Our Fault

Our Fault
Bagian 23 - Aku Sudah Berubah Menjadi Perempuan Jahat


__ADS_3


Sekarang satu minggu sudah Kiana tinggal bersama Arya.


Siang hari ini cuaca memang begitu panas. Hal itu membuat banyak orang memilih untuk diam saja di rumah daripada keluar. Sama halnya seperti Kiana.


Kiana keluar dari kamar ketika itu. Tidak sengaja matanya seketika terfokus pada gadis kecil itu yang sedang tertawa bersenda gurau bersama Ilsa dan Arya.


Semakin lama tinggal di sini, Kiana jadi tahu kalau Ilsa memang sering ke sini. Alasannya kalau bukan karena Arya pasti Kinaya. Hanya saja Kiana belum tahu apakah memang Ilsa atau bukan yang akan menjadi calon istri barunya Arya.


Ini aneh. Perasaan tidak suka Kiana muncul langsung saat dia melihat kebersamaan itu. Rasanya ingin sekali dia menjauhkan Ilsa sejauh-jauhnya dari jangkauan Arya juga Kinaya.


Meskipun rasa tidak suka itu muncul tapi Kiana tetap mengabaikannya dan memilih pergi saja untuk menghilangkan perasaan itu.


Kinaya melihat Kiana yang berjalan ke arah lain dan berlari menghampirinya lalu menggenggam tangannya, namun malah dilepaskan oleh Kiana secara kasar, “gak usah pegang juga bisa kan?!” Rasa tidak suka Kiana malah dilampiaskannya pada Kinaya dan membuat gadis kecil itu ketakutan.


Kinaya menundukan kepalanya karena takut, “maafin Naya. Naya cuma mau ajak Kak Ana kok, mau ikut gak makan di luar bareng Ayah sama Mama Ilsa?” Ajaknya dan menengadahkan wajahnya menatap Kiana.


Apa?! Mama? Anak itu memanggil Ilsa dengan sebutan 'Mama'? Kok Kinaya mau sih melakukannya? Apa yang membuatnya mau  memanggil Ilsa dengan panggilan itu? Ilsa tidak pantas dipanggil Mama oleh Kinaya.


“Mama? Kamu panggil dia Mama?” Kiana menunjuk Ilsa tanpa menatapnya, justru hanya menatap Kinaya. Begitu terlihat rasa tidak suka Kiana itu.


“Kenapa emangnya? Gak suka kamu?” Ilsa tiba-tiba ikut menyahut sambil berjalan pada mereka dan memegang pundak gadis kecil itu.


“Kamu itu bukan ibu kandungnya, kenapa juga dia harus panggil kamu dengan panggilan itu?” Kiana menatap sengit Ilsa, begitu juga Ilsa sebaliknya. Mereka mirip seperti musuh bebuyutan yang akan bertarung.


“Emang kenapa? Siapa kamu bisa ngelarang Kinaya? Kamu ini hanya orang asing di sini, hanya tamu, bukan siapa-siapa Arya atau juga Kinaya.”


Mata Kiana masih tetap menunjukkan kebenciannya pada Ilsa dan berubah menjadi normal kembali saat menatap Kinaya.


Kiana memegang tangan Kinaya, menjauhkannya dari Ilsa, “kamu lagi, buat apa sih makan di luar? Gak usah makan di luar, mending makan di sini aja, lebih steril daripada makan di luar. Nanti aku yang masakin kamu.”


Ilsa tidak tinggal diam. Dia menarik  tubuh Kinaya untuk kembali mendekat padanya, “kamu jangan seenaknya ngatur orang, Kinaya punya hak buat milih mau makan di mana dan sama siapa. Lagian yang makan sama bayarnya juga saya, bukan anda sendiri.”


“Gak usah ngegas, santai aja, bisa kan? Ya udah iya, aku ikut.” Kiana menatap Ilsa kesal, lalu menatap Kinaya biasa saja.


Ilsa memegang pundak Kinaya, “Naya sama Mama Ilsa aja ya, biar jadi baik kayak Mama dan enggak jahat kayak cewek-cewek lainnya.” Ilsa melirik sinis Kiana.


Arya melihat perdebatan mereka. Dia sama sekali tidak berniat untuk melerainya. Karena percuma saja, toh pasti mereka akan tetap berdebat walau dilerai juga.


Setelah Kiana setuju, mereka pergi ke restoran pilihan Ilsa dan sekarang sudah sampai.


Mereka menikmati makanan di restoran tersebut dengan damainya.


Ilsa melihat Kinaya yang makan es krim dengan belepotan, dia pun membersihkan mulut Kinaya itu menggunakan tisu yang ada di dalam tasnya.

