Our Fault

Our Fault
Bagian 26 - Aku Juga Ingin Bahagia


__ADS_3

Beberapa detik kemudian, lamunan itu berakhir karena Kinaya bersorak memanggil mereka.


“Ayah! Kak Ana!” Tegurnya, “kalian tadi abis ngapain hayooo??!!” Kinaya tersenyum menggodanya tapi dibalas Kiana dengan tatapan tajamnya dan menghampirinya.


Kiana marah pada anak itu. Tidak sopan sekali sudah mendorongnya. Apa Arya tidak mengajarkan sopan santun padanya? Kalau sudah begini, badan juga bajunya kan basah kuyup. Bagaimana kalau nanti dia sakit karena ulah anak itu? Apa Arya mau tanggung jawab?


Tatapan Kiana padanya begitu mengerikan, mirip seperti orang yang marah, membuat Kinaya jadi ketakutan.


Kiana sudah berhadapan dengan Kinaya dan menunjuknya tiba-tiba, “kamu!”


“Kamu ngapain dorong aku hah?! Kamu pikir aku suka renang sama kamu? Sudi gitu aku deket sama kamu? Enggak! Aku itu gak sudi deket sama kamu!”


“Dasar anak pembawa sial! Dari dulu kamu itu emang pembawa sial, makanya ibu kamu gak mau deket sama kamu karena kamu hanya pembawa sial saja! Gara-gara kamu lahir, ibu hampir aja mati! Dan sekarang, lagi-lagi kamu buat kesialan kembali. Kamu benci sama aku? Makanya terus buat aku sial? Kamu mau aku cepat mati ya makanya kamu dorong? Iya?”


“Tapi maaf, Tuhan masih sayang aku, makanya Dia tidak ngabulin kemauan kamu itu dan Dia tahu yang seharusnya mati itu kamu, bukan aku!” Tunjuknya pada Kinaya, “pembawa sial seperti kamu itu memang seharusnya mati, jangan ada di dunia ini! Dasar pembawa sial!” Kiana memaki Kinaya dengan suaranya yang lantang.


Kinaya benar-benar ketakutan karena dimarahi Kiana. Baru kali ini dia memarahi anak itu habis-habisan seperti sekarang dengan kata-kata kasar pula. Kinaya diam saja sambil menahanbtangisnya ketika dimarahi. Dia ingin sekali mengeluarkan tangisannya itu langsung, tapi takut dengan kemarahan Kiana.


Lalu Arya, hati laki-laki itu sakit mendengar makian Kiana dan melihat Kinaya yang terus berdiri diam ketakutan. Dia pun segera dan menggendong anak itu supaya tenang juga tidak lagi merasa takut.


Kinaya langsung memeluk leher Arya cepat saat itu dan menyembunyikan wajahnya di lekukan lehernya kemudian menangis terisak pelan.


Plakk...

__ADS_1


Tidak disangka Arya ternyata menampar Kiana.


Arya sudah tidak bisa menahan lagi kemarahannya pada Kiana. Mau sampai kapan perempuan itu begitu? Apa harus sampai salah satu di antara mereka ada yang pergi dulu baru dia menyesal dan akan berubah? Begitu? Kiana sungguh keterlaluan pada anaknya sendiri. Bahkan ibu tiri pun masih ada yang lebih bik daripada Kiana.


“Kamu berani sekali bicara seperti itu Kiana! Kamu tahu, ucapan kamu tadi itu sudah nyakitin hati Kinaya! Di mana sih hati kamu sebagai seorang ibu? Di mana?! Atau mungkin... kamu gak punya hati?” Arya mendelik dan tersenyum sinis.


“Nyesel aku kenal kamu Kiana! Harusnya dulu aku gak pilih kamu ya. Kamu itu hanya manis di luar, sedangkan di dalamnya kamu itu busuk juga jahat.” Arya berkata dengan nada dinginnya dan penuh penekanan.


Pipi Kiana terasa perih karena tamparan Arya, tapi itu tidak sebanding dengan sakit hati yang dirasakan Kinaya sekarang.


Kiana terus memegangi pipinya. Dia diam menatap benci saat Arya berkata itu, dan setelahnya membuka suaranya untuk menimpali perkataan Arya tadi.


“Aku busuk? Jahat?” Kiana tersenyum sinis dan menunjuk dirinya sendiri.


Arya balik tersenyum sinis, “aku pikir kamu berubah, ternyata masih sama!”


“Maaf, sampai kapan pun, aku tidak akan berubah demi kalian!” Ucapan Kiana sungguh tajam.


“Ya sudah, kalau begitu pergi kamu dari rumahku. Kita tidak butuh kamu dan begitu juga sebaliknya. Kamu hanya pembawa kesakitan bagi kehidupan kita, terutama Kinaya. Kamu mau pergi ke mana juga terserah, aku gak peduli.”


“Baik, kalau itu mau kamu, mulai hari ini aku akan pergi jauh dari kalian dengan caraku sendiri.” Setelahnya Kiana pun mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah Arya sampai dia lupa untuk mengganti bajunya yang basah.


Kiana memang tidak pantas tinggal di rumah milik manusia yang berhati malaikat, tidak seperti dirinya yang hanyalah manusia busuk juga jahat, tidak sebaik dan sesuci Arya.

__ADS_1


Tidak tahu harus kembali ke mana, akhirnya Kiana pun memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya. Ah lebih tepatnya rumah orang tuanya.


Pikiran Kiana terus saja berkelana ketika dia sedang dalam perjalanan pulang. Dia masih memikirkan perkataan menyakitkan laki-laki itu.


Ya, kamu benar Arya, aku emang jahat. Aku tidak punya hati. Aku egois juga busuk. Aku tidak berguna ya, harusnya aku itu mati saja! Kenapa sih kalian gak buat aku mati aja?! Kenapa masih kasih aku waktu buat hidup di dunia ini?!


Tatapan mata perempuan itu begitu kosong. Hal yang dia lakukannya terus saja melamun. Dia ingin menangis meluapkan semua perasaannya. Perasaan yang sudah dipendamnya. Kesedihan, kesal, juga yang lainnya.


Aku jahat. Aku kejam. Terus kenapa aku masih hidup? Kenapa?


Tangisannya tidak bisa dia tahan. Sekalipun di tempat umum, Kiana tetap menangis. Dia masa bodo dengan orang-orang yang memandangnya aneh juga bingung.


Kenapa hidupku seperti ini? Kenapa tidak seperti yang lain? Aku juga ingin bahagia, bahagia bersama orang yang mencintaiku. Aku sekarang harus bagaimana? Apakah ada orang yang mau menerima manusia  jahat, kejam, dan egois seperti aku?


Tidak terasa, Kiana sampai juga di rumahnya. Beruntung saat itu penghuni rumah tersebut sudah pulang walau baru satu penghuni saja, yaitu Fabian. Tapi tak apa, Kiana bersyukur kok.


“Lho, kamu udah pulang?” Fabian menyeru karena melihat Kiana yang baru masuk ke dalam rumah dengan wajah murungnya.


“Pulangnya juga udah lama. Situnya aja yang malah nitipin saya ke orang lain.” Ketus Kiana dan mendelikan matanya.


“Oh iya, maaf. Terus sekarang kenapa kamu pulang? Mamah kan nitipin kamunya sebulan.”


“Ya suka-suka lah, kepo banget sama urusan orang.” Sewot Kiana dan pergi saja ke kamarnya. Sudah malas dia untuk menjawab pertanyaan Fabian yang banyak.

__ADS_1


__ADS_2