
6 bulan kemudian...
Kiana baru saja menidurkan Ray ke tempat tidurnya. Bayinya sekarang sudah menginjak usia 6 bulan. Tumbuh kembang bayi itu cukup baik, sekarang juga sudah mulai bisa merangkak. Menggemaskan kalau Kiana melihatnya.
Tadinya Kiana akan tidur, tapi karena kelaparan jadi dia menahan dulu rasa kantuknya itu.Baru saja menutup pintu kamarnya, Kiana langsung dikejutkan dengan kedatangan Arya yang tiba-tiba di hadapannya.
“Astagfirullah! Kamu ih! Bikin aku kaget aja! Jangan muncul tiba-tiba coba, kayak setan tahu!” Kiana memukul lengan Arya, “untung aku gak punya riwayat penyakit jantung. Gimana kalau iya? Berabe nanti. Siapa coba nanti yang bakal ngurusin kalian?”
Arya tak menanggapi ucapan Kiana dan justru malah mencium keningnya, “maaf, pulangnya malam. Tadi ada rapat dekan lama banget. Terus ada mahasiswa yang bimbingan skripsi juga.”
“Iya, gapapa kok.” Kiana tersenyum dan mengambil tas kerja Arya, “kamu mau mandi dulu, makan, atau istirahat?”
“Mandi aja, pake air hangat ya, terus makan.”
“Okeh. Aku siapin ya.”
“Anak-anak udah pada tidur?” Arya bertanya saat dia sedang membuka jasnya.
“Udah dari tadi kali Pak Bro.”
“Kirain belum tidur, biasanya kan belum. Aku kangen sama mereka.”
“Mereka kecapean makanya sekarang udah tidur, tadi dibawa Anita sama Kak Eshan maen.”
“Oh, gitu.”
“Udah sana buruan, kamu mandi.” Kiana mendorong Arya menuju kamar mandi mereka, “nanti aku siapin bajunya.”
Sekitar 15 menit kemudian, Arya selesai menyegarkan tubuhnya. Dia keluar dari kamar mandi dengan baju piyamanya dan rambutnya yang masih basah.
“Makan dulu gih, makanannya udah aku siapin di meja.”
“Ya udah, aku makan dulu. Oh iya, nanti ambilin buku materi aku yang ada di tas kerja ya. Ada kerjaan penting yang belum aku selesaikan.”
“Ok syiap Paduka sayang, nanti dibawa kok.” Kiana membentuk jarinya berbentuk huruf o.
Arya pun pergi ke ruang makan dan Kiana menyiapkan apa yang Arya suruh tadi.
Kiana membuka tas kerjanya Arya dan menemukan buku yang dimaksud itu. Tapi ada satu hal lagi yang dia temukan. Kotak perhiasan, yang sepertinya isinya cincin.
Tidak sengaja Kiana membuka kotak itu. Benar ternyata, kotak perhiasan itu isinya cincin. Cincin berlian yang sederhana, namun cantik menurutnya.
Seketika Kiana berpikir, untuk siapa Arya membeli cincin itu? Apa untuk dirinya? Ibunya? Anita? Atau mertuanya? Atau juga untuk Ilsa?
Wah wah wah... Kalau iya itu untuk Ilsa, Kiana akan mengusir Arya jauh-jauh dari rumah. Beraninya laki-laki itu memberikan pada Ilsa, sedangkan padanya tidak.
Daripada kelamaan berburuk sangka, lebih baik Kiana tunggu Arya kembali saja dan minta penjelasan langsung padanya.
Tidak lama hanya 6 menit, akhirnya yang Kiana tunggu balik juga.
“Bukunya udah aku simpen tuh di deket laptop.” Sahut Kiana.
“Oke, makasih.” Arya berjalan untuk mengambil buku itu.
“Mas?” Tegur Kiana.
Semenjak mereka kelahiran Rayyan, Kiana merubah panggilannya pada Arya. Dulu dia memanggilnya ‘kakak’ sekarang berubah menjadi ‘Mas’, semua ini karena Arya yang meminta. Katanya laki-laki itu ngin panggilan yang romantis dari Kiana.
