
Kiana mendekati Arya yang duduk termenung sambil menutup wajahnya dengan cemas.
“Mas...” Kiana menegur dan memegang pundak laki-laki itu.
Arya sadar dari diamnya dan menoleh, “kamu datang? Sini dudu dekat aku.” Arya menepuk kursi kosong di sampingnya.
Kiana duduk di kursi itu di samping Arya, “bagaimana keadaan Afriani sekarang? Persalinannya lancar?”
Arya terdiam sejenak lalu menghela nafas berat dan menggeleng lesu, “kabar Afriani buruk, Kiana. Dia tiba-tiba kritis sesudah persalinan. Tapi untuk bayinya alhamdulillah lahir sehat, sekarang lagi diurus sama perawat.”
Kiana tidak percaya, dia menutup mulutnya, “kamu serius? Aku benar enggak percaya kalau keadaan dia akan seperti ini. Kenapa bisa begitu?”
“Kata dokter dia pendarahan banyak.”
“Ya sudah, sekarang kita doakan saja Afriani semoga kondisinya semakin membaik dan dia bisa lihat bayi kecilnya itu.” Ujar Kiana sambil memegang tangan Arya juga memberinya senyuman yang tulus.
Arya diam mengangguk saja setuju.
“Oh iya, kamu sudah makan? Aku bawakan makan buat Mas. Takutnya kamu belum makan.” Kiana mengambil bekal makanannya yang dia bawa ke hadapan Arya.
Arya tersenyum memegang pipi Kiana, “terima kasih ya. Aku dari tadi kalut banget nunggu Afriani, sampai lupa makan terus pas malam juga malah marah-marah sama kamu. Maaf ya istriku.” Dia menatap Kiana dengan penuh rasa bersalah.
Kiana balas tersenyum dan memegang tangan Arya, “iya, enggak apa-apa Mas. Aku tahu. Aku juga merasa bersalah karena selama ini sudah menyalahkan Afriani.” Sesal Kiana, namun langsung mencoba biasa saja dan kemudian membuka bekal makanannya, “ayo buruan makan, atau kamu mau aku suapin nih?” Goda Kiana.
Arya terkekeh karena godaan istrinya itu, “suapi aja deh. Kangen aku disuapin kamu.” Arya membuka mulutnya lebar-lebar, memberi kode pada Kiana untuk menyuapinya langsung.
Tahu maksud suaminya, Kiana segera menjalankan tugasnya dalam hal melayani suami.
“Kamu pasti sedih banget ya Mas, sewaktu Afriani kritis?” Kiana bertanya disela-sela kegiatannya itu.
“Ya... Tentu saja aku sedih. Tapi ini bukan sedih karena takut kehilangan pasangan ya, melainkan adik. Aku sudah menganggap dia sama kayak Anita, adik aku sendiri. Tapi kalau kamu, aku anggapnya sebagai istri.” Tutur Arya, “makanya aku sayang dia juga karena aku enggak mau dia disakiti lagi sama laki-laki lain, sama kayak Anita yang disakiti Eshan.”
Jawaban Arya membuat Kiana tersenyum entah kenapa. Padahal itu bukan kalimat rayuan atau sejenisnya, tapi rasanya Kiana merasa dirayu oleh suaminya.
“Eh iya, kamu suruh aku makan, tapi kamu sendirinya sudah makan belum?” Tanya Arya.
“Hmm, aku sudah makan kok tadi sewaktu mau ke sini.” Jawab Kiana sambil mengangguk dan tersenyum.
Kiana tersenyum, Arya juga ikut tersenyum pula. Begitu bahagia dia dengan kedatangan Kiana yang berhasil membuatnya tenang dan bisa mengerti akan kondisinya sekarang, padahal sebelumnya mereka sedang dalam
keadaan berdebat mengenai masalah hubungan mereka.
Arya memegang kepala Kiana dan memainkan rambutnya, “kamu tadi jenguk Anita? Keadaannya bagaimana sekarang? Dia sudah mendingan?”
“Hmm.” Kiana mengangguk, “alhamdulillah dia sudah bangun. Paling kata dokter dia harus istirahat dulu buat beberapa hari, enggak boleh banyak gerak katanya.”
“Eh emang Anita itu sakit apa? Aku pas kemarin lupa tanya soal itu, kita keburu ribut terus Afriani melahirkan.”
Kiana tertawa mengingat apa yang Arya ucapkan itu, “oh iya ya, benar. Aku juga lupa.” Balasnya, “kemarin, dokter bilang, katanya... Anita hamil!” Kiana membisikkan kalimat tersebut di dekat telinga Arya.
“Kita akan jadi paman bibi Mas!” Kiana tersenyum lebar, “kamu dan aku bakal punya keponakan dari Anita!” Kiana begitu senang akan kabar baik itu.
Arya masih terdiam belum memberikan respon apa-apa. Laki-laki itu belum sepenuhnya percaya akan hal itu.
“Benarkah? Kamu lagi enggak bohong sama Mas kan?” Tanya Arya memastikan.
