Our Fault

Our Fault
Bagian 48 - Ingkar


__ADS_3

Hari ini Kiana mengantarkan Arya yang akan berangkat bekerja sampai pintu rumah saja. Sedangkan Ray dan Kinaya, mereka sedang menginap di rumahnya Fabian.


“Aku kerja dulu, kamu baik-baik di rumah. Nanti jemput anak-anak di rumah Fabian ya.” Titah Arya.


Kiana mengangguk, “nanti kamu mau jemput aku kan ke situ?”


Arya mengangguk, “iya, tapi kayaknya agak malam, ada urusan penting dulu.”


“Ya udah gapapa. Tapi benar ya nanti ke sana, soalnya —” Kiana melanjutkan kata yang akan ia ucapkan dengan berbisik pada Arya, “aku punya kejutan buat kamu.”


Arya menatap Kiana dengan tatapan penuh tanya, “kejutan apa emang?”


“Kalau dikasih tahu sekarang, bukan kejutan namanya.” Kiana tertawa cengengesan.


“Ya sudah, gimana kamu aja.” Arya terkekeh lalu mencium kening Kiana.


“Aku berangkat ok.”


Kiana mengangguk mencium tangan Arya, “kamu hati-hati kerjanya. Utamakan keselamatan, istri sama anak nunggu di rumah soalnya.”


Iya, kedua istri kamu menunggu. Jadi baik-baik ya kerjanya. Aku gak mau jadi janda muda.


“Hmm, iya. Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumsalam.”


Kiana menikmati waktunya itu di rumah Fabian. Sedari tadi dia menunggu Arya, tapi sampai sekarang malam pun pria itu belum datang juga.


Apa Arya sedang sibuk kerja atau sibuk dengan istri keduanya? Jika sibuk dengan istri keduanya, berarti kasihan sekali Kiana menunggu pria yang belum tentu akan pulang padanya.


Lamunan Kiana akan hal itu terhenti saat Kinaya mengguncangkan tubuhnya.


“Bunda...” Tegur Kinaya dan mengguncangkan tubuhnya.


Kiana tersadar, “eh iya kenapa?”


“Kita pulang yuk!”


“Kok pulang? Ayah bagaimana? Dia pasti bakal ke sini.”


“Bunda yakin Ayah mau ke sini? Naya pikir Ayah bakal ke istri keduanya.” Sinis Kinaya dan berkata pelan supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.


“Nay, Ayah pasti ke sini. Tadi dia bilang kok sama Bunda. Kalau tidak akan ke sini juga, Ayah pasti kasih tahu Bunda dong.”


“Enggak! Ayah gak akan ke sini. Ayah pulang ke si pelakor itu, tadi Tante Nita bilang ke Naya. Tante Nita sudah tahu siapa perempuan itu Bunda.” Bisik Kinaya.


Oh jadinya Arya tidak akan datang padanya ya? Hah, lagi-lagi Kiana tertipu dengan ucapan pria itu yang katanya akan menepati ucapannya, tapi nyatanya tidak. Harus berapa kali lagi Kiana tertipu? Dia sudah bosan juga kesal diberikan janji palsu terus oleh Arya.

__ADS_1


Bayangan Kiana yang akan memberikan kejutan Arya untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka kini lenyap sudah. Karena nyatanya Arya tidak akan kembali.


“Beneran?! Gimana bisa tahu?”


“Kemarin kita selidiki mereka. Cuma Naya langsung pulang aja pas kita udah tahu rumahnya. Soalnya Bunda nelpon Naya mulu nyuruh pulang. Jadikan gak rame, padahal Naya mau labrak itu cewek.” Tutur Kinaya dan cemberut.


Kiana memeluk anak sulungnya yang cemberut kesal, “Bunda kan khawatir sama kamu Nay, takutnya kamu kenapa-napa. Kamu itu anak gadis. Yuk ah, kita sekarang pulang ke rumah aja.” Kiana beranjak.


“Terus labrak perempuan itu gimana?” Kinaya berkata pelan. Untungnya pemilik rumah ini —Fabian dan Fiska— sedang berada di ruangan lain, jadi tidak akan mendengar perkataan mereka.


“Nanti aja, tunggu waktu yang tepat. Bunda mau buat persiapan dulu, bikin kata-kata kejamnya.” Kiana tersenyum menyeringai pada Kinaya sampai membuatnya menjadi ketakutan.


Ya ampun Bunda gue ternyata bisa senyum kayak gitu mirip di drama-drama.


Saat Kiana akan bangun dari tidurnya, entah kenapa perutnya menjadi sakit, seperti ada yang meremasnya. Pasti ini efek karena sedang ada tamu bulanan, pikirnya.


Karena kesakitan itu, Kiana sampai tidak merasa nyaman tidur dan terus membolak-balikkan tubuhnya ke arah kanan dan kiri, untuk mencari rasa nyaman itu.


Meskipun posisinya sudah bolak-balik dari tadi, perutnya masih terasa sakit. Dia terus memegangi perutnya sambil mengusap-usap pelan semoga sakitnya akan mereda karena ini.


Arya yang tidur bersama Kiana merasakan tidak nyaman saat wanita itu terus saja tidak bisa diam. Arya pun berbalik menghadap pada Kiana dan mendengus kesal.


“Kamu kenapa? Kalau mau tidur, bisa kan diem, gak perlu banyak gerak.” Ketus Arya.


“Perut aku sakitthh Mas...” Kiana merintih kesakitan dengan suara pelannya karena tidak kuat, juga terus saja memegangi perutnya.


