
Di tempat berbeda, Arya sedang berusaha membujuk Kinaya.
“Kinaya...” Arya melihat anaknya sedang tidur membelakanginya, tapi bahunya bergetar. Apakah dia menangis?
“Sayang... Bidadari kecilnya Ayah...” Tetap saja, beberapa kali Arya memanggil, Kinaya tidak meresponnya.
“Kesayangan Ayah, Ayah tahu Naya marah sama Ayah juga Kak Ana, Ayah minta maaf ya Nak. Ayah udah salah sama Naya, udah bohongin Naya. Naya mau maafin Ayah?”
“Ayah jahat! Hiks... Naya benci sama Ayah! Ayah bohong terus sama Naya. Hiks... Kenapa Ayah gak bilang kalau Kak Ana itu Bunda? Naya sedih nyariin terus Bunda, padahal Bunda ada deket Naya.” Kata Kinaya mengungkapkan kesedihannya.
“Iya, Ayah sekali lagi minta maaf ya sayang.” Balas Arya, “Naya seneng sudah tahu Bunda ada di mana?” Pertanyaan Arya diabaikan Kinaya. Gadis kecilnya diam saja.
Tidak ada jawaban apa-apa dari anaknya membuat Arya kembali memberikan pertanyaan padanya, “Naya kenapa diam?” Tanya Arya, “coba Naya tatap mata Ayah. Ayah sering bilang kan, kalau ada yang bertanya, tatap matanya.” Titah Arya dan dilaksanakan segera oleh Kinaya karena dia takut.
Arya kembali memberikan pertanyaannya pada Kinaya, “kenapa? Naya gak suka kalau Kak Ana itu Bunda? Naya marah sama Kak Ana? Atau sama Ayah?”
Kinaya menganggukkan kepalanya pelan, “iya, Naya marah kenapa Ayah bohongin Naya? Kenapa harus Kak Ana yang jadi Bunda? Naya masih takut sama dia, Ayah. Kak Ana kan sering marahin Naya, jadi gimana bisa Kak Ana jadi Bunda yang baik buat Naya?” Keluhnya, “sekarang Naya tahu kenapa Kak Ana benci banget sama Naya terus sering bilang kalau Naya ini pembawa sial, karena Naya anaknya ya?”
Arya diam tidak percaya. Dari mana anaknya bisa bicara seperti itu? Apa karena Kiana yang pernah mengatainya seperti itu? Tapi sungguh, ucapan Kinaya itu menyakiti hati
Arya.
“Ayah, kalau Kak Ana itu Bunda, tapi masa gara-gara Naya anaknya, dia benci Naya? Dia gak mau ya punya anak kayak Naya? Naya emang pembawa sial ya Ayah? Naya gak mau punya Bunda kayak dia, kalau dia itu Bunda, harusnya dia itu sayang sama Naya, bukan benci Naya. Bundanya temen Naya aja gak kayak begitu, dia sayang banget sama anaknya.”
Mereka begitu sibuk dengan obrolannya, sampai tidak sadar kalau ternyata ada yang menguping obrolan mereka itu. Ya, dia adalah Kiana.
Perempuan itu berdiri di luar kamar Kinaya mendengarkan obrolan mereka sekilas, hanya saat obrolan terakhir Kinaya.
__ADS_1
Lagi-lagi Kiana merasa bersalah. Bukan hanya Arya yang merasa sakit, tapi dia juga sama. Ternyata ucapan menyakitkannya pada Kinaya tempo hari memberikan efek luar biasa pada anak itu dan masih membekas di otaknya.
Sudahlah, semuanya percuma. Apa yang sudah Kiana perjuangkan untuk mendapat maaf dari Kinaya tidak ada yang berhasil.
Buktinya dari ucapan anak itu, Kinaya berkata bahwa dia masih membencinya jadi bagaimana bisa Kinaya akan menerimanya sebagai ibunya sendiri? Toh menurut anak itu, Kiana tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Kiana hanya bisa memarahinya.
Seharusnya dari dulu itu aku pergi dari mereka, bukannya kembali. Aku bodoh malah memilih untuk kembali.
Kiana terus saja merutuki dirinya sendiri dan memilih pergi saja dari tempat itu tanpa ada niatan untuk kembali mendengarkan obrolan mereka selanjutnya. Sekarang saja hatinya sudah sakit walau hanya mendengar sebentar. Bagaimana jika dia mendengar lama? Mungkin dia harus segera dilarikan ke rumah sakit karena sakitnya itu sangat parah.
Maaf, aku akan pergi dari kalian.
“Itu kan dulu, sekarang Kak Ana udah berubah. Naya udah lihat kan, kalau sekarang ini Kak Ana enggak marahin Naya lagi, justru dia sayang sama Naya. Buktinya dia sering buatin kue coklat buat Naya, terus pas Naya sakit dan Ayah gak ada, Kak Ana kan yang jagain Naya, bawa ke rumah sakit.” Arya membujuknya sambil merangkul tubuh anak itu.
