
Satu bulan sudah usia Kinaya saat ini.
Sampai sekarang bayi tersebut masih dirawat oleh Kiana selaku ibu kandungnya. Kiana merawat Kinaya karena suruhan Nira. Jika tidak disuruh, Kiana tidak sudi merawatnya, walaupun Kinaya anak kandungnya sendiri. Jahat memang Kiana saat ini, entah nanti bagaimana jadinya. Apakah dia akan menyesali perbuatannya itu nanti.
Kiana baru menyelesaikan kegiatan mandinya pada jam 7 pagi, karena harus menyusui Kinaya terlebih dahulu supaya bisa tidur. Baru setelah itu, Kiana langsung membenahi kamarnya yang berantakan penuh dengan perlengkapan bayi.
Sudah mengerjakan, Kiana lalu pergi menuju ruang makan karena belum sarapan. Sementara Kinaya, ia tinggalkan saja di kamar bersama Arya. Selagi jadwal mengajarnya masih lama nanti siang, jadi Arya bisa gunakan waktu luang yang dia miliki sekarang untuk bersama dengan Kinaya, putrinya.
Arya diam memperhatikan Kinaya yang tertidur nyenyak. Dia tersenyum terus ketika memperhatikan makhluk mungil itu.
Mungil banget sih kamu, sayang. Ayah gemesss.
Saat Arya menatap putrinya itu, Kinaya tiba-tiba terbangun dan menguap. Refleks Arya langsung menutup mulut Kinaya dengan jari telunjuknya.
“Waahh, nguapnya gede banget ya bidadarinya Ayah.”
Sudah itu Kinaya menangis tiba-tiba. Arya pun mengambil Kinaya dari tempat tidurnya dan menggendongnya dengan hati-hati juga penuh kasih sayang sebagai ayah.
“Kamu kenapa nangis? Haus apa ngompol nih?” Arya memeriksa celana yang sedang dipakai Kinaya. Ternyata benar, Kinaya terbangun karena mengompol.
“Anak Ayah ternyata ngompol. Ganti dulu ya celananya sayang.” Arya membaringkan Kinaya di ranjang lalu mengganti celananya dengan celana yang baru juga bersih.
“Bajunya juga ganti dulu ya Nak, kebasahan nih.”
Selesai mengganti semuanya, Arya menggendong Kinaya kembali dan mendudukkan dirinya di sofa sambil menyandarkan punggungnya juga kakinya ia selonjorkan di sofa tersebut.
“Naya sama Ayah dulu ya sekarang, Bundanya lagi makan soalnya. Kasihan dia belum makan.” Arya mengajak Kinaya untuk berkomunikasi dengannya, dan ajaibnya Kinaya diam hanya dengan perkataan tadi.
Arya menggenggam tangan Kinaya, “bidadari kecilnya Ayah harus jadi anak yang baik hati ya, cerdas, juga rajin. Ayah sayang Kinaya selalu, Bunda juga sayang kamu kok, walaupun Bunda sekarang masih begitu. Tapi Ayah tahu, kalau Bunda juga sayang Kinaya.”
“Kalau Kinaya udah besar nanti, Kinaya harus bisa jagain Bunda juga Ayah ya. Kinaya harus nurut sama Bunda, karena Bunda yang udah ngerawat Kinaya dari waktu Kinaya masih di dalam perutnya sampai sekarang Kinaya lahir ke dunia ini.”
“Ayah dan Bunda sayang Kinaya, Ayah juga sayang Bunda.”
Kegiatan makannya sudah selesai, Kiana pun kembali ke kamarnya untuk memeriksa keadaan Kinaya bagaimana.
Tiba di kamar, Kiana melihat Kinaya yang digendong Arya. Tak sengaja Kiana juga mendengar penuturan Arya yang terakhir.
Ayah dan Bunda sayang Kinaya, Ayah juga sayang Bunda.
Kenapa Arya berkata seperti itu? Apakah tadi dia sudah berbicara yang aneh-aneh pada Kinaya? Pikir Kiana dan segera menghampiri suaminya itu.