“Benar Mas, aku enggak bohong. Aku jujur.” Kata Kiana dengan sangat jujur, “masa iya aku bohong soal ini. Toh untuk apa coba aku bohong, tidak ada manfaatnya untuk aku.”
__ADS_1
“Eh Mas Arya, terus kamu tahu enggak Mas.”
“Enggak.” Balas Arya cepat dan menggeleng pelan keheranan.
“Ihhh!! Aku kan belum bilang kelanjutannya apa.” Kesal Kiana dan mencubit tangan Arya gemas yang membuat Arya malah tertawa.
“Ya habisnya kamu malah jeda dulu tadi, terus nanya begitu. Ya tentu saja aku enggak tahu, sayang.” Arya mengacak rambut Kiana dan menyatukan hidung mereka bersama lalu menggeseknya karena gemas.
Kiana mencebikkan bibirnya.
“Apa? Kamu mau bilang apa? Lanjut ayo.”
“Oh iya. Kamu tahu, Anita hamil berapa anak?” Tanya Kiana pada Arya yang tetap diam tapi mulai penasaran akan pertanyaan itu.
“Emangnya berapa?”
“Ti....gaaa... Mas, tiga.” Kiana mengacungkan tiga jarinya di depan mata Arya, “adik kamu itu lagi hamil tiga enak.”
Mata Arya membulat karena jawaban Kiana itu, “kamu serius?”
“Sangat serius. Bahkan lebih dari serius.” Balas Kiana.
“Wah mereka hebat juga ternyata.” Arya takjub sekaligus tidak percaya.
Kiana mengangguk membenarkan, “hmm. Mereka memang hebat. Nunggu lama punya anak, eh sekali jadi langsung tiga aja.”
“Tenang, nanti aku minta resepnya sama mereka. Siapa tahu kamu juga mau punya kembar kayak begitu.” Arya terkekeh dan memegang pundak Kiana.
Dahi Kiana berkerut, “eh? Apa? Aku sudah cukup ah. Dua anak sudah cukup. Sudah ada cewek cowok ini anaknya. Pusing aku mengurus mereka berdua doang juga, apalagi ini kalau nambah tiga anaknya.” Keluh Kiana.
“Tapi ki, kalau Anita hamil, terus bagaimana hubungan mereka? Tetap pisah atau enggak setelah itu? Kamu tahu kelanjutannya?”
“Aku enggak tahu Mas. Anita sendiri enggak cerita tadi soal itu sama aku.” Balasnya, “ini buruan buka mulutnya, kamu harus makan lagi jangan kebanyakan mikir masalah orang.” Titah Kiana sambil mengarahkan sendok yang terisi makanan pada Arya.
Arya menerima suapan itu dengan tersenyum selalu, layaknya anak kecil yang disuapi makanan kesukaannya oleh ibunya sendiri.
“Tapi ya Mas, setelah aku pikir lagi, kasihan anak mereka nanti kalau semisalnya Anita tetap memilih pisah dari Kak Eshan.” Seru Kiana saat Arya sedang mengunyah, “lagian salah Kak Eshan sendiri, kenapa coba dia harus ikut-ikutan kayak kamu sama-sama punya istri lain. Kan kasihan Anita. Suka enggak mikir perasaan perempuan emang ya dia kayak kamu.” Katanya menggerutu.
“Iya iya, aku minta maaf.” Arya menyesal lagi, “sudah ya kita tidak perlu bahas ini lagi. Mungkin saja setelah ini Anita jadi berubah pikiran dan membatalkan perceraian itu, kan siapa yang tahu soal hati manusia.”
“Iya sih, tapi kan kasihan Anita juga kalau harus diduakan, terus sekarang dia lagi hamil lagi.”
“Sudah sudah, kita jangan bahas ini lagi. Kamu dari tadi malah ngomel terus, lebih baik kamu suapi aku cepat.” Arya menarik tangan Kiana untuk segera menyuapinya kembali.
Selesai makan, mereka lanjut menunggu kesembuhan Afriani lagi, menunggu dokter keluar memberitahu keadaan Afriani bagaimana.
“Mas, kamu sudah kasih tahu Kak Ilsa soal keadaan Afriani?” Tegur Kiana.
“Sudahlah biarkan saja, perempuan itu sudah enggak peduli sama adiknya sendiri.”
Kiana merasa bersalah sesudahnya. Dia benar-benar tidak tahu kalau kehidupan Afriani itu menyedihkan. Sudah diperkosa, lalu sekarang diacuhkan saudaranya.
“Kok aku jadi merasa bersalah banget ya Mas sama Afriani. Aku sering musuhi dia soalnya.” Keluh Kiana.
“Eh tapi si Afriani kritisnya dari kapan? Semalam?”
“Enggak. Baru tadi pagi jam 6 pas dia selesai melahirkan, langsung kritis tiba-tiba, katanya pendarahan banyak.”
__ADS_1
Mereka selanjutnya berbicara membahas Afriani, sampai dokter yang menangani Afriani pun keluar.
