fabian membuang nafasnya dan mendelikkan matanya, juga wajahnya ia usap secara kasar.
“Lo...” Fabian menunjuk Arya dan menahan amarahnya, “Lo gila ya! Harusnya lo itu pake otak dong kalau bikin rencana. Pikirin akibatnya bakal kayak gimana, jangan seenak lo aja. Kalau misalnya Kiana mati gara-gara rencana lo itu gimana? Lo emang mau tanggung jawab dengan gantiin nyawa dia?” Fabian mengumpati dengan suara pelannya, karena mereka saat ini sedang berada di rumah sakit.
“Ini bukan pertama kalinya lo ngelakuin hal yang tak terduga kayak gini Arya. Dulu lo ngelakuin juga dan akibatnya ke Kinaya kan.” Fabian membuang nafasnya lagi.
“Hah... gue bingung sama jalan pikiran lo. Lo maunya apa sih?! Kalau lo masih belum terima perpisahan kalian, ya udah minta rujuk aja sama Kiana. Dia pasti nerima lo kembali, dia juga sama tersiksanya kayak lo sewaktu udah pisah.”
Arya tersenyum tipis, “lo pikir segampang itu minta rujuk sama dia? Gue buat nikah sama dia aja butuh proses lama, apalagi rujuk. Pasti lebih lama.”
“Ya lo nya belum usaha sih. Kiana udah sering banget lihat lo bareng sama Ilsa, jadi ya dia kesel terus bawaannya kalau deket lo. Dia cemburu sama Ilsa dan gak suka kalau kalian deket.”
“Terus gue harus apa sekarang?” Tanya Arya polos.
“Ya itu, lo maunya gimana? Itu urusan hidup lo, bukan hidup gue.” Fabian kesal pada Arya, umurnya sudah tua tapi masih juga belum bisa memutuskan pilihan, “saran gue, sebelum semuanya terlambat, putuskan semuanya dari sekarang. Lo juga harus pikirin Kinaya, dia harus tahu siapa Kiana sebenarnya.” Fabian menepuk punggung Arya pelan.
__ADS_1
Arya terdiam sejenak untuk berpikir dalam beberapa detik, kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, “gue udah mutusin mau rujuk sama Kiana. Gue bakal berusaha supaya dia mau balik sama gue.” Arya berkata dengan sungguh-sungguh tanpa ada keraguan sama sekali.
Fabian mengangkat alisnya, sedikit merasa ragu dengan perkataan itu, “lo serius? Yakin dengan keputusan itu?” Fabian ingin memastikannya kembali.
Arya mengangguk yakin, “lebih dari serius, gue yakin banget sekarang.”
Fabian memegang punggung Arya, “ok, semoga usaha lo itu berhasil ya. Gue doain semoga si Kiana mau.
Sudah ditangani dokter dalam waktu yang cukup lama, akhirnya Kiana dinyatakan selamat. Arya dan Fabian bersyukur mendengar kabar itu. Meskipun begitu, tapi sayangnya sampai sekarang Kiana belum juga terbangun padahal sekarang sudah lima jam semenjak kecelakaan itu terjadi.
Arya begitu setia menunggu Kiana terbangun. Kesetiaannya itu terbukti saat dia lelah sudah mengajar pun laki-laki itu tetap menyempatkan datang pada Kiana. Dia baru menyadari sekarang kalau peran Kiana bagi hidupnya itu begitu penting.
Sekarang sudah lima hari tepat setelah Kiana kecelakaan.
Arya duduk menatapnya yang tertidur. Tatapannya pada perempuan itu begitu penuh harap. Dia mengusap pipinya dan memegang tangannya, sesekali juga dia menciumi tangan itu.
Kamu kapan bangun? Kamu kesel kan sama aku karena mau nikah lagi? Kamu tenang aja Kiana, aku gak serius kok nikahnya. Aku Cuma ngerjain kamu aja, pengen tahu reaksi kamu, dan ternyata reaksinya wow banget, nyampe kamu kecelakaan dan sekarang tidur kayak gini.
Kamu gak perlu takut, aku hanya milik kamu Kiana, termasuk hati aku ini. Gak ada perempuan lain yang bisa ngegantiin kamu di ruang hati aku. Aku sangat setia sama kamu yang tak akan terganti sama siapapun.
Kamu harus bangun Kiana, kita semua di sini menunggu kamu bangun.
“Aku sayang kamu, Kiana. Cepet bangun ya, supaya aku bisa berjuang demi kamu dan Kinaya, demi keluarga kecil kita.”
Jari tangan Kiana bergerak tiba-tiba ketika itu dan Arya terkejut sekaligus senang saat melihatnya. Ternyata Kiana merespon ucapannya. Lalu beberapa detik kemudian, perempuan itu membuka matanya sendiri.
Arya pun segera menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan tubuh Kiana, dan dokter menjelaskan bahwa Kiana sudah bangun dari tidurnya. Hanya saja karena persendiaannya yang belum terlalu pulih akibat sudah tertidur cukup lama, maka dia harus melakukan terapi untuk menstabilkan kembali sendi-sendi tubuhnya itu.
Kiana selesai diperiksa dan kini hanya mereka berdua saja di ruangan rawatnya.