“Apa?” Arya menoleh pada Kiana.
Kiana mengambil kotak perhiasan tadi, “ini punya kamu? Buat siapa ini?”
“Oh, itu.” Arya melihat benda itu sekilas dan fokus pada bukunya, “ya, itu punya aku. Tadi mampir ke toko perhiasan beli itu buat kamu, sebagai tanda lamaran. Takutnya kamu mau dilamar kayak si Anita, yang dikasih cincin sama Eshan.”
Melamar? Melamar kok sikapnya seperti itu sih? Sama sekali tidak ada romantisnya. Kalau dibandingkan dengan Eshan, ya masih jauh lah. Masih tetap Eshan yang bakal menangnya.
“Mas, sini coba.” Kiana menggerakkan tangannya.
“Apa lagi Ki?”
“Udah, sini dulu aja.” Kiana masih menyuruh dan membuat Arya mendengus kesal, tapi juga menuruti perintahnya.
__ADS_1
Jarak mereka sudah dekat, Kiana langsung melakukan aksinya. Menjewer telinga Arya dan mengomelinya.
“Kamu jadi cowok mana romantisnya sih?! Bilangnya tadi sebagai tanda lamaran! Mana ada coba lamaran begitu. Kalau dibandingkan sama Kak Eshan, masih mendingaan dia daripada kamu! Kamu sama sekali gak ada
romantisnya! Sebel aku jadinya. Kalau gitu, mending gak usah lamar aku, langsung resepsi ajalah kita.”
Kiana mengomeli Arya dengan cepat tanpa jeda sama sekali, sementara Arya menikmati saja omelan istrinya itu. Mending istrinya ngomel, daripada merajuk, bahaya kalau istrinya merajuk, nanti dia tidak akan dapat jatah lagi. Maksudnya jatah makan, jatah istirahat, jatah main juga, jangan salah fokus ya.
Arya menarik nafasnya dalam-dalam, “terus kamu maunya apa? Coba bilang. Aku kan bukan cowok yang mudah peka.”
“Tadi aku ngomel tuh, kodein kamu tahu. Gak ngerasa emang?” Dengan polosnya Arya jawab dengan gelengan.
“Subhanallah sekali ya Allah, punya suami macam begini. Harus banyak sabar hayati.” Kiana terpaksa tersenyum walau sebenarnya dia kesal.
“Udah, aku ngantuk mau tidur.” Kiana melangkahkan kakinya menuju ranjang.
Kiana baru saja melangkah, tapi...
Grep...
Arya memeluknya dari belakang tanpa Kiana duga. Perlakuan Arya itu membuat Kiana diam dan tidak tahu apa yang akan suaminya itu lakukan sesudahnya.
“Maaf, aku gak bisa seromantis Eshan sesuai kemauan kamu. Kamu kan tahu aku orangnya kaku, gak biasa melakukan hal romantis begitu.”
Tiba-tiba Arya memetik bunga yang ada di kamar dan memberikannya ke hadapan Kiana.
Aksi Arya tadi berhasil membuat Kiana naik darah,bmemelototkan matanya akan marahi Arya. Berani sekali dia memetik bunga itu. Tak tahukah Arya kalau itu bunga kesukaannya? Bunga itu sudah Kiana rawat dengan penuh cinta.
“Kamu ngapain metik bunga itu?! Itu tuh bunga kesayangan aku tahu! Harganya mahal, perawatannya juga.” Kiana mengomelinya.
Arya mengarahkan jari telunjuknya di depan bibir Kiana, memintanya untuk diam, “gapapa, nanti uang belanjaan kamu aku tambahin
buat bunga itu.” Arya lanjut menggenggam tangannya.
“Mungkin ini terlambat buat kamu, tapi aku mau ngungkapin perasaan aku sekarang.” Arya menatap Kiana penuh dengan cinta.
