
Sudah lebih dari satu Minggu Daffa dan Raya tak bertemu dan saling komunikasi. Daffa pikir Raya mungkin masih kecewa dengannya dan memilih untuk menghindar untuk sementara waktu agar lebih tenang. Meskipun tak saling berkomunikasi Daffa tetap memberi alamat tempat tinggalnya sekarang.
Kini Daffa sudah tak tinggal lagi di apartemen mewahnya. Daffa yang dulu serba mewah, kini berubah drastis menjadi serba sederhana.
Semua kemewahan sudah ia tinggalkan, aset-asetnya sudah ia jual untuk menutupi kerugian. Hanya ada satu Kafe yang tersisa, namun, Kafe itu sudah sepi pengunjung.
Bukan Daffa namanya kalau hanya berdiam diri di rumah dan meratapi nasib yang ada. Dirinya langsung berputar pikiran untuk kembali merintis usahanya yang sudah porak porandak.
Sementara waktu mungkin dirinya akan berhenti kuliah dan bekerja di toko roti milik temannya. Sebuah toko roti besar dan cukup terkenal.
Ia akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan akan membangun usahanya kembali. Ia akan buktikan pada dunia bahwa ia tak akan bisa di hancurkan, bahkan oleh orangtuanya sendiri.
Pukul 9 malam Daffa keluar dari Amorra Bakery tempatnya bekerja. Masih dengan seragam hitam khas pelayan ia berjalan menuju mobil yang dulunya mewah ia tukar dengan mobil sedan biasa.
Jarak tempat tinggalnya sekarang dengan kerjaan nya memang cukup jauh, jadi harus menempuh perjalanan cukup lama.
Sesampainya di tempat tinggalnya, Daffa di sambut oleh senyum hangat Raya.
Sungguh, lelah yang sebelumnya menggerogoti tubuhnya, kini telah sirna hanya karena kedatangan Raya.
"Kok malam-malam kesini?" Tanya Daffa.
"Nggak boleh nih aku kesini?" Raya mencebikan mulutnya pura-pura ngambek, membuat Daffa gemas sendiri.
"Boleh banget sayang, tapi kenapa malam-malam begini?"
"Aku udah disini dari jam 8 kok, kamu aja yang nggak pulang-pulang!" ucapnya mulai merajuk.
"Maaf ya tadi aku bantu beres-beres dulu makanya lama. Yaudah masuk yuk." Daffa menggiring Raya untuk masuk kedalam rumahnya yang sederhana.
Ia pikir Raya akan merasa tak nyaman dengan suasana rumah klasik ini. Ternyata jauh dari prediksi Raya malah bersorak senang.
"Wah beneran inu rumah kamu? Aku suka, bosan tau lihat tembok putih mulu." Rumah ini memang di dominasi warna coklat dan serba serbi barang antik dari bambu.
"Kamu suka?"
Raya mengangguk penuh antusias dan mulai berkeliling ke sekitar melihat barang-barang yang menarik di matanya.
"Aku mandi dulu ya, kalau capek langsung ke kamar aja." Daffa berjalan ke belakang untuk membersihkan diri terlebih dahulu setelah seharian beraktivitas.
Setelah mandi Daffa mengahampiri Raya yang sudah duduk selonjoran di atas ranjangnya. Ia mengecup kening dan bibir Raya berkali-kali, seminggu tak bertemu rindunya sudah menumpuk.
"Udah nggak marah kan?" Tanya Daffa memastikan.
"Kalau kamu gitu lagi aku bakal marah lagi." Ancam Raya.
"Oke, itu yang terakhir."
Raya memeluk tubuh kekasihnya dari samping. Setiap bersama Daffa, ia merasa menjadi perempuan paling sempurna.
__ADS_1
"Aku punya sesuatu buat kamu, aku yakin kamu pasti bahagiain lihat ini."
"Apa?" Tanya Daffa bingung.
Raya merogoh isi tasnya dan mengambil sebuah benda yang membuat nafas Daffa tercekat, dan dadanya bergemuruh kencang.
"Aku hamil." Tanpa sedikitpun beban di wajahnya Raya mengungkapkan musibah itu.
Iya, ini musibah. Karena Daffa yang kini di dera ujian yang cukup berat, di tambah dengan hadirnya bayi di dalam rahim raya.
Mungkin bagi Raya itu sebuah kebahagiaan yang tak terkira karena akan memiliki seorang anak dan Daffa bisa segera menikahi nya. Namun, Daffa belum benar-benar siap dengan keadaan ini.
Daffa menggeleng kuat sambil merebut alat tes kehamilan itu dari tangan Raya. Dan bener, di sana Raya dinyatakan positif hamil.
Dunia Daffa benar-benar runtuh sekarang.