“Dok, bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia sudah baik-baik saja dan melewati masa kritisnya?” Arya langsung menyerbu dokter dengan beberapa pertanyaan yang ada di otaknya sekarang mengenai keadaan Afriani.
Dokter itu menggeleng pelan, “maaf Pak, kami sudah berusaha, tapi Tuhan lebih menyayangi istri Bapak. Beliau sudah pergi sekarang.”
Deg...
Tubuh Arya juga Kiana rasanya rontok seketika. Seperti ada sesuatu yang hilang.
Benarkah Afriani sudah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya? Jika iya, mereka belum bisa menerimanya. Mereka belum percaya akan kabar ini.
Tapi... Ini lah takdirnya. Takdir yang sebenarnya. Mau tidak mau mereka harus menerima semuanya.
Afriani, kenapa kamu pergi secepat ini? Kamu benar mau pergi dari kita? Apa kamu pergi karena omongan aku itu? Aku minta maaf Afri.
Pemakaman Afriani baru saja terlaksana.
Mendengar kabar Afriani yang sudah meninggal, keluarga Arya beserta Kiana datang untuk melayat. Mereka sama terkejut ketika tahu kabar itu. Di luar bayangan mereka sekali ternyata yang berpikir Afriani akan tetap hidup dan mengganggu kehidupan keluarga Arya Kiana.
Arya dan Kiana masih setia ada di pemakaman Afriani saat orang-orang yang melayat juga sudah mulai pergi.
“Mas, kita pulang sekarang yuk, kasihan Sabhira kalau ditinggal lama.” Bujuk Kiana.
“Hmm ayo.” Jawab Arya dengan lesunya sambil mengusap air matanya dan berdiri.
“Mas, sudah ya jangan sedih terus. Kasihan Afriani, berat ke Afriani nya nanti.” Kiana memegang tangan Arya dan mengusap punggung laki-laki itu.
Walaupun Kiana memang bukan ibu kandung dari bayi Afriani, tapi Kiana sangat menyayangi bayi itu layaknya anak sendiri. Bahkan yang memberikan nama bayi itu pun adalah Kiana sendiri. Dia menamainya Sabhira Kirana Tasanee.
Setelah Afriani pergi, Kiana sudah bertekad pada dirinya untuk menjaga dan menyayangi anak Afriani, tanpa membedakannya dengan anak kandungnya sendiri.
*****
Sudah dua bulan sampai sekarang Sabhira tinggal bersama keluarga kecil Arya.
Hari ini di rumahnya, Arya kedatangan Anita karena dia mau melihat Sabhira.
“Ya ampun Kiana... Sabira cantik banget deh...!!” Anita terus memainkan pipi tembam Sabhira dengan jari telunjuk miliknya.
“Ya iya dong cantik menggemaskan, secara dia anak gue. Bundanya cantik, pasti anaknya juga cantik.” Timpal Kiana dengan wajah sombongnya.
“Untung ya ini anak mukanya enggak mirip bapaknya atau bibinya. Coba kalau mirip, mungkin bisa saja gue juga benci dia.” Tangannya mengusap kepala Sabhira yang sedang dia gendong.
“Ih kok lo bicara begitu sih Nita? Mau mukanya mirip siapapun itu, tapi dia kan enggak tahu apa-apa soal masalah kita. Kalau dia sudah besar dan tahu semuanya, mungkin juga dia maunya tidak dilahirkan dalam keadaan seperti itu dan akan memilih siapa yang menurutnya pantas jadi orang tuanya.”
“Yah... Benar juga sih apa kata lo itu.” Katanya lalu menghela nafas.
“Eh Nit, sekarang gue mau nanya, kelanjutan hubungan lo sama dia jadinya bagaimana? Tetap pisah atau lanjut?”
“Gue sudah pikirkan matang-matang semuanya. Gue jadinya tetap melanjutkan. Ya walaupun sakit karena diduakan, tapi gue juga enggak boleh egois. Gue harus pikirkan anak gue juga. Kasihan mereka nanti kalau gue pisah sama dia.”
“Omongan lo ada benarnya juga sih Nit. Pernikahan itu beda dengan pacaran, yang apa-apa kalau ada masalah tinggal bilang pisah. Lo harus menurunkan ego lo demi kelangsungan pernikahan lo itu. Emang susah sih, tapi ya mau bagaimana lagi. Semuanya demi keluarga, terutama demi anak lo sendiri.”
“Gue dukung semua keputusan lo, Nita. Tapi kalau misalnya suatu saat keputusan yang lo ambil itu salah, gue bersedia untuk menegur lo. Gue enggak mau pernikahan yang sudah lo bina selama ini hancur dalam sekejap hanya karena adanya istri muda.”
“Gue juga doakan semoga setelah ini, lo bisa bahagia kembali dan semua masalah ini segera berakhir. Kalau lo terus bersabar, gue percaya semuanya pasti akan berakhir segera.” Kiana memberikan senyuman tulus pada Anita, “gue sayang adik ipar rasa sahabat gue ini. Tetap semangat ya kamu.” Lanjutnya sambil merengkuh Anita dan mengacungkan tangannya yang dia kepal.
__ADS_1