
4 tahun kemudian...
Tidak terasa bagi mereka, ternyata bisa melalui pernikahannya selama ini sampai sekarang. Mereka —Arya dan Kiana— sungguh tidak menyangkanya.
Meskipun sudah hidup bersama dalam beberapa tahun ini, tetap saja kehidupan rumah tangga mereka sama seperti yang lainnya yang pasti didatangi oleh masalah.
Di saat orang-orang membenci masalah, mereka justru menyukai masalah. Baginya, masalah berguna sebagai bumbu kehidupan mereka untuk menjadi kuat dan lebih kuat lagi dalam menjalani kehidupan yang nanti pasti akan didatangi kembali dengan masalah yang mungkin saja bisa lebih besar dari sebelumnya.
Bukan hanya sebagai bumbu, tapi masalah juga bisa berguna sebagai pengerat hubungan di antara mereka. Ibarat hidup, kalau tidak dapat masalah itu layaknya makan sayur tanpa garam, hambar rasanya.
Maka dari itu, rubahlah pola pikir kita. Anggap kalau masalah itu bisa menjadi penguat hidup kita. Karena jika tidak ada masalah, mungkin kita tidak akan kuat untuk menghadapi kejamnya dunia ini. Bahkan bisa saja dunia itu lebih kejam dari masalah kita. Itu hanya menurut mereka, entah menurut orang lain.
Ngomong-ngomong soal masalah, saat ini juga mereka terkena masalah. Masalah mengenai kepercayaan.
Akhir-akhir ini Kiana menaruh rasa curiga pada Arya. Sekarang, suaminya itu berubah secara tiba-tiba.
Perubahan Arya ini sudah berlangsung kira-kira sekitar 7 bulan yang lalu. Entah ini hanya perasaan Kiana saja atau bukan, tapi Kiana merasakan jika Arya berubah. Dari mulai sikapnya pada Kiana juga anak-anak.
Arya semakin sering menghabiskan waktunya untuk bekerja daripada bersama keluarganya, sekalipun itu di hari libur. Padahal Kiana dan anak-anaknya sudah merindukan waktu kebersamaan mereka seperti dulu.
Apakah tidak ada satu hari pun bagi Arya sempatkan libur untuk bersama dengan keluarganya? Dulu biasanya Arya bisa, lalu kenapa sekarang tidak bisa? Apa ada masalah dengan pekerjaannya?
Atau mungkin...
Laki-laki itu sudah tidak menyayangi keluarganya, makanya dia selalu menolak untuk bersama mereka?
Hari ini adalah hari libur, Kiana baru saja menyiapkan sarapan paginya.
Kiana melihat Arya sudah rapi dengan pakaiannya, seperti orang yang akan pergi.
Pikiran Kiana mulai bertanya-tanya. Mau ke mana suaminya sepagi ini sudah rapi? Apa mau bekerja? Tapi kenapa dia masih bekerja di hari libur ini? Karena setahunya, Arya tidak ada jadwal mengajar atau pergi ke kantor di hari ini.
Tapi kalau memang iya Arya akan bekerja, keterlaluan sekali laki-laki itu. Di saat yang lain sibuk menghabiskan waktunya bersama keluarga, dia justru malah menghabiskannya dengan bekerja.
Niat Kiana yang akan mengajak Arya pergi ke luar pun langsung ia urungkan karena tahu Arya sudah mempunyai kegiatan lain di hari ini.
Arya sibuk terburu-buru, sampai lupa tidak menyapa Kiana. Untuk pagi ini laki-laki itu belum menyapanya dari awal bangun tidur sampai sekarang.
“Mas gak sarapan dulu?” Tegur Kiana.
Arya menoleh sekilas dan menggeleng, “gak, aku buru-buru.” Arya lanjut berjalan kembali.
Kiana tidak mau Arya kelaparan. Untung saja dia sudah menyiapkan bekal makanan yang sebenarnya dia buat untuk acara piknik mereka hari ini. Tapi karena pikniknya tidak terlaksana, jadi ya sudah buat Arya saja itu bekalnya.
Dia mengambil bekal makanan itu dan berlari mengejar Arya yang berjalan. Kiana mencekal tangan Arya.
Arya menjeda kegiatan berjalannya dan menatap Kiana seolah berkata 'ada apa?'
__ADS_1
Kiana memberikan bekal makanannya pada Arya, “ini, aku udah siapin bekal makan buat Mas. Nanti dimakan, aku gak mau Mas kelaparan.” Kiana tersenyum.
Arya tersenyum kaku dan menerimanya, “makasih.”
“Oh iya, Mas hari ini pulang jam berapa? Malem banget gak? Soalnya aku sama anak-anak mau ke pasar malam yang deket rumah itu. Udah lama kita gak keluar bareng.”
Arya menatap dengan rasa bersalah, “maaf ya, aku sibuk hari ini. Sekarang juga harus ke Anita dulu ada urusan, terus pulangnya ada rapat penting di kantor.”
Kiana terpaksa tersenyum, “oh, begitu ya. Ya udah gapapa, biar kita bertiga aja yang perginya. Tapi nanti Mas pulangnya agak sorean ya, jangan kemalaman kayak biasanya.”
“Nanti aku usahakan kalau bisa.”
Kiana mengangguk, “iya, makasih.”
“Kalau begitu, aku pergi ya.”
Gerak tangan Kiana yang akan mencium tangan Arya berhenti karena Arya langsung saja pergi meninggalkannya, tanpa mencium kening Kiana. Padahal dulu itu sudah menjadi kebiasaan Arya sebelum berangkat ke mana pun. Kenapa Arya jadi berubah begini? Ada apa dengannya?