“Kalau sakit perut, ke kamar mandi sana cepetan.” Arya masih tetap ketus padanya.


“Sakit perut lagi ada tamu?” Arya menebak, “ya udah sini aku pegang perutnya.”


Tanpa banyak bicara, Arya mendekatkan jarak tubuhnya pada Kiana yang semula cukup jauh.


Tangan Kiana sudah tidak memegang perutnya lagi, karena diganti dengan tangan Arya.


Tangan itu memegang perutnya juga mengusap-usapnya. Rasa sakit di perut Kiana seketika berangsur pulih karena tangan Arya itu. Tangan Arya memang ajaib bagi Kiana.


Dalam hatinya, Kiana merasa senang karena walaupun Arya sudah punya wanita lain, tapi pria itu masih peduli padanya. Sakitnya sudah mereda, sekarang Kiana bisa memejamkan matanya untuk segera tidur dengan tenang.


Kiana pikir waktu belum pagi, tapi nyatanya waktu sudah pagi.


Kenapa cepat sekali waktu pagi itu datang? Padahal baru saja tadi Kiana tidur kembali selepas sholat subuh, kenapa sekarang pagi sudah menyapa hidupnya? Haduuh, sungguh Kiana masih ingin tidur lagi dan merasa lelah karena semalam perutnya yang sakit, ditambah lagi sekarang pinggangnya juga malah ikutan sakit.


Mumpung pagi ini belum ada yang mengganggunya, Kiana jadinya tidur kembali saja. Dia memejamkan matanya lagi dan menutup tubuhnya dengan selimut.


Tapi nyatanya...


BRAK...

__ADS_1


Pintu kamar Kiana terbuka dengan kerasnya sampai membuat Kiana terkejut dan matanya juga terbuka dengan lebar.


Bencana semburan air akan muncul segera. Siaga satu! Bahaya!


“Bunda, bangun Bunda!” Suara anak bungsunya mengganggu Kiana yang akan tertidur lagi. Anak itu naik ke atas ranjang dan meloncat-loncat di sana agar Kiana bangun.


Cara Ray membangunkan Kiana dengan mengganggu tidurnya sungguhlah tidak berhasil. Dia pun duduk akhirnya di samping wanita itu dan menarik-narik bajunya.


“Bunda, buruan dong bangun! Udah pagi nih! Ray mau sarapan buatan Bunda.”


Ok. Cara yang kedua masih juga tidak berhasil. Berarti Ray harus melakukan cara yang ketiga, yaitu menciumi seluruh wajah Kiana dan menggelitiki tubuhnya. Karena Kiana tidak suka kalau tubuhnya digelitiki.


“Bunda... Ayo dong bangun... Katanya gak boleh bangun siang, tapi Bunda ini malah bangun siang sih?! Kalau enggak nanti Ray gelitikin nih perutnya.” Ray bersiap-siap akan melakukan aksinya itu.


Sebelum aksi anaknya terjadi, Kiana harus segera menghentikannya. Dia bangkit menyingkap selimutnya, lalu mengarahkan tangannya di depan Ray, menyuruhnya untuk berhenti.


“Jangan! Lihat, lihat. Bunda udah bangun kan?” Seru Kiana tersenyum manis.


“Huh! Bunda payah, masa cuma digelitikin doang langsung mundur.”


“Iya, iya. Bunda emang payah. Jahat ya Ray bilang Bunda payah.” Kiana merajuk.


“Bunda jangan ngambek, buruan masakin buat Ray, Ray lapar Bunda.” Ray menarik tangan Kiana agar bangkit dari ranjang.


“Bunda malas sayang... Minta sama Ayah aja ya.”


“Gak! Gak mau!”


Mereka pun kemudian berdebat soal itu, hingga akhirnya Arya muncul pada mereka.


Pria dewasa itu membantu Kiana membujuk Ray. Untung sekali Arya datang dan masih peduli padanya yang sedang sakit. Kali ini Arya berguna bagi kehidupannya. Tidak seperti biasa, yang bisanya hanya sering menyakitinya saja.


“Ray, ayo makan. Ayah udah masakin omelet buat Ray sama Kak Naya.”


“Enggak! Ray gak mau!” Ray menolak dan cemberut kesal.


Arya mendekati Ray, duduk di dekatnya, “Ray sayang... Bunda lagi sakit. Biarkan Bunda istirahat dulu ya.” Bujuk Arya mengusap kepala anak itu.


Tatapan Ray berubah menjadi sendu, menatap Kiana.


“Bunda sakit?” Ray menggerakkan tangannya memegang dahi Kiana, “tapi kok gak panas ya?” Gumamnya keheranan.


“Bukan di situ sakitnya, tapi di sini nih.” Ralat Kiana memindahkan tangan Ray pada perutnya.


“Yuk, Ray makannya sama Ayah. Biarin Bunda istirahat.” Arya mencegah Ray yang siap akan berbicara lagi. Anak keduanya ini sungguhlah cerewet, tapi Kiana suka.


“Ya udah deh. Bunda cepat sembuh ya. Ray sayang Bunda.” Ray lanjut merangkul leher Kiana dan mencium pipinya.

__ADS_1


Hati Kiana seketika menghangat mendapat perlakuan itu dari Ray, sedangkan Arya gemas ingin mencubitnya.


Kiana membalas rangkulan Ray dan memeluknya langsung, “iya, makasih ya, Bunda juga sayang Ray.” Dia mencium wajah anak itu bertubi-tubi.


__ADS_2