
Sepanjang perjalan Kembali setelah pertemuannya dengan Ken, Julia tampk sedikit merasa bimbang. Andrew yang menyadari hal itu pun menggenggam tangan Julia yang sedari tadi tampak berada di pangkuannya, Andrew mendekatkan tangan Julia ke arah bibirnya, ia mengecup sekilas tangan wanita yang ia cintai itu yang tentu saja membuat Julia terkejut.
"Apa kau menyesal dengan keputusanmu?" tanya Andrew yang tatapan matanya masih fokus ke arah jalanan.
"Menurutmu, apa keputusanku salah?" tanya Julia balik.
Julia menatap pria yang sejak dari dulu selalu sabar menemani dan menghadapinya itu. Andrew sekilas melihat ke arah Julia yang menatapnya dengan seulas senyum di bibirnya.
Beberapa menit sebelum mereka pergi dari cafe itu, Julia tampak berpikir keras dengan permintaan Ken. Bukan karena ingin menyenangkan Ken, namun Julia juga ingin menjaga perasaan Jihan.
"Aku tidak akan memberikan hak asuh Jihan padamu," jawab Julia tegas.
Ken begitu terkejut dengan jawaban Julia, namun sejak awal dia sudah bisa menduga jika Julia tidak mungkin begitu saja melepaskan putrinya untuknya.
"Tapi! Aku akan mengizinkanmu tetap bisa bertemu dengannya," imbuh Julia.
Kata tambahan dari Julia seakan menjadi angin segar bagi Ken, senyum mengembang muncul di bibirnya.
"Terimakasih, aku berjanji tidak akan mengecewakanmu atau Jihan," ucap Ken dengan penuh kebahagiaan.
"Tapi ingat! Jika kau sampai mempengaruhi atau merubah kepribadian Jihan sesuai dengan keinginanmu maka aku pastikan aku akan mengakhiri hidupmu!" ancam Julia.
Meski mendapatkan ancaman itu, Ken tetap tersenyum bahagia seakan tidak percaya jika mantan istrinya itu akan memberikan kesempatan lain untuknya bisa menebus kesalahannya bertahun tahun lalu.
Mobil Andrew sudah memasuki halaman rumanya, tampak Jihan dan Rey berada di taman samping seperti sedang mengerjakan tugas sekolah mereka. Dengan rasa bahagia dan tidak lagi ada kekhawatiran akan adanya gangguan di kehidupan mereka, Andrew menggandeng tangan Julia begitu mereka sudah turun dari mobil, sesekali pemuda itu mencium punggung tangan kekasihnya.
"Mama!" panggil Jihan kegirangan begitu melihat Mama dan pemuda yang ia panggil papa itu berjalan bersama menuju arahnya.
__ADS_1
"Hai sayang, sedang apa kalian?" tanya Julia yang melihat beberapa buku berserakah di meja santai.
"Kami sedang membuat tugas sekolah, Rey membantuku," jawab Jihan seraya melirik ke arah Rey yang memperhatikan Jihan berdiri di sebelah wanita yang ia panggil 'kakak'.
"Bagus sekali, tapi jangan terlalu merepotkan Rey, oke!" Julia mengingatkan.
Jihan menganggukkan kepalanya tanda mengerti kata mamanya.
"Oh ya, kakek dan nenek ada di dalam," kata Jihan seraya menunjuk ke arah rumah.
Andrew dan Julia tampak saling pandang, mereka baru saja berencana ingin menemui kedua orang tua itu, tapi ternyata mereka sudah berada di rumah.
Edward dan Vivian duduk bersama di ruang tamu, sedangkan Julia dan Andrew duduk berhadapan dengan mereka berdua. Edward dengan santai menyesap teh yang sudah di sajikan oleh Vivian.
"Kami akan segera menikah, Pa ... Ma!" Andrew membuka percakapan.
Vivian pun tidak kalah senang, wanita itu menatap ke calon menantunya dengan tatapan penuh kebahagiaan.
"Benarkah? Ini kabar baik," ucap Vivian.
"Iya, akhirnya kalian bisa bersama," timpal Edward.
"Iya, itu karena Julia sudah mendapatkan ingatannya kembali, jadi aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini," ucap Andrew yang kemudian mencium punggung tangan Julia yang sedari tadi sudah ia genggam.
Edward dan Vivian tampak benar-benar bahagia melihat putranya akhirnya bisa bersama dengan wanita yang sudah ia cintai sejak lama.
Setelah berbincang dengan kedua orangtuanya, Andrew akhirnya memutuskan untuk menikah bulan itu juga, ia tidak ingin menunda lagi karena takut jika hal yang tak terduga akan terjadi lagi.
__ADS_1
***
Hari berikutnya, Andrew dan Julia tampak sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk pernikahan yang mendadak itu. Memilih gaun hingga tempat untuk mengadakan acara resepsi pernikahan.
"Sayang, Hotel ini cukup bagus, bagaimana kalau disini saja?" tanya Andrew pada Julia.
Pemuda itu memberikan katalog fasilitas Hotel kepada calon istrinya itu.
Julia yang sedang menikmati sepotong kue pun melihat ke arah katalog yang di pegang Andrew, mereka yang duduk berdampingan tampak mengamati spesifikasi Hotel itu.
"Boleh," jawab Julia.
"Oke, nanti aku minta tolong Miko buat bantu boking," ucap Andrew kemudian.
Suara ponsel Julia terdengar berbunyi dari dalam tasnya, seketika wanita itu pun langsung mengambil dan menjawab panggilan itu.
"Halo Ken! Iya, ada apa?" tanya Julia yang mengetahui itu panggilan dari mantan suaminya.
Sejak pertemuan mereka hari itu, baik Julia, Andrew ataupun Ken telah berjanji akan melupakan masa lalu dan menanggapi hubungan mereka seperti tidak pernah terjadi hal buruk.
"Aku ingin menawari kalian tempat untuk acara resepsi kalian, apa kalian mau lihat?" tanya Ken.
Julia melihat ke arah kekasihnya yang sejak dari tadi dengan seksama memperhatikan calonnya itu menjawab panggilan, dengan isyarat bibir Julia mengutarakan maksud Ken menghubunginya. Andrew pun hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Baiklah, beri aku lokasinya! Aku dan Andrew akan kesana," Julia mengiyakan.
Julia pun menutup panggilan itu, menunggu Ken mengirimkan alamat yang di maksud oleh Ken.
__ADS_1