Our Fault

Our Fault
Bagian 51 - Terbongkar Sudah


__ADS_3

Inilah saat-saat yang sangat ditunggu Kiana. Keheningan dan tidak ada yang menonton drama kehidupannya.


“Oh iya, suami lo mana sih? Kok gue enggak lihat dia ya? Jangan-jangan dia lagi sama perempuan lain lagi. Waduh, jangan sampai deh. Sakit soalnya, gue sudah merasakannya.” Kiana membuat raut wajah panik yang dibuat-buatnya.


“Apa? Suami? Suami gue? Oh... Itu... Dia lagi... ng... lagi makan... Iya, lagi makan.”


“Oh, ya sudah kalau begitu panggil dulu dong, gue mau ketemu dia, kenalan gitu. Takutnya gue udah kenal suami lo. Lo juga kan sudah tahu rupa suami gue, waktu itu pernah lihat pas acara resepsi gue.” Tutur Kiana, “Setidaknya kan kalau kita saling tahu suami kita, tidak akan aksi rebut merebut kayak yang lagi viral sekarang.” Lanjutnya penuh penekanan dalam perkataan itu.


“Oh sebentar ya... M... Mas...!! Ini ada teman aku... Dia mau ketemu sama kamu katanya.” Afriani menyahut pada orang yang sedang ada di dapur itu.


Di saat seperti itu, Afriani tidak bisa tenang. Rasa cemasnya tidak bisa ia kondisikan. Dia terbata-bata saat sedang berucap.


“Iya.... sebentar, Mas datang. Tunggu.” Suara ini... Yah Kiana mengenalnya. Memang tidak salah lagi ternyata.


Tidak lama sosok yang menjadi suami Afriani itu muncul. Ternyata benar dugaan Kiana, dia orang itu. Raut wajah suami Afriani langsung terkejut saat melihat Kiana.


“Kiana?”


Kiana tersenyum melambaikan tangannya, “oh hai suami Afriani. Kenalkan, aku teman kuliahnya Afriani. Nama aku Kiana Anuradha Widjaya.”


“Eh tunggu....” Tangan Kiana beralih memegang wajah laki-laki itu dan menatapnya dengan tatapan yang sulit


diartikan.


“Ini kan dosen kita waktu itu, Afriani. Duda anak satu itu lho. Nararya Sadira Pratama. Dosen yang lo suka dulu, sampai lo mau jadi istrinya. Gapapa jadi yang kedua juga.” Kini Kiana mulai membelai wajah laki-laki itu.


“Akhirnya keinginan lo kesampaian juga ya Afri.” Kiana menepuk-nepuk pelan bahu Afriani, padahal sebenarnya dia ingin melakukan hal lebih daripada menepuk bahu perempuan itu. Misalnya menendang Afriani sejauh mungkin begitu, sampai Sungai Amazon juga boleh. Jutsru Kiana akan senang jika hal itu bisa terjadi.


“Selamat ya.” Senyuman palsu Kiana muncul lagi di saat hatinya sedang sakit pun. Kiana menjulurkan tangannya pada Afriani.


Afriani diam tidak melakukan apapun. Karena dia bingung juga merasa tidak enak, “gak usah pakai ngucapin selamat juga lah.” Bantah Afriani menarik tangan Kiana untuk diam.


“Oh, ya sudah gue ucapin selamatnya sama Pak Arya aja deh ya.”


“Selamat ya Pak Arya, atas pernikahannya


dengan mahasiswa Bapak.” Tangan Kiana berpindah pada Arya – sosok laki-laki yang ternyata menjadi suami Afriani.


Wajah Arya mengeras mendengar perkataan Kiana dan menepis dengan pelan tangannya.

__ADS_1


“Kiana! Berhenti lakukan ini semua!” Bentak Arya.


“Ya ampun Pak, Bapak kok jahat sih bentak saya? Saya bukan mahasiswa Bapak lagi lho sekarang.” Kiana merajuk, “saya ke sini hanya mau ucapkan selamat saja, tidak lebih, apalagi sampai harus merebut Bapak dari Afriani. Itu bukan keahlian saya Pak.” Lanjutnya.


“Ah sudahlah ya, daripada saya dimarahin lama-lama di sini sama Bapak, mending saya pulang saja. Kasihan soalnya dua anak saya ditinggal terus sama Ayahnya yang sibuk ke istri mudanya terus. Pasti anak saya itu nunggu saya pulang. Sudah ya Pak.” Kiana sengaja mencium tangan Arya dan berbisik.


“Jahat kalian! Beraninya sakiti aku dan anak aku!” Itulah bisikan yang dia ucapkan di telinga Arya.


“Aku pamit ya, assalamu'alaikum. Semoga kalian bahagia dan tenang selalu.”


Kiana membalikkan tubuhnya. Tak lama bahunya bergetar, dia tidak bisa menahan tangisannya. Perempuan itu menangis dalam diam tanpa bersuara. Sesekali dia mengusap wajahnya yang sudah banjir dengan air matanya.


Kamu jahat Mas! Kalian jahat! Apa salah aku? Kenapa kalian melakukan ini pada aku?


