
Wajah Arya termenung di kamarnya sendiri. Dia merasa sakit saat orang-orang tersayangnya meninggalkannya karena kesalahannya. Padahal sebenarnya, Arya terpaksa melakukan hal bejad itu demi menolong nyawa seseorang.
Arya bangkit menuju meja rias yang selalu dipakai Kiana dan duduk di kursinya. Di meja itu, dia menemukan sepucuk surat yang cukup menarik perhatiannya. Dia mengambil surat itu dan membukanya.
Betapa terkejutnya Arya saat dia membaca surat tersebut yang ternyata dari istrinya, Kiana.
Assalamu'alaikum Mas.
Sebelumnya aku minta maaf karena sudah pergi tanpa izin dari kamu. Tapi tanpa aku jelaskan semuanya pun, kamu juga pasti tahu apa alasan aku pergi.
Jujur, aku tidak percaya dengan semua yang sudah terjadi di antara kita saat ini. Termasuk pengkhianatan yang sudah kamu lakukan bersama dia untukku.
Kamu tahu Mas, aku selalu percaya sama kamu. Percaya dengan perkataanmu dan yang lainnya. Tapi kenapa, kepercayaan yang aku kasih malah kamu rusak?
Kenapa kamu bohong padaku? Kenapa kamu khianati aku? Dulu kamu berjanji kalau kamu akan selalu cinta aku dan di hati kamu hanya ada aku seorang, tapi nyatanya kamu bohong Mas! Kamu malah mengingkarinya!
__ADS_1
Kenapa Mas? Kenapa kamu cari perempuan lain selain aku? Apa menurut kamu, aku ini kurang cukup?
Demi dia, kamu sampai bohong sama aku, kamu lebih pilih dia daripada keluarga kamu sendiri, kamu juga malah nikahin dia tanpa izin dari aku, bahkan sekarang tahu-tahu dia sudah bunting gede aja.
Sebenarnya kamu ini anggap aku siapa kamu Mas? Istri kamu? Atau hanya perempuan penyimpan benih kamu saja?
Tapi ada hal yang lebih buat aku sakit Mas, waktu aku tahu kalau dia itu ternyata teman baik aku yang juga mahasiswa kamu dulu.
Sekalipun aku sudah tahu hubungan kalian, tapi maaf aku tidak mau berbagi Mas. Aku hanya mau miliki kamu seorang. Kalau kamu mau bilang aku perempuan yang egois, silahkan. Karena memang nyatanya aku egois. Seperti yang dulu pernah kamu bilang sama aku.
Oh iya, selama aku pergi, tolong jaga anak-anak ya. Beri mereka perhatian juga kasih sayang kamu, jangan hanya Afriani saja yang diberi. Kinaya dan Ray juga harus diberi. Mereka rindu kamu yang dulu Mas, begitu juga aku. Aku rindu kamu yang dulu, sebelum datangnya Afriani ke kehidupan kita.
Mungkin sampai sini kata pamit aku. Meskipun kamu sudah sakiti aku, aku masih tetap cinta kamu kok. Jaga kesehatan dan makannya ya, juga jaga anak-anak. Aku di sini bakal baik-baik aja kok.
Dari istrimu,
__ADS_1
Kiana Anuradha Widjaya.
Bodoh! Arya memang bodoh malah menyia-nyiakan keluarganya. Dia malah terlalu sibuk dengan Afriani.
Kalau kamu tidak bisa berbagi dengan dia, lalu kenapa kamu pergi Kiana? Setidaknya bertahan lah di sini walau sebentar, bawa aku kembali dan kasih aku kesempatan untuk jelaskan semuanya. Batin Arya.
Arya mengeluarkan tangisannya setelah membaca surat itu. Bagaimana mungkin dia tidak menangis jika ditinggal oleh orang terkasihnya. Pikirannya sudah kacau. Tidak tahu harus berbuat apa. Ke mana dia harus pulang jika keluarganya yang dia gunakan sebagai alasan untuk pulang kecewa padanya dan pergi meninggalkannya.
Laki-laki itu termenung memikirkan di mana keberadaan istrinya sekarang, mirip seperti orang yang tidak memiliki arah tujuan.
Kamu di mana Kiana? Ke mana kamu pergi? Tolong kembali segera. Maafkan aku.
Setelahnya, Arya langsung mengacak-acak rambutnya dan meremasnya kuat-kuat sebagai pelampiasan amarahnya, dia sudah frustasi akan masalahnya ini.
“Arrggghhhhh.....” Pekik Arya menjambak rambutnya lalu menyandarkan punggungnya pada kursi. Wajahnya ia tutup dengan tangannya.
__ADS_1
Bodoh! Gue bodoh malah mementingkan perempuan lain dibanding istri dan keluarga gue sendiri!