Our Fault

Our Fault
Bagian 54 - Kerinduan


__ADS_3

Kesedihan yang melanda Arya saat itu membuat dia tak sadar kalau dia ternyata tidur dengan sendirinya.


Hingga esok harinya, Arya terbangun saat merasakan sinar matahari menembus ke jendela yang tidak tertutup gorden. Karena kemarin dia tertidur secara tidak sengaja, gorden kamarnya pun sampai lupa tidak dia tutup.


Nyawanya sudah terkumpul, Arya pun lanjut langsung mandi dan memakai pakaian yang dia ambil sendiri. Sudah selesai, dia pun berjalan menuju ruang makan untuk sarapan tentunya.


Sampai di sana, Arya keheranan karena tidak ada satupun makanan yang tersimpan di sana, juga tidak ada anak-anak dan istri tercintanya.


“Kiana sayang... Kamu enggak masak? Aku lapar nih.” Arya menyahut, mencari keberadaan sosok perempuan itu.


Hening. Tidak ada jawaban apapun.


“Kiana... Kamu di —” Arya berhenti berbicara, dia baru ingat kalau ternyata istri dan anaknya kemarin sudah pergi meninggalkannya sendiri di rumahnya.


Arya mendudukkan tubuhnya di kursi dan menghela nafas pelan. Lalu bersandar dan mengusap wajahnya kasar.


Laki-laki itu sudah lapar, sedih, terlambat bekerja juga. Benar-benar kacau pagi Arya hari ini karena tidak ada Kiana dan anak-anaknya. Padahal biasanya  perempuan itu yang mengatur kebutuhannya dan kedua anaknya yang meramaikan suasana pagi harinya. Namun sekarang mereka tidak ada. Arya merasa kehilangan saat mereka tidak ada.


Aku rindu kalian. Kapan kalian akan kembali?

__ADS_1


“Aw!” Lamunan kesedihan Arya terhenti dengan kesakitan karena ada yang menarik telinganya.


Arya menoleh pada orang itu, yang ternyata itu adalah Aya. Ibunya sendiri.


Aya datang mendatanginya sambil membawa bekal makanan juga.


“Mamah? Ada apa ke sini?” Sahut Arya heran.


“Kenapa? Enggak boleh Mamah ke sini? Takut ketahuan sama Mamah kalau nanti kamu bawa istri keduanya ke sini?” Mata Aya sinis pada Arya.


Arya kaget. Jadi orang tuanya sudah tahu soal pengkhianatan yang dilakukannya itu? Ya tentu saja pasti tahu. Kinaya — anaknya pun tahu, pasti orang tuanya juga tahu.


“Mamah...”


Aya mendelik kesal dan mendengus, “perbuatan kamu itu buat Mamah malu Arya. Tidak Mamah sangka, kamu malah melakukan itu pada Kiana. Kurang apa sih dia sama kamu? Kasih anak sudah, cinta juga — ah sudahlah. Capek Mamah kasih tahu kamu.”


“Nih! Mamah bawa makanan buat kamu. Pas subuh tadi Kiana hubungi Mamah suruh kasih kamu makan, takutnya kelaparan.” Aya memberikan bekal tersebut.


Mata Arya melebar dan menerima bekal tersebut dengan antusiasnya. Dia yang semula tidak bersemangat jadi berubah karena perkataan itu.

__ADS_1


“Kiana telpon Mamah? Dia bilang tidak lagi di mana sekarang? Dia baik kan?” Arya antusias sekali menanyakan soal Kiana.


“Masih peduli kamu sama dia? Mamah pikir kamu sudah enggak peduli. Kalau peduli, kenapa khianati dia? Di saat sudah pergi, baru kamu peduli sama dia, sadar kalau dia berarti. Tapi sewaktu ada, kamu malah mengabaikan dia.”


“Mamah... Bisa kan langsung jawab aja pertanyaan Arya itu?”


“Kamu tidak perlu tahu lebih jelas soal Kiana. Kalau mau ketemu dia, cari sendiri. Dia telpon juga enggak kasih tahu lagi di mana sekarang.”


“Mamah enggak bakal ceramah panjang. Mamah mau ceramahnya nanti aja. Pulang kerja mampir ke rumah, jelaskan semuanya sama kita, jangan pulang ke madu kamu. Berani pulang ke dia, Mamah benci kamu!” Aya menunjuk wajah Arya dengan penuh amarah.


“Mamah pulang. Oh iya, lain kali pintu dikunci kalau sudah malam tuh. Takutnya ada maling atau orang jahil masuk ke sini.”


“Iya, makasih Mah. Arya antar ya pulangnya ke rumah.” Arya memegang pundak Aya namun langsung ditolak mentah-mentah olehnya. Aya masih kesal pada anaknya itu. Teganya dia melakukan pengkhianatan pada menantunya.


“Enggak usah! Mamah masih bisa pulang sendiri. Suka kesel Mamah kalau dekat kamu. Rasanya ingin giling kamu kayak daging, kan lumayan tuh bisa irit uang, enggak usah beli daging ke pasar.”


Arya menatap ngeri Aya, “ya ampun Mah, kok sama anaknya sendiri jahat sih.”


“Mamah enggak akan begini kalau kamu sendiri juga enggak memulai semuanya. Sekarang bagaimana? Menyesal kan kamu tidak ada Kiana? Makanya pikirkan dulu nih pakai otak manusia, bukan pakai otak ayam.” Aya geram sekali pada anaknya itu, sampai dia menunjuk-nunjuk kepala Arya.

__ADS_1


“Sudah, Mamah jadi ngomel terus kan. Mamah mau pulang, kamu kerja aja. Itu nanti dimakan makanannya. Assalamu'alaikum.”


“Hmm. Wa'alaikumsalam.”


__ADS_2