Kamu kenapa berubah Mas? Apa hal yang membuat kamu berubah? Aku rindu kamu yang dulu.
Meskipun tadi tidak ada hal yang mencurigakan dari Arya, tapi Kiana harus memastikan ucapan Arya itu dengan menanyakan pada Anita. Ada urusan apa di antara mereka sampai Arya harus datang ke rumahnya?
Kiana menghubungi Anita melalui sambungan telepon dan terhubung. Tidak lama, Anita menjawab panggilannya itu.
“Assalamu’alaikum. Ada apa Ki nelpon pagi-pagi gini?” Sahut Anita.
“Wa'alaikumsalam. Eh Mas Arya hari ini mau ke rumah lo?”
Ada apa ini? Arya membohonginya? Kenapa?
Kamu bohong Mas! Kenapa kamu ngelakuin ini? Apa yang sedang kamu sembunyikan dari aku?
“Oh, begitu. Ya sudah, makasih ya.”
“Ada apa?! Kalian ada masalah? Cerita coba sama gue coba kalau ada masalah.”
Kiana mencoba tersenyum walau hatinya sakit, “enggak kok. Hubungan kita baik aja, tidak ada masalah seperti yang lo pikirkan tadi.”
Iya, tidak ada masalah atau mungkin belum ada karena faktanya belum terbongkar, batin Kiana.
“Syukur deh kalau begitu, gue takutnya kalian ada masalah.”
“Udah ya Nit, gue tutup teleponnya. Assalamu'alaikum.”
“Ya, gapapa. Wa'alaikumsalam.”
Kiana sangat ingin memaki Arya yang sudah membohonginya. Tapi tunggu, sebelum memakinya, Kiana harus mencari tahu dahulu apa alasan laki-laki itu berani sekali membohonginya.
__ADS_1
Tapi di satu sisi, otak Kiana mulai berpikir aneh, apa Arya melakukannya karena dia memiliki perempuan lain selain dirinya? Tapi ah mana mungkin, Arya sudah bilang padanya kalau dia tidak akan mengkhianatinya.
Sudahlah, Kiana tidak ingin terlarut dalam pemikiran negatif ini tanpa adanya bukti. Lebih baik dia segera bersiap pergi bermain bersama anak-anaknya yang lucu.
Hingga tibanya malam hari, Arya ternyata kembali juga. Padahal anak mereka sudah menunggunya begitu pun Kiana, bahkan sampai memasakan makanan kesukaan Arya demi menyenangkannya. Tapi sekarang sia-sia sudah makanan buatannya itu dan harus dibuang. Karena suaminya juga tidak pulang jadi siapa yang akan memakannya.
Kiana menunggu kepulangan. Dia penasaran dengan kepulangan Arya, kali ini apa alasan yang akan laki-laki itu ucapkan atas keterlambatannya? Apakah dia akan berbohong lagi atau tidak? Hmm sepertinya tidak. Tidak salah lagi Arya pasti akan berbohong. Alasan pergi saja berbohong, pasti kembali pun berbohong juga.
Sebagai seorang istri yang berbakti pada suaminya, Kiana setia menunggu Arya sambil menonton TV. Hingga tepat jam 11 malam, Arya baru saja kembali ke rumah dengan wajah lelahnya.
Arya datang dan tersenyum melihat Kiana ada di depannya.
“Assalamu'alaikum.”
Kiana bangkit mendekati Arya, “wa'alaikumsalam. Kenapa baru pulang?”
Arya tersenyum kaku, “maaf, tadi ada kepentingan mendadak.”
“Emang kepentingan kamu itu sepenting apa Mas sampai jam segini baru pulang?”
“Ya itu penting banget pokoknya.” Jawabnya singkat lalu mengganti topik obrolan, “kamu kenapa belum tidur?”
“Nunggu kamu lah. Buat apa aku begadang gini kalau bukan nunggu kamu.” Kiana sangat sewot pada Arya, habisnya dia kesal sih.
“Lain kali jangan begadang ya kalau aku pulang larut malam.”
“Makanya hubungin aku, kasih tahu kalau mau pulang malam tuh, supaya aku gak perlu begadang kayak gini.”
“Iya maaf, nanti gak bakal lagi.”
“Tadi urusan sama Anitanya gimana? Udah beres?”
“Hah? Oh itu... iya udah kok, udah beres.” Wajah Arya berubah, cukup terlihat kalau laki-laki itu sedang berbohong.
Bohong! Nyatanya kamu gak ada urusan sama Anita!
“Kamu udah makan?” Tanya Kiana.
“Udah tadi sama temen, pas pulang rapat.” Balas Arya.
“Oh, kirain belum, padahal aku udah masakin makanan kesukaan kamu. Kalau begitu, aku mau buang dulu masakan aku ya, udah basi.” Nada suara Kiana terdengar sinis di telinga Arya.
“Eh jangan. Mending aku makan aja, daripada dibuang mubazir.” Cegah Arya.
“Katanya sudah makan.”
“Lapar lagi aku.” Arya cengengesan sambil menepuk perutnya yang terasa lapar.
__ADS_1
“Ya udah tuh makan di dapur. Kalau sudah dingin, panasin aja. Aku mau tidur.”
Kiana langsung meninggalkan Arya dengan acuhnya. Dia sudah masa bodo pada suaminya itu. Rasa kesalnya masih ada dalam hatinya.