Our Fault

Our Fault
Bagian 45 - Demi Keluarga


__ADS_3

Hingga pagi hari tiba, Arya masih setia menunggu anaknya.


Si bungsu Ray sudah bangun, sedangkan si sulung Kinaya belum dan hal itu membuat mereka selaku orang tuanya merasa cemas.


“Ayah kenapa baru pulang sekarang? Ray kangen sama Ayah.” Ungkap Ray yang digendong di pangkuan Arya.


Arya tersenyum tipis, “iya, maaf ya Ayah baru pulang. Ayah sibuk.” Arya mengusap rambut Ray yang sedikit berantakan.


Kiana datang menghampiri mereka, dia baru saja ke luar membeli makan untuk mereka bersama Fabian yang sekalian pulang ke rumahnya.


“Kamu mau kerja sekarang? Ini makan dulu, maaf aku gak sempet pulang ke rumah buat masak.” Kiana menyimpan keresek hitam yang di dalamnya ada makanan ke meja.


Bibir Ray berubah menjadi cemberut dan wajahnya ditekuk seperti orang yang kesal mendengar Kiana perkataan itu.


“Ayah mau kerja lagi?” Tanyanya dengan raut wajah sedih, lalu memeluk leher Arya posesif, seperti tidak mengizinkannya untuk pergi darinya.


“Jangan! Ayah jangan kerja lagi! Ayah gak boleh kerja! Ray gak suka! Ayah harus temenin Ray di sini! Ray masih kangen Ayah!” Ray menatap Arya sedih.


“Ray sayang! Biarin Ayah kerja dulu ya Nak, kasihan Ayah takutnya kesiangan. Ray juga kan masih sakit, harus istirahat dulu di sini. Nanti Ayah juga ke sini lagi kok.” Kiana mencoba melepaskan Ray dari gendongan Arya, tapi Ray malah jadi menangis menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Arya.


Kiana sudah pasrah, tidak tahu harus membujuk anak itu dengan acara apa lagi, dia menghela nafas dan mundur.


“Iya, iya. Ray tenang ya, Ayah gak kerja kok. Ayah bakal di sini nemenin Ray.” Arya menenangkan Ray, mengusap punggung kecil itu.


Ray mengangkat wajahnya menatap Arya dengan matanya yang berkaca-kaca, “Ayah beneran?” Arya membenarkannya dengan anggukan.


“Janji dulu.” Ray mengangkat jari kelingkingnya pada Arya.


Arya tersenyum tulus, mengerti akan maksud anaknya itu apa. Dia pun menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Ray, jari mereka pun bersatu melingkar.


“Sekarang Ray udah ya nangisnya, Ayah lebih suka Ray tersenyum. Coba Ray sayang senyum.” Arya menghapus air mata Ray.


Perintah Arya segera Ray laksanakan. Dia tersenyum manis sampai membuat orang tuanya gemas melihatnya.


“Tuh kan, Ray itu ganteng kayak Ayah kalau senyum.” Puji Arya mencium pipi Ray.


Jika Ray bahagia karena Arya tidak bekerja, Kiana justru bingung? Itu Arya serius dengan ucapannya atau hanya sebagai bujukannya saja agar Ray berhenti menangis?


“Kamu kenapa gak kerja?” Kiana bertanya setelah Arya berhasil menidurkan Ray ke ranjang.


“Aku cuti. Gimana aku mau kerja kalau anak-anak lagi pada dirawat kayak gini.”


“Tumben? Emang kamu bisa cuti? Biasanya juga disuruh masuk terus.”


“Ya... Itu sih... Karena... Emang gak bisa libur aja, banyak kerjaan ngedadak. Nah kalau sekarang kan anak aku lagi sakit, jadi aku bisa libur dulu.”


“Oh gitu... Sekarang di kampus ada kelas karyawannya ya Mas? Soalnya kamu ngajar sering sampai malam.”


“Iya, sekarang ada. Masuknya jam 7 malem keluarnya jam 10 malem. Makanya aku sampai rumah sering jam 11 malem.” Tutur Arya sama sekali tidak berbohong, dia memang jujur mengatakan hal itu.


“Itu jadwalnya hari apa aja?”


“Senin-Kamis.”

__ADS_1


Kalau jadwalnya hanya hari itu, terus kenapa hari lainnya kamu sering pulang malam? Apa alasannya?