“Kinaya udah bangun? Kenapa enggak bilang sama aku?” Kiana meminta Arya untuk menyerahkan Kinaya padanya, yang langsung Arya turuti.
Sesudah itu, Kiana menyusui Kinaya di hadapan Arya sambil duduk di sampingnya. Dia sudah tidak malu jika harus menyusui Kinaya di hadapan pria itu, toh suaminya itu sudah tahu ini seperti apa bentukan tubuhnya.
“Kamunya juga masih makan, Kakak gak tega ganggu kamu.”
“Eh Ki, kamu jadi mau lanjut kuliah?” Arya bertanya pada hal lain sambil memainkan tangan Kinaya.
Kiana yang menatap Kinaya menoleh pada Arya, “kenapa gitu?”
“Cuma nanya aja. Kamu mau kuliah gak? Bukannya waktu dulu kamu bilang mau kuliah.”
“Iya, aku mau kuliah. Tapi bukan sekarang, tunggu Kinaya besar dulu. Aku gak mau kuliahku jadi keganggu gara-gara bayi ini.”
__ADS_1
“Ok. Kalau begitu, nanti semua biayanya Kakak yang urus.”
Ya iyalah harus, situ kan suami saya.
“Kak,” Kiana menegur Arya yang terus tersenyum menatap Kinaya.
Arya menatap Kiana, “hmm? Kenapa?”
“Aku gak mau nganggap anak ini jadi anak aku.”
Senyuman di wajah Arya lenyap seketika karena ucapan itu, juga tatapan matanya pun berubah menjadi tajam, dia menahan amarahnya.
“Kenapa kamu ngomong kayak gitu lagi Ki? Aku kira kamu sudah berubah dan mulai menerima Kinaya.”
“Kata siapa aku nerima dia? Aku baik seperti sekarang ke bayi ini bukan karena udah nerima dia, tapi justru karena Mamah! Mamah yang mau dan nyuruh aku buat baik sama dia!” Kiana berkata dengan nada kesal tapi tidak keras, karena takut membangunkan Kinaya.
“Ok. Kalau kamu gak mau nerima Kinaya, biar Kinaya tinggal berdua sama aku. Setelah itu kamu boleh melakukan hal-hal bebas yang kamu mau, aku juga sudah gak peduli sama kamu. Sekarang prioritas aku hanya Kinaya, bukan kamu.”
Kiana menggeleng tak setuju, “gak! Aku gak bakal izinin Kakak ambil Kinaya. Aku ini ibu kandungnya. Tapi untuk di kehidupan Kinaya nanti, aku gak akan buat Kinaya anggap aku sebagai ibunya. Aku mau bilang soal ini sama Mamah. Aku gak mau diejek sama orang lain gara-gara udah punya anak di umur aku yang masih muda ini.”
Penuturan Kiana cukup membuat Arya tak percaya, “egois kamu Kiana cuma mikirin diri sendiri. Lalu Kinaya gimana? Kamu juga harus pikirkan nasib dia. Dia harus tahu siapa ibu kandungnya. Kalau kamu gak mau jadi ibunya, aku bakal cari perempuan lain yang mau jadi ibunya Kinaya. Toh pernikahan kita juga sebentar lagi akan berakhir, cuma sampai Kinaya berumur dua tahun.”
Kinaya tertidur dengan sendirinya setelah minum ASI. Bayi kecil itu Kiana tidurkan di ranjangnya, supaya tidak mendengarkan perdebatan yang terjadi di antara orang tuanya saat ini.
“Tapi kan kita masih nikah Kak! Atau Kakak ada niatan mau poligami ya atau mungkin Kakak mau cerain aku sekarang?” Tanya Kiana langsung setelah menyimpan Kinaya di tempat tidurnya.
“Kakak gak bilang kok mau cerain kamu sekarang, atau mungkin kamu sendiri yang mau cerai dari Kakak sekarang?”
“Aku itu gak mau cerai sebenarnya, Kak! Kalau Kakak berani ceraikan aku, aku bakal bawa Kinaya jauh dari Kakak atau aku sendiri yang bunuh diri.”