“Kamu mau minum?” Tawar Arya dan dijawab gelengan oleh Kiana.
Kiana menatap Arya datar, “Kakak ngapain di sini? Kakak pulang aja jagain Kak Ilsa, kalian kan udah nikah.”
Arya tersenyum, Kiana tidak tahu kalau pernikahan itu tidak terjadi dan justru dianya sendiri yang akan menikah dengan Arya, bukan Ilsa.
“Terus yang jagain kamu di sini siapa? Kamu kan belum pulih betul.”
“Ada dokter sama perawat kok di sini.” Kiana berkata pelan-pelan karena mulutnya belum lancar untuk berbicara cepat.
Arya tersenyum tenang, “tapi gak bakal bisa 24 jam jagain kamunya, gak kayak aku.”
“Yang lain pada ke mana? Naya juga? Kenapa cuma Kakak doang di sini?”
“Orang tua kamu pulang, besok mereka ke sini. Kalau Fabian ada kegiatan seminar di luar kota. Kinaya aku titipin ke Mamah aku.”
__ADS_1
Mendengar nama Kinaya, Kiana begitu merindukannya. Bagaimana kabar anak itu sekarang?
“Hm... Besok bawa Naya, bisa?” Kiana memohon dan memegang tangan Arya.
Aku kangen dia Kak. Kalau saja berani, Kiana akan berkata itu, tapi sayangnya dia tidak berani.
“Kamu mau ketemu Naya?” Kiana menjawabnya dengan anggukan.
“Nanti aku usahain, takutnya dia gak mau ke sini.”
“Kenapa gak mau? Takut sama aku ya gara-gara waktu itu dimarahi?” Raut wajah Kiana berubah sedih seketika.
Kiana menundukkan wajahnya, “maaf, aku udah nyakitin kalian. Terutama Kinaya. Aku nyesel, aku emang gak pantes buat jadi ibunya Kinaya.”
“Baru ngerasa nyesel sekarang kamu?” Nada suara Arya menyindir Kiana.
Kiana mendongak menatap Arya, “Kakak...” Kiana menahan tangisnya, “iya, Kiana tahu Kiana salah. Makanya Kiana minta maaf sama Kakak.”
“Salah. Harusnya kamu minta maaf sama Kinaya. Karena pihak yang paling tersakiti di sini itu dia. Dia udah dibohongi sama kita, dia udah dicaci maki sama kamu, bahkan sama orang lain juga.”
Ucapan Arya benar. Seharusnya dia meminta maaf pada Kinaya, bukan pada Arya.
Kiana menyesal berperilaku jahat pada anak itu. Dia malah menangis menutupi wajahnya dan menunduk. Kesalahannya begitu besar juga banyak pada Kinaya. Hanya karena sebuah beasiswa, kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu pada anak kandungnya sendiri? Kiana memang ibu yang jahat, egois, juga tidak punya hati.
“Aku salah... Aku jahat... Nay, maafin Bunda...” Kiana berbisik dan menangis.
“Ki...” Arya memegang pundak Kiana, “kalau kamu nangis terus seperti ini gak bakal merubah semuanya. Mending sekarang kamu berusaha untuk cepat sembuh lalu bujuk Kinaya.”
Mata Kiana penuh dengan air tangisannya. Dia membersihkan air mata tersebut dan menatap Arya kesal.
“Kamu pikir ngelakuin hal kayak gitu tuh segampang balikin telapak tangan apa?! Enggak! Semuanya itu butuh usaha dan proses.” Maki Kiana kesal.
Arya meringis melihat Kiana yang mengamuk padanya. Amukan perempuan itu begitu menakutkan menurut Arya. Kalap dia melihat amukan itu.
“Iya iya... Gak mudah emang.” Gumam Arya, “udah ah, kamu jangan nangis lagi sekarang.” Arya hendak memeluk Kiana agar tenang, tapi Kiana menahannya dengan mengarahkan tangannya di hadapan Arya, menyuruh untuk menjauhkan jarak tubuh mereka.
“Kakak jangan peluk Kiana! Kita udah gak ada hubungan apa-apa Kak. Nanti kalau yang lain lihat terus mikir kita lagi ngapa-ngapain gimana? Kiana gak mau kena imbasnya, apalagi kalau sama Kak Ilsa.”
Arya mendengus, hah. Harus mulai dari mana gue jelasin semua ini sama dia?
“Kalau misalnya aku batal nikah sama Ilsa gimana? Kamu bakal percaya?” Arya memancingnya, ingin tahu reaksi apa yang akan diberikan Kiana padanya.
“Hah?! Ah mana mungkin Kakak mau batalin. Kakak kan waktu itu bilang mau cari pengganti aku yang lebih dari segalanya dibanding aku, dan itu adanya di Kak Ilsa. Iya kan?”
Kamu salah Kiana. Harapan dan cinta aku cuma kamu doang. Gak ada perempuan lain.
__ADS_1
“Oh iya Kak, kalau besok Anita ke sini, bisa kan bujuk Naya juga supaya ikut ke sini? Aku kangen Naya sekalian mau minta maaf sama dia.”
“Nanti aku tanya dulu Anita.”