Arya dan Afriani terdiam memperhatikan Kiana yang pergi. Mereka melihat bahu perempuan itu bergetar, menahan isak tangisnya supaya tidak bersuara. Malang sekali dia karena kesalahan mereka. Kesalahan yang sebenarnya tidak sengaja dilakukan.


Maafkan aku atas semua kesalahanku ini.


Tatapan Afriani berpindah pada Arya, “Mas, bagaimana?” Tegurnya.


“Kamu tenang. Semuanya akan tetap baik-baik aja. Mending sekarang kamu istirahat cepat ke kamar.”


“Nanti aku pulang dan jelaskan semuanya. Sekarang aku kasih waktu buat dia untuk tenangkan dirinya, aku tahu dia masih tidak percaya dengan semua ini.”


“Tapi bagaimana kalau dia nanti pergi bawa anak kamu? Kamu tidak takut? Kiana orangnya nekat, Mas.”


“Enggak, dia tidak akan berani berbuat begitu. Sudah sekarang kamu istirahat. Aku antar ayo.”


Kiana pikir, Arya akan mengejarnya saat dia pergi, tapi ternyata tidak dan malah tetap setia dengan istri keduanya itu. Sungguh romantis Arya padanya. Maksudnya pada istru mudanya.


Sudah mengetahui kebenarannya, Kiana


langsung pulang ke rumah. Rumahnya bersama Arya. Tempat yang menjadi saksi awal mulanya kehidupan mereka yang dibumbui dengan rasa suka, duka, kebencian,


kesakitan, bahkan pengkhianatan juga.


Bagi Kiana, rumahnya sungguh banyak memberikan kenangan. Bukan hanya kenangan manis dan bahagia, tapi juga


kenangan sakit dan perjuangan akan hubungan mereka. Tapi mungkin mulai sekarang, Kiana harus meninggalkan tempat itu entah untuk sementara atau selamanya,

__ADS_1


dia belum bisa memastikan.


Tiba di rumah, Kiana memperhatikan rumahnya. Dia bersedih membayangkan waktu di mana mereka bahagia bersenda gurau bersama sebelum adanya masalah ini juga orang ketiga di antara mereka — Afriani. Teman dekat Kiana sendiri.


Kiana tidak menyangka, jika teman dekatnya itu walau tidak sampai jadi sahabat ternyata mengkhianatinya. Dia menjadi istri kedua suaminya tanpa Kiana tahu, dan sekarang perempuan itu sedang hamil. Hamil anak suaminya.


Selagi Arya belum pulang, Kiana segera masuk ke kamarnya dan memasukkan bajunya ke dalam koper miliknya.


Dia butuh waktu sendiri untuk menerima semua takdir menyedihkan ini dan harus pergi sejauh mungkin dari jangkauan Arya juga lingkungan yang berhubungan dengan Arya, termasuk anaknya. Kiana sudah berniat tidak akan membawa kedua anaknya, biarkan mereka bersama Arya atau keluarga Kiana jika Arya sendiri tidak mau mengurusnya.


Selesai mengemasi pakaiannya, Kiana menyempatkan waktunya untuk menulis surat. Surat untuk Arya tentunya, sebagai salam perpisahan sementara darinya. Ya, mungkin perpisahan sementara.


Semua sudah terlaksana, Kiana pun langsung pergi dari rumahnya dengan penuh kesedihan. Jika nanti hatinya sudah benar-benar pulih, dia pasti akan kembali. Hanya saja, entah dia akan kembali pada Arya atau bukan.


Beberapa jam setelah Kiana pergi, ternyata Kinaya dan Ray kembali ke rumahnya bersama Nira. Nira ingin bertemu dengan Kiana.


“Assalamu'alaikum Bunda... Ray pulang!” Pekik Ray kesenangan.


Krik... Krik... Krik...


Hening. Tidak ada jawaban apapun. Mereka menjadi heran, termasuk juga Ray.


“Bunda ke mana? Kok gak ada siapa-siapa di sini?” Ray memperhatikan rumahnya ini, mencari sosok Kiana.


“Mungkin Bundanya lagi tidur, coba dilihat sama Ray.” Seru Nira dan Ray langsung pergi ke kamar Kiana.


Masih sama, Ray tidak menemukan Kiana dan itu membuatnya jadi menangis kencang, sampai Kinaya juga Nira panik dan berlari menuju Ray.


“Ray kenapa sayang? Ada apa?” Sahut Nira memeluknya.


“Bunda enggak ada... Bunda pergi ninggalin hiks Ray... Bunda di mana?” Ray menangis sesenggukan.


“Ha? Masa Bunda ninggalin kita. Bunda kan sayang sama kita.” Bantah Kinaya.


Tapi tunggu...


Kinaya berpikir.


Bagaimana jika ucapan Ray itu benar kalau Kiana pergi meninggalkan mereka? Hari ini kan Kiana pergi dengan Anita untuk membongkar rahasia Arya. Lalu bagaimana jika akhirnya Kiana meninggalkan mereka? Karena di drama yang sering Kinaya tonton bersama Anita, akhirnya sering seperti itu. Istri pertamanya pergi karena sudah tersakiti oleh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2