“Tapi kok kenapa tiap hari ya kamu pulang ke rumahnya sering malem banget?”


“Oh itu... Aku ada jadwal bimbingan skripsi sama mahasiswa lain, jadi pulangnya malem terus, ditambah lagi di kantor juga kan lagi banyak proyek baru.”


“Benar? Serius? Kamu gak bohong kan? Gak ada yang kamu sembunyiin dari aku?”


“Sini, aku peluk kamu dulu.” Arya menarik pinggang Kiana untuk mendekat padanya.


Tingkah Arya itu membuat Kiana bingung. Laki-laki itu kenapa? Ditanya kok malah balas menyuruh, bukannya menjawab.


“Aku cinta kamu.” Bisik Arya menghirup aroma wangi rambut Kiana yang terikat.


Kamu mengalihkan pertanyaan aku Mas, berarti kamu bohong sama aku.


“Kamu bisa tahu kan jawabannya dari kalimat aku tadi?” Arya menatap mata Kiana penuh arti dan menangkup pipinya.


“Emang apa jawabannya?” Kiana pura-pura tidak mengerti.


“Jawabannya... Tentu aku gak bohong, karena aku cinta kamu istriku. Sekarang, nanti, dan selamanya.”


Kiana tersenyum saja menanggapinya, tapi hatinya berkata lain.


Bohong! Kamu pembohong! Walaupun cinta aku, tapi nyatanya kamu tetap saja bohong sama aku.


Di hari kedua anak mereka dirawat, Arya masih setia menunggu anaknya sembuh dan bisa pulang ke rumahnya. Bersyukurnya, Kinaya hari ini sudah terbangun dari tidurnya.


“Ayah, Ray mau pulang. Ray gak mau di sini, gak enak! Makanannya juga. Terus masa tangan Ray disuntik-suntik  mulu kayak gini sama susternya. Kan sakit Ayah, kasihan tangan Ray dikayak giniin.” Ray merajuk cemberut dan menunjukkan tangannya yang tertusuk jarum infus.


Ray bergidik ngeri sambil menutup mulutnya dan menggeleng, “ihh. Enggak mau! Ray gak mau lagi minum obat, obat rasanya pahit.” Kata Ray saat dia membuka mulutnya.


“Ya berarti kalau gak minum obat, berarti Ray gak mau sembuh dong?”


“Ray mau sembuh, tapi gak mau minum obat.”


“Ya kalau mau sembuh, harus sering diminum obatnya. Nanti kalau sembuh Ayah ajak Ray, Kak Naya, sama Bunda ke kebun binatang. Gimana? Mau gak?”


“Beneran? Ayah mau ngajak kita ke situ? Ya udah, Ray nanti mau minum obat deh.” Mata Ray berbinar tersenyum bahagia.


“Ayah gak usah bilang begitu sama kita kalau Ayah gak bisa menepatinya.” Kinaya yang sedari tadi duduk diam menyimak, membuka suaranya juga.


Arya menoleh, “Ayah benar kok, gak bakal bohong. Ayah sekarang ada waktu buat malaikat kecil Ayah ini.” Arya merangkul dua anaknya itu, tapi dilepaskan oleh Kinaya karena tidak suka perlakuan Arya itu.


“Udah ah, Naya mau tidur.” Kinaya langsung membaringkan tubuhnya di ranjang yang ia duduki.


Ray menegur Arya yang memperhatikan Kinaya lama, “Ayah, Ray mau jalan-jalan ke luar sama Ayah. Bosen di kamar terus.”


“Ok ayo, Ayah siap mengantar jagoan Ayah ini ke mana pun dia mau.”


Setelah Arya pergi membawa Ray ke luar, kini suasananya menjadi sepi, hanya tersisa Kiana yang duduk terdiam dan Kinaya yang pura-pura tertidur.


Kinaya membuka matanya setelah dua manusia berbeda usia itu pergi.

__ADS_1


“Nay? Kamu gak tidur?” Kiana melihat Kinaya yang terbangun.


Kinaya menoleh dengan tatapan sedih, “Bunda kenapa gak bilang sama Naya?”


“Maksudnya? Bilang soal apa?” Kiana bingung.


“Naya udah tahu kalau Ayah sama Bunda lagi ada masalah, dan masalahnya ada pada Ayah. Ayah punya perempuan lain selain Bunda, terus sekarang lagi hamil.”