“Kalau kamu gak mau kita pisah, harusnya kamu belajar untuk menerima Kinaya. Dia itu anak kita, anak kamu juga. Dia juga lahir dari hubungan yang sah. Jadi untuk apa kamu membenci Kinaya hanya karena beasiswa kamu itu?”
“Sudahlah, kita ngobrol berdua seperti ini bukan untuk bahas beasiswa Kiana, tapi untuk bahas masa depan kita yang seharusnya akan jadi gimana nantinya. Jadi sekarang kamu maunya gimana Ki? Kamu gak mau kita pisah, tapi kamu juga gak mau nerima Kinaya. Terus apa solusi yang baik untuk masalah ini menurut kamu?”
Kiana terdiam beberapa detik sebelum bicara. Dia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan solusinya itu.
“Aku punya solusi. Gimana kalau kita tetep lanjut menikah, sedangkan Kinaya biar diurus orang tua aku aja. Kinaya gak perlu tahu aku itu ibunya, cukup tahu sebagai kakaknya saja terus orang tua aku dia anggap sebagai orang tuanya. Kakak tahu kalau aku belum bisa nerima Kinaya, terus gak mau ngurus dia. Aku belum bisa apa-apa dan mau kuliah dulu, aku masih mau bebas main.”
“Gak! Aku gak setuju! Kalau itu solusi kamu, itu artinya kamu egois Kiana.” Ketus Arya lalu mengambil Kinaya yang tertidur di ranjangnya dan menggendongnya.
“Mulai sekarang, kamu gak perlu perhatiin dan urus Kinaya, cukup aku aja yang perhatiin dia.” Kata Arya, “aku dan Kinaya juga gak perlu perempuan egois seperti kamu! Kalau kamu maunya begitu, kita mending pisah saja! Aku lebih pilih Kinaya daripada kamu dan aku gak mau jauh dari Kinaya. Sudah cukup Kinaya terasakiti saat ia belum lahir, dan sekarang aku gak mau dia tersakiti lagi.” Sudah mengucapkan perasaannya, Arya kemudian berjalan pergi meninggalkan Kiana yang panik di kamar karena takut ditinggalkan.
Kiana mencegah Arya yang akan pergi sambil membawa Kinaya. Dia mencekal tangan Arya, “Kakak mau ke mana? Kakak jangan bawa Kinaya. Kinaya gak bakal ada, kalau aku juga gak ada.” Kiana berusaha mengambil Kinaya dari gendongan Arya, namun malah tak bisa.
“Buat apa Kinaya di sini sama ibu jahat kayak kamu!”
Kinaya tiba-tiba menangis saat mendengar keributan mereka, sampai Nira pun langsung menghampiri mereka karena mendengar tangisan Kinaya.
“Kalian kenapa ribut? Kinaya nangis bukannya ditenangin, malah sibuk dengan urusan sendiri. Orang tua macam apa sih kalian ini? Egois.” Sindir Nira dan mengambil Kinaya dari gendongan Arya secara paksa lalu menidurkannya kembali.
Kinaya sudah tertidur, Nira kembali menghampiri Arya juga Kiana yang duduk terdiam dengan pikiran dan emosinya masing-masing. Nira duduk bersama dengan mereka.
“Sekarang ceritain, kalian ributin masalah apa?” Seru Nira.
Arya dan Kiana tetap saja bungkam tak jawab.
“Kenapa sekarang pada diam? Tadi aja pada saling debat, nyampe-nyampe Kinaya nangis.”
__ADS_1
“Kiana gak mau ngurus Kinaya. Dia gak mau nganggap Kinaya sebagai anaknya. Jadi Arya mau bawa Kinaya pergi jauh dari Kiana, tapi Kiana sendiri menolaknya.” Cicit Arya.
