
Wow, tak Arya sangka, ternyata dugaannya itu benar. Kiana sedang bersama Kaivan.
Arya melihat Kiana yang baru saja keluar dari mobil Kaivan dengan keadaan tidak sadar dan dibantu Kaivan. Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Kiana? Apa Kaivan mengajak Kiana untuk mabuk? Berengsek!
Ketika mereka sudah berada di teras rumah dan kesadarannya yang tidak stabil, Kaivan sengaja mendekatkan wajahnya pada wajah Kiana dan hampir akan menciumnya.
Tubuh Arya menegang melihatnya, dan buru-buru menghentikan adegan itu. Arya menarik Kiana yang tidak sadar dan membawanya pergi keluar dari rumah itu.
Melihat Kiana dibawa Arya, Kaivan jadi menggeram kesal. Di luar dugaan dan rencananya, Arya malah muncul di saat waktu yang tidak tepat, saat semuanya akan terlaksana baik. Sialan!
Kepergian Arya dan Kiana diikuti Kaivan, mengejarnya sampai ke mobil Arya.
Kiana tidak bisa mengatur arah pandangnya, pandangan yang dia lihat terus berputar-putar tak tentu arah. Tapi meski begitu, dia merasa kalau laki-laki yang sekarang membawanya adalah Arya.
“Hei suami.” Kiana tersenyum dengan keadaan tubuh yang linglung dan melambaikan tangannya pada Arya. Namun hal itu tidak dibalas oleh Arya yang justru malah semakin kencang merangkul Kiana agar tidak terjatuh.
“Kita pulang! Kamu punya suami malah main ke luar sama laki-laki lain .” Tegas Arya.
Baru saja Arya selesai mendudukkan Kiana di kursi penumpang dan akan menutup pintunya, tiba-tiba ada yang mencekal tangannya. Arya menoleh pada orang itu, yang ternyata itu adalah Kaivan.
Wajah Arya mengeras melihat orang itu, awalnya dia akan menghajarnya tapi diurungkan karena sadar kalau berkelahi itu tidak baik, apalagi dengan kawan sendiri juga ini di tempat umum. Reputasinya nanti akan tercemar buruk.
Kaivan menatap Arya dengan seriusnya, “lo buat apa bawa dia? Dia punya gue!”
“Punya lo? Sejak kapan? Sejak negara api menyerang?” Sindir Arya dan tersenyum mengejek, “bukannya lo tahu kalau dia itu udah jadi istri gue lagi.” Tegasnya penuh dengan penekanan.
“Terserah lo! Minggir! Gue mau ambil milik gue.” Balas Kaivan lalu mendorong Arya untuk
menjauh dari Kiana yang sudah duduk di kursi penumpang.
Arya tidak akan membiarkan Kiana jatuh ke tangan Kaivan, dia langsung menarik kerah baju Kaivan dan menjatuhkannya ke tanah.
“Jauh-jauh lo dari istri gue! Gue tahu, lo gak suka gue deket Ilsa dan punya niatan buat balas dendam, tapi bukan dengan gini juga lampiasinnya, Kai! Bukan dengan libatin Kiana. Kalau lo gak suka gue, lampiasin ke gue, bukan ke dia.” Arya menunjuk Kiana dengan wajah marahnya pada Kaivan.
“Sekali lagi gue ingetin lo Kaivan! Berhenti deketin dia, istri gue! Masih beruntung gue inget lo sebagai sahabat, kalau gak, gue hajar lo!” Arya kini menunjuk Kaivan.
Arya langsung membawa Kiana pergi menuju rumah mereka.
Sudah ditidurkan ke ranjangnya, Kiana tiba-tiba membuka bajunya sampai hanya tersisa baju dalamannya saja walau pendek itu punHal itu membuat Arya gelagapan kaget, kalau terjadi apa-apa, untungnya mereka sudah sah lagi, coba kalau belum, bisa bahaya.
__ADS_1
“Ya ampun, panas banget sih. AC nya idupin dong.” Kiana menunjuk ke atas yang sebenarnya itu bukan AC, justru tembok saja.
Panas? Dingin kok. Pikir Arya dan menuruti saja kata Kiana itu. Merubah suhu ruangannya semakin dingin.
“AC nya udah nyala, Kiana.”
“Ihhh, tapi masih panas tahu.” Keluhnya lagi sambil menarik-narik kerah baju Arya, “Kiana buka celana juga ya Kak.”
Arya terkejut mendengarnya, matanya juga membulat. Dia mencegah Kiana yang akan melakukan hal itu, “eh kamu mau apa Kiana? Jangan!”
“Tapi Kiana panas Kak, Kiana gak kuat.” Kiana mengibaskan tangannya ke wajah karena merasa gerah.
“Kamu tadi sama Kaivan minum alkohol?” Tanya Arya ingin tahu.
“Hmm? Enggak kok. Aku cuma minum air putih, tapi gak tahu kenapa efeknya sekarang malah jadi panas gini.” Balas Kiana dan tetap mengibaskan tangannya.
Gila! Kayaknya si berengsek itu udah masukin ramuan ke minumannya Kiana.
“Kakhh... Kiana gerah ihhh buruan donggg.” Kiana menarik-narik kerah baju Arya dan tiba-tiba mendekatkan tubuh mereka, “Kak, bantu Kianaaa. Kiana gak kuat nih.”
Kemudian Kiana menindih tubuh Arya yang balas memegang tubuhnya, “kamu yakin mau aku? Kamu gak nyesel?”
