Our Fault

Our Fault
Bagian 14 - Tidak Diinginkan


__ADS_3

Hari ini waktunya bagi Kiana untuk pulang. Pulang ke rumah orang tuanya lebih tepatnya, bukan rumahnya bersama Arya.


Sesampainya di rumah, Kiana langsung berbaring mengistirahatkan dirinya di kamar.


Kiana baru menyadarinya, kalau sekarang kamarnya sudah penuh dengan perlengkapan bayi, seperti lemari, ranjang, dan beberapa barang lainnya. Semuanya hampir dipenuhi dengan barang-barang milik makhluk kecil itu. Sepertinya keluarga Kiana sudah mempersiapkan semua ini sebelum Kiana ke sini. Mereka sangat antusias pada bayi Kiana ini, terutama Nira.


“Ki, Kinaya  kamu kasih ASI dulu, dia nangis terus dari tadi.” Nira berjalan mendekati Kiana.


Kinaya Sheeva Malayeka. Nama lengkap dari bayi yang sudah Kiana lahirkan. Arya juga Kiana selaku orang tua bayi baru lahir itu memberikan nama tersebut sesuai dengan keinginan mereka.


“Enggak mau! Kasih dia susu formula aja Mah atau cari ibu susuan aja.” Acuh Kiana yang masih berbaring.


“Kiana, kok kamu begitu? Kinaya ini anak kamu sayang.” Bujuk Nira.


Kiana bangun untuk menimpali omongan Nira,”terus kalau dia anak Kiana kenapa? Mamah mau nyalahin Kiana gara-gara Kiana gak mau kasih dia ASI? Silahkan aja Mah, Kiana gak peduli. Toh karena bayi sialan itu, Kiana hampir aja mati. Mamah lebih pilih mana Kiana atau bayi itu yang nyebabin Kiana hampir mati?” Kiana menunjuk ke arah luar kamarnya, yang dimaksudkan untuk Kinaya – bayinya.


Nira tercengang dengan perkataan Kiana tadi, matanya melebar.

__ADS_1


Lalu tak lama...


Plakk...


Nira menampar pipi Kiana.


Bersama dengan itu, Arya datang menghampiri mereka sambil membawa Kinaya di gendongannya. Dia buru-buru melerai aksi Nira itu. Takutnya Nira akan berbuat yang lebih dari itu pada Kiana, anaknya sendiri.


“Mah udah, jangan begitu.” Arya memegang tangan Nira.


Usai Nira pergi, Arya mendekati Kiana yang tiba-tiba menangis terisak.


Kiana lama menangis, tapi akhirnya ia bersedia juga menyusui Kinaya karena Nira. Dia tak ingin menyakiti hati Nira.


Arya diam memperhatikan Kiana yang fokus pada Kinaya. Baginya, ini sungguhlah pemandangan yang indah, lebih indah dari hal lainnya, melihat kebersamaan antara Kiana dan Kinaya, dua perempuan yang kini menjadi harta berharganya. Arya baru menyadari jika nama istri dan anaknya itu ternyata mirip.


Sudah merasa kenyang, Kinaya tetap saja tidak tidur. Kiana melihat wajah Kinaya yang sedang membuka matanya pada Arya, membuat Kiana juga menatap Arya.

__ADS_1


Kiana melirik pada Arya juga Kinaya beberapa kali. Kenapa dia baru sadar jika wajah Kinaya juga Arya ini mirip?


“Mukanya mirip Kakak ya. Matanya juga, sipit.” Kiana terkekeh menatap Kinaya.


“Hahaha, iya ya. Tapi aku sipit gini juga ganteng, Ki.” Arya ikut terkekeh, “ya kan, sayang?” Arya bertanya pada Kinaya lalu mencium pipinya yang tembam.


“Iya deh. Narsisnya mulai duh.” Sindir Kiana.


Mereka lanjut mengobrol berdua sampai ada manusia yang masuk ke dalam kamar. Dia Fabian datang bersama Fiska sambil membawa hadiah, sepertinya itu hadiah untuk Kinaya.


“De! Itu bayinya? Bayi kamu sama Arya?” Fabian bertanya dengan suara kerasnya yang mengagetkan semuanya di sini, termasuk Kinaya. Bayi itu tidak tertidur, justru dia terkaget dengan menggedikan tubuhnya lalu menangis begitu kencang.


“Lo datang bukannya ngucap salam biar damai atau apa, malah buat anak orang nangis. Haduuhh.” Keluh Arya.


“Kamu sih ah, kasihan tuh Kinaya jadi nangis.” Fiska membenarkan omongan Arya tadi sambil memukul tangannya.


“Maaf. Habisnya aku baru lihat keponakan aku ini, sayang. Aku kan baru pulang dari Semarang.” Fabian memperjelas semuanya supaya dia tidak terkena salah.

__ADS_1


__ADS_2