“Aku ngelakuin itu juga karena ada alasannya! Aku gak mau nerima dia sebagai anak aku karena kamu dan dia itu hanya pembawa sial buat aku! Aku hampir saja mati gara-gara ngelahirin dia! Terus karena kamu, dia ada dan beasiswa yang sudah aku perjuangkan gak bisa aku ambil, semuanya hilang! Pupus!” Kiana berdiri dan menunjuk-nunjuk Arya penuh amarah.
Telinga Nira panas. Dia sudah bosan mendengar kata biadab dari mulut Kiana, akhirnya dia menampar pipi Kiana mungkin untuk ke dua kalinya. Itu juga karena tidak sengaja. Nira terbawa emosi sampai dia berani melakukan perbuatan kasar itu.
Plakk...
Arya diam menatap Kiana yang ditampar, sedangkan Kiana langsung tertunduk dan diam memegang pipinya yang sakit.
Kiana ingin menangis, tapi tidak tahu harus menangis pada siapa dan akhirnya ia pendam saja semua rasa sedihnya ini.
“Sudah cukup Ki kamu ngomong kayak gitu tentang cucu Mamah. Ok, kalau kamu gak mau ngurus Kinaya biar Mamah aja yang urus dia, dan Kinaya cukup anggap Mamah dan Papah sebagai orang tuanya. Gak perlu dia tahu kalau kalian ini orang tua kandungnya. Kinaya cukup anggap kalian sebagai kakaknya saja. Setelah itu, kamu boleh pergi berkeliaran ke mana aja terserah kamu, Mamah udah bosen dan gak peduli sama kamu Kiana!”
“Dan untuk Arya, maaf kalau Mamah ngelakuin hal ini. Mamah ngelakuin ini bukan karena mihak ke Kiana. Tapi Mamah kasihan sama Kinaya, Kinaya cucu Mamah satu-satunya, Mamah gak mau dia kenapa-napa. Kalau kamu mau keluar dari rumah ini silahkan, Mamah gak bisa apa-apa buat nyegah kamu. Kalau kamu mau cerain Kiana juga terserah, Mamah bener gak peduli sama dia. Terus untuk soal orang tua kamu, nanti biar Mamah sendiri yang ngomong sama mereka.”
“Tapi Mah, maaf. Arya kurang setuju dengan keputusan Mamah. Kinaya anak Arya, jadi Arya yang berhak memutuskan hak asuh Kinaya. Arya tahu, Mamah sayang sama Kinaya dan gak mau jauh dari dia, tapi maaf Arya gak bisa ngebiarin Kinaya tinggal di sini.” Tolak Arya.
“Arya minta izin sama Mamah buat bawa Kinaya tinggal sama Arya. Karena untuk apa Kinaya di sini kalau ibunya sendiri pun gak menginginkan kehadirannya, kasihan Kinaya. Arya gak mau Kinaya semakin sedih karena ibunya sendiri membencinya.”
“Tapi Arya, Mamah juga gak mau pisah dari Kinaya. Mamah sayang dia.” Cicit Nira.
“Mamah tenang aja, Mamah boleh kok kunjungi Kinaya kapan pun Mamah mau. Arya juga gak bakal nutupin identitas Mamah sama Papah sebagai Kakek Neneknya, Fabian juga. Kecuali Kiana. Karena Kiana sendiri gak mau Kinaya tahu status hubungannya, maka Arya akan tutupin hal itu.”
“Dan untuk soal pernikahan kami, Arya sepertinya akan menceraikan Kiana sesuai dengan perjanjian.”
“Perjanjian? Maksudnya apa?” Nira mengernyitkan dahinya. Dia tidak tahu dengan persoalan itu.
“Arya akan ceraikan Kiana nanti saat Kinaya umurnya dua tahun. Karena percuma saja Arya pertahankan semuanya, kalau Kiana sendiri juga tidak bahagia dengan pernikahan ini. Dia masih butuh kebebasan seperti temannya yang lain.”
Kiana diam menundukan kepalanya saat Arya menjelaskan. Dia seperti merasa bersalah pada Nira karena semua yang terjadi sekarang.
Nira balik menatap Kiana serius, “yang dikatakan Arya tadi benar Ki? Kamu masih butuh kebebasan?”