“Kiana Anuradha Widjaya, maaf aku terlambat
adalah perempuan terbaikku, penyemangat hidupku, harta berhargaku, juga sumber
kebahagiaanku. Terima kasih sudah mau nerima aku jadi suami kamu, dan ngasih
aku dua malaikat yang lucu-lucu. Aku beruntung dan bersyukur bisa punya kamu
dan ngejadiin kamu teman hidup aku. Aku selalu berdoa, semoga kita bisa jadi pasangan di surga juga dan kembali bersama nanti di sana bersama malaikat kita.”
“Mungkin kalau soal ngoreksi skripsi aku cukup jago, tapi kalau soal ngungkapin rasa cinta dan bersikap romantis, maaf aku kurang
ahli. Jadi tolong maafin suami kamu ini atas segala kekurangan yang dimilikinya ya. Walaupun aku gak romantis, tapi aku akan selalu setia sama kamu dan keluarga kecil kita.”
Cuuup...
Pernyataan Arya itu diakhiri dengan ciuman di kening Kiana. Arya sungguh hebat! Marvelous kalau kata si Jarjit yang ada di serial kartun Upin Ipin. Katanya tidak bisa romantis, tapi kenapa bisa membuat Kiana menangis gara-gara ucapannya itu? Kiana tidak percaya kalau suaminya bisa berkata seperti tadi dan terharu. Suaminya memang manusia yang tidak biasa.
Kiana langsung berhambur memeluk Arya setelahnya dan menangis di dadanya. Masih membekas dalam hatinya rasa terharu itu.
“Maasss....” Ucap Kiana sambil menangis.
Arya bingung kenapa Kiana menangis? Padahal dia kan tidak mengucapkan kalimat yang sedih, justru hanya kalimat yang langsung dari lubuk hatinya.
“Kenapa nangis?” Arya menangkup pipinya dan mengusap air mata yang mengalir itu.
“Maaf, aku udah nuntut kamu buat jadi romantis kayak Kak Eshan. Padahal kamu kan gak bisa. Maaf juga aku belum menerima semua kekurangan kamu itu, padahal kamu udah menerima kekurangan aku.” Tutur Kiana merasa tidak enak.
“Aku juga makasih, kamu mau milih aku yang masih petakilan sama kekanakan ini, padahal udah punya anak dua. Kayaknya di sini yang banyak salahnya itu aku deh, Mas kan udah sempurna dalam hal apapun, beda sama aku yang kayak gini, maaf ya.” Sesalnya.
“Hey, kamu berhenti bilang kayak begitu. Kita itu sama-sama punya kekurangan dan kelebihan. Contohnya kamu petakilan, aku yang santainya. Kamu yang cerewet, aku yang diem. Kamu yang males, aku yang rajin.
Terus aku yang pinter, kamu yang kurang pinter.” Ledek Arya dan tertawa mengejek.
“Maasss ihhh!!!” Kiana mencubit perut Arya.
__ADS_1
“Aduuuh... Sakit sayang...”
“Kamu ngomongnya gak enak banget ih ujungnya! Eh semuanya deh gak enak. Berasa aku yang paling jelek sikapnya tahuuu.” Kiana
merajuk.
“Gapapa, jelek begini juga udah punya suami yang sempurna ini.” Arya terkekeh menggodanya.
“Tuh kan mulutnya suka nyebelin. Kayaknya harus difilter pake pure it dulu deh ini mulut kamu sama air ludahnya biar manis semanis air Le Mineral.” Kiana mencubit kesal bibir Arya dan tersenyum lebar.
“Oh boleh boleh. Nih mulutnya ambil.” Arya
mengarahkan bibirnya pada Kiana yang langsung kena pukul Kiana.
“Ya ampun kamu, sama suami sendiri jangan begini. KDRT nih namanya.” Arya memegangi bibirnya yang kesakitan sudah dipukul Kiana.
“Udah ah. Mending buruan nih pakein cincinnya di jari aku cepetan.” Kiana memberikan kotak perhiasan yang dipegangnya tadi, lalu mengarahkan tangan kanannya.