__ADS_1


“Makan es krimnya kok belepotan banget sih sayang? Sini sama Mama Ilsa bersihin dulu mulutnya pake tisu.”


Arya tersenyum melihat hal itu, sedangkan Kiana justru melihatnya dengan tatapan tidak suka dan merasa panas, entah apa alasannya.


Picisan banget sih adegannya. Kiana mencibir dalam hati. Saking kesalnya, dia sampai tidak sengaja mengetukan sendok yang dipegangnya ke piring dengan keras, membuat dia jadi pusat perhatian dan ditatap dengan tatapan yang mengisyaratkan 'kenapa?'.


Kiana menatap balik mereka dengan tatapan bingungnya, “maaf. Dagingnya keras ini, susah dipotong.” Bohongnya dan lanjut memotong dagingnya.


“Naya besok main yuk sama Mama Ilsa juga Ayah?” Ajak Ilsa.


Main? Kalian mau main? Terus gue nanti di rumah sama siapa? Gak ada temennya woy!! Batin Kiana.


Saat Kinaya akan menjawab ajakan itu, Kiana lebih cepat menyahutinya, “maaf, dia gak bisa. Besok sekolah.”


“Kenapa kamu yang jawab? Saya nanyanya sama Kinaya, bukan kamu. Emang kamu siapa dia sih nyampe harus ngatur-ngatur hidupnya? Ibunya juga bukan. Kamu kan udah anggap Naya sebagai adik kamu, jadi gak perlu sok ikut campur.” Omongan Ilsa menyindir Kiana.


Rasa tidak sukanya kembali naik, terutama setelah dia disindir. Kekesalannya yang sudah sangat tinggi membuatnya jadi tidak nafsu untuk makan. Sendok dan garpu yang dipegangnya pun langsung dia simpan di piring dengan cukup kasarnya.


“Aku mau pulang sekarang. Ini uang buat bayar makannya, makasih udah ngajak makan.” Kiana mengambil uang di dalam tasnya lalu menyimpannya di meja dengan kasar lalu pergi meninggalkan mereka di sana.


Sudah di rumah, Kiana tidak tahu kalau ternyata di sana ada Anita yang datang bertamu. Sahabatnya itu datang dengan membawa kabar bahagia yang sekaligus membuatnya juga terkejut.


“Tadaaa!!” Anita memperlihatkan jari tangannya yang memakai cincin. Cincin itu pemberian dari orang terkasihnya, “gue mau nikaaahh, Kiana!!” Anita tersenyum sambil mengguncang-guncangkan tubuh Kiana saking bahagianya.


“Maaf ya, gue gak sempet, kata Kak Arya lo lagi sibuk ngurusin tugas kuliah lo yang bener-bener banyak.”


Tugas banyak apanya? Justru dia sedang libur, jadi mana mungkin dapat tugas. Arya selalu saja berbohong.


“Ya sesibuknya kita, tapi seenggaknya sempetin gitu buat cerita.” Kata Kiana, “ah udah udah. Lo jadinya mau nikah sama siapa? Terus kapan? Kak Arya udah tahu?”


“Kak Arya alhamdulillah udah ngizinin. Soal calonnya, lo udah kenal kok. Dia itu... Kak Eshan, Kiana! Kita nikahnya bulan depan!” Senyuman di wajah Anita tidak pernah pudar untuk sekarang ketika dia bercerita.


“Lah jadi juga lo sama dia? Gue kira dia cuma mau maen-maen doang.”


“Gue juga awalnya nyangkanya begitu, tapi semakin ke sini, ternyata dia serius juga.”


“Lo tahu gak Ki? Dia itu romantiiis banget sewaktu ngelamar guenya. Dia ngelamar guenya pake cara maenin piano terus nyanyi tahuuu. Padahal ya, dia tuh gak bisa maen piano, apalagi nyanyi. Dia bela-belain belajar nyanyi sama piano. Romantis banget ih dia.” Anita tersenyum memegang pipinya dan memejamkan matanya, membayangkan kembali kejadian itu.


Beruntung sekali Anita mendapatkan laki-laki seperti Eshan. Kiana tersenyum mendengar ceritanya, namun di lain sisi dia merasakan kemirisan. Dalam hidupnya, dia belum pernah dilamar seperti itu oleh Arya apalagi dengan hal yang romantis. Bahkan resepsi pun belum pernah ia merasakannya, padahal dia sudah pernah menikah. Huh kasihan Kiana.