Kinaya memikirkan jawaban Arya sampai keningnya juga mengerut. Arya ingin tertawa melihat raut wajah Kinaya itu, lucu menurutnya.
Kinaya menatap Arya karena akan membantahnya, “tapi kan gimana kalau Kak Ana marahin Naya lagi? Naya takut.”
Bibir Arya tertarik untuk tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada wajah Kinaya, “Naya, dengerin Ayah. Kak Ana udah berubah. Kak Ana sekarang udah sayang sama Naya, dia gak akan seperti dulu lagi. Naya percaya sama Ayah?” Tanyanya dan memegang pundak Kinaya yang menatapnya ragu dan bingung. Harus percaya atau tidak.
“Tapi kalau misalnya ternyata Kak Ana masih sama seperti kayak dulu lagi gimana?”
“Enggak akan. Ayah percaya kalau Kak Ana udah berubah.” Arya berkata dengan percaya diri tanpa menunjukan keraguannya sama sekali.
“Kalau begitu, Naya percaya sama Ayah?” Akhirnya, jawaban yang ditunggu Arya terjadi. Lega Arya mendengarnya, dia tersenyum bahagia dan membawa Kinaya duduk di pangkuannya.
“Bener?! Naya mau mafin Kak Ana? Naya terima kalau Kak Ana itu Bunda?” Kinaya mengangguk pelan untuk menjawabnya juga dengan senyuman kecil.
“Iya, Naya mau, Ayah.” Ah, Arya merasa terharu. Dia begitu bahagia mendengarnya.
__ADS_1
“Sayang... Ayah sayang Kinaya. Terima kasih Nak.” Arya menciumi wajah Kinaya terus-terusan setelahnya, “berarti mulai sekarang, Naya panggil Kak Ana Bunda ya?”
Permintaan Arya itu dijawab dengan anggukan Kinaya cepat, kemudian Arya beridiri menggendong Kinaya, “ayo, sekarang kita temui Bunda. Pasti dia udah nunggu kita dari tadi.”
Arya berjalan menuju kamarnya, dan sampai di sana, Arya tidak menemukan keberadaan Kiana, justru dia malah menemukan sepucuk surat yang tersimpan di meja rias milik perempuan itu. Hal itu membuat rasa panik Arya semakin menjadi, sedangkan Kinaya diam bingung tidak mengerti situasi itu.
Langsung saja Arya membaca surat tersebut. Di sana, tertulis bahwa Kiana pamit untuk pergi karena memang tidak pantas menjadi ibunya Kinaya dan bersama mereka. Dia seharusnya tidak memilih untuk kembali bersama mereka.
Arya menarik nafas kasar dan tersenyum kecut, baru saja dapat berita bahagia karena Kinaya, sekarang malah dapat masalah baru. Begitu berat hidup Arya, juga memusingkan.
Dasar bodoh! Menguping hanya sekilas! Buat masalah saja.
Tidak perlu berlama-lama untuk berpikir, Arya segera memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya Kiana tanpa ditemani Kinaya, karena anak itu ia titipkan pada orang tuanya sendiri. Arya berharap, semoga saja Kiana ada ke rumah itu.
Tapi ternyata, ketika dia sampai, Kiana juga tidak ada di tempat itu. Ke mana sebenarnya perempuan itu? Masalah belum juga selesai, malah memilih kabur. Benar-benar tidak dewasa dan bodohnya Arya malah suka juga mau bersama perempuan bodoh itu. Sungguh lucu.
Arya tidak menceritakan permasalahannya itu pada Fabian, dan lebih memilih untuk mencari Kiana sendiri.
Dengan mengendarai mobilnya sendiri, laki-laki itu mencari Kiana ke sana kemari. Dia melihat ke sekeliling jalan, siapa tahu dia menemukan Kiana di sana.
Sudah 20 menit berkeliling, tapi ternyata hasilnya nihil. Arya tidak menemukannya.
Arya pun sejenak berpikir memikirkan di mana Kiana sekarang dan siapa saja orang-orang yang akhir-akhir ini sering bersama dengan Kiana.
Ah, Arya tahu. Kaivan. Ya, selain dengan dia, Anita, atau Fabian, akhir-akhir ini istrinya itu tiba-tiba menjadi dekat Kaivan. Hubungan itu dimulai sejak mereka belum kembali bersama.
Kedekatan Kaivan juga Kiana yang tiba-tiba menurut Arya itu sebuah keanehan. Dia tahu kalau sebenarnya Kaivan memiliki rasa dengan Ilsa, tapi kenapa Kiana yang didekatinya? Sepertinya Kaivan laki-laki itu mendekati Kiana karena niatan lain, pikir Arya sekarang.
Arya harus memastikan dugaannya, dan kalau benar, dia harus segera mencegahnya sebelum terlambat dan langsung melanjutkan kembali misi pencariannya. Kali ini tujuannya adalah menuju rumah Kaivan.
__ADS_1