Ok, Kiana harus biasa saja meskipun memang terkejut anaknya tahu masalahnya. Dia harus membuat drama supaya tidak ketahuan.


“Naya tahu itu semua dari siapa?” Tanya Kiana memastikan.


“Bunda harus tahu, sebenarnya Naya kecelakaan itu gara-gara Ayah. Pas waktu sebelum kecelakaan, Naya lihat Ayah lagi rangkulan berdua sama perempuan itu keluar dari toko kue.” Balasnya menjelaskan.


“Ha?! Naya kok bisa lihat mereka?”


“Naya gak sengaja lihat mereka waktu Naya lagi jalan pulang udah les, terus pas Naya nyebrang mau datangin mereka, merekanya malah udah pergi dan Naya malah ketabrak sama motor gara-gara gak lihat jalanan.”


“Ya ampun sayang... Kok bisa sih?! Maafin Bunda gak jemput kamu waktu itu. Ray lagi sakit soalnya.”bKiana sedih mendengarnya, tidak percaya dengan cerita Kinaya tapi memang itu kenyataannya.


Malang sekali nasib Kinaya, masih kecil sudah melihat orang tuanya seperti ini, lalu ayahnya melakukan hal bejad. Semoga saja kelak saat Kinaya menikah, dia tidak merasakan hal seperti ini.


Kinaya tersenyum memegang pipi ibunya. Kinaya bisa melihat mata ibu yang ia sayangi sudah mulai berair. Jadi menyesal dia menceritakan semua ini pada Kiana.


“Bunda jangan sedih, Naya masih di sini kok sama Bunda. Naya sayang Bunda dan akan bersama Bunda selamanya.” Kinaya menghapus air mata Kiana yang berlinang.


“Hmm, makasih sayang.” Kiana tersenyum memeluk sayang anak sulungnya sesekali mencium kepalanya lama, “Bunda juga sayang kamu, Nak.”


Sebenarnya kamu belum pantas buat tahu semua ini, tapi semuanya sudah terlambat.


“Kenapa ya Bun, Ayah berani ngelakuin itu sama Bunda dan cari perempuan itu? Naya benci Ayah Bun, Naya gak percaya sama laki-laki, mereka pembohong, cuma bisa ngomong janji doang.”


“Hus, Naya gak boleh bilang begitu. Walaupun Ayah seperti itu, tetap saja dia itu orang tua kamu, Ayah kamu. Kalau Ayah gak ada, Naya sama Ray juga gak bakal ada di dunia ini. Naya gak boleh benci Ayah ya, kita belum tahu apa alasan Ayah ngelakuin itu, dan gak semua laki-laki itu kayak Ayah juga, ada kok laki-laki yang baik, contohnya Kakek Wira, Kakek Danu, Om Bian, Om Eshan, Om Mino, Om Bani. Mereka baik kan?”


Kinaya tersenyum membenarkan, “Bunda bener, gak semua laki-laki itu sama.”


“Oh iya, Naya masih inget gak muka perempuannya Ayah itu gimana?”


“Hmm...” Kinaya berpikir mengingat kejadian waktu itu dan jawabannya gelengan kepala, “enggak Bunda.” Kinaya merasa bersalah.


“Kirain Bunda tahu, kalau tahu kan kita gak penasaran lagi.”


“Tapi kalau tahu, Bunda mau labrak dia kayak di sinetron-sinetron itu gak?”


“Ha?! Labrak? Buat apa? Unfaedah sekali, nguras tenaga sama waktu berharga Bunda aja. Mending kumupul sama temen daripada labrak itu pelakor.”


“Terus maunya diapain?”


“Dikasih selamat sama Bunda. Selamat sudah mengambil suami Bunda dan merusak keluarga kecil yang sudah Bunda dan Ayah bangun.”


“Udah? Begitu doang? Gak sambil jambak-jambakan gitu?”


“Astagfirullah Nay. Masa Bunda ngelakuin kayak begitu? Buat apa Bunda kuliah kalau ngehadepinnya pakai emosi? Bunda ini perempuan berpendidikan, jadi Bunda gak bakal melakukan kekerasan, tapi Bunda bakal memberikan kata-kata kejam sekejam silet sama dia.”

__ADS_1


“Beuuhh Bunda sadis juga ya, baru tahu Naya.” Kinaya tertawa pelan.


“Kalau demi keluarga, Bunda akan berjuang melakukan apapun, walaupun sakit.”


__ADS_2