Kiana diam tidak menjawab. Dia terlalu takut untuk membuka suaranya dan memilih diam saja sambil memainkan jari tangannya.
“Kalau kamu masih butuh kebebasan, lalu untuk apa kamu memilih menikah di usia muda? Kenapa kamu gak berpikir dua kali sih Kiana?!” Nira sudah tidak tahan lagi dengan Kiana, “nikah itu bukan persoalan yang mudah. Bukan cuma kamu dan dia bisa jadi satu terus bisa nana nini semaunya. Ada hal yang lebih serius daripada itu.”
Jika Nira bisa marah, maka Kiana juga bisa. Dari tadi dia sudah mencoba menahan amarahnya demi Nira. Tapi karena Nira sendiri juga memarahinya, maka Kiana pun akan melakukan hal itu.
Kiana berdiri dari duduknya dan pandangannya yang penuh dengan kebencian juga kesedihan, “Mamah kenapa salahin aku terus? Memangnya di sini hanya aku saja yang salah? Ini semua juga terjadi karena dia Mah!” Kiana mengarahkan tangannya pada Arya, “kalau saja dia bisa menahan nafsunya, mungkin semuanya gak akan seperti ini. Mamah harusnya salahkan dia juga!”
Nira menarik nafas dalam-dalam dan memijat kepalanya yang sudah pusing karena masalah ini. Sudah ini, dia harus segera pergi ke dokter untuk memeriksakan tensi darahnya, ditakutkan tensi darahnya akan naik dengan cepat hanya karena masalah Kiana ini.
“Terus sekarang kamu maunya apa Kiana selain Mamah salahin Arya? Mau pisah dan menerima Kinaya? Atau melepaskan keduanya? Semua keputusan ada di kamu Ki, Mamah gak akan paksa kamu untuk memilih. Tapi kalau kamu masih bingung untuk memilih, Mamah bakal kasih waktu kamu untuk berpikir.”
Kiana berpikir sejenak. Dirinya masih dirasuki dengan emosi yang memuncak. Karena emosinya yang belum mereda, sepertinya Kiana tidak akan berpikir panjang dan hanya menuruti emosinya itu. Ditambah lagi, Kiana itu masih labil, belum sepenuhnya dewasa.
“Aku lebih memilih pisah aja! Toh dia sendiri juga gak mau punya istri yang jahat kayak aku. Dia pasti nyesel nikah sama aku, ibu yang jahat sama anaknya. Daripada sama aku, dia lebih sayang sama anaknya. Mulai dari sekarang juga, dia udah cari ibu baru buat Kinaya. Ibu yang lebih perhatian dan lebih baik daripada aku.”
“Kamu serius Kiana dengan keputusan kamu itu? Gak bakal pikir-pikir lagi? Mamah kira, kamu mau mempertahankan pernikahan kamu itu.” Suara Nira begitu pelan. Harapannya akan bersatunya Arya Kiana kini pupus sudah.
“Aku serius Mah! Seperti yang dia bilang tadi, aku emang gak bahagia dengan pernikahan ini. Aku lebih pilih pisah dari dia, daripada tetep bersama. Buat aku sakit aja!” Kiana teguh dengan pendiriannya. Dia meyakinkan Nira.
“Hah.” Nira membuang nafasnya lelah, “ya sudahlah, gimana kamu saja. Mamah pusing urusin kamu. Padahal sebenernya Mamah itu gak mau kamu pisah sama Arya. Semoga aja kamu gak nyesel dengan keputusan kamu ini Kiana.”
“Tapi Mah, aku gak mau pisah untuk waktu sekarang. Aku maunya pisah nanti, sesuai dengan perjanjian yang dia bilang.” Mohon Kiana.
__ADS_1
“Iya. Terserah kamu aja mau pisah kapan juga. Ini kan hidup kamu, bukan hidup Mamah. Jadi Mamah gak ada hak buat mengatur soal itu.” Ucap Nira begitu acuh. Dia sudah tidak mau memikirkan lagi masalah kehidupan Kiana mengenai itu.