“Ok. Besoknya kamu jangan nyesel ya, jangan marahin aku kalau lihat kondisi aneh ini.” Arya
langsung saja melaksanakan tugasnya sesuai suruhan Kiana tadi.
Sampai esok harinya, sinar matahari yang menerpa melalui gorden membuat Arya terbangun dengan sendirinya, tapi bagi Kiana hal itu tidak. Karena perempuan itu masih kelelahan karena ulah suaminya semalam.
Arya memperhatikan Kiana yang belum juga bangun. Tanpa disadarinya, Kiana malah memegang wajah laki-laki itu, membuat sang empunya jadi tersenyum dan balas memegang kepala Kiana juga mencium keningnya.
Cantiknya istri gue. Sayang kamu, madu.
Kiana merasakan keanehan pada tubuhnya sekarang, tapi dia masih mengantuk untuk melihat keanehan itu dan lebih memilih memejamkan matanya kembali untuk melanjutkan tidurnya.
Selagi istrinya belum bangun, lebih baik Arya membersihkan tubuhnya dahulu, lalu membuat sarapan. Supaya tidak perlu menunggu lama lagi, kalau istrinya itu sudah kelaparan ingin makan.
Arya selesai kegiatannya itu dan sekarang waktunya dia membangunkan Kiana yang masih setia bersembunyi di balik selimutnya.
“Bangun, oy. Jangan jadi kebo, udah tua sekarang, bukan gadis perawan lagi.” Kata Arya sambil terkekeh, lalu menepuk pipi Kiana pelan agar sadar dari tidurnya.
__ADS_1
“Nggghhh—” Kiana melenguh dengan matanya yang terpejam, dan menggeliatkan tubuhnya yang terasa pegal. Dia tidak tahu, kenapa badannya bisa sepegal itu, apa coba kegiatan yang sudah dilakukannya semalam?
“Bangun buruan, mandi wajib terus makan.” Arya membuka suaranya lagi.
Awalnya Kiana akan tidur lagi, tapi saat mendengar suara itu matanya langsung terbuka dengan lebar seketika.
Ini suara, kok?! Apa jangan-jangan...
Kiana membuka matanya, melihat Arya yang juga menatapnya sambil tersenyum, “kamu... Kok aku bisa di sini?” Kiana bertanya dengan suara serak khas bangun tidurnya.
Perempuan itu mengedarkan pandangannya melihat ruangan sekitar. Benar ternyata kalau itu ruangan kamarnya. Tapi kenapa dia bisa kembali? Juga sejak kapan? Bukannya kemarin itu dia sedang makan bersama Kaivan? Kiana bertanya dalam benaknya.
Tunggu!
Kenapa sekarang Kiana tidak memakai baju? Sehelai benang pun tidak, hanya selimut saja yang menutupi tubuhnya. Ini ada apa sih? Apa semalam terjadi yang 'iya-iya' di antara dia dan Arya?
Kiana mengeratkan pegangannya pada selimut yang menutupi tubuhnya, “ini... aku kenapa gak pake baju? Kamu semalam abis ngapa-ngapain aku ya?” Tuduhnya dan menatap Arya marah.
Arya membenarkan perkataan Kiana, “iya, aku udah ngapa-ngapain kamu semalam, ngelakuin hal yang 'iya-iya'.” Jawabnya santai.
Hal yang 'iya-iya'? Apa itu maksudnya sesuai dengan yang ada dalam pikiran Kiana sekarang? Kiana terdiam dengan pikirannya sendiri sejenak dan menunjuk Arya marah.
“Kamu! Kenapa ngelakuin ini sama?” Tanya Kiana tidak percaya.
“Ekspresinya gak usah lebay begitu, kamu udah bukan gadis perawan lagi sekarang.” Sindir Arya tidak suka melihat ekspresi raut wajah Kiana sekarang yang panik.
Arya mendekati Kiana dan mencium kepalanya secara tiba-tiba.
“Gak usah panik lama, mending sekarang kamu mandi wajib, terus makan.” Titah Arya, “bajunya udah aku siapkan di kamar mandi.”
Kaki Arya yang sudah melangkah akan pergi dicegah Kiana. Perempuan itu menarik tangannya, “kamu mau ke mana? Kok tinggalin aku sih? Kayak ******* banget aku kalau diginiin.” Dumelnya tidak terima Arya pergi dan Arya berbalik padanya.
“Hus, ngomongnya dijaga.” Arya menegurnya dan menempatkan jari telunjuknya di depan bibir Kiana, “aku mau ke dapur doang, siapin sarapan buat kita. Makanya, kamu mandi sana, terus sarapan sekalian aku mau interogasi kamu soal kemarin antara kamu sama Kaivan.”
Mendengar kata Kaivan, badan Kiana menjadi lemas seketika, sampai tangan Arya pun dilepaskan secara tidak sengaja.
Kaivan? Haduh... Gue bakal kena marah dia nih sekarang. Kiana menduganya.
“Ah ya udah sana sana, kamu pergi. Aku mau mandi sekarang.” Kiana mendorong tubuh Arya untuk menjauh darinya dan buru-buru pergi ke kamar mandi dengan susahnya karena dia harus membawa selimut yang dipakainya ke sana. Maklum, dia kan sedang tidak memakai baju apapun. Baju kemarin yang dia pakai juga sudah tidak ada, sepertinya Arya sudah mencuci baju itu.
__ADS_1