“Iya iya. Sabar dong adik Kiana yang cantik.” Arya menerima kotak perhiasan itu dan menarik tangannya.
Arya memakaikan cincin yang dibelinya tadi di jari tangan Kiana tentunya, bukan jari tangan perempuan lain.
Kiana memperhatikan cincin tersebut sambil
tersenyum.
“Gimana cincinnya? Kamu suka?” Arya menatap Kiana.
Dengan mengangguk senang, Kiana menjawab, “iya, aku suka. Cincinnya sederhana, tapi cantik kok.” Kiana kembali memperhatikan cincin itu.
Arya membalas senyuman itu, “syukur kalau kamu suka.”
“Kalau aku ngadain resepsi pernikahan kita. Kamu mau gak?”
Kiana mendongak menatap Arya, “kamu ada uangnya emang? Kalau kata aku gak usahlah, mending uangnya pake buat kehidupan kita aja.”
“Kamu jangan remehin aku ya, gini-gini juga aku punya banyak uang di ATM, terus tabungan juga punya.” Bangga Arya.
Kiana mendelik lalu mencubit perut Arya keras, hingga keluar rintihan kesakitan Arya, “jadi manusia itu gak boleh sombong dong, mentang-mentang banyak duit jadi belagu.”
“Nih ya, kalau semisalnya kita bikin resepsi, nanti kita harus siap ribet Mas. Harus nyebar undangan, nyiapin dekorasi, belum gaun,
terus kateringnya juga. Kalau kita ngurusin itu, nanti anak-anak mau diurusin sama siapa? Masa mau dititip ke orang tua kita? Gak malu apa waktu sebelum nikah kita udah nyusahin mereka, masa sekarang pas udah nikah masih juga tetep nyusahin.”
Arya tersenyum mengelus punggung Kiana, “sabar sabar, jangan ngomel mulu. Gak capek apa ini bibir ngunyemin kata-kata terus dari tadi.” Arya mencubit bibir Kiana gemas.
“Ya abisnya kamu nyebelin, ngegampangin aja semuanya.”
“Kamu tenang aja, aku udah urusin semuanya kok. Nanti resepsinya bakal diadain bulan depan. Kamu siap-siap ya, gak cantik di depan para tamu juga gapapa, yang penting cantik depan aku aja. Karena hanya aku yang boleh lihat cantiknya kamu itu bagaimana.”
“Hah?! Kok gak bilang sama aku dulu sih?! Kamu pake uang dari mana buat ngurusin semua itu? Jangan-jangan ngutang lagi ke bank atau rentenir, atau juga minjem duit ke Kak Bian. Dih aku gak mau ya kalau kayak gitu. Mending gak usah diadain aja.”
“Tenang, aku pake uang tabungan aku kok. Dari waktu sebelum nikah, aku udah nabung buat semua itu.”
“Oh gitu, kirain ngutang. Bagus deh kalau pakai uang tabungan kamu.”
“Kamu gak bakal bilang terima kasih ke aku?”
“Buat apa?”
“Aku kan udah nyiapin semuanya sendiri demi kamu.”
“Lah siapa suruh kamu nyiapin semuanya sendiri? Aku enggak nyuruh lho.”
“Aku kan ngelakuin ini bikin kejutan buat kamu. Sedih aku tuh, pas aku romantis, kamunya jutek.” Keluh Arya menunduk lesu.
Kiana sebenarnya cukup senang dengan kejutan Arya itu. Tapi dia menutupi semua rasanya untuk menjahili Arya.
Tidak terduga, Kiana tiba-tiba mencium pipi Arya dan menangkupnya, “suami, makasih atas kejutannya, aku suka. Sederhana tapi romantis.” Kiana tersenyum.
Apa?! Sederhana? Ngurusin acara itu sendiri sederhana? Terus hal yang luar biasa menurutnya itu apa? Bingung gue sama ini cewek, untung cinta.
__ADS_1
Sederhana, tapi romantis. Gue suka itu.