Lo beruntung Nit dapetin dia. Sedangkan gue? Cowok yang sayang sama guenya juga udah pergi, malahan mau nikah lagi. Nyesel gue sebenernya biarin dia pergi.


“Ternyata Kak Eshan bisa begitu juga ya. Gue seneng, kalau sahabat gue ini seneng.” Kiana memegang tangan Anita.Walaupun gue sakit karena iri sama lo.


“Semoga nanti kalian bahagia terus ya langgeng dunia akhirat juga, terus cepet dapet momongan, aamiin.”

__ADS_1


“Iya, aamiin.”


“Nanti pas di acara nikahannya, lo harus nginep ya di rumah gue. Kita bikin acara melepas keperawanan, eh salah maksudnya melepas kelajangan gue hahaha.” Gurau Anita dan menutup mulutnya lalu tertawa menyengir.


“Iya, nanti gue atur waktu sama minta izin sama ortu dulu deh ya.”


“Syiaap.” Anita mengacungkan kedua ibu jarinya ke hadapan Kiana, “nanti ajak Naya juga ok, kangen gue sama tuh bocah. Makin gede jadi makin lucu.”


“Kalau itu, minta izinnya sama Ayahnya. Gue gak punya hak buat ngatur anak itu.”


“Kenapa gitu? Lo juga kan orang tuanya. Lo itu Bundanya, Kiana.”


“Bukan, lo salah. Di mata anak itu, gue cuma orang asing, bukan siapa-siapanya.”


Anita membuang nafas kasar, “ya udahlah, gimana lo aja. Capek gue sama lo.”


“Kapan lo bisa sadar sih? Lo gak kasihan sama Naya? Tiap hari dia nanyain ke mana Bundanya? Kapan pulang? Bahkan waktu itu, dia terus aja nangis nyampe sakit harus dirawat gara-gara diejek sama temen sekolahnya. Temennya itu nyebut dia anak gak jelas, karena gak tahu Bundanya di mana.”


“Gue tahu lo gak mau nerima dia dan terus tutupin semua fakta yang nantinya juga akan terbongkar dengan sendirinya. Dia anak kandung lo Kiana, dia anugerah, bukan kesialan. Udah cukup lo bohongin dia dari fakta ini, gue kasihan sama dia, Kak Arya juga.”


“Lo jangan kayak begini terus ya, gue takut nanti lo nyesel sendiri. Sebelum semuanya terlambat, mending lo berubah. Ini demi kebaikan lo. Gue ngingetin lo sebagai sahabat, bukan sebagai saudara ipar, eh maksudnya mantan saudara ipar.”


Kiana menatap tajam Anita karena malah terus menceramahinya. Dari tadi ada saja orang-orang yang terus membuatnya kesal. Sudah Ilsa, sekarang Anita pun ikut membuatnya kesal.


“Lo bisa diem gak? Lo gak tahu apa-apa soal ini. Lo itu hanya orang luar Nit.”


“Gue adiknya mantan suami lo Kiana! Jadi gue tahu masalah kalian itu! Lo gak nerima dia karena kehilangan beasiswa lo itu kan?” Anita menebak dengan penuh penekanan.


“Enggak!” Elak Kiana cepat.


“Gak usah bohong! Gue udah tahu kok.”


Kiana menghela nafas, “kalau emang iya gara-gara itu lo mau apa? Mau balikin semuanya? Beasiswa gue, masa


muda gue yang terenggut gara-gara hamil di usia muda, termasuk ngilangin anak sialan itu juga?” Mata Kiana memancarkan aura kemarahana.


“Lo tahu? Gara-gara anak itu lahir ke dunia, gue hampir aja mati! Makanya gue benci dia! Dia pembawa sial bagi kehidupan gue!” Kiana mengucapkan semuanya tanpa jeda. Dia kesal, kenapa banyak yang membela gadis kecil itu, sedangkan dirinya tidak satupun ada yang membelanya.


“Lo bukan Kiana. Kiana yang gue kenal gak jahat kayak begini.” Bantah Anita dan tersenyum kecut.


“Ya! Kiana yang sekarang sudah berubah jadi perempuan jahat.” Kiana menatap Anita serius.


Anita menghela nafas lelah, “udah ah, gue mau pulang. Capek banget ngomong sama manusia keras kepala kayak lo.” Cibir Anita lalu merentangkan tangannya ke hadapan Kiana, “gue harus peluk lo dulu sini, walaupun gue masih kesel.” Tanpa izin, Anita langsung memeluknya yang terdiam.


Dia mengusap-usap punggung Kiana, “lo jangan begini terus ya. Gue sayang sahabat gue ini.”

__ADS_1


__ADS_2