"Kamu kenapa, kok sedih? Kamu nggak suka aku hamil?" Raya bisa melihat raut wajah Daffa yang berubah drastis.
"Kamu harusnya senang Daf kita bisa secepatnya nikah." Lanjutnya masih dengan suara yang antusias.
"Tidak semudah itu sayang." Batin Daffa menjerit kuat. Karena tak mudah untuk menembus keluarganya bahkan keluarga Raya yang sangat membeci dirinya.
"Jadi kamu benar-benar nggak suka aku hamil anak kamu?" Ekspresi Raya yang semua sumringah kini mulai berkaca-kaca dan bersiap menangis. Namun, Daffa tak membiarkan itu.
"Senang dong, kamu bakal jadi Mama aku bakal jadi Papa." Daffa kembali merengkuh Raya kedalam pelukannya agar bisa lebih tenang.
"Secepatnya sayang, sementara waktu kita seperti ini dulu aku pikir jalan keluarnya." Daffa mengusap lembut kepala Raya yang bersandar nyaman di bahunya.
"Kamu aneh ya, biasanya kalau kebobolan pada panik nangis-nangis depresi. Lha kamu, malah bahagia banget tanpa beban." Ungkap Daffa.
Raya tertawa pelan. Ia tak terkejut ataupun takut karena ia hamil sudah jelas bapaknya juga agar secepatnya bisa menikah dengan Daffa.
"Ini tuh rejeki buat kita, kenapa harus di tangisi harusnya kita bersyukur."
Daffa hanya tersenyum dan mengiyakan saja. Biarkan ia yang memikirkan semua masalah ini, ia tak mau terjadi apa-apa dengan Raya dan janin nya.
****
Keesokan paginya Daffa sudah dibuat panik karena Raya yang terus-terusan mutah sampai lemas.
Daffa menggendong Raya kembali ke kamarnya. Wajahnya sangat pucat saat ini.
"Kita ke rumah sakit ya?"
Raya tersenyum dan menggeleng pelan. Kemarin aku udah periksa ke dokter.
"Tapi kamu mutah terus, aku takut."
"Nggak apa-apa yang, ini wajah kok. Kata dokter kemarin anak kita sehat disini." Raya membawa tangan kanan Daffa menuju perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Kini ketakutannya seakan sirna setelah mengusap lembut perut rata Raya. Seperti sudah ada ikatan batin antara ayah dan anak.
"Udah berapa usianya?" Tanya Daffa tanpa mengalihkan tangannya dari perut Raya.
"Baru 2 Minggu."
Daffa tersenyum pada Raya. "Jaga dia baik-baik ya."
"Kita jaga sama-sama."
"Ray, aku panggilin Karin ya biar dia jaga kamu aku mau kerja."
Raya menggeleng kuat dan langsung memeluk lengan Daffa erat.
"Nggak boleh! Temenin aku disini." Katanya seperti anak kecil yang merajuk. Daffa bisa paham sebenarnya, namun ia juga memiliki kewajiban untuk bekerja.
"Sekarang aku udah nggak kayak dulu, aku kerja di tempat orang jadi nggak bisa seenaknya." Daffa mencoba memberi pengertian pada Raya yang tetap menggelendotinya.
Namun, Raya malah mengekuarkan jurus tangisnya membuat Daffa jelas tak tega.
"Yaudah hari ini aku izin, jangan nangis lagi."
Raya mengusap air matanya dan tersenyum pada Daffa.
Sungguh, kalau posisinya sedang tidak seburuk ini ia akan sangat bahagia mendengar kabar kehamilan Raya. Tak usah menunggu sampai Raya hamil kalau ia sudah benar-benar matang, ia akan langsung menikahinya.
"Aku mau tidur," ucap Raya.
"Yaudah tidur, aku temani."
"Tapi sambil pengang 'itu' kamu." Mata Raya menunjuk ke arah dada Daffa.
"Apa sih Ray?" Tanya Daffa masih dengan kebingungan nya.
"Buka baju kamu."
Daffa menurut dan membuka kaos yang ia kenakan. Begitupun dengan Raya yang juga membuka kaosnya dan menyisakan bra hitam yang menutupi buah dadanya yang berukuran pas.
"Loh-loh mau apa, jangan aneh-aneh kamu hamil!" Ucap Daffa memperingati.
"Apa sih! Aku gerah makanya buka baju." Seakan tak peduli, Raya menyuruh Daffa memiringkan tubuhnya dan mulai memilin ** kecil Daffa.
"Ray, geli lepas!"
"Nggak mau, aku pengen pegang ini sampai tidur."
Kali ini Daffa benar2 menahan hasratnya. Raya keterlaluan memang, tak tau apa kalau dirinya sangat tersiksa terlebih Raya yang hanya mengenakan bra dan celana pendeknya.
****
__ADS_1