
Andrew duduk dan minum bersama Miko,hingga dia melihat gadis yang membuat keributan di cafe milik Julia,Andrew yang merasa curiga dengan gadis itu sejak dari awal,dia akhirnya membututinya.
"Tunggu sini bentar."Andrew menepuk bahu Miko dan pergi.
"Hei..."Miko terkejut.
Disebuah ruangan di bar
Andrew mengintip dari luar,gadis tadi nampak sedang berbicara dengan seseorang.
"Maaf,ternyata dia adalah pemilik cafe itu,jadi rencanamu tidak berhasil."
"Apa?Bagaimana bisa?Apa kau yakin?"seseoran terdengar marah,dan memukul meja.
"Benar,bahkan dia menunjukan surat kepemilikan usaha itu."
"Bagaimana bisa,aku harus membuat rencana lain agar dia bisa pergi menjauh darinya."
Andrew tiba-tiba masuk karena kesal dengan rencana dan ulah mereka.
"Jadi itu kau?Hellen?"
Hellen terkejut,dia tidak menyangka Andrew ada disana.
"An..Andrew,kenapa kau disini?"Hellen langsung terkejut,dia tidak tau apakah Andrew mendengar percakapan mereka.
"Kalau aku disini kenapa?Hellen bukankah aku sudah memperingatkanmu,jangan mencampuri urusanku,Kenapa kau masih melakukannya?"Andrew nampak marah dengan sikap Hellen.
"A..Aku hanya"Hellen terlihat ketakutan,dia baru kali ini melihat Andrew yang marah sampai seperti itu.
"Dengarkan aku Hellen,berhenti mencampuri urusanku,juga jangan mengganggu dia,jika kau melakukan itu,maka liat saja bagaimana aku membereskanmu."Andrew memberikan tatapan tajam pada Hellen.
Hellen dan gadis tadi merasa merinding melihat Andrew yang seperti itu,dan Hellen merasa tidak mengenalinya.
Andrew segera pergi darisana,tapi Hellen masih merasa kesal,bagaimana bisa seorang seperti Julia bisa menarik perhatian Andrew,sedangkan dia berfikir bahwa dia lebih dari Julia dalam segala hal.
"Kau dari mana saja?"Miko yang menanti Andrew.
"Mengurus beberapa hal."Andrew menghabiskan minumannya yang tadi.
"Begitukah?"
"Miko,bantu aku membereskan barang barang ku,mulai malam ini aku akan tinggal diapartemenku,besok aku akan mengambil nya."
"Baiklah.."
Beberapa hari kemudian
Setelah beberapa hari,Julia dan Andrew mempererat hubungan mereka,seperti sepasang kekasih baru,mereka menghabiskan waktu bersama,kadang kala Andrew juga membantu Julia di cafe,pemandangan seperti itu membuat para karyawan Julia iri.
Fara terlihat mendekati Julia yang sedang membereskan beberapa gelas.
"Julia.."
__ADS_1
"Ya,kenapa?"Julia mengelap gelas.
"Sibronis itu tiap hari menyempatkan kesini dan datang membantu kita,apa dia tidak kuliah."Fara melihat kearah Andrew yang sedang membantu melayani pelanggan.
Julia ikut melihat kearah Andrew,Lalu diaq meletakkan kain lapnya.
"Dia bilang dia tetap masuk kelas,saat longgar baru kesini,aku sudah melarangnya untuk tidak membantu kita,tapi dia terus memaksa."Julia sendiri sedikit aneh,kenapa Andrew mau repot repot membantu di cafe.
"Hmmm,sepertinya dia kesini bukan karena hanya ingin membantu,tapi karena dia ingin selalu bersamamu,lagipula kalian kan pasangan baru."
Julia melempar kain lap kearah Fara,"Jangan berfikir yang aneh-aneh,kau sendiri bagaimana?Pasangan baru tapi kakLaurent jarang menjemputmu."
"Itu karena dia sedang keluar kota,sebenarnya aku juga merindukannya."Fara memgeluarkan ekspresi sedih.
"Sudah,sudah"Julia menepuk bahu Fara.
Andrew datang menghampiri mereka.
"Julia,aku akan kekampus dulu."Andrew melepas. celemek yang dia pakai.
"Hah,iya.."
"Nanti malam aku akan menjemputmu."
"Baiklah,hati hati dijalan."
"Bye,Kak Fara."Andrew berjalan keluar.
"Bukan seperti itu,lagi pula memanggil mu seperti itu akan terlihat sopan,dan lagipula itu menandakan dia itu menghormatimu."
"Baiklah...Mau ngomong apa,sepertinya juga percuma."
"Nah,itu tau."Julia tertawa kecil.
Sekarang hari-hari Julia terlihat lebih cerah,ada seorang putri,teman-temannya,juga yang terpenting adalah dia mendapat cinta lagi,sebuah rasa yang sudah lama hilang dari hatinya,sebuah rasa yang pernah dia kubur dalam-dalam,sebuah rasa yang bahkan untuk memimpikannya saja dia tidak berani.
Tidak terasa akhir pekan sudah datang,dan Julia berencana mengajak Jihan untuk pergi bersama Andrew.
"Bibi May,aku akan membawa Jihan jalan-jalan,bibi bisa istirahat dulu."Julia nampak sibuk mengemas kebutuhan untuk Jihan.
"Kau mau mengajak Jihan kemana?Yakin aku tidak perlu ikut untuk menjaga Jihan?"
"Tidak perlu,aku hanya ingin berdua dengan Jihan."Julia merasa senang,seperti tidak ada beban dipikirannya.
"Julia,apa ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku?Seperti,mungkin kau punya hubungan baru?"Bibi May yang mulai curiga dengan perubahan sikap Julia,Julia yang sekarang bagi bibi May,dia lebih ceria dan semangat,juga tentu satu lagi,dia sering pulang terlambat.
Julia duduk ditempat tidurnya,bibi May juga ikut duduk.
Julia memegang tangan bibi May,dia tau bibi May mengkhawatirkannya,bagaimanapun bibi May sudah menjaganya selama 26 tahun ini semenjak ibunya meninggal saat melahirkannya.
"Bibi,apa kau percaya padaku."Julia terdengar takut mengatakan itu.
"Jadi,itu benar,kau sudah memiliki orang yang kau cintai."
__ADS_1
"Ya,tapi aku yakin dia akan menyayangiku juga Jihan."
Bibi May tersenyum,dia memegang pipi Julia,"Dasar gadis bodoh,asal kau bahagia,maka siapun itu bibi pasti akan mendoakan yang terbaik untuk kalian."
Julia memeluk bibi May,"Terimakasih bibi,bibi adalah yang terbaik."
"Aku tau,aku yang terbaik menjagamu,jadi siap pria yang beruntung itu?"Bibi May mengelus rambut Julia.
"Bibi sudah mengenalnya,aku akan mempersiapkan waktu yang tepat untuk berkenalan dengannya."
"Baik,bibi akan sangat penasaran."
Jihan masuk kekamar,"Mama,aku sudah siap,apa kita jadi pergi?"Jihan yang imut,memakai topi pantai.
"Tentu saja."Julia langsung berdiri.
"Bibi,aku pergi dulu."
Julia menggandeng jihan turun kelantai bawah,Jihan sendiri penasaran kemana Julia akan mengajaknya,karena Julia tidak memberitahukannya sama sekali.
"Mama,kita mau kemana?"
"Jalan-jalan,bagaimana dengan pantai?"
"Waw,itu tempat yang bagus."
"Tentu saja."
"Kenapa nenek tidak ikut?"
"Nenek tidak ikut karena sudah ada yang akan menemani kita."
"Benarkah?Siapa?Apa itu paman Laurent?Atau bibi Fara?"
"Bukan mereka"Julia tersenyum.
"Lalu siapa?"Jihan yang penasaran.
"Nanti saat sampai bawah,Jihan pasti tau."
Jihan hanya mengangguk,mereka sudah sampai dilantai bawah dan keluar dari lift,Andrew sudah menunggu mereka di luar gedung.
"Mama itu kakak Andrew."Jihan menunjuk.
"Ya,benar"
"Apa kita akan pergi dengan kakak Andrew?"
"ya.."Julia mengangguk.
Begitu tau yang akan pergi menemani adalah Andrew,Jihan terlihat senang,dia berlari begitu saja kearah Andrew.
Andrew yang menyadari Jihan berlari kearahnya,langsung menangkap dan menggendongnya,tawa gadis kecil itu terasa lepas,Julia tidak pernah melihat Jihan yang seperti